Siapa yang belum paham hubungan beracun atau toxic relationship? Atau sebenarnya sudah sadar namun pura-pura buta? Hubungan beracun adalah perilaku beracun yang bisa merusak diri dalam bentuk fisik, emosional, seksual, bahkan ekonomi. Biasanya perilaku ini tidak disadari oleh pihak yang menerimanya, atau mungkin disadari, namun ditutup dengan dalih “cinta.” 

Pada hubungan yang beracun, hari-hari yang dilalui terasa sangat menyiksa. Gerak gerikmu terbatas akan rasa takut. Kamu merasa tertekan, takut kena amarah dari pasanganmu. Kamu mau melakukan apapun dihantui rasa “apakah yang kulakukan benar?” Kalau kamu salah langkah dalam mengambil keputusan, kamu akan hancur.

Teman-temanmu dan bahkan keluargamu sudah berulang kali mengatakan untuk keluar dari hubunganmu dengan pasanganmu, namun rasanya sangat sulit. Kamu merasa bisa mengubah pasanganmu menjadi lebih baik. Kamu menunggu hari itu akan datang. Sambil menunggu, ada hal yang tidak kamu sadari, dia mengikis fisik dan psikismu.

Setelah dia menyakitimu, dia memanipulasimu dengan mengatakan bahwa apa yang dia lakukan didasari rasa sayangnya padamu. Dia memukulmu karena ingin memberikan pelajaran bahwa kamu salah, supaya kamu tidak mengulangi perbuatanmu.

Kamu sudah merasa ada yang salah ketika dia berkata kasar atau berperilaku kasar padamu. Kamu berusaha berbicara padanya bahwa kamu tersakiti. Lalu apa yang dia lakukan? Meminta maaf dan memberikan justifikasi supaya kamu bisa memaafkannya.

SIKLUS HUBUNGAN BERACUN

  1. FASE MENEKAN

Hubungan yang sehat seharusnya berdasar pada kemampuan saling percaya dan menghargai privasi masing-masing. Dia pasangan kamu, namun kamu merasa dia sudah mengambil alih kontrol hidupmu. Kamu merasa takut dan berusaha menyenangkan pasanganmu, dengan alasan agar dia tidak marah, namun kamu lupa, hal yang kamu lakukan membuat kamu tidak menjadi dirimu sendiri.

Contohnya, dia melarang kamu pulang malam atau mengatur cara berpakaian kamu, dengan alasan melindungimu. Kamu berusaha menyenangkan hatinya dengan menuruti keinginannya, padahal kamu tahu, kamu bukan dirimu lagi. Kamu dimanipulasi untuk berubah dengan alasan menjadi lebih baik (menurut versinya), bukan versimu. Jika perbuatanmu tidak sesuai dengan keinginannya, dia akan berperilaku pasif agresif.

2. FASE MENYERANGMU (FISIK MAUPUN PSIKISMU)

Setelah perilakumu membuat dia marah (sesungguhnya kamu tidak salah, namun dia membuatmu merasa bersalah), kamu mulai mendapat perlakuan kasar secara verbal maupun fisik. Contohnya, kamu pulang malam (karena kamu ada kegiatan ABC atau alasan apapun) dan diantar pulang oleh teman yang berbeda orientasi seksualnya denganmu.

Pasangan kamu langsung menghakimimu karena : Satu, kamu pulang malam. Dua : Kamu diantar pulang oleh temanmu (yang menjadi alasan kecemburuan pasanganmu). Kamu dicap perempuan tidak benar yang pulang malam dan dianggap sebagai piala bergilir hanya karena diantar pulang teman. Lalu apa yang terjadi? Kamu minta maaf, mengemis padanya supaya dia memaafkanmu, kamu berjanji tidak akan mengulanginya. Lalu kamu mendapat silent treatment atau bahkan mendapat pukulan. Dalam fase ini kamu bisa saja merasa bahwa ada yang salah, kamu akhirnya keberatan dengan sikap pasanganmu dan ingin memutus hubungan dengannya.

3. PERMINTAAN MAAF

Setelah kamu mengutarakan keberatanmu (karena pada akhirnya kamu sadar bahwa itu bukan salahmu) dan kamu ingin memutus hubungan dengannya, pasanganmu meminta maaf. Meminta maaf dengan berbagai alasan dan penyangkalan. Dia meminta maaf sambil menyangkal bahwa apa yang dia lakukan berdasar pada rasa sayangnya padamu, dan ingin melindungimu (padahal manusia yang menyakitimu nampak jelas di pelupuk matamu, pasanganmu sendiri).

Tentu saja, dalam fase  ini, kamu akhirnya luluh, memaafkannya. Kamu cerita pada teman-temanmu tentang apa yang terjadi. Temanmu menasihatimu, namun kamu akhirnya mengatakan “Dia mau berubah. Dia memukulku karena dia sayang, dan dia lakukan itu karena peduli padaku.”

4. FASE TENANG

Setelah dia meminta maaf, kamu memaafkannya, tibalah dalam fase tenang. Kondisi mulai stabil karena pasanganmu melakukan kebaikan-kebaikan (yang membuatmu jatuh cinta lagi padanya) dan berjanji tidak akan melakukan hal tersebut, membuatmu lupa terhadap kekerasan yang kamu alami.

Lalu setelah empat fase ini dilalui, selanjutnya apa? Kembali lagi ke fase pertama. Begitu terus sampai negara api menyerang. Teman-temanmu sudah sampai berbusa mulutnya menasihatimu bahwa pasanganmu menyakitimu, kamu tidak akan berkembang kalau terus-terusan bersamanya.

Kalau ternyata dalam isu ini kamu bukanlah pihak yang bersangkutan, namun kamu adalah teman korban, yuk bantu temanmu. Melelahkan memang mendengar cerita temanmu yang itu-itu saja. Satu-satunya cara yang bisa kamu lakukan adalah menasihatinya terus-menerus bahwa pasangannya menyakitinya, hingga membentuk pola. Karena pada akhirnya keputusan untuk bertahan atau meninggalkan hubungan beracun ada pada si empunya hubungan.

Siklus tersebut merupakan fase hubungan beracun yang bisa menghancurkanmu perlahan, namun pasti. Bagaimana caranya keluar dari hubungan beracun tersebut? Cara satu-satunya adalah “tinggalkan dia!”.

Tidak mudah memang meninggalkan orang yang kita kasihi sepenuh hati, namun kamu bisa bayangkan, lebih sakit hati mana saat bersamanya atau saat tidak bersamanya? Mulailah belajar mencintai diri sendiri. Bagaimana caranya orang lain bisa mencintaimu, kalau kamu belum bisa mencintai dirimu sendiri? Tidak perlu menunggu dia berubah perlahan karenamu, karena jika iya, dia sudah melakukannya sejak dulu, tanpa bantuanmu.

Ilustrasi : @rusakutub_ , Tim ilustrator @perempuanberkisah

Profil Penulis

Agrimerinda adalah manusia yang senang berdialog tentang isu feminis dan hal-hal tabu. Jangan takut menghubunginya via instagram @agrimerinda ya, tidak menggigit.


Agrimerinda

Agrimerinda adalah manusia yang senang berdialog tentang isu feminis dan hal-hal tabu. Jangan takut menghubunginya via instagram @agrimerinda ya, tidak menggigit.

2 Comments

Chindy · April 24, 2020 at 11:59 pm

Aku pernah berada di fase ini, sehingga membuat ku merasa senang disakiti, merasa ada yg kurang jika aku tak disakiti. Setelah mulai sadar aku harus meninggalkannya. Berat rasanya tapi aku harus keluar dari hubungan toxic yg ga sehat banget, setelah itu aku memperbaiki diri sendiri, banyak hal yg harus di ubah lagi, salah satunya, rasa selalu ingin disakiti yg sebelumnya sudah ku rasakan setiap hari. Ini udah termasuk mental i’llness ga sih?

    redaksi · April 27, 2020 at 11:34 am

    Dear Chindy, terimakasih pembelajarannya. Kami penasaran dan ingin tahu bagaimana kamu mampu lepas dari hubungan toxic? apalagi sampai pada tahap kamu merasa senang uituk disakiti.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Contact Us