Meluruskan Sesat Pikir Pasien Corona “Tidak Diapa-apain”, Pulang Paksa, hingga Meninggal Dunia di Rumah

Perkara “tidak diapa-apain” ini sering sekali menjadi keluhan dari pasien. Bahkan tidak jarang pasien marah-marah kepada tenaga medis karena sudah menunggu di unit gawat darurat (UGD), tetapi “tidak diapa-apain”. Saya sendiri pernah diancam akan dilaporkan ke pihak berwenang karena dianggap lalai “tidak ngapa-ngapain pasien”. Pernah dengar ada kabar pasien yang Read more…

#WFH: Bukan Sekadar di Rumah, tapi “Tahan Diri” dan “Temukan Kesejatian Diri”

Di sini saya ingin menyampaikan, pada akhirnya makna #WFH bukan sekadar diam di rumah, menyendiri di rumah, lebih dari itu adalah menahan diri dari segala kebodohan sikap kita sendiri. Menahan diri untuk tidak mengekspos diri berlebihan, hingga berdampak pada jiwa lain yang tak mampu seberuntung kita. Menahan diri dari sikap masa bodoh atas nasib orang lain. Menahan diri dari semua yang merugikan diri dan orang lain, hingga tanpa sadar kita mampu menemukan kesejatian diri kita dan berikan bijak memanfaatkan privilege WFH ini. Bersikap bijak memerangi virus ini bersama-sama.

Aku Takut Tanpa Sadar Menularkan Corona ke Keluargaku

“Aku semakin takut jika pulang nanti aku justru membawa virus itu (Corona) tanpa aku sadari, lalu menyebarkannya ke yang lain. Sejauh ini teman-teman di klinik baik-baik saja. Kita juga masih ngusahain segala sesuatunya dan terus mencari informasi tentang APD (alat pelindung diri) di tempat lain. Jadi sepanjang aku kerja, ini adalah masa termenegangkan. Beberapa dari kami takut buat pulang ke rumah. Buat teman-teman yang mendapat hak istimewa buat working from home (WFH), tolong dimaksimalkan waktunya buat di rumah” (Triya Amalina, Analis Kesehatan)

Contact Us