“Cewek single sebenarnya sudah lebih siap menghadapi situasi #DiRumahAja karena tiap malam minggu juga di rumah. Cuma mungkin yang kerasa banget kalau habis pulang kuliah atau pulang kerja biasanya masih bisa hangout (jalan keluar) sama teman, ada acara komunitas atau organisasi atau olahraga, nah ini gak bisa”

Saat ini pembahasan tentang kegiatan apa yang paling menarik untuk dilakukan selama masa #DiRumahAja maupun #WorkingFromHome, menjadi salah satu tema menarik untuk dibahas. Apalagi, dalam hal ini bagi para perempuan single. Saya dan Jessica Farolan pada Jumat (3 April 2020) turut membahas isu ini melalui live streaming instagram. Tentunya dari sisi pengalaman dan pembelajaran kami yang berlatar belakang sebagai psikolog. Jessica juga seorang trainer yang biasa mengedukasi masyarakat tentang kesehatan psikologis dan human well being (kebahagiaan).

Menurut Jessica, karantina mandiri ini jadi kesempatan untuk lebih mengenal emosi dan lebih belajar mengelola emosi, sehingga semakin punya emotional Intelligence dan berlatih pengelolaan stres atau stress management.

Emotional Intelligence di sini maksudnya adalah belajar KENAL sama emosi yang muncul. Dalam hal ini misalnya bagaimana kita membedakan marah, kesal atau kecewa. Lalu, kita mulai merasakan dan mengenalinya dari skala 1-10 seberapa intens rasa tersebut. Dari sini kemudian emosi itu DITERIMA dan DIAKUI.

RAGAM CARA KELOLA EMOSI

Setelah emosi diterima dan diakui, kita bisa mulai menggunakan beragam cara untuk mengelola emosi dan stres. Dalam masa karantina ini tentu sangat terasa ragam emosi yang kita rasakan, sementara kita tidak leluasa bergerak sesuka hati mencari suasana lain selain di rumah. 

Tentunya, tidak semua cara yang digunakan bisa sama. Kita perlu cari tahu dan belajar lagi. Cara ini juga salah satunya yang menjadi pembahasan penting diskusi saya bersama Jessica.

Jessica dan saya berbagi cara pengelolaan emosi dan stres yang kami lakukan. Kami dalam hal ini saling belajar berdasarkan pengalaman dan pembelajaran kami selama ini. Cara kami di antaranya meditasi atau melatih pernapasan yang masing-masing memiliki cara tersendiri. 

Kalau di antara kita ada yang menggunakan aplikasi bisa dengan headspace atau Insight Timer, lalu bisa juga di Youtube. Kalau yang berbahasa Inggris banyak resource “Guided Meditation” atau kalau mau dalam Bahasa Indonesia bisa juga coba search versi Reza Gunawan.

Kalau di instagram Live saat ini ada meditasi bersama dari @pishiyoga dan @rumahremedi. Saya sendiri selama ini terbantu untuk lebih tahu gelombang emosi diri sendiri dengan menggunakan aplikasi “Moodpath”. Aplikasi ini akan bertanya dalam sehari tiga kali tentang bagaimana dan apa emosi yang kita rasakan. Lalu, ada juga pilihan “emotion”. 

Setelah 14 hari, dia mengeluarkan laporan (report) tentang emosi kita, sehingga kita jadi terbantu. Dari sini, kita akan lebih memahami pola emosi kita, sehingga ketika kita mau konseling ke profesional di bidang kesehatan mental maka kita punya data lebih. 

Saya sendiri sebelum “live” diskusi ini, siang sebelumnya baru selesai “live” untuk sesi konseling. Sebagai klien, saya terbantu banget dengan profesional di bidang kesehatan mental untuk mengelola kecemasan. 

KUNCI MENGENALI DIRI SENDIRI

Saat diskusi bersama Jessica, saya juga sempat membahas soal karakteristik yang “High Anxiety” atau kecemasan tinggi, serta kecenderungan overthinking, sehingga meditasi atau berlatih napas itu sangat membantu untuk grounding dan be present here and now.

Teknik grounding merupakan teknik sederhana yang digunakan para ahli psikologi untuk membuat pikiran kita yang sebelumnya melayang-layang dan tidak fokus, kembali ke kesadaran utama. Teknik grounding berfokus pada momen yang terjadi saat ini. Hal ini mirip dengan konsep meditasi, namun dilakukan dengan lebih simpel. Dengan begitu, saat kembali melakukan hobi-hobi kita juga sangat penting untuk kesehatan mental di masa sekarang. 

Kunci dari mengenali diri sendiri adalah belajar dari cara orang lain, tapi tetap disesuaikan lagi dengan tipe kita karena setiap orang berbeda-beda cara personalitinya. Dalam ilmu psikologi, teori ini dinamakan “Self in Relation Theory”.

Selama ini perempuan suka mendefinisikan dirinya, siapa dirinya, bahkan keberhargaan dirinya dari relasi dengan orang-orang yang penting di sekitarnya. Apalagi selama masa pandemik ini, kita perlu belajar lebih kenal dan berelasi lagi dengan diri kita sendiri. Salah satunya lewat mengenali, menerima dan mengakui emosi-emosi yang muncul dan melakukan cara-cara selfcare emosi dan kesehatan mental, seperti melakukan beragam hobi kita dan relaksasi. 

Ilustrator: @rusakutub_

Profil Penulis

Anastasia Setyaning Anandiputri Satriyo M.Psi., Psi merupakan seorang Psikolog klinis anak yang menginspirasi Indonesia melalui buku dan media sosial “TigaGenerasi”. Akun instagramnya @anassatriyo.


Anastasia Satriyo, M.Psi., Psi

Anastasia Setyaning Anandiputri Satriyo M.Psi., Psi merupakan seorang Psikolog klinis anak yang menginspirasi Indonesia melalui buku dan media sosial “TigaGenerasi”. Akun instagramnya @anassatriyo.

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Contact Us