Kesehatan mental seseorang merupakan hal yang sangat penting untuk dijaga namun seringkali kurang diprioritaskan dan dilupakan. Kesehatan mental tidak hanya bermanfaat bagi well-being seseorang namun, juga penting bagi kesehatan fisik manusia. Salah satu hal yang terbukti dipengaruhi oleh kesehatan mental adalah sistem reproduksi perempuan atau lebih spesifiknya lagi, mempengaruhi vaginal discharge (keputihan).

Menurut artikel healthline.com oleh Debra Rose Wilson, Ph.D, seorang psikolog dan perawat kesehatan, keputihan merupakan sesuatu yang nampak pada perempuan yang mengalami menstruasi. Keputihan dimulai beberapa bulan sebelum haid pertama dimulai.

Produksi keputihan sangat berbeda untuk setiap perempuan dan dapat berubah karena faktor-faktor seperti siklus menstruasi, hormon, kehamilan, dan infeksi. Secara keseluruhan, keputihan adalah sesuatu yang normal untuk dialami seorang perempuan. Namun, apakah normal bila tubuh Anda memproduksi keputihan yang terlalu banyak?

Webinar peluncuran produk Fresh Intimate Wipes oleh Andalan Feminine Care

Dalam acara webinar peluncuran produk Fresh Intimate Wipes oleh Andalan Feminine Care yang disiarkan secara daring pada Kamis (5/11), dr. Dinda Derdameisya, Sp.OG, seorang aesthetic gynecologist menyatakan, “(keputihan) ada yang normal dan tidak normal. Jika normal, tidak keluar terus-menerus. Biasanya 2-3 hari selesai. Keputihan yang tidak normal adalah saat berwarna, gatal, dan perih. Perlu diketahui 60% dari orang berumur 15-22 tahun pasti mengalami keputihan.”

Dijelaskan juga bahwa setiap perempuan harus menyisihkan waktu untuk menjaga kestabilan kesehatan mental karena ternyata jika seseorang merasakan stress yang berlebihan, kesehatan reproduksi pasti ikut merasakan efeknya. Saat mendiagnosa seorang pasien pun, kesehatan mentalnya pun akan dipertanyakan terlebih dahulu.

“Biasanya memang kalau tidak ada hal fisik yang terdiagnosa dari pasien, stress kerjaan di rumah atau apapun itu juga berpengaruh dan biasanya malah menghasilkan jamur. Stress biasanya lebih related ke jamur. Pengobatannya pun bisa sampai 6 bulan,” jelas dr. Dinda Derdameisya, Sp.OG.

Selain kesehatan mental, perempuan juga diharuskan untuk menjaga area intimnya dengan lebih teliti karena dijelaskan juga bahwa keputihan masih menjadi masalah kesehatan pada area kewanitaan yang paling sering dialami oleh perempuan, khususnya di masa pandemi ini.

Para perempuan aktif pun terkadang lupa untuk mengganti baju dan celana dalam setelah beraktivitas atau selama di rumah, banyak perempuan yang jarang mengganti celana dalam karena merasa bahwa tidak berkeringat. Selain itu, beberapa perempuan juga jadi kurang aktif bergerak dan mengalami kenaikan berat badan semasa pandemi ini. Ditambah dengan stress yang semakin memicu permasalahan pada area kewanitaan. Perempuan dianjurkan untuk menjaga area intimnya bahkan hingga memilih bahan tisu yang tepat, sebaiknya yang tidak memiliki wewangian dan area intim juga harus tetap kering.

Secara tidak langsung, jika seseorang menjaga area intimnya dengan baik, ini bisa menjadi confidence boost dan mendapatkan perasaan senang dan suasana hati pun bisa meningkat. Maka dari itu, hal ini berpengaruh terhadap kondisi psikologis wanita dan sebaliknya juga. Kesehatan mental dan area intim wanita perlu diperhatikan dan diprioritaskan untuk mendapatkan gaya hidup yang seimbang secara emosional.

Profil Penulis

Mahasiswi Jurusan Ilmu Komunikasi, Universitas Padjajaran.


Reiva Zaviera

Mahasiswi Jurusan Ilmu Komunikasi, Universitas Padjajaran.

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Contact Us