Kenapa Perempuan Suka Mencari Validasi dari Laki-laki?

Published by Poppy R Dihardjo on

Kalau kamu merasa..

Tersinggung tiap kali ada yang berbeda pendapat denganmu?

Berubah pikiran saat ada yang tidak setuju dengan pilihan/pendapatmu?

Merasa kesulitan untuk menolak atau berkata TIDAK dan lebih memilih untuk pasrah?

Seneng banget bergosip atau sebar gosip; iya iya aja padahal sebenarnya? Kamu nggak setuju, namun takut kalau harus protes?

Kerjaannya minta maaf melulu, suka memuji untuk memancing pujian?

Kerjaannya minta ijin padahal nggak perlu sampe gitu juga?

Belagak pintar atau berpengalaman karena takut dibilang bodoh? dan nggak bisa jadi diri sendiri?

Bisa jadi, kamu slaah satu orang yang hobi cari validasi. Ouch!

Kompeten dan Cerdas, namun tetap dipandang dengan tatapan skeptis?

Bersikap asertif saja seringkali dianggap problematik. Saat mencoba membangun koneksi dengan sesama perempuan, niat kolaborasi malah pernah berakhir dengan anggapan kalau saya hendak berkompetisi. Belum lagi menghadapi bias dan ideologi, passion vs compassion. Macam makan buah simalakama.

Kenapa ya perempuan masih banyak yang meragukan diri sendiri sampai butuh validasi dari orang? Buat saya, kita ini (termasuk saya) masih banyak yang kena brainwash budaya #patriarki dan social dictum.

Ada teori yang menyebutkan 4 alasan kenapa perempuan masih suka mencari validasi dari laki-laki:

1. Sindrom Subordinasi – mulai dari pekerjaan yang level manajemennya penuh dengan laki-laki, sampai urusan rumah di mana sosok ayah hampir selalu jadi pemimpin, rasanya wajar kan kalau perempuan akhirnya percaya kalau mereka ‘harus dipimpin’.

2. Ketakutan akan Hasil Akhir – kekhawatiran untuk mengambil keputusan sendiri dan menghadapi konsekuensinya itu memang menakutkan untuk semua gender, dan karena lingkungan yang tidak mendukung, perempuan jadi merasa jauh lebih takut akan hal ini.

3. Mindset Minoritas – saat kita berpikir bahwa perempuan adalah kaum minoritas, saat itulah kita mengecilkan kemampuan kita sendiri. Saya sudah membuktikan berulang kali betapa saat perempuan #GerakBersama dan saling mendukung, hasilnya akan luar biasa.

4. Desirability Dilemmawe seek power but fumble at wielding it mutually for greater prospects. Kita ingin terlihat sebagai perempuan kuat, namun masih suka takut kalau tidak akan ada laki-laki yang tertarik pada kita. Kita berharap mendapatkan pasangan yang setara, namun kadang kita berusaha untuk menahan diri supaya bisa berpartisipasi di ‘Mating Movement‘ yang diharapkan lingkungan terdekat kita.

Buat kalian yang merasa tak akan sanggup merdeka dan mandiri dengan bahagia, baik sendirian ataupun berpasangan, mau tunggu sampai kapan?

Stop cari #validasi dan percaya pada diri sendiri. Queens can fend for themselves while Princesses wait for the Prince to come and rescue them.

Be the QUEEN.

About the author

Poppy R Dihardjo dikenal dengan Kak Pop. Kak Pop merupakan Founder Perempuan Tanpa Stigma atau kita bisa mengakses akun resminya di instagram dengan nama @pentasindonesia ; Akun Kak Pop sendiri adalah @poppydihardjo .


Poppy R Dihardjo

Poppy R Dihardjo dikenal dengan Kak Pop. Kak Pop merupakan Founder Perempuan Tanpa Stigma atau kita bisa mengakses akun resminya di instagram dengan nama @pentasindonesia ; Akun Kak Pop sendiri adalah @poppydihardjo .

0 Comments

Leave a Reply

Avatar placeholder

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Contact Us