Masa kecil adalah masa di mana hidup belum adanya beban, tanggung jawab dan belum adanya pemikiran-pemikiran yang rumit. Masa di mana hari-hari dipenuhi dengan canda, tawa, dan bermain seharian. Namun dalam fase pencarian jati diri, saya mengalami perubahan karakter yang dipengaruhi lingkungan sekitarku. Hingga aku sulit mengindentifikasi jati diriku yang sebenarnya.

Fanya Amarayesha Firman

Saat kecil, saya merupakan anak yang sangat manja dan pemalu. Saat bersama keluarga, saya merupakan anak yang aktif dan cerewet. Saya selalu senang menghabiskan waktu bersama keluarga karena saat saya bersama keluarga, saya merasa menjadi diri sendiri dan dapat mengekspresikan diri saya sesuai suasana hati saya. Saya suka menghabiskan waktu saya bersama keluarga dengan bermain badminton, menari, menyanyi, membaca, berenang, memasak, bersepeda dan aktivitas seru lainya. Saya selalu merasa percaya diri untuk melakukan segala hal karena saya juga merasa keluarga saya selalu mendukung apa pun yang saya lakukan. 

Saya merupakan sosok pemalu dan pendiam

Berbanding terbalik jika saya sudah bersama teman-teman lebih tepatnya jika saya sudah di Sekolah. Di sekolah, saya merupakan anak yang sangat pemalu dan pendiam. Saya lebih memilih untuk tidak berbicara dahulu dan menunggu orang lain yang memulai pembicaraan kepada saya. Saat saya TK, saya memiliki seorang teman yang sifatnya bertolak belakang dengan saya. Dia anak yang periang, ceria dan suka menjadi pemimpin maupun pusat perhatian. Karena saya merupakan anak pemalu, teman saya ini cenderung suka mengatur apa yang saya lakukan di Sekolah dan harus mengikuti perintah dia. Pada saat itu saya tidak memiliki keberanian untuk menentang perkataan teman saya tersebut sehingga saya selalu mengikuti perintahnya meskipun hati saya tidak ikhlas melakukannya.

Pada saat saya sudah di titik lelah saya, saya bercerita kepada Ibu saya tentang perilaku teman saya ini. Awalnya saya juga ragu untuk menceritakan hal ini kepada Ibu saya, tetapi saya berpikir jika saya tidak menceritakan ini kepada Ibu saya, saya harus bercerita kepada siapa. Ibu saya menasihati saya untuk berani menyampaikan apapun yang saya rasakan. Termasuk perasaan saya agar saya tidak merasa tertekan dan saya menuruti perkataan Ibu saya.

Keesokan harinya, saya bermain di taman bermain dengan teman saya yang lain. Di situ saya menghabiskan waktu dengan banyak tawa tanpa ada rasanya beban. Hingga akhirnya teman saya yang selalu menyuruh menghampiri saya dan ingin saya bermain dengan dia. Karena saya sudah tidak kuat berteman dengan dia, saya meresponsnya dengan melotot dan berlari dengan teman yang lain. Saat itu teman saya merasa marah kepada saya dan menghukum saya untuk tidak boleh berbicara satu kata pun, bahkan saat guru memberikan pertanyaan saya tidak boleh menjawab.

Saya merasa sedih dan tidak nyaman dengan perilaku dia dan saya memberanikan diri mengungkapkan apa yang saya rasakan. Dari kejadian itu, saya dan dia perlahan menjauh dan saat kenaikan kelas tiba, saya dan dia tidak sekelas lagi dan saya merasa nyaman dan tenteram. 

Saya juga kurang percaya diri

Selain pemalu, saya juga merasa kurang percaya diri dengan menunjukkan bakat yang saya miliki. Saya selalu menutupi kemampuan yang saya punya karena rasa kurang percaya diri saya lebih mendominasi dari rasa percaya diri saya. Di Sekolah Dasar (SD), saya mengikuti ekstrakurikuler tarian daerah dan paduan suara. Saya sangat suka menari dan bernyanyi saat saya berada di Rumah.

Saat menari dan bernyanyi, saya selalu merasa senang dan merasa bebas. Saya hanya mengikuti ekstrakurikuler tersebut pada awalnya saja dan kemudian mengundurkan diri karena saya merasa tidak cocok dengan bidang tersebut padahal saya merasa nyaman saat melakukan kegiatan tersebut. Hingga suatu hari, saya tersadar bahwa saya tidak boleh menutup diri saya karena hal tersebut membuat saya tidak berkembang. Kemudian saya mendaftarkan diri saya les balet dan saya merasa jatuh cinta dengan dunia balet.

Saya selalu merasa sensasi yang berbeda saat saya mengayunkan tubuh saya mengikuti alunan lagu. Saat kepercayaan diri saya mulai meningkat, saya memberanikan diri dengan teman saya untuk mengunggah video saya dan teman saya menyanyikan sebuah lagu dan menari ke Youtube. Kami dengan bangganya memberi tahu seisi sekolah bahwa kami mempunyai chanel Youtube dan mendapatkan respon yang positif dari teman-teman maupun guru. Karena respon yang positif, saya menjadi bersemangat untuk menggali bakat yang saya miliki. 

Saya mulai mampu bersosialisasi dan percaya diri

Saat SMP, saya sudah bisa bersosialisasi dan beradaptasi dengan orang baru. Saya bukan lagi anak yang pemalu dan menutup diri melainkan saya merupakan anak yang bersemangat dan terbuka. Saya mulai berani untuk menyuarakan pendapat saya dan menunjukkan keahlian yang saya miliki.

Saya merasa hidup saya mulai menyenangkan dan seru. Karena saat saya kecil saya merupakan anak yang pemalu dan tertutup, saya selalu merasa simpati jika melihat orang yang menyendiri dan pendiam karena saya pernah berada diposisi tersebut dan rasanya tidak mengenakan karena kita tidak dapat melakukan suatu hal sesuai apa yang ingin kita lakukan. Maka dari itu, saya selalu berusaha untuk bisa memulai pembicaraan dan berinteraksi dengan siapa pun tanpa memandang orang tersebut.

Saya bersekolah di Sekolah yang sama dari TK hingga SMP sehingga saya selalu berada dizona nyaman saya. Saya memutuskan untuk berpindah sekolah saat SMA. Awal masuk SMA, saya merasa kembali menjadi diri saya sebelumnya. Saya merasa susah beradaptasi dan berkenalan dengan orang baru karena ini merupakan suatu hal yang baru bagi saya di mana saya bertemu dengan banyak orang baru dan suasana baru.

Saya sempat merasa stres pada bulan awal SMA karena saya terbiasa dengan lingkungan yang sama dari kecil. Tentunya berkat support dari orang tua saya, saya dapat melewati masa terpuruk tersebut. Saya merasa saat SMA pergaulan saya bertambah dan menyadarkan saya bahwa keluar dari zona nyaman merupakan hal yang buruk. Selain itu, di SMA saya juga menemukan bakat saya yang baru yaitu akting karena pada kelas 10 diadakan pertunjukan drama. Saat kelas 11 saya juga mengajukan diri saya untuk menjadi mentor adik kelas untuk membuat pertunjukan drama mereka. 

Sekarang saya sudah menjadi anak yang lebih percaya diri terhadap apa yang saya miliki meskipun kadang saya tetap suka merasa minder tetapi hal itu membuat saya selalu mengingat untuk selalu bersyukur. Dari pengalaman yang saya alami, saya tersadar bahwa apa yang kita lihat dari seseorang berdasarkan luarnya, belum tentu dalamnya mereka seperti itu karena tidak semua orang berani dan nyaman untuk mengungkapkan jati diri mereka sebenarnya. Saya juga selalu mengerti bahwa tidak semua orang memiliki rasa percaya diri yang tinggi sehingga saya harus selalu menghargai dan menghormati usaha orang lain sekecil apa pun itu. 

Tetapi seiring bertambah usia, saya sekarang merasa lebih terbuka dan menjadi diri sendiri saat saya bersama teman. Saya selalu merasa dapat mengungkapkan apa saja yang saya rasakan, bukan kepada keluarga melainkan dengan teman saya. Saya harus bisa membiasakan terbuka dengan keluarga, karena merekalah merekalah yang selalu berada di masa sulit maupun senang. 

Profil Penulis

Fanya Amarayesha Firman adalah mahasiswi di Universitas Bina Nusantara (Binus), Jakarta.


Fanya Amarayesha

Fanya Amarayesha Firman adalah mahasiswi di Universitas Bina Nusantara (Binus), Jakarta.

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Contact Us