Di Indonesia yang masih kental dengan kultur patriarki, lelaki umumnya memiliki kontrol dan kuasa terhadap anggota keluarga yang lain. Konstruksi sosial yang lekat dengan budaya patriarki pula yang melanggengkan kekerasan berbasis gender.

Minimnya keterlibatan laki-laki dalam upaya pencegahan kekerasan berbasis gender merupakan salah satu faktor yang membutuhkan perhatian lebih, dimana sebagian besar program-program yang berkembang selama ini masih berfokus pada pemberdayaan perempuan dan belum cukup menyasar akar persoalannya, yaitu norma dan relasi gender laki-laki dan perempuan.

Berikut adalah beberapa penyebab yang melatarbelakangi lelaki melakukan kekerasan, berdasarkan hasil kajian dan pembelajaran program yang dilakukan oleh Rifka Annisa, salah satu NGO yang melakukan pendampingan perempuan korban kekerasan.

1. Patriarchal Power (Budaya Patriarkhi)

Bahwa budaya patriarkhi memberikan laki-laki kuasa lebih dibanding perempuan. Kekerasan seringkali digunakan laki-laki untuk mempertahankan kekuasaannya.

2. Privilege and Entitlement

  • Laki-laki dalam masyarakat sering kali diperlakukan dan diberi hak istimewa, sehingga laki-laki merasa lebih berhak melakukan sesuatu karena keistimewaan itu.
  • Kekerasan terhadap perempuan oleh laki-laki dapat terjadi karena laki-laki merasa berhak melakukannya, misalnya untuk mengontrol atau menghukum perempuan.

3. Budaya permisif terhadap perilaku kekerasan

Permission kekerasan dapat terjadi karena adanya budaya permisif terhadap perilaku kekerasan, orang cenderung diam, tidak melakukan tindakan pencegahan pada kekerasan dan laki-laki terhadap pasangannya, menyalahkan korban, membangun justifikasi atas pelaku kekerasan dilakukan laki-laki dll.

4. Laki-laki selalu bisa memenuhi identitas menjadi laki-laki yang diinginkannya

  • Ketidak mampuan laki-laki tersebut dapat menimbulkan krisis maskulinitas, sehingga laki-laki dapat melakukan pengontrolan atau pelampiasan pada orang lain, umumnya perempuan yang posisinya dianggap lebih rendah untuk menunjukkan atau mempertahankan kuasanya.
  • Patriarki bukan saja struktur yang membenarkan kuasa laki-laki atas perempuan, tapi juga laki-laki atas laki-laki lainnya.

5. Laki-laki dibiasakan untuk menekan emosinya

Laki-laki dibiasakan untuk menekan emosinya, sehingga ketika tekanan itu begitu kuat, maka ia bisa menjadi bom waktu yang muncul dalam bentuk perilaku kekerasan.

6. Laki-laki dibiasakan untuk menampilkan dirinya kuat dalam situasi apapun

Laki-laki dibiasakan untuk menampilkan dirinya kuat dalam situasi apapun, dan menekan emosi. Sehingga laki-laki kurang bisa berempati karena tidak dibiasakannya laki-laki untuk mengolah emosinya. Sementara laki-laki dengan kemampuan berempati akan lebih mungkin tidak melakukan kekerasan.

Laki-laki dengan pengalaman kekerasan pada masa sebelumnya berpotensi melakukan kekerasan ketika ia dewasa

  • Laki-laki dengan pengalaman kekerasan pada masa sebelumnya berpotensi melakukan kekerasan ketika ia dewasa.
  • Cara mendidik laki-laki pada masa kecil seringkali menggunakan cara-caranya yang keras, cara menjadi laki-laki tersebut seringkali membawa konsekuensi negatif bagi laki-laki, di antaranya berupa perilaku kekerasan oleh laki-laki.

Laki-laki PERLU DILIBATKAN sebagai agen perubahan mewujudkan Kesetaraan gender dan Penghapusan Kekerasan seksual, MENGAPA?

  • Klien (laki-laki sebagai individu sendiri yang menerima dampak/risiko karena menjadi bagian dari anggota masyarakat yang dikenai konstruksi gender maskulinitas dalam struktur sosial masyarakat).
  • Pasangan (menjadi laki-laki yang mendukung pasangannya, mendorong kepemimpinan perempuan, berbagi peran bersama pasangan dan mempromosikan nilai-nilai kesetaraan tanpa kekerasan dalam berelasi ataupun dalam keluarga).

Strategi melibatkan laki-laki juga dapat mempercepat proses pencapaian kesetaraan gender, DENGAN ALASAN:

  • Kurang lebih setengah dari populasi manusia adalah laki-laki.
  • Laki-laki tidak hanya dilihat sebagai bagian dari masalah (dalam konteks laki-laki sebagai pelaku kekerasan terhadap perempuan dan anak), tetapi juga dilihat sebagai bagian dari solusi terhadap masalah untuk mencegah kekerasan.
  • Laki-laki walaupun mendapat keistimewaan dari konstruksi gender dalam budaya patriarki sesungguhnya juga mengalami kerugian dari konstruksi gender yang tidak setara tersebut sehingga laki-laki juga mengalami hambatan dalam pengembangan dirinya.

SUMBER: KONTEN INI DIBUAT OLEH TIM REDAKSI @PEREMPUANBERKISAH BERDASARKAN MATERI PRESENTASI RIFKA ANNISA PADA 26 OKTOBER 2020, BERJUDUL “LAKI-LAKI SEBAGAI AGEN PERUBAHAN MEWUJUDKAN KESETARAAN GENDER DAN PENGHAPUSAN KEKERASAN SEKSUAL.” DALAM DISKUSI MEDIA “LAKI-LAKI SEBAGAI AGEN PERUBAHAN MEWUJUDKAN KESETARAAN GENDER DAN PENGHAPUSAN KEKERASAN SEKSUAL” YANG DISELENGGARAKAN OLEH RUTGERS WPF INDONESIA.


0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Contact Us