Kita memantaskan diri bukan untuk dilamar, tapi untuk diri kita sendiri. Ketika kita konsisten mengupayakan kebahagiaan kita dan memantaskan diri, serta bersikap tegas dengan prinsip kita, pada akhirnya orang pun akan memahami, karena mereka terbiasa dengan sikap kita. Memang semuanya butuh waktu dan proses yang tidak singkat. Ini kerja internal terus menerus.

DEA SAFIRA (DOKTER GIGI, PEGIAT ISU PEREMPUAN & PENULIS “HANTU-HANTU PATRIARKI”

“Jodohmu pasti datang sembari kamu memantaskan diri”
“Untuk kamu yang sedang belajar memantaskan diri sebelum melangkah ke jenjang pelaminan”
“Hai kamu, calon jodoh kamu seperti apa? aku ingin memantaskan diri, hehe…”
“Wujudkan impian kamu sekarang juga agar bisa memantaskan diri untuk menikah!” 

Hmm….kira-kira demikian beragam judul artikel yang muncul ketika kita mengetikkan kata kunci “memantaskan diri”. Kamu tahu kan siapa yang dimaksud? siapa yang dituntut untuk memantaskan diri? Yup! perempuan. Lagi-lagi perempuan. Tapi laki-laki juga ada? Iya, ada, tapi siapa yang paling banyak dijadikan objek? perempuan! siapa yang paling banyak dituntut? perempuan! Siapa yang paling rentan terpengaruh karena tuntutan perihal memantaskan diri? perempuan! Yah, lagi-lagi perempuan. 

Sekarang, apa kah kita masih mau dan terus dituntut untuk memantaskan diri hanya agar dinilai positif oleh orang lain? Kita berubah dan memantaskan diri kita hanya karena pikiran orang lain menuntut hal tersebut? TIDAK! UNGKAPKAN LEBIH KERAS LAGI! LAGI! TIDAK! TIDAK!

Perempuan pintar dan berpendidikan tinggi untuk siapa? untuk dirinya, bukan karena perempuan sebagai madrasah bagi anak-anaknya, pun bukan karena dia akan menjadi seorang ibu. Karena tidak semua perempuan akan menjadi ibu. Lalu perempuan berdandan untuk siapa? Untuk dirinya, bukan untuk menggoda lelaki atau bersaing sesama teman perempuannya. Berdandan atau tidak berdandan, sama-sama bagian dari passion perempuan yang dipilih secara sadar. 

Lalu bagaimana jika perempuan berusaha memperdalam agamanya? menjadi sosok yang “lebih baik” menurut pandangan masyarakat pada umumnya, demi apa dan siapa? ya demi dirinya sendiri. Bukan semata agar mendapat kesan positif dari orang lain, apalagi dari lelaki yang konon, kelak akan melamarnya. 

Siapapun diri kita, segala upaya kita memantaskan diri, tak lain dan tak bukan, demi dirinya sendiri. Siapapun kita, ikuti kata hati, dengarkan suara hatimu, pelahan berhenti memikirkan apa yang orang lain pikirkan. Kau tahu, tak ada yang lebih indah dari seorang perempuan yang menjadi dirinya a, merasa nyaman dalam segala ketidaksempurnaan yang sempurna. Tak ada yang keliru dengan memantaskan diri menjadi pribadi lebih baik, namun jangan sampai semua itu dilakukan demi penilaian orang lain, apalagi sampai mengabaikan segala potensi dirimu. 

Oke sampai di sini sepakat? Apa kah sesimpel itu? Bisa iya, bisa juga tidak, karena siapapun kita memiliki kerentanan berbeda-beda. Apa yang kami kutip di atas, itu baru dari media. Bagaimana dengan pernyataan langsung yang sering kamu dengar dan lontarkan kepadamu perihal “memantaskan diri” dan sekian tantangan dan strategi melawan tuntutan prihal “memantaskan diri” ini? Tim redaksi Perempuan Berkisah (PB) melalui program #NgobrolSantai live on instagram, mengundang Dea Safira, seorang dokter gigi, pegiat isu perempuan dan penulis buku “Membunuh Hantu-hantu Patriarki”, untuk berbagi pengetahuan, pembelajaran, pengalaman dan sudut pandangnya tentang “Memantaskan Diri”. #NgobrolSantai yang dilaksanakan pada Selasa (21/7/2020) berlangsung selama 2,5 jam dengan 4 kali live. Dea Safira ditemani Alimah, Founder @perempuanberkisah. Berikut adalah hasil obrolan bersama Dea Safira, selengkapnya, silakan tonton live videonya hanya di IGTV @perempuanberkisah.

“MEMANTASKAN DIRI” ITU APA SIH?

  • DEFINISIKAN KEBAHAGIAAN KITA SENDIRI : Kita harus mendefinisikan kebahagiaan kita sendiri dan definisi “pantas” untuk diri kita sendiri. Misal, aku merasa berdaya jika aku melanjutkan pendidikanku, aku merasa berdaya jika..(silakan isi sendiri) berdasarkan tolok ukurmu, bukan orang lain. Tapi berdasarkan tolok ukurmu sendiri.
  • TENTUKAN STANDAR KEBAHAGIAAN KITA: Tentukan standar kita, lalu kita wujudkan untuk kepantasan diri kita sendiri.
  • KERJA INTERNAL TERUS MENERUS: Memantaskan diri itu kerja internal kita sendiri. Kerja yang ada di otak dan jiwa kita. Kerja yang akan terus kita lakukan terus menerus. Pastikan itu sudah sesuai dengan keinginan kita, bukan karena tuntutan dari orang lain.

KAMU DITUNTUT MEMANTASKAN DIRI? BEGINI CARA MERESPONNYA:

  • MELIHAT SESUATU DARI SUDUT PANDANG ORANG LAIN: Pertama yang harus kita pahami adalah bahwa kita lahir dari rahim patriarki, dan begitu pun orang tua kita dan masyarakat pada umumnya. Misalnya orang tua kita, teman kita, atau siapapun, hingga kita menyadari bahwa  mereka itu korban patriarki juga. Kita pun mulai memahami kenapa orang tua kita atau masyarakat di lingkungan kita menuntut kita sesuai dengan keinginan atau standar mereka.
  • GALI KEBUTUHAN KITA UNTUK PERKUAT KAPASITAS DIRI: Setelah kita menyadari bahwa kita berada di lingkungan yang masih kuat dengan budaya patriarki, biasanya kita akan dituntut dan kadang tanpa sadar dibuat merasa gak nyaman dengan diri kita sendiri. Misalnya, “kamu itu perempuan, gak begitu menarik, apa yang mau diandalkan kalau kamu gak berpendidikan tinggi dan merawat diri.” Dari sini, kemudian kita mikir, namun bukan sepenuhnya mempercayai bahwa kita tak layak. Kita mulai menguatkan kapasitas diri kita, meningkatkan dan mengembangkan potensi diri kita. Menggali apa yang kita inginkan dan kita butuhkan untuk mewujudkan semua itu. Di sini kita juga perlu konsisten membuktikan diri.
  • JIKA KAMU TAK SANGGUP, KAMU BISA MENGHINDAR: Jika kamu tidak kuat sanggup melawan atau berdebat terus menerus dengan orang tua kita atau saudara di keluarga besar kita, maka kita bisa coba dengan menghindari untuk tidak terlalu sering interaksi secara langsung, apalagi misalnya dalam sebuah pertemuan atau acara tertentu. Apalagi kita memang dikondisikan untuk merasa tidak nyaman dan bagaimana kita melakukan sesuatu agar orang lain mau menerima kita. Jadi, bisa coba menghindar dari pada berdebat terus dan melelahkan. Mendingan menghidndari untuk bertemu terlalu sering.
  • JIKA KAMU PUNYA ENERGI MELAWAN, LAWANLAH DENGAN PENGETAHUAN: Jika kita merasa energi kita berlebih untuk merespon siapapun yang menuntut ktia sesuai standar kita, maka pastikan bahwa saat kita melawan, tidak dengan pikiran kosong dan pastikan mental kita siap melakukannya. Bagaimana agar pikiran kita tidak kosong dan kita percaya diri? maka perkuatlah kapasitas kita. Gali terus kebutuhan pengetahuan kita. Ini adalah salah satu cara kita berusaha menguatkan kapasitas diri. Memang harus kita buktikan agar kita sukses. Kecewa dan marah mungkin belum akan usai, tapi setidaknya kita sambil melakukan sesuatu menguatkan diri dan kapasitas diri kita.
  • TEGASLAH DENGAN PRINSIP KITA & BUKTIKANLAH: Setelah kita berusaha melawan dengan pengetahuan, menguatkan kapasitas diri dengan mengedukasi diri kita dengan membaca beragam pengetahuan sesuai pilihan kita, banyak belajar dan mendengarkan orang lain, maka pelan-pelan buktikan bahwa kamu mampu memantaskan dirimu sesuai dengan definisi “pantas”-mu dan standar kebahagiaanmu sendiri. DAN HANYA UNTUK DIRIMU SENDIRI, BUKAN UNTUK ORANG LAIN, APALAGI UNTUK DILAMAR! Kita juga harus tegas dengan prinsip-prinsi yang kita bangun sendiri; tegas mengupayakan apa yang kita mau; berani menentukan apa yang kita mau, hingga kamu berani berargumen dan mengungkapkan pikiranmu.

Kita memantaskan diri bukan untuk dilamar, tapi untuk diri kita sendiri. Ketika kita konsisten mengupayakan kebahagiaan kita dan memantaskan diri, serta berzikap tegas dengan princip kita, pada akhirnya orang pun akan memahami, Karena mereka terbiasa denagn sikap kita. Memang semuanya butuh waktu dan proses yang tidak singkat. Ini kerja internal terus menerus.

KONTEN INI DIBUAT OLEH TIM REDAKSI @PEREMPUANBERKISAH BERDASARKAN HASIL #NGOBROLSANTAI @PEREMPUANBERKISAH BERSAMA @THEDEASAFIRA MELALUI INSTAGRAM @INDONESIAFEMINIS. APA YANG DITULIS DI SINI ADALAH SECUIL DARI #OBROLANSANTAI SELAMA 4 KALI LIVE, PADA SELASA (21 JULI 2020) VIA LIVE ON INSTAGRAM @PEREMPUANBERKISAH @INDONESIAFEMINIS. UNTUK MENGETAHUI KONTEN SELENGKAPNYA, SIMAK LIVE IG KAMI DI IGTV @PEREMPUANBERKISAH & CHANNEL YOUTUBE PEREMPUAN BERKISAH (SEGERA!)


0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Contact Us