Kiat Perempuan Penyintas Kekerasan Berdaya Secara Finansial

Published by Erlin Fadhylah on

About the author

Erlin Fadhylah atau biasa disapa Erfa adalah lulusan Sastra Indonesia dari Universitas Negeri Jakarta. Setelah sepuluh tahun berprofesi sebagai pengajar di beberapa sekolah internasional, Erfa kini berdaya di rumah saja dengan aktif menulis artikel yang diterbitkan di berbagai media cetak dan daring. Hobinya membaca buku membawa Erfa berkenalan pada dunia menulis fiksi dan mengantarkannya pada profesi pekerja lepas sebagai pengulas novel serta penyelaras aksara. Beberapa tulisannya dapat dibaca melalui tautan linktr.ee/erfa22. Ia juga dapat disapa melalui akun instagramnya @erfa22.

Banyak orang tidak menyadari bahwa tindakan dominasi, kontrol, dan larangan bekerja termasuk salah satu bentuk kekerasan terhadap perempuan. Jadi, kekerasan bukan hanya penganiayaan yang menyebabkan cidera fisik dan/atau mental. Mayoritas kekerasan di ranah privat yang terjadi kepada perempuan justru dimulai dari ketidakstabilan ekonomi dan ketergantungan finansial.

(Tuty Kusumawati, Kepala Dinas PPAPP DKI Jakarta)

Masih dalam suasana kemerdekaan Indonesia, AXA Indonesia berkolaborasi dengan Dinas Pemberdayaan Perlindungan Anak Pengendalian Penduduk (PPAPP) DKI Jakarta dan Perempuan Berkisah mengadakan webinar dengan tema Merdeka Finansial bagi Perempuan Indonesia pada Rabu, 25 Agustus 2021.

Country CEO AXA Indonesia, Julien Steimer, menjelaskan bahwa kegiatan ini diselenggarakan untuk membangun kesadaran mengenai kekerasan yang terjadi di ranah domestik serta mendukung dan memberdayakan penyintas, terutama perempuan untuk bisa mencapai kemerdekaan finansial. Dengan mengusung semangat “Now You Can”, AXA Indonesia berkomitmen untuk membuat gerakan yang lebih berdampak bagi masyarakat Indonesia. 

Makna Kemerdekaan

Kebebasan dan kemerdekaan seringkali disepelekan karena dianggap sebagai sesuatu yang kita miliki secara otomatis sejak lahir. Padahal, proses mencapai kemerdekaan ini tidaklah mudah dan melupakan sejarah perjuangan mencapai kemerdekaan hanya membuat kemerdekaan kehilangan esensinya.

Dahulu, kemerdekaan berarti bebas dari penjajahan serta memiliki hak penuh untuk menentukan nasib sendiri. Meski saat ini kita tidak lagi mengalami penjajahan, makna kemerdekaan tersebut masih sangat relevan karena masih banyak orang yang tidak memiliki keistimewaan untuk mengekspresikan kemerdekaannya, terutama perempuan korban kekerasan.

Perempuan korban kekerasan di ranah domestik masih banyak yang mengalami tekanan fisik, mental, serta paksaan dalam pengambilan keputusan. Belum lagi stigma negatif yang dilekatkan pada penyintas perempuan yang sering menjadi penghalang kemerdekaan, termasuk kemerdekaan finansial.

Melalui program ini, AXA Indonesia mengajak perempuan untuk merefleksikan kembali esensi dari kemerdekaan tersebut dalam diri setiap orang, terutama perempuan, agar menyadari pentingnya memiliki kemerdekaan berekspresi serta merdeka dari tindak kekerasan. 

Perempuan dan Kekerasan di Ranah Domestik

Kekerasan terhadap perempuan bisa terjadi di mana saja, baik itu di ranah publik maupun domestik. Menurut Tuty Kusumawati, Kepala Dinas PPAPP DKI Jakarta, jumlah kekerasan berbasis gender yang dilaporkan kepada UPT Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) selama tiga tahun terakhir mencapai 50% dari seluruh total kekerasan. Angka ini menunjukkan bahwa kekerasan di ruang domestik merupakan jenis kekerasan yang paling banyak terjadi. 

…, jumlah kekerasan berbasis gender yang dilaporkan kepada UPT Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) selama tiga tahun terakhir mencapai 50% dari seluruh total kekerasan. Angka ini menunjukkan bahwa kekerasan di ruang domestik merupakan jenis kekerasan yang paling banyak terjadi.

(Tuty Kusumawati, Kepala Dinas PPAPP DKI Jakarta)

Banyak orang tidak menyadari bahwa tindakan dominasi, kontrol, dan larangan bekerja termasuk salah satu bentuk kekerasan terhadap perempuan. Jadi, kekerasan bukan hanya penganiayaan yang menyebabkan cidera fisik dan/atau mental. Mayoritas kekerasan di ranah privat yang terjadi kepada perempuan justru dimulai dari ketidakstabilan ekonomi dan ketergantungan finansial.

Niharika Yadaf, Presiden Direktur AXA Financial Indonesia, mengatakan bahwa situasi semacam ini sering menyebabkan banyak perempuan korban kekerasan memilih untuk kembali lagi kepada pelaku kekerasan. Hal tersebut terjadi karena korban tidak percaya diri untuk berdiri di kaki sendiri.

Perempuan korban kekerasan seringkali sulit dalam memenuhi kebutuhan dasar yang mengakibatkan mereka bergantung kepada pelaku. Itu sebabnya, literasi mengenai kemerdekaan finansial adalah topik yang begitu penting. Pemahaman mengenai kemerdekaan finansial tidak hanya membuat korban kekerasan berani lepas dari lingkaran kekerasan domestik, tetapi juga membantu korban untuk dapat menjalani kehidupan yang diinginkan dan memiliki rasa hormat pada diri sendiri.  

“... situasi semacam ini–ketidakstabilan ekonomi dan ketergantungan finansial– sering menyebabkan banyak perempuan korban kekerasan memilih untuk kembali lagi kepada pelaku kekerasan. Hal tersebut terjadi karena korban tidak percaya diri untuk berdiri di kaki sendiri. Perempuan korban kekerasan seringkali sulit dalam memenuhi kebutuhan dasar yang mengakibatkan mereka bergantung kepada pelaku.”

Niharika Yadaf, Presiden Direktur AXA Financial Indonesia & AXA Indonesia Global Sponsor of D&I

Meningkatkan Nilai Diri Perempuan Lewat Kemerdekaan Finansial

Menurut Robert Kiyosaki, merdeka secara finansial adalah suatu kondisi saat kita tidak bekerja untuk uang, tetapi uang yang bekerja untuk kita. Namun, menurut Cicilia Nina, Direktur AXA Financial Indonesia, konsep kemerdekaan finansial tidak sesederhana itu. Kemerdekaan finansial akan berbeda definisi dan sudut pandangnya tergantung kondisi dan prioritas setiap orang. 

Nina menekankan pentingnya perempuan merdeka secara finansial lewat bekerja atau berkarya. Bukan hanya membuat perempuan mandiri secara finansial, perempuan yang bekerja turut meningkatkan nilai dirinya. Nilai diri inilah yang kelak akan membentuk kepercayaan diri untuk berani melangkah dan memperkuat pola pikir perempuan untuk merdeka secara finansial dibandingkan nilai uang itu sendiri. Jadi, bukan berarti saat kita memiliki pasangan berkecukupan maka kita bisa bebas merasa bergantung pada pasangan hingga akhirnya mudah untuk dilemahkan. 

“Dengan bekerja, perempuan bukan hanya mendapatkan uang. Dengan bekerja, perempuan mendapatkan value. Value menjadi selimut yang lebih tebal untuk melangkah dan memperkuat mindset.”

Cicilia Nina, Direktur AXA Financial Indonesia

Merdeka secara finansial merupakan kondisi yang membebaskan kita untuk melakukan sesuatu yang membahagiakan. Itu artinya, jika kita merdeka secara finansial, kita mampu keluar dari kekangan serta mampu memenuhi kebutuhan diri dan keluarga. Sehingga, untuk merdeka secara finansial, perempuan mesti merdeka dulu secara mental. 

Untuk bisa mencapai kemerdekaan finansial, kita mesti paham tujuan diri dan menangkap tujuan tersebut. Perempuan mesti punya value dengan menghasilkan uang dan bekerja dan/atau berkarya agar bisa menjadi versi terbaik untuk diri kita dan anak kita. Kita mesti yakin bahwa niat baik untuk merdeka secara finansial yang didukung dengan usaha maksimal pasti akan menemukan jalan yang terbaik.

Pernyataan tersebut didukung juga oleh Mutiara Proehoeman, Executive Director Atma Maitra Indonesia sekaligus perwakilan dari PB Jabodetabek yang membagikan kisahnya sebagai penyintas kekerasan di ranah domestik hingga berhasil bangkit dan merdeka secara finansial. Mutiara menjelaskan bahwa sebelum kita berdaya secara finansial, kita mesti bisa berdaya dulu secara pikiran, perasaan, dan aksi untuk melahirkan diri baru yang merdeka. Kita mesti bisa mengambil pelajaran dari masa lalu kita dan menjadikannya motivasi untuk mendatangkan keuntungan. 

… sebelum kita berdaya secara finansial, kita mesti bisa berdaya dulu secara pikiran, perasaan, dan aksi untuk melahirkan diri baru yang merdeka.”

Mutiara Proehoeman, Executive Director Atma Maitra Indonesia & Tim Perempuan Berkisah Jabodetabek

Pahami bahwa perubahan–dari masa lalu ke masa kini–adalah sebuah proses, bukan sulap. Untuk mewujudkan perubahan menjadi manusia berdaya yang berproses mencapai kemerdekaan finansial, kita dapat menerapkan tiga tahapan yakni Think-Feel-Act.

Think (Pikiran) jangan mudah terprovokasi oleh pikiran orang lain terhadap kita, selalu pikirkan berbagai kemungkinan yang menyebabkan tindakan tersebut.

Feel (Perasaan) belajarlah untuk mengabaikan perasaan tidak nyaman yang timbul akibat pikiran dan/atau tindakan orang lain yang merugikan diri kita.

Act (Aksi) lakukan sesuatu untuk mulai berdaya dan merdeka secara finansial.

Karena itu, penting bagi perempuan untuk melek literasi keuangan. Seperti yang diungkapkan Atria Rai, Chief Communication Officer AXA Mandiri Financial Service, perempuan mesti menambah wawasan mengenai finansial dan risiko krisis keuangan. Perluas wawasan lewat informasi dan pengetahuan yang kini mudah diakses lewat perkembangan teknologi dan capailah kemerdekaan finansial sebagai perempuan berdaya dan mandiri.


Erlin Fadhylah

Erlin Fadhylah atau biasa disapa Erfa adalah lulusan Sastra Indonesia dari Universitas Negeri Jakarta. Setelah sepuluh tahun berprofesi sebagai pengajar di beberapa sekolah internasional, Erfa kini berdaya di rumah saja dengan aktif menulis artikel yang diterbitkan di berbagai media cetak dan daring. Hobinya membaca buku membawa Erfa berkenalan pada dunia menulis fiksi dan mengantarkannya pada profesi pekerja lepas sebagai pengulas novel serta penyelaras aksara. Beberapa tulisannya dapat dibaca melalui tautan linktr.ee/erfa22. Ia juga dapat disapa melalui akun instagramnya @erfa22.

0 Comments

Leave a Reply

Avatar placeholder

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Contact Us