‘Not All Men’: Tanggapan “Tak Penting” saat Merespon Kekerasan Berbasis Gender

“Not all man” atau “tidak semua laki-laki” itu seakan-akan ingin menjaga citra laki-laki. Yang orang harus tahu adalah ketika perempuan membicarakan tentang pengalamannya mendapatkan perlakuan tidak enak dari laki-laki, dia berbicara berdasarkan pengalaman pribadinya bahwa dari awal dia tidak pernah bermaksud untuk menyamakan semua laki-laki mempunyai tingkah laku yang sama.  Read more…

Katanya Setara, kok Masih Seksis?

Seksisme dapat dikatakan sebagai salah satu akar masalah ketidaksetaraan gender, karena ini berkaitan dengan pemahaman masyarakat yang tidak setara dalam melihat posisi perempuan dan laki-laki. Dalam unggahan video YouTubenya pada tanggal 26 Desember 2020 lalu, Gita Savitri Devi, atau Gita sebagai nama populernya. Gita merupakan seorang konten kreator, blogger, sekaligus Read more…

Momong: Sebenar-benarnya Olah Jiwa

Momong adalah pekerjaan yang memerlukan kualifikasi tenaga kuli, hati peri, kesabaran nabi, kelincahan kurcaci, tangan gurita, dan mata Philips. Terus terang, terang terus. (Siti Maryamah, seorang Ibu dan Pengusaha asal Banjarnegara Jateng) Suatu pagi, aku nonton berita di televisi (tv). Ini beberapa isinya. Bayi 11 bulan, tewas tenggelam di ember. Read more…

Saya Manusia, Bukan Robot

Percayalah, pada akhirnya, jiwa kita adalah tempat terbaik untuk diri kita sendiri. Bahkan ketika tak seorang pun menunjukkan kasih sayangnya, kita lah sumber kasih sayang itu sendiri. Berbicara tentang kasih sayang (affection) secara edukasi, pastinya saya sangat tidak berkompetensi karena saya hanya seorang perempuan biasa tanpa gelar apa-apa dalam bidang Read more…

Perempuan Berkisah: Menyajikan Kisah Nyata Perempuan Korban Kekerasan Berbasis Gender

Pengalaman khas perempuan, baik secara biologis maupun sosial itu tidak dialami oleh laki-laki. Menstruasi, hamil, melahirkan, nifas, dan menyusui itu bisa diiringi rasa sakit (adza), bahkan sakit berlipat-lipat (wahnan ala wahnin) dari sononya. Apalagi jika pengalaman tersebut terjadi dalam kondisi sosial di mana perempuan sekaligus mengalami salah satu apalagi lebih Read more…

Tak Melulu Domestifikasi, Perempuan & Alam Punya Hubungan Sangat Dekat

Untuk terus menjaga keberlangsungan hidup sebagai manusia, kita tidak pernah bisa terlepas dengan alam dan lingkungan sekitar lainnya. Kualitas hidup seseorang bergantung dengan kondisi alam dan lingkungan yang ada di sekeliling mereka. Ketika lingkungan tersebut bermasalah, kehidupan manusia pun secara langsung atau tidak akan terkena dampaknya.  Begitupun ketika krisis lingkungan Read more…

Meluruskan Sesat Pikir Pasien Corona “Tidak Diapa-apain”, Pulang Paksa, hingga Meninggal Dunia di Rumah

Perkara “tidak diapa-apain” ini sering sekali menjadi keluhan dari pasien. Bahkan tidak jarang pasien marah-marah kepada tenaga medis karena sudah menunggu di unit gawat darurat (UGD), tetapi “tidak diapa-apain”. Saya sendiri pernah diancam akan dilaporkan ke pihak berwenang karena dianggap lalai “tidak ngapa-ngapain pasien”. Pernah dengar ada kabar pasien yang Read more…

#WFH: Bukan Sekadar di Rumah, tapi “Tahan Diri” dan “Temukan Kesejatian Diri”

Di sini saya ingin menyampaikan, pada akhirnya makna #WFH bukan sekadar diam di rumah, menyendiri di rumah, lebih dari itu adalah menahan diri dari segala kebodohan sikap kita sendiri. Menahan diri untuk tidak mengekspos diri berlebihan, hingga berdampak pada jiwa lain yang tak mampu seberuntung kita. Menahan diri dari sikap masa bodoh atas nasib orang lain. Menahan diri dari semua yang merugikan diri dan orang lain, hingga tanpa sadar kita mampu menemukan kesejatian diri kita dan berikan bijak memanfaatkan privilege WFH ini. Bersikap bijak memerangi virus ini bersama-sama.

Berharap Mengubah Pasangan Toxic? Lupakan dan Segera Tinggalkan! Lebih Baik Sayangi Dirimu!

Sobat Perempuan Berkisah , kita sering lupa bahwa bukan tanggung jawab kita mengubah perilaku seseorang menjadi apa yang kita mau. Bahkan tanpa sadar, kita lupa bahwa mengubah diri kita sendiri agar sadar dan mengambil sikap untuk keluar dari hubungan toxic (beracun), pun tak semudah itu. Kita fokus pada jiwa lain, sementara jiwa kita makin hancur. Untuk apa? Mau sampai kapan?.

Contact Us