Ibuku sering memukulku, saudaraku dan bapakku.

Sejak kecil, ibuku selalu memukuliku ketika dia sedang marah atau jika aku tidak menuruti permintaannya. Bukan hanya aku, ibuku juga kerap kali memukuli saudaraku dan suaminya.

Aku kira ibuku akan berhenti memukul ketika aku dewasa, tetapi ia masih saja memukuliku hingga aku duduk di bangku sekolah menengah atas (SMA). Jika tidak memukul, ibuku akan mengeluarkan kata-kata yang sangat menyakitkan hati dan diiringi dengan nada tinggi.

Aku pernah depresi

Ketika aku depresi, aku menyadari (dan dibantu untuk menyadari) bahwa salah satu penyebabnya adalah perlakuan ibu kepadaku, kepada saudaraku serta kepada suaminya sendiri.

Aku sangat marah dan membenci ibuku selama bertahun-tahun. Yang paling utama, karena ibuku tidak menyadari bahwa ada banyak luka yang ditorehkan olehnya.

Depresiku ternyata karena ibuku, tapi ibuku juga korban

Proses terapi (healing) yang kujalani membawaku pada pemikiran bahwa ibuku juga korban. Korban atas semua tekanan yang dialaminya semasa kecil. Tekanan yang dihadapinya semasa kecil dari keluarganya, membuatnya menjadi sosok yang tidak tahu bagaimana cara untuk meluapkan atau mengekspresikan emosinya.

Ibuku dituntut untuk selalu merasa baik-baik saja, sehingga ia tidak sadar akan lukanya sendiri dan malah berbalik melukai orang-orang yang menyayanginya. Apabila di satu titik ia mengakui bahwa dirinya tidak baik-baik saja, ibuku takut kehilangan kesempurnaannya beserta perhatian semu keluarga dan temannya.

Ternyata, ibuku perempuan yang Malang.

Ibuku adalah perempuan malang. Sampai saat ini aku pun masih belajar memaafkannya. Aku belajar mengenal dan membebat lukaku, agar kelak aku tidak menjadi ibu yang sama, yang acap kali menyakiti hati putra-putri dan pasangan hidupnya.

Sejak saat itu ibuku selalu ingin menunjukkan bahwa ia kaya dan bahwa kehidupannya baik-baik saja, seakan tidak peduli anak dan suaminya babak belur asal orang lain melihatnya sebagai perempuan sukses. Ya, sebuah kesuksesan yang semu.

PEMBELAJARAN

Belajar dari kisah sender (pengirim kisah), siapapun kita tak pernah berpikir untuk berada pada hubungan (relasi) toxic (beracun). Apalagi dengan orang tua kita sendiri, terutama dengan ibu kita. Bagi kami, pembelajaran penting dari kisah sender (pengirim cerita).

Kepada siapapun dalam kondisi yang hampir sama, kami sadar bahwa kondisi semacam ini tidaklah mudah menghadapinya. Namun, setidaknya kamu sudah berusaha menguatkan batinmu. Kamu juga sudah melakukan hal yang tepat dengan konsultasi ke profesionol (Psikolog). 

Upaya lain yang bisa kita lakukan sendiri adalah dengan menuangkan “beban”-mu ke dalam tulisan. Kamu mungkin merasa sangat marah mengenai situasi ini, dan harus memiliki ruang untuk curhat. Salah satu hal yang dapat dilakukan adalah menulis jurnal. Pastikan tempatmu meletakkan jurnal tidak dapat dijangkau oleh siapa pun, terlebih lagi seseorang yang membuatmu tertekan atau pelaku kekerasannnya. Tulislah apa pun yang kamu rasa bisa membuat pikiran dan hari kamu tenang.  Meski demikian, jangan hanya menuliskan masalah yang kamu hadapi, tapi juga solusi yang kamu tempuh.

Tulisan apa yang bisa kamu tuliskan? hal positif mengenai dirimu. Jika orang tua membuatmu merasa tidak baik, ingatkan pada diri sendiri bahwa kamu juga berharga! kamu mungkin membuat kesalahan, tapi begitu juga orang lain. Pikirkanlah, atau tulislah dalam jurnalmu minimal satu hal baik mengenai dirimu setiap hari. Kamu juga dapat menanyakan hal ini kepada teman dan keluarga. Akan membantu jika mendengar hal positif dari orang lain tentangmu.

Kamu juga perlu ingat bahwa ini bukan salahmu. Perilaku orang tuamu bukanlah salahmu, sebaliknya kamu harus bersyukur karena sudah menyadari hal tersebut. Hal ini membantumu untuk memecahkan siklus. Kamu harus paham bahwa kenegatifan orang tuamu tidak ada hubungannya dengan kesalahanmu.

Selain itu, jangan lupa temukan orang yang dapat kamu percaya. Untuk memberitahu orang tua mengenai perasaanmu, mungkin tidak akan mengubah banyak hal, terutama jika mereka tidak menyadari akan “toksisitas” mereka. Kamu bisa meminta bantuan anggota keluarga atau profesional, seperti psikolog atau spesialis kedokteran jiwa (psikiater). Siapa pun yang kamu pilih, beri tahu apa yang kamu rasakan akibat perilaku orang tuamu. 

Kisah ini ditulis tangan oleh sender, diketik dan diedit oleh @gbrllreginaa , salah satu tim redaksi @perempuanberkisah. Kisah ini ditulis sender dalam proses pelatihan singkat menulis ekspresif yang diadakan oleh Komunitas Perempuan Berkisah dalam Pelatihan Self Healing dan Expressive Writing, pada Minggu 26 Januari 2020. Kisah ini juga telah dipublikasikan di instagram @perempuanberkisah dan telah mendapatkan respons dari follower @perempuanberkisah.


0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Contact Us