Tidak ada hal yang instan untuk bisa menerima dan mencintai diri kita sendiri. Karena tidak ada jalan sebelum rangkak, tidak akan ada istirahat sebelum lelah, dan tidak ada sampai sebelum tersesat.

Abigail Edith

Menerima diri kita sendiri merupakan sebuah hal yang sangat penting. Bagaimana kita bisa menerima orang lain di hidup kita jika kita belum bisa menerima diri kita sendiri? Terdengar cukup mudah untuk dilakukan namun sebenarnya merupakan hal yang butuh proses dan perjalanan yang cukup panjang untuk sampai bisa di titik tersebut.

Menerima Sisi Terbaik hingga Terburuk dari Diri Kita Bukanlah Hal Mudah

Menerima diri dari sisi terbaik kita hingga bisa menerima sisi terburuk dari diri kita bukanlah hal yang mudah. Walau mungkin prosesnya pun bisa berbeda-beda antara satu orang dengan yang lainnya. Ada yang bisa dengan cepat dan mudah untuk menerima dirinya bahkan bisa mencintai dirinya sendiri, ada juga yang butuh perjalanan dan proses yang berliku untuk bisa menerima dirinya secara utuh. Namun yang pasti, perjalanan tersebut jauh lebih penting daripada hanya melihat tujuan akhirnya, karena berproses selalu menjadi kenikmatan.

Perjalanan saya untuk bisa menerima diri saya hingga saat ini masih berproses dan masih belajar untuk bisa mecintai diri saya sepenuhnya. Namun saya cukup bangga pada diri saya, karena sudah pernah bisa melampaui dan juga mengatasi hal yang selalu membuat diri saya merasa tidak pantas dan tidak cukup untuk melakukan sesuatu hal. Hingga kini saya sudah mulai menerima diri saya sendiri, bahkan sudah bisa bahagia dengan apa yang saya lakukan dan saya capai. Perjalanan dalam proses bisa menerima diri saya yang paling saya ingat adalah saat saya bersekolah dan duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA).

Saat saya masuk SMA, saya masuk di sekolah baru dengan lingkungan yang kurang cocok dan tidak sesuai dengan pribadi saya. Suasana di sekolah pun sangat jauh berbeda dengan sekolah saya pada jenjang SMP. Iya, saya sangat menyukai lingkungan di sana, walaupun memang pasti selalu ada permasalahan saat kita bersekolah. Namun, saat itu diri saya hanya dipenuhi oleh kekhawatiran dengan kapabilitas saya untuk bisa bersekolah dan beradaptasi di situ.

Hampir setiap hari saat awal baru masuk di sekolah, saya bisa menangis karena dipenuhi oleh pikiran negatif tentang diri saya. Yang membuat diri saya selalu berpikir, seakan tidak mampu dan tidak pantas. Hal tersebut diakibatkan karena lingkungan SMA saya berisi orang-orang pintar. Peretemanan di sana juga terbilang cukup individualis.

Saya Pernah Menolak Semua Emosi Negatif yang Muncul

Nilai terendah yang pernah saya terima, bahkan nilai terjelek di kelas pernah saya dapatkan. Saya pernah merasa minder melihat pencapaian orang lain yang sudah melesat jauh dari saya. Pernah minder, mengapa saya tidak bisa sepintar orang lain. Pernah minder dengan keputusan-keputusan yang saya ambil sendiri. Namun, saya selalu berusaha untuk tampil ceria, dan tidak pernah terlihat sedih.

Saya selalu menampilkan sisi baiknya dari saya saja. Selalu mengiyakan apa yang orang mau, sampai saya melupakan kepentingan saya sendiri. Menolak datangnya sedih. Menolak datangnya marah. Menolak segala emosi yang datang pada diri saya. Padahal, sebenarnya rasa malu, kecewa, dan sedih pun yang selalu menghantui saya pada saat itu. 

Kita Tidak Harus Menjadi Terbaik di Mata Orang Lain

Saya seringkali dijatuhkan dan diledek karena kemampuan kognitif saya yang terbilang kurang dibandingkan teman-teman saya. Bahkan rasa senang yang saya dapatkan dari diri saya sendiri, serta rasa senang yang sebenarnya sempat hampir tidak saya rasakan lagi. Hingga akhirnya pada titik terendah yang sudah saya rasakan dan menemukan beberapa teman yang sangat suportif dengan saya, juga keluarga yang selalu ada dan memotivasi saya, saya bisa mulai bangkit dan menerima diri saya.

Walaupun saat itu saya belum menerima diri saya dengan sepenuhnya dan seutuhnya, namun saya bisa beranjak dan mulai belajar. Mulai belajar bahwa kita tidak harus selalu menjadi yang terbaik di mata orang lain, namun kita harus menjadi yang terbaik dari diri kita. Belajar bahwa kemampuan setiap orang itu berbeda-beda, yang terpenting adalah kita sudah memberikan usaha yang terbaik dari diri kita masing-masing.

Saya belajar menerima bahwa tidak semua orang harus dan bisa menyukai diri kita, dan kita semua punya keunikan dan keistimewaannya masing-masing. Belajar juga untuk tidak harus menjadi pribadi yang terlihat selalu ceria dan senang, padahal hal itu dilakukan hanya untuk orang lain dan bukan untuk diri sendiri juga.

Belajar Melalui Semua Proses hingga Menemukan Diri

Melalui berbagai rintangan dalam perjalanan menemukan diri saya yang seutuhnya juga tidak sampai situ saja. Saat belajar, pasti tetap ada yang namanya dilanda kegelisahan, pikiran-pikiran negatif, bahkan hingga mengalami sakit secara fisik maupun mental. Namun, tetap harus yakin dan percaya dengan diri saya sendiri bahwa saya mampu dan bisa melewatinya.

Di saat jatuh lagi bagaimana caranya bisa bangun lagi. Hingga saat lulus, saya merasa sangat bahagia dengan diri saya karena bisa melewati dan melampaui segala ketidaknyamanan yang saya rasakan, namun masih bisa lulu dengan hasil yang memuaskan. Ada rasa bangga tersendiri karena merasa bisa bertanggung jawab dengan menuntaskan apa yang telah saya jalani walaupun dengan segala cobaan dan rintangan yang ada.

Pada Akhirnya, Kita Akan Menemukan Jalan & Bangga dengan Diri Kita Sendiri

Dari pengalaman merasa jatuh dan terpuruk, saya yakin dan percaya bahwa setiap orang yang sedang kehilangan arah dan tidak tahu harus melangkah ke mana, pasti akan selalu menemukan jalan untuk menemukan dirinya lagi secara utuh.  Semuanya hanya tergantung diri masing-masing, apakah kita mau untuk berenang dan sampai ke tujuan atau kita hanya mau berdiam dan hanya akhirnya tenggelam dalam rasa kecewa akan diri sendiri.

Pada akhirnya, kita pasti akan merasa bangga dan bahagia dengan diri kita sendiri jika kita sudah bisa menemukan dan mencintai diri kita sendiri. Seperti yang saya bilang bahwa hidup bukan hanya untuk tujuan akhirnya saja, namun untuk setiap proses yang kita alami. Saya bahkan merasa bahwa kesuksesan bukan hanya melihat materi, namun bagi saya kesuksesan adalah saat kita sudah bisa benar bahagia dan menikmati dengan apa yang kita lakukan dan kerjakan.

Tak Masalah Jika Jalannya Tak Instan

Di dalam hidup, kita sebagai manusia pasti pernah dan bahkan mungkin sering merasakan seperti pengalaman yang pernah saya alami. Merasa tidak pantas, merasa diri kita rendah, bahkan kecewa dengan diri kita sendiri, dan itu hal yang wajar dan manusiawi. Namun, jangan sampai perasaan dan pikiran kita bisa menghalangi diri kita untuk menjadi diri kita yang sesungguhnya.

Rasa gelisah yang kita miliki justru harus menjadi motivasi bagi diri kita untuk menjadi diri kita yang lebih baik, bukan semakin merendahkan diri kita dan merasa bahwa diri kita tidak mampu dan tidak hebat. Selain itu, tidak apa-apa jika kita memerlukan waktu yang panjang untuk bisa menerima diri kita seutuhnya. Tidak ada hal yang instan untuk bisa menerima dan mencintai diri kita sendiri. Karena tidak ada jalan sebelum rangkak, tidak akan ada istirahat sebelum lelah, dan tidak ada sampai sebelum tersesat.

Profil Penulis

Abigail Edith adalah salah satu mahasiswi Universitas Bina Nusantara Jakarta, Jurusan Marketing Communication.


Abigail Edith

Abigail Edith adalah salah satu mahasiswi Universitas Bina Nusantara Jakarta, Jurusan Marketing Communication.

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Contact Us