Definisi ibu yang baik pun bagi setiap orang tidaklah sama, karena kita perempuan, masing-masing berbeda isi kepala, cara pandang, gaya hidup dan preferensinya. Bagaimana mungkin kita hanya memaksakan satu standar ibu yang baik saja pada semua ibu yang ada di dunia ini, padahal begitu banyak keragaman yang mereka bawa sebagai seorang manusia? Kita meniadakan setiap pribadi ibu itu sendiri jika kita menetapkan satu standar ibu yang baik. Selain itu juga tidak membuka ruang pada berbagai ragam model ibu lainnya. 

Apakah saya seorang ibu yang baik? Apakah saya juga cukup baik bagi anak saya? Mengapa saya selalu merasa diri ini bukan ibu yang baik? Apakah ini hanya perasaan saya saja? Saya pernah, bahkan pada tahun-tahun awal menjadi ibu, perasaan ini begitu sering muncul di dalam diri saya. 

Sebenarnya tidak ada satu orang pun yang secara frontal mengatakan bahwa saya bukan ibu yang baik. Namun berdasarkan pengalaman saya sebagai seorang ibu, saya sering kali merasa saya kurang baik untuk anak saya. Selama 13 tahun saya merasa bukan sebagai ibu yang baik. Lalu saya mulai refleksi diri mengapa saya merasa bukan sebagai ibu yang baik?

GAMBARAN IBU IDEAL BERBEDA DENGAN REALITA

Sampai saat ini, konsep seorang sosok ibu ideal selalu muncul dari masyarakat. Bukan dari pemikiran perempuan itu sendiri. Berdasarkan pengalaman, pengamatan dan buku-buku yang saya baca, ibu ideal itu adalah ibu yang berkiprah maksimal di ranah domestik. 

Ibu ideal selalu saja digambarkan sebagai sosok yang mampu mengurus dan merawat anak suami dengan baik dan penuh kasih. Mereka dituntut pandai  memasak, beres-beres rumah, serta piawai dalam hal menjahit dan membuat kue. Konsep ini semakin mengakar ke pikiran masyarakat  sebagaimana media menggambarkannya. 

Ketika saya baru melahirkan anak saya 13 tahun lalu, media sosial (medsos) belum ramai seperti saat ini. Salah satu sumber acuan para ibu baru mencari informasi adalah melalui majalah khusus parenting. Ada beberapa majalah yang terbit saat itu. Inti di setiap materi konten majalah tersebut adalah fokus pengasuhan anak selalu diletakkan pada ibu, sementara bapak berperan sebagai asisten yang membantu ibu untuk mengurus anak. 

Ibu selalu digambarkan penuh sukacita saat mengasuh anak, tidak pernah terlihat lelah, kesal, murung dan lesu. Sampai saat ini, saya  masih sulit memahami mengapa potret yang digambarkan di majalah-majalah tersebut adalah seorang ibu yang sedang bersama anaknya, baik di sampul depan maupun di ilustrasi artikel-artikelnya, selalu tampil rapih dan cantik dengan dandanan natural tipis-tipis. 

Pakaian mereka juga biasanya diperlihatkan dengan baju yang bagus, bukan daster atau kaos buluk. Pada kenyataannya, saya tidak pernah berdandan manis di rumah saat mengurus anak saya. Sungguh besar jurang antara apa yang tergambar di majalah dan realita kehidupan menjadi ibu.

Gambaran seorang ibu di media massa ini semakin diperkuat dengan celetukan-celetukan ringan dan halus, yang bergerak wajar dalam keseharian, tidak dianggap sebagai sumber masalah, dibalut dengan motif perhatian atau basa basi, dan ditampilkan dalam ritme yang pelan tetapi konstan, konsisten dan tetap. 

Celetukan-celetukan yang diucapkan dengan penuh senyum tapi di saat yang bersamaan penuh pandang menyelidik ingin tahu, dari seorang ibu yang biasanya lebih senior daripada kita, ibu baru yang masih beradaptasi dengan hidupnya pasca melahirkan anak.

“Melahirkannya sesar atau normal?” 

Jika kita menjawab melahirkan normal, ucapan berikutnya, “wah hebat ya, tahan sakit berapa jam?”

Tapi jika kita melahirkan secara sesar, tanggapannya adalah, “wah belum benar-benar merasakan jadi ibu dong ya…”. Teman saya sendiri pernah mengalami diberikan ungkapan ini, saat ia masih lemas terbaring di tempat tidur menahan sakit pasca operasi sesar. 

Itu baru soal cara melahirkan. Masalah tidak berhenti sampai di sini, karena selanjutnya anak kita akan bertambah besar dan dalam laku ibu, selalu ada saja orang-orang yang mengomentari, yang biasanya adalah sesama kaum perempuan sendiri. 

“Kok anaknya kurusan? Nggak dikasih makan sama Mama ya? Aduuuuuh kasihan…kasihan…” 

Saat itu, saya sambil memegang bayi di pangkuan ibunya yang baru saja “dihantam” dengan ungkapan “tidak kasih makan anak.”

“Ini nggak ASI (air susu ibu) eksklusif ya? Kok campur susu formula?” 

Seakan mereka tidak pernah mengetahui perjuangan saya memerah ASI tapi tetap tidak cukup, karena untuknya, ASI harusnya cukup, kalau tidak cukup ini karena ibunya tidak bahagia, moodnya sedang tidak bagus. Pertanyaannya: bagaimana mood saya bisa bagus jika Anda bertanya menyelidik macam itu?

Masih banyak contoh komentar lain tapi cukup saya tulis beberapa saja di sini. Jika kita membacanya, pikiran pertama yang terbersit mungkin seperti ini: “Untuk apa dipikirkan perkataan orang lain, tidak usah baper, santai saja”.

TAK ADA RUANG BAGI PIKIRAN KITA UNTUK MENDEFINISIKAN KONSEP IBU IDEAL

Dari sekian pernyataan yang menyudutkan dan menghakimi saya sebagai seorang ibu, rasanya masyarakat kita lebih mudah bicara daripada melakukannya. Seakan kita tak pernah diberi ruang untuk mendefinisikan apa itu ibu ideal berdasarkan pemikirannya sendiri. Yang terjadi adalah tiap hari kita terlalu intens dibombardir dengan wacana ibu ideal dari beragam komentar, teladan perempuan-perempuan yang lebih tua darinya, serta gambaran dalam media massa.

Pengaruh semua konsep yang dilemparkan kepada perempuan  inilah yang membuat perempuan kesulitan untuk berpikir jernih. Berpikir apakah ada cara lain untuk menjadi ibu yang baik, selain dengan cara mengikuti standar ibu ideal yang selama ini diagung-agungkan. 

Masyarakat patriarki memang akan terus berusaha melanggengkan standar ibu ideal ini, agar relasi kuasa antara laki-laki dan perempuan dapat tetap terjaga kelangsungannya. Laki-laki yang mapan, kepala rumah tangga yang disegani, siap sedia melindungi dan menjaga keluarganya adalah gambaran dari bapak ideal berdasarkan norma patriarki. 

Agar bapak ideal ini dapat tetap terjaga eksistensinya, perlu menciptakan “lawan yang saling membangun definisi” dari bapak ideal ini, atau yang kita sebut dengan istilah “oposisi biner”, yaitu ibu ideal. Bapak ideal yang sesuai dengan standar norma patriarki tidak akan pernah ada jika tidak ada oposisi binernya, yaitu ibu ideal. 

Jika bapak melindungi dan menjaga, maka harus ada yang dilindungi dan dijaga. Jika bapak berkiprah di ranah publik, maka harus ada yang berkiprah di ranah domestik. Di titik ini ada obyek nyata yang dapat ia lindungi dan jaga, maka di titik itu bapak ideal menemukan definisinya. Jika tidak, definisi bapak ideal tidak akan pernah terbangun, demikian juga halnya dengan definisi ibu ideal.

Kabar baiknya, karena “ibu yang baik” ini adalah konstruksi budaya dari masyarakat patriarki, maka ia selalu terbuka untuk direkonstruksi dan dipertanyakan kembali. Kita dapat mulai membangun banyak wacana lain, misalnya mengenai ibu yang baik selain wacana dominan yang selama ini dipertanyakan. 

Definisi ibu yang baik pun bagi setiap orang tidaklah sama, karena kita perempuan, masing-masing berbeda isi kepala, cara pandang, gaya hidup dan preferensinya. Bagaimana mungkin kita hanya memaksakan satu standar ibu yang baik saja pada semua ibu yang ada di dunia ini, padahal begitu banyak keragaman yang mereka bawa sebagai seorang manusia? Kita meniadakan setiap pribadi ibu itu sendiri jika kita menetapkan satu standar ibu yang baik dan tidak membuka ruang pada berbagai ragam model ibu lainnya. 

Laku ibu pertama-tama haruslah ditentukan oleh ibu itu sendiri: mau jadi ibu seperti apakah dirinya? Diam di rumah mengurus rumah tangga secara penuh waktu atau mau memilih bekerja? Mengurus sendiri anaknya atau minta bantuan orang lain untuk turut mengurusnya? Semua itu harus ditentukan oleh ibu itu sendiri.

Barometer apakah kita ibu yang baik itu sebenarnya mudah menentukannya. Apakah anak kita bahagia ber-ibu-kan kita? Apakah ia pernah protes minta ganti mama? Sepanjang anak kita bahagia dengan memiliki diri kita sebagai ibu, maka tidak ada persoalan berarti yang harus kita selesaikan. Kita adalah ibu yang baik untuk anak kita. Tidak perlu kita menjadi ibu yang baik untuk orang lain, karena kita bukan ibu mereka. 

Ilustrasi: freepik

Profil Penulis

Rouli Esther Pasaribu adalah seorang istri, ibu, dan dosen yang tertarik pada isu-isu perempuan. Pada waktu senggangnya, ia senang membaca, menulis dan mendengarkan musik klasik. Dapat ditemui di akun Instagram @rouliesther atau akun facebook Rouli Esther Pasaribu.


Rouli Esther Pasaribu

Rouli Esther Pasaribu adalah seorang istri, ibu, dan dosen yang tertarik pada isu-isu perempuan. Pada waktu senggangnya, ia senang membaca, menulis dan mendengarkan musik klasik. Dapat ditemui di akun Instagram @rouliesther atau akun facebook Rouli Esther Pasaribu.

1 Comment

Nilawati · February 17, 2021 at 10:47 pm

Terima kasih untuk tulisannya Bu. Semua yang ibu tulis adalah apa yang sedang saya rasa kan saat ini, kekhawatiran apakah saya bukanlah seorang ibu yang baik untuk anak saya.. Namun tulisan ibu memberikan sedikit keyakinan Dan kepercayaan pada diri saya..
Terima kasih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Contact Us