Kasus Kekerasan seksual pada anak di Indonesia terus bertambah. Jumlahnya pun cukup memprihatinkan  dan kasus tersebut terjadi di lingkungan sekitar anak. Tentu, hal ini menjadi ancaman tersendiri bukan hanya bagi anak, namun juga orang tua. 

Kekerasan seksual pada anak adalah keterlibatan seorang anak dalam segala bentuk aktivitas seksual yang terjadi sebelum anak mencapai batasan umur tertentu yang ditetapkan oleh hukum negara (18 tahun). Pelibatan anak yang dimanfaatkan untuk kesenangan seksual atau aktivitas seksual orang dewasa. Bisa juga, pelakunya adalah anak lain yang usianya lebih tua atau orang yang dianggap memiliki pengetahuan lebih dari anak.

Apa saja tindakan seksual pada anak?

Perlu kita ketahui bahwa yang dimaksud dengan kekerasan seksual terhadap anak  tidak terbatas pada hubungan seks saja, tetapi juga tindakan-tindakan yang mengarah kepada aktivitas seksual terhadap anak-anak, seperti :

  • menyentuh tubuh anak secara seksual, baik ketika anak memakai pakaian atau tidak.
  • segala bentuk penetrasi seks baik menggunakan benda atau anggota tubuh.
  • membuat atau memaksa anak terlibat dalam aktivitas seksual.
  • secara sengaja melakukan aktivitas seksual di hadapan anak, atau tidak melindungi dan mencegah anak menyaksikan aktivitas seksual yang dilakukan orang lain. 
  • membuat, mendistribusikan dan menampilkan gambar atau film yang mengandung adegan anak-anak dalam pose atau tindakan tidak senonoh, serta memperlihatkan kepada anak, gambar, foto atau film yang menampilkan aktivitas seksual.

Nah, kalau “grooming” ini apa sih? 

Grooming adalah upaya yang dilakukan seseorang untuk membangun hubungan kepercayaan secara emosional dengan orang lain. Sehingga, anak target grooming dapat dimanipulasi, melakukan eksploitasi dan melecehkan orang tersebut. Grooming ini menjadi salah satu cara para predator anak dalam melakukan kekerasan seksual.  

Grooming juga merupakan tahapan dari modus operandi yang dilakukan pelaku setelah membuat akun palsu. Ada proses meyakinkan korban untuk segera mengirimkan gambar telanjang, alat kelamin, dan didokumentasikan melalui video via direct message (alias pesan privat di medsos atau DM) atau WhatsApp (WA).

Sejumlah kasus kekerasan seksual pada anak semakin bertambah, terutama dengan metode grooming ini. Grooming bisa dilakukan oleh para predator melalui media sosial (Medsos) dan juga webchat dimana para pelakunya tidak hanya mereka yang sudah berumur, namun juga mereka yang masih duduk dibangku sekolah atau perguruan tinggi. 

Contoh metode grooming juga bisa kita lihat dalam sebuah film berjudul “Trust (2009)” yang menceritakan Annie, seorang anak perempuan berumur 15 tahun yang menjadi korban grooming. Pelaku adalah seorang laki-laki paruh baya yang berteman dengannya via webchat. 

Pelaku secara halus dan bertahap mengenalkan dirinya sebagai sosok yang berusia sama dengan Annie. Lalu, secara pelahan dia mulai membuka jati dirinya sebagai pria berusia paruh baya. Proses si pelaku membuka dirinya dengan cara terus menerus memanipulasi korban dengan beragam rayuan dan membangun kepercayaan antara keduanya. 

Terbangunnya Kesadaran Kritis Sebagai Korban Tidaklah Mudah

Dalam film Trust, kita juga bisa melihat bagaimana proses penerimaan Annie ketika pertama kali bertemu dengan pelaku. Meskipun dia terkejut, namun proses untuk menerima kenyataan sosok pelaku begitu cepat, bahkan sampai dengan tulus menyerahkan tubuhnya. 

Kita juga dapat melihat bagaimana kondisi Annie setelah mengalami kekerasan seksual, bagaimana dinamika pemulihannya, dan penanganan trauma yang dialami annie dan juga pemulihan orang-orang terdekatnya. Ada fase di mana Annie tidak menyadari bahwa dia korban kekerasan seksual berbasis gender online (KBGO).

Fase terbangun kesadaran kritis Annie sebagai korban membutuhkan waktu tidak singkat, hingga dia mendapatkan fakta bahwa bukan hanya dia yang menjadi korban, namun juga anak-anak perempuan lain. Bahkan, ada satu kalimat yang mncul dari mulutnya karena dia tidak menyangka bahwa dia adalah korban, “Mereka (korban lainnya) itu bahkan wajahnya tidak secantik saya”, hingga akhirnya dia mengakui dan mengucapkan dengan mulutnya sendiri bahwa dia adalah KORBAN. 

Trauma Pasca Peristiwa

Ketika seorang anak mengalami kekerasan seksual, kondisi tersebut tentu akan mempengaruhi kondisi biologis, dan emosionalnya. Secara biologis, seorang anak sebelum pubertas, organ-organ vital anak tidak disiapkan untuk melakukan hubungan intim, apalagi untuk organ yang memang tidak ditujukan untuk hubungan intim. Jika dipaksakan, maka tindakan tersebut akan merusak jaringan. 

Secara emosional, anak dapat mengalami stres, depresi, munculnya perasaan bersalah dan menyalahkan dirinya sendiri. Selain itu anak juga memiliki rasa takut untuk berhubungan dengan orang lain, dan terbayang-bayang oleh peristiwa tersebut sehingga anak mengalami mimpi buruk, susah untuk tidur, munculnya ketakutan bahkan bisa sampai memunculkan keinginan untuk bunuh diri. 

Perasaan takut, perasaan bersalah yang dimilikinya dan berkelanjutan dapat menimbulkan dampak traumatis atau yang biasa kita dengar sebagai ptsd. PTSD atau Post Traumatic Stress Disorder ini adalah trauma yang dialami seseorang setelah mengalami peristiwa. Dalam peristiwa seseorang yang telah mengalami kekerasan seksual ada 4 jenis dampak yang terjadi :

  • hilangnya rasa percaya kepada orang lain, hal ini terjadi karena anak merasa pernah dikhianati.
  • trauma secara seksual.
  • merasa tidak berdaya, anak merasa dirinya tidak mampu untuk bangkit kembali dan tidak dapat menjalani hidupnya seperti dulu lagi. 
  • Stigmatization, adanya stigma di lingkungan sosial membuat anak merasa malu dan merasa memiliki gambaran diri yang buruk. 

Perlu diketahui juga bahwa anak di usia remaja mereka masih belajar untuk mengenal siapa dirinya, mengenali emosi yang mereka miliki dan mengontrol emosi, sehingga perasaan bersalah yang berlarut larut membentuk perasaan ketidakberdayaan serta membuat dirinya merasa berbeda dengan anak lain. 

Pentingnya Support System 

Sistem dukungan (support system), walau bagaimana pun masih menjadi bagian penting bukan hanya saat proses pemulihan, namun sudah sejak awal dibangun hingga dia mencapai kesadaran kritis, pulih dan berdaya. Terkait support system ini, saya akan membahas lagi di tulisan saya berikutnya. 

Profil Penulis

Nabila Ghassani adalah mahasiswi pasca sarjana Psikologi Klinis Anak dan Remaja di Universitas Padjajaran, Bandung. Nabila juga merupakan Founder Komunitas @betterselftomorrow. Akun Instagram: @ghassanip.


Nabila Ghassani

Nabila Ghassani adalah mahasiswi pasca sarjana Psikologi Klinis Anak dan Remaja di Universitas Padjajaran, Bandung. Nabila juga merupakan Founder Komunitas @betterselftomorrow. Akun Instagram: @ghassanip.

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Contact Us