Beberapa bulan terahir kita dihadapkan dengan pandemik virus corona (covid-19). Tentu saja, kondisi ini tak pernah terduga dan disangka sebelumnya. Kenyataannya kita sedang dihantui pandemik ini, lebih menakutkan lagi dengan pilihan sikap sejumlah masyarakat yang secara rakus memborong dan menimbun kebutuhan tertentu. Belum lagi setiap hari di beragam platform media, kita dihantui pemberitaan yang kadang sulit validasi apakah kabar yang benar atau kah palsu (hoaks).

Kalau pun kita mau ‘perang’, musuh kita tak berwujud. Bingung senjatanya apa, tidak tahu titik lemahnya, dan bagaimana cara kita membobol pertahananya. Alhasil, tingkat kesulitannya pun menjadi semakin berat dan masih misterius.

Tapi sadar tidak sih, bahwa musuh kita yang sebenarnya saat ini adalah diri kita sendiri? Diri yang sulit menahan untuk tidak mengekspos aktivitas kita? Diri yang sulit bersikap penuh empati kepada mereka yang tak mendapatkan hak istimewa (privilage) bekerja dari rumah  (working from home atau yang dikenal dengan singkatan WFH)? Diri yang sulit menahan diri untuk tidak terus menyebar kekhawatiran di beragam medsos pribadi kita? Hingga tanpa sadar, sejatinya WFH bukan sekadar menyendiri atau diam di rumah saja. Lebih dari itu, pikiran dan jiwa kita pun perlu menahan diri hingga menemukan kesejatian diri kita. 

Karena Tidak Semua Orang Mendapatkan Hak Istimewa WFH

Iya, kita berperang bukan hanya dengan virusnya, namun juga dengan sesama kita sendiri yang sulit sekali menahan diri untuk tidak mengekspos kekhawatiran kita, begitu pun dengan hak istimewa kita (privilage) bekerja di rumah. Iya, musuh kita makin bertambah dengan sesama kita sendiri yang sulit untuk tidak mengekspos privilage kita di media sosial (medsos). Hingga tanpa sadar, apa yang kita lakukan justru menjauhkan kita dari rasa empati kita pada mereka yang tak memiliki hak istimewa WFH itu. 

Yang lebih kejam lagi, sesama kita saling memanfaatkan kondisi ini untuk penipuan donasi di sana sini. Yang juga beda-beda tipis dan agak tersamar, di sela kebijakan WFH, ada yang diam-diam mengabaikan kebijakan pemerintah dengan berburu tiket murah untuk berlibur. Perilaku seperti ini tanpa sadar memengaruhi orang lain. Yah, tanpa kita sadari, sebenarnya dalam hal ini kita juga tengah berperang dengan diri kita sendiri. Termasuk perang bagaimana caranya bisa jadi pribadi yang lebih empati. 

Tidak semua orang bisa #workingfromhome atau #dirumahaja. Tidak semua orang pekerjaannya bisa dilakukan hanya melalui laptop atau handphone, tidak semua orang pekerjaannya bisa dilakukan jarak jauh melalui videocall dan sejenisnya. Saat kampanye bergema, ada banyak pihak yang sebenernya mendukung sehingga kampanye tersebut bisa ada. 

Ada petugas sampah yang masih mengambil sampah di pagi hari, ada pedagang yang masih menyediakan bahan makanan sehingga yang #dirumahaja bisa masak, atau malah delivery ketika di restoran masih ada yang melayani. Ada banyak pihak, yang masih mendukung kehidupan #dirumahaja bagi sebagian orang sehingga bisa nyaman. Termasuk yang berbisnis online, masih ada team packing yang juga siap sedia tidak bisa workingfromhome. 

Guru yang tetap bertugas memastikan anak didiknya tetap belajar, petugas kesehatan, petugas lapangan dan masih banyak pihak diluar sana yang tetap memastikan semua berjalan. Jadi ketika semua kalangan menyuarakan kampanye, yang sebetulnya sangat baik, karena mendorong untuk yang tidak terlalu mendesak untuk menjauhi keramaian, supaya tidak salah kaprah diberi waktu untuk di rumah malah liburan. Namun belakangan melihat sebagian jadi berlebihan. 

Tidak semua orang memiliki hati dan dan mental yang lumayan kuat ketika berulang-ulang mendengar radio atau melihat tayangan di televisi (tv) dan medsos orang-orang bercerita asyiknya #workingfromhome. Kita seakan tak henti mengekspos diri tengah asyik killing time dengan nonton drama favorit di rumah, sementara mereka bekerja. 

Mari Hadapi Corona dengan Bijak

Sungguh tidak ada yang salah dengan keinginan untuk selalu mengekspos diri kita, karena memang cara orang berbeda-beda. Tapi tak ada salahnya dan menurut saya seru juga jika kita bersama-sama hadapi corona ini bersama-sama dengan cara yang bijak. Cara-cara yang tetap memikirkan dampaknya bagi orang lain yang tidak mendapatkan privilage yang sama dengan kita.

Cara-cara yang tetap menunjukkan empati kita pada mereka yang tengah berpikir keras tentang esok akan makan apa, sementara penghasilan mereka adalah dari bayaran buruh harian. Jadi, mari tetap bijak untuk tidak mengekspos terlalu berlebihan hak isitimewa (privilage) yang kita miliki. Sehingga untuk temen-temen yang tidak bisa bekerja dari rumah, tidak bisa bersama keluarga, tidak terlalu berkecil hati. 

Dalam kondisi saat ini, saatnya kita belajar bagaimana tetap mensyukuri hal kecil yang mungkin luput kita sadari. Banyak yang mengeluh karena tidak bisa keluar-keluar bebas kaya kemarin, tidak bisa nongkrong, coba cek, di luar sana banyak yang tidak sesimpel merasa bosan di rumah. Di luar sana banyak yang KEHILANGAN pekerjaan dan mata pencaharian. Kita masih sehat, makan tercukupi, malam bisa tidur nyenyak. Saat ini, setidaknya hal itu perlu kita ulangi berkali-kali, agar kita mampu tetap bersyukur dengan apapun yang sedang kita jalani. .

Terimakasih mendalam untuk yang masih tetap ada untuk mendukung banyak hal tetap berjalan, semoga Allah lindungi dan berikan kebaikan yang berlimpah. Untuk semua yang terdampak, semoga ada banyak kebaikan lain menanti, pengganti ikhlas yang kamu selipkan di hati.

Semua tidak ada yang abadi, termasuk situasi ini. Saya sendiri sebagai business owner, ingin berkirim pesan pada teman-teman business owner lain, salam semangat dan sayang dari saya. You are not alone. Apapun yang kamu putuskan, semoga yang terbaik. Kita bisa bareng-bareng bersama hadapi ini. Di akhir waktu pandemic ini berakhir nanti, kita bareng-bareng dongkrak kondisi negri ini, dari titik terkecil, dari titik yang paling mampu kita lakukan. 

Di sini saya ingin menyampaikan, pada akhirnya makna #WFH bukan sekadar diam di rumah, menyendiri di rumah, lebih dari itu adalah menahan diri dari sikap kita sendiri. Menahan diri untuk tidak mengekspos diri berlebihan, hingga berdampak pada jiwa lain yang tak mampu seberuntung kita. Menahan diri dari sikap masa bodoh atas nasib orang lain. Menahan diri dari semua yang merugikan diri dan orang lain, hingga tanpa sadar kita mampu menemukan kesejatian diri kita dan berikan bijak memanfaatkan privilege WFH ini. Bersikap bijak memerangi virus ini bersama-sama.

Sumber Gambar: ilustrasi freepik

Profil Penulis

Indah W. Wardani atau yang dikenal dengan nama Indah Ederra merupakan seorang perempuan pengusaha muda sekaligus seorang desainer muda berbakat asal Yogyakarta. Ia ikut meramaikan fashion muslim tanah air dengan desain-desainnya. Indah memulai bisnis fashion muslim sejak tahun 2011. Dia juga merupakan owner butik Ederra di Yogyakarta. Alamat instagramnya adalah @indahederra atau https://www.instagram.com/indahederra/ sementara alamat brandnya adalah @ederraid


Indah Ederra

Indah W. Wardani atau yang dikenal dengan nama Indah Ederra merupakan seorang perempuan pengusaha muda sekaligus seorang desainer muda berbakat asal Yogyakarta. Ia ikut meramaikan fashion muslim tanah air dengan desain-desainnya. Indah memulai bisnis fashion muslim sejak tahun 2011. Dia juga merupakan owner butik Ederra di Yogyakarta. Alamat instagramnya adalah @indahederra atau https://www.instagram.com/indahederra/ sementara alamat brandnya adalah @ederraid

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Contact Us