PROFIL SINGKAT KOMUNITAS PEREMPUAN BERKISAH 

Media Pemberdayaan, Katalisator Perubahan dan Ruang Aman Berbasis Etika Feminis.

 VISI

MENJADI MEDIA PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DAN RUANG AMAN BERBAGI PENGETAHUAN & PEMBELAJARAN BERBASIS PENDEKATAN FEMINIS

MISI

  1. MENGEMBANGKAN MEDIA SEBAGAI WADAH PEMBERDAYAAN DAN BERBAGI PENGETAHUAN, PEMBELAJARAN & KISAH INSPIRATIF PEREMPUAN; 
  2. MENCIPTAKAN RUANG AMAN BAGI PEREMPUAN BERBASIS PENDEKATAN FEMINIS;
  3. MENDORONG KESADARAN KRITIS-TRANSFORMATIF BERBASIS PENGALAMAN PEREMPUAN.

LATAR BELAKANG BERDIRINYA KOMUNITAS PEREMPUAN BERKISAH (PB)

Berikut adalah informasi berisi latar belakang berdirinya Komunitas Perempuan Berkisah (PB) yang berawal dari sebuah media online untuk berbagi pengetahuan dan pembelajaran pemberdayaan perempuan, hingga menjadi sebuah Komunitas Perempuan Berkisah sebagai wadah berbagi pengetahuan, pembelajaran, dan berbagi kekuatan melalui kegiatan pemberdayaan dan pendampingan perempuan penyintas korban kekerasan.

2015: BERAWAL DARI SEBUAH MEDIA PEMBELAJARAN  

Komunitas Perempuan Berkisah bermula dari sebuah media pembelajaran perempuanberkisah[.com]  (yang kini telah berubah menjadi perempuanberkisah.id). Media ini diinisiasi oleh Alimah (Akun Instagram @alimah.fauzan) sebagai Founder Perempuan Berkisah  dengan akun instagram @perempuanberkisah

Tepat pada 1 Agustus 2015, Alimah menginisiasi media pembelajaran perempuanberkisah. Website yang secara khusus dan intens menceritakan proses pemberdayaan yang pernah dia lakukan. Dalam perkembangannya, dia juga merangkul dan mengajak perempuan lainnya untuk mengirimkan kisahnya, baik kisah pemberdayaan, kisah pribadi mereka terkait persoalan perempuan, maupun berbagi sudut pandang dan gagasan dalam tulisan opini. 

Tujuan awalnya adalah untuk berbagi pengetahuan, pembelajaran dan kisah inspiratif pemberdayaan perempuan di beragam daerah baik yang telah dia lakkan maupun perempuan lainnya. Media ini bukan hanya berisi tentang pembelajaran pemberdayaan yang telah dilakukan oleh Alimah, namun juga sejumlah perempuan yang melakukan pemberdayaan di beragam bidang dan isu. Selain itu juga beragam persoalan berbasis gender, terutama yang sangat khas perempuan. 

Tagline perempuanberkisah[.com] pertama kali adalah media berbagi kisah inspiratif dan pembelajaran pemberdayaan perempuan dan marginal. 

Inisiatif Alimah membuat perempuanberkisah.com, awalnya karena dia memiliki sekian kisah inspiratif para perempuan desa dari beragam daerah terutama di desa-desa. Wesbite perempuanberkisah[.com] yang kini berubah menjadi perempuanberkisah.id (PB) dibuat pada tahun 2015.

Inisiasi membuat media pembelajaran ini juga tidak terlepas dari kerja-kerja sosial yang telah dilakukan oleh Alimah sebagai Jurnalis NGO yang melakukan peliputan beragam persoalan perempuan sejak tahun 2008-2014 di Fahmina Institute Cirebon dan sebagai Gender Specialist sejak tahun 2015 di Institute for Education Development, Social Religious, and Cultural Studies (INFEST) Yogyakarta. Selama bekerja di kedua lembaga tersebut, Alimah bersentuhan langsung dengan sekian persoalan perempuan korban kekerasan seksual, human trafficking (perdagangan manusia), kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), persoalan buruh migran perempuan, hingga persoalan perempuan dalam menghadapi tantangan mengakses program pembangunan di desa dan sekian persoalan perempuan lainnya di beragam daerah, baik di Jawa maupun Luar Jawa.

Sebagai Gender Specialist, Alimah bukan hanya terlibat secara langsung dalam sekian kegiatan pemberdayaan, mulai dari pengorganisasian komunitas melalui Sekolah Perempuan, namun juga berbagi pembelajaran proses pemberdayaan dengan menuliskannya di media pembelajaran program maupun di website PB. Apa yang dibagi di website PB adalah pembelajaran dan pengalamannya dari sudut pandang sebagai perempuan yang bekerja di lapangan dengan beragam tantangan dan pembelajaran yang tidak terungkap dalam media program. 

Motivasi dari inisiasi membuat media ini awalnya karena menurut Alimah selama ini dia jarang menemukan media yang secara khusus memuat kisah pembelajaran pemberdayaan atau pengorganisasian komunitas secara detail dan apa adanya, termasuk strategi dan pembelajarannya. Misalnya, bagaimana mereka mulai berdaya? Tantangan apa saja yang mereka hadapi? Bagaimana interaksi antara pendamping dan warga yang mereka berdayakan sebagai subjek, bukan objek pembangunan. Bagaimana strategi dan sekian pengalaman yang sangat personal yang jarang terungkap dalam proses pemberdayaan. 

Nah, di luar kisah pemberdayaan itu, ada juga kisah-kisah yang sangat pribadi yang jarang diungkap para perempuan. Seperti persoalan perkawinan anak, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), kekerasan seksual, dan sekian persoalan yang sangat rentan menimpa perempuan. 

2016: MEMILIKI AKUN INSTAGRAM @perempuanberkisah 

Selain di website, Perempuan Berkisah (PB) juga memiliki akun facebook, page facebook, twitter dan instagram. Namun, instagram pertama kali dibuat tahun 2016 dengan tampilan berisi screenshot gambar berisi judul dan gambar, serta quote dari artikel yang telah dipublikasikan di website PB. 

Tahun 2019: AKUN INSTAGRAM @PEREMPUANBERKISAH SEBAGAI MEDIA BERBAGI KEKUATAN SESAMA PEREMPUAN 

Tahun 2019, akun instagram @perempuanberkisah bukan hanya sebagai media berbagi pengetahuan dan pembelajaran, kisah inspiratif, namun juga sebagai media berbagi kekuatan terhadap sesama perempuan. 

Alimah sebagai Founder PB sekaligus Content Creator mulai mengubah tampilan instagram @perempuanberkisah dengan ilustrasi yang dia buat sendiri secara apa adanya sebagai ilustrator pemula. 

MARET 2019: TERBENTUKNYA TIM REDAKSI @PEREMPUANBERKISAH 

Ketika begitu banyak kisah sender yang dikirim ke instagram @perempuanberkisah serta kewalahan menghadapi sekian curhatan para sender melalui DM maupun email, Alimah akhirnya mencoba membuka peluang untuk volunteer (relawan) yang mau membantu untuk editing dan membuat ilustrasi. 

Sebelumnya, pada tahun 2018 sampai akhir 2019, Alimah juga memiliki partner yang berbagi sumber daya dan gagasan dalam mengelola website, yaitu Mungky Sahid. Kini Mungky Sahid memilih fokus di bidang pendidikan, mengembangkan usahanya, dan sekian inisiatif lainnya. Meskipun di luar struktur, namun Mungky Sahid tetap mendukung dan berkolaborasi dengan perempuanberkisah. 

Sejak Maret 2019, para relawan hadir untuk terlibat dalam pembuatan konten, di antaranya sebagai editor, ilustrator, dan bahkan konselor. Meskipun mereka bekerja secara online, namun ketulusan dan dedikasi para realawan tak diragukan lagi dalam membantu perempuan yang memiliki beragam persoalan. 

Sampai saat ini, relawan yang secara khusus masuk dalam tim redaksi @perempuanberkisah berjumlah 9 orang, baik sebagai editor, ilustrator, dan konselor. Tim redaksi ini berdomisilit di Jakarta, Tangerang Selatan, Depok, Bandung, dan Surabaya. 

Tim redaksi @perempuanberkisah juga pada umumnya memiliki komunitas dimana mereka sebagai foundernya. Mereka memiliki beragam profesi, ada yang berprofesi sebagai dokter, analis laboratorium, akuntan, direktur sebuah lemabaga yang peduli pada persoalan perempuan, pekerja sosial, dan mahasiswi pasca sarjana di bidang psikologi profesi. 

AKHIR 2019: PERUBAHAN DOMAIN PEREMPUANBERKISAH[.COM] MENJADI PEREMPUANBERKISAH.ID 

Di akhir 2019, website perempuanberkisah[.com] yang telah dikelola sejak tahun 2018 berubah alamat domain menjadi “perempuanberkisah.id”. Banyak pertimbangan atas perubahan alamat domain ini mengapa mengubah domai menjadi pilihan yang tepat dan mendesak saat itu. 

AKHIR 2019: BERDIRINYA KOMUNITAS PEREMPUAN BERKISAH 

Inisiasi mendirikan Komunitas Perempuan Berkisah (PB) mulai akhir tahun 2019, tepat setelah Tim Redaksi PB menggelar sejumlah pertemuan-pertemuan (meet up) bersama follower instagram @perempuanberkisah, di beberapa kota besar seperti Tangerang Selatan, Bandung, Semarang dan Yogyakarta. 

PROGRAM & KEGIATAN KOMUNITAS PEREMPUAN BERKISAH 

  1. Penguatan kapasitas perempuan melalui media berbagi pengetahuan, pembelajaran dan kisah inspiratif. 

Kegiatan dari program ini terwujud dalam beberapa kegiatan berikut: 

  • Membuat konten-konten berisi pengetahuan, pembelajaran dan kisah inspiratif melalui website perempuanberkisah.id , instagram @perempuanberkisah , maupun kanal youtube “Perempuan Berkisah”. 
  • Menyelenggarakan diskusi dengan beragam tema sekitar isu perempuan dan komunitas, melalui konten #NgobrolSantai live on instagram @perempuanberkisah 
  • Menyelenggarakan pelatihan self healing melalui meet up khusus bersama follower @perempuanberkisah . 
  • Melakukan kampanye untuk mendukung kebijakan-kebijakan yang berpihak pada perempuan dan kelompok marginal lainnya, serta kampanye isu-isu penting lainnya bersama sejumlah komunitas lain. 
  1. Pendampingan perempuan korban kekerasan berbasis pendekatan feminis, hingga korban pulih dan berdaya. 

Kegiatan dari program ini terwujud dalam beberapa kegiatan berikut ini:

  • Melakukan konseling terhadap perempuan korban kekerasan berbasis pendekatan feminis. Konseling dilakukan secara online melalui whatsapp grup (WAG) khusus untuk konseling. Dalam grup konseling ini Tim Konselor Perempuan Berkisah  (PB) berkolaborasi dengan sejumlah lembaga yang akan melakukan pendampingan secara langsung dengan korban untuk proses selanjutnya. Beberapa lembaga yang saat ini telah dan masing berkolaborasi dengan Perempuan Berkisah, di antaranya adalah: Droupadi Bandung, Samahita Bandung, LBH Apik Makassar, Tenaga Kesehatan di Palu, Komunitas Save Janda, lembaga pendampingan perempuan korban di Semarang dan Blora, dan sejumlah lembaga lainnya. 
  1. Pemberdayaan ekonomi solidaritas perempuan khusus anggota komunitas Perempuan Berkisah (PB). 

Kegiatan dari program ini terwujud dalam beberapa kegiatan berikut ini:

  • Perempuan Berkisah membantu mempromosikan usaha anggota komunitas PB, baik usaha berupa produk maupun jasa. Kegiatan ini sudah mulai berjalan, terutama sejak masa pandemi covid-19. 
  • Perempuan Berkisah juga membantu pemulihan korban hingga terbangun kesadaran kritis-transformatif dan berdaya sebagai penyintas kekerasan. 
  • Perempuan Berkisah melakukan pengorganisasian komunitas Perempuan Berkisah di beragam daerah, sehingga berdaya baik secara mental dan ekonomi. Beberapa di antaranya melalui pelatihan-pelatihan sesuai kebutuhan kapasitas perempuan, serta membuka peluang akses untuk proses pemasaran dan sejumlah kebutuhan lainnya berdasarkan kesepakatan anggota.  
  1. Program bantuan langsung berbasis empati bagi Perempuan penyintas kekerasan. Program adalah program kolaborasi antara Komunitas Perempuan Berkisah (@perempuanberkisah) dan Komuitas Save Janda (@save_janda).
  • Program bantuan langsung kepada penyintas korban kekerasan diinisiasi oleh @perempuanberkisah dan @savejanda sebagai sebuah program berbasis empati untuk membantu para perempuan penyintas korban kekerasan terhadap perempuan.  
  • Komunitas Save Janda merupakan salah satu komunitas yang peduli pada persoalan perempuan janda, dengan melakukan kampanye penghapusan stigma atas janda, melakukan pendampingan janda korban kekerasan, serta pemberdayaan ekonomi bagi para janda di beragam daerah. Komunitas ini diinisiasi oleh Mutiara Proehoeman sebagai Founder Komunitas Save Janda. 

Adapun kegiatan sebagai berikut: 

  • Kegiatan Open Donasi melalui instagram @perempuanberkisah dan @save_janda.  
  • Belanja Untuk Cinta (BUC): Belanja Sambil Berdonasi , yang dilakukan melalui live on instagram @perempuanberkisah dan @save_janda. Hasil dari belanja untuk cinta ini akan disalurkan sebagai donasi untuk membantu perempuan penyintas korban kekerasan baik yang didampingi oleh Komunitas Perempuan Berkisah maupun Save Janda, maupun komunitas tertentu atau korban di luar dampingan PB dan SJ yang membutuhkan donasi tersebut. 

TIM REDAKSI PEREMPUAN BERKISAH

Berikut adalah profil Tim Redaksi Perempuan Berkisah & Tim Konselor. Tim Perempuan Berkisah juga bekerja secara sukarelawan. Tim ini berasal dari beragam daerah profesi. Tim Perempuan Berkisah juga terdiri dari para founder komunitas yang berbasis online. Berikut adalah profil singkat para tim redaksi perempuan berkisah:

“Harapan itu seperti jalan di dalam hutan. Di sana tak pernah ada jalan, tapi jika banyak orang menjalaninya, jalan itu menjadi ada.”

Sebuah kalimat bijak itu terus terngiang dalam pikirannya. Kalimat Lin Yutang, salah seorang esais China terkenal di masanya, ia temukan dari sebuah majalah dinding (Mading) karya anak perempuan di Poso. Ia yang sejak kecil dipenuhi seribu satu macam kisah tragis perempuan, tak pernah berhenti meyakini bahwa dirinya tak sendiri. Di luar sana, begitu banyak perempuan yang memiliki nasib serupa. Namun, ia masih percaya bahwa ada dunia yang siap menerima segala bebannya. Dunia itu ia ciptakan dalam dadanya. Namun, ia yakin tak pernah sendirian. Ia tak berdiri sendiri, ada sobat @perempuanberkisah yang tak lelah berbagi kekuatan dengan perempuan lainnya.

Perempuan Berkisah diinisiasi olehnya sejak tahun 2015. Sementara, instagram @perempuanberkisah mulai merias dirinya sejak ia mulai belajar menggambar ilustrasi apa adanya. Kini ia tak sendiri, ada tim redaksi @perempuanberkisah yang tulus berbagi kapasitas, sumber daya, dan energi positif. Di tengah kesibukannya sebagai sobat diskusi @perempuanberkisah dan sesekali menggambar, sehari-hari juga ia bekerja sebagai Gender Spesialist di salah satu NGO di Yogyakarta. Mengelola media pembelajaran alimahfauzan.id; wikimuda.com; lansia.id; dan menulis pembelajaran di sekolahdesa.or.id; buruhmigran.or.id; serta berbagi pembelajaran bersama komunitas di desa.

“Sunshine with a little hurricane”

Kalimat di atas memiliki makna yang begitu dalam menggambarkan kehidupan seorang perempuan. Dia adalah dokter Sandra Suryadana salah satu editor @perempuanberkisah. Sepertihalnya Fanny dan Triya, ia juga hadir dengan menawarkan ketulusannya menjadi bagian dari editor @perempuanberkisah.

Sandra bukan hanya seorang penyintas yang tak lelah berbagi kekuatan bersama perempuan lainnya. Ia juga seorang dokter di salah satu klinik di Jakarta. Sandra sangat suka menulis dan peduli pada persoalan perempuan dan sosial-kemanusiaan. Tak puas berbagi kekuatan di sejumlah komunitas, Sandra pun menginisiasi hadirnya @doktertanpastigma. Kini, Sandra sebagai salah satu editor @perempuanberkisah sekaligus sobat berbagi kekuatan. Sampai saat ini, Sandra masih aktif menulis di Quora. Dia bahkan dinobatkan sebagai Top Writer 2019 di Quora.

Kalau salah perbaiki. Kalau gagal, coba lagi, tapi kalau kamu memilih menyerah, selesai sudah semuanya.

Di satu waktu yang begitu tegang, seorang perempuan hadir dengan segala ketulusannya berbagi informasi penanganan kasus kekerasan yang menimpa perempuan. Dia begitu telaten berbagi kekuatan kepada salah satu sender @perempuanberkisah. Perempuan itu adalah Ni Loh Gusti Madewanti. Perempuan yang akrab disapa Anti ini meruapakan Direktur Droupadi Foundation, sekaligu penyintas sekaligus orang tua tunggal untuk 2 anak perempuannya.

Anti merupakan aktivis perempuan asal Bandung, ia juga merupakan penyintas kekerasan seksual-KDRT. Saat ini, masih berjuang untuk berdamai dengan diri sendiri, dan dalam perjalanannya aktif melakukan pendampingan korban untuk bersama-sama keluar dari lingkaran kekerasan. Kini, Anti menjadi bagian dari tim redaksi @perempuanberkisah. Anti sebagai admin sebagai konselor yang fokus menjadi salah satu sobat diskusi sender @perempuanberkisah.

Cintai dirimu sendiri, sebelum mencintai yang lain.

Satu waktu, seorang perempuan dengan tulusnya menawarkan diri menjadi salah satu editor @perempuanberkisah. Perempuan itu adalah Fanny Febiana. Seperti halnya Triya, ia hadir bukan hanya dengan sekian kisahnya sebagai penyintas. Lebih dari itu, ia datang dengan kekuatan kapasitas dan sekian pengalamannya sebagai jurnalis di sejumlah media massa ibu kota.

Baru-baru ini, ia menjadi sobat yang begitu intens mendampingi salah seorang sender @perempuanberkisah yang merupakan korban KDRT. Sebagai penyintas, tentu saja, Fanny merupakan salah satu sobat yang tepat dan dibutuhkan bagi sender @perempuanberkisah dalam menjalani sekian proses hukum untuk menjerat pelaku kekerasan, serta pemulihan psikisnya sebagai seorang ibu.

Fanny merupakan salah satu tim editor @perempuanberkisah. Fanny adalah seorang ibu tunggal dari dua anak hebat dan suka menulis. Sehari-hari, Fanny bekerja di salah satu media online di Jakarta. Lebih dari itu, ia merupakan seorang jurnalis dengan sekian pengalamannya yang begitu kaya dari beragam media nasional baik cetak maupun online.

“Maafkan dan lupakan”

Sebuah kalimat sederhana namun memiliki makna yang begitu dalam bagi seseorang. Ia adalah seorang perempuan  yang bisa merasakan dua hal di satu waktu. Di satu waktu, perempuan ini datang dengan sekian persoalannya melalui @perempuanberkisah. Persoalan yang menimpa hidupnya tak bisa disebut ringan, bahkan bisikan untuk bunuh diri tak jarang hadir dalam kehidupannya.

Kini ia berhasil melaluinya. Jalan panjang telah dilaluinya hingga kini bertahan sebagai seorang penyintas. Perempuan tersebut adalah Triya Amalina Radaris. Perempuan yang dengan percaya diri hadir tak sekadar menceritakan kisah hidupnya, namun juga dengan potensinya. Triya adalah @rusakutub_ , salah satu ilustrator @perempuanberkisah. Bagi Triya, menggambar mampu membuatnya merasakan dua hal di satu waktu.

Kini, sehari-hari Triya bekerja sebagai analis di sebuah klinik di Depok. Pernah bekerja di NGO yang peduli pada pananggulangan HIV dan Narkoba. Ya, kami ingin memperkenalkan bahwa Triya Amalina dengan akunnya @rusakutub_ adalah salah satu tim redaksi @perempuanberkisah yang dengan tulus membuat ilustrasi bagi sender.

“Jadilah versi terbaik untuk diri sendiri, dan berdamailah dengan rasa sakit yang pernah ada dalam kehidupan ini.”

Di dunia ini, siapa yang tidak pernah merasakan sakit? Tentu semua orang pernah memiliki rasa sakit, termasuk diriku. Aku adalah perempuan yang sedang berproses menerima dan memaafkan rasa sakit yang sedang ku rasakan saat ini. Aku adalah perempuan yang sedang mencoba untuk menjadi diriku sendiri, mencintai diriku sendiri, dan melakukan apapun yang ku suka. Melalui alasan tersebut, aku juga ingin merangkul perempuan diluar sana yang sedang atau mungkin sedang berjuang dengan rasa sakitnya. Dengan keberanian yang kumiliki, aku menawarkan diriku untuk bergabung dengan Perempuan Berkisah, sebuah komunitas yang tentunya memiliki visi yang sama dengan diriku. 

Melalui @perempuanberkisah, aku pun ingin banyak belajar bagaimana menjadi orang yang kuat, untuk mengarungi kehidupan ini, membantu banyak orang tanpa peduli siapa dirinya. Pengalaman yang tidak pernah bisa terbayarkan, sebab melalui @perempuanberkisah aku bertumbuh untuk menjadi diriku yang sebenarnya. Harapanku, untuk diriku dan perempuan di luar sana, jadilah versi terbaik untuk diri sendiri, dan berdamailah dengan rasa sakit yang pernah ada dalam kehidupan ini.

“Kita punya tangan hanya 2, tidak cukup untuk menutup mulut semua orang yang bicara buruk tentang kita, tapi cukup untuk menutup telinga kita sendiri”

Saat pertama follow akun @perempuanberkisah, saya melihat begitu besar dan begitu tulus empati yang disampaikan kepada sender dari caption yang dituliskan redaksi.

Berbeda dari akun ‘curhat’ lain yang mungkin lebih sering menjual derita demi likes, cara @perempuanberkisah menangani kisah terasa sangat berbeda. Terasa personal. Hangat.

@perempuanberkisah adalah salah satu tempat di mana saya merasa nyaman untuk terus belajar, bertumbuh, dan bergerak bersama membantu sesama perempuan.

Jadilah saluran berkat agar banyak perempuan lain juga bisa menjadi versi terbaik dari diri mereka sendiri.

Sebelum bergabung menjadi tim redaksi PB, aku adalah followers yang kerap kali membaca kisah yang dibagikan di instagram. Tak jarang aku membagikannya kepada temanku yang lain agar dapat dijadikan pelajaran bagi kami. Aku rasa, visi misi yang dimiliki @perempuanberkisah (PB) sejalan dengan visi misiku. Kami saling mengisi dan menguatkan satu sama lain. Berbagi ilmu baru, yang mana aku benar-benar belajar banyak dan bekerja bersama perempuan-perempuan keren lainnya! Aku ingat betul, ketika tahu PB sedang buka recruitment volunteer detik itu juga aku langsung mendaftar! 

Dulu sekali, aku merasa bahwa dunia memang begini adanya. Ada banyak ketimpangan dimana sebagian besar korbannya adalah perempuan. Masih banyak di luar sana yang striving for justice, yet, sebagian besar dari kita memilih acuh. Basis studiku di HI, terlebih ketika proses magang dan pengerjaan skripsi yang membuatku terjun langsung benar-benar berhasil membuka mataku sepenuhnya. 

Aku menyaksikan sendiri di banyak desa di Yogyakarta (tempat penelitianku) bahwa perempuan seringkali masih menjadi korban patriarki. Dibuat kagum juga akan betapa antusias mereka untuk berjuang lepas dari hal tersebut. Aku bersama institusiku saat itu mengupayakan banyak kegiatan pemberdayaan agar perempuan bisa berdikari di atas kaki sendiri. Mulai dari situlah aku sadar, bahwa langkah kecil pun akan membawa dampak besar. Bahwa bukan saatnya bagi aku untuk diam saja.

Harapanku untuk diri sendiri dan banyak perempuan lain di luar sana adalah untuk senantiasa mengusahakan segalanya yang terbaik untuk dirimu sendiri. Be the best version of yourself! Saling menguatkan satu sama lain karena terkadang kaki ini akan terasa lelah. Wajar, itu artinya kita sudah berjalan maju untuk menggapai mimpi-mimpi kita. Terakhir, sebaik-baiknya manusia adalah yang berguna bagi manusia lain. Maka dari itu, jangan berhenti berbuat baik. Jadilah saluran berkat agar banyak perempuan lain juga bisa menjadi versi terbaik dari diri mereka sendiri.

“Mari terus saling mengedukasi diri, guna meminimalisir ketimpangan serta membantu meningkatkan kesadaran kita sebagai subjek kehidupan.”

Bagiku, nggak ada alasan untuk nggak tertarik gabung dengan Tim @perempuanberkisah. Bisa menjadi bagian dari @perempuanberkisah adalah hal yang tak kuduga, dan aku pun yakin, nggak ada yang namanya kebetulan, melainkan semua ini merupakan skenario dari-Nya agar aku bisa lebih banyak belajar dari beragam hal, termasuk dari narasi hidup orang lain.

Setiap individu pasti memiliki pengalaman hidupnya masing-masing, termasuk diriku. Ya, meskipun aku pernah tergabung dalam sebuah Lembaga Pers Mahasiswa, kemampuan menulisku pun belum bisa selihai dan selincah si tupai ketika sedang memanjat pohon. Dari TIm @perempuanberkisah, aku banyak belajar cara menulis serta mengedit dengan baik. Selain itu, saat ini aku sedang mencoba menekuni dan belajar di bidang content writer, copy writer, serta penulis lepas. Benar, semua itu masih proses.

Aku pun meyakini bahwa setiap orang yang pernah hadir dalam hidupku pasti akan memberikan pelajaran baru untukku. Nggak ada hal yang sia-sia, semua ada nilai pembelajarannya. Satu lagi, pelaku perundungan itu bisa dari siapa saja, entah sesama perempuan, laki-laki, atau pun sesama lainnya. Sebab, nila-nilai patriarki itu bisa mengungkung siapa saja, serta siapa pun bisa saja masih terkungkung dengan nilai-nilai yang sudah jelas merugikan banyak pihak tersebut. Nah, saling mengedukasi diri, alih-alih bisa saling mengedukasi dengan sesama lainnya, guna meminimalisir ketimpangan serta membantu meningkatkan kesadaran kita sebagai subjek kehidupan.

Kamu tidak sendiri.

Pengalaman dan perjalananku mengantarkanku pada satu akun instagram yaitu @perempuanberkisah. Melihat bagaimana perempuan bisa saling menguatkan satu sama lain, menjaga, menerima, memaafkan dan belajar dari pengalaman masa lalu serta mencintai diri sendiri.

@perempuanberkisah memperkenalkanku arti sesungguhnya menerima tanpa menghakimi, membuatku merasa bersyukur bisa terlahir menjadi seorang perempuan. Bersama kita bisa lalui, karena kita tidak sendiri.

Contact Us