About the author

Media Pemberdayaan | Katalisator Perubahan | Ruang Aman Berbasis Etika Feminis

BAGAIMANA HUBUNGAN IBU DAN ANAK PEREMPUANNYA MENJADI PANGKAL PEREMPUAN MENGALAMI HUBUNGAN BERACUN (TOXIC RELATIONSHIP)?

Disclaimer: Konten pengetahuan ini adalah catatan notulensi yang ditulis oleh @nadiamatul dari materi diskusi diskusi santai #NgobrolSantai live on instagram @perempuaberkisah bersama Anastasia Satriyo M.Psi., Psi (Psikolog Anak & Remaja) bersama dr. Sandra Suryadana, Tim Redaksi @perempuanberkisah sekaligus Founder @doktertanpastigma pada Minggu, 17 Mei 2020, tentang hubungan beracun (toxic relationship) antara ibu dan anak perempuannya.

Anak perempuan bisa mengadaptasi pola ibu-anak. Banyak ibu yang melaksanakan tugasnya hanya cukup dengan memberi makan saja. Padahal kebutuhan anak perempuan lebih dari itu, salah satunya meliputi pemenuhan emosional. Karena anak perempuan terbiasa diperlakukan seakan dia tidak pernah cukup untuk melakukan sesuatu, maka pola itu menjadi familiar dan akhirnya bisa dialami lagi di relasi romantis berikutnya. Pola ini juga bisa membuat anak perempuan sulit mengatakan “TIDAK”. Pola ini juga menimbulkan pemikiran bahwa kebahagiaan orang lain adalah segala-galanya.

Anak perempuan juga pada akhirnya sering menciptakan pemikiran “I’AM NOT GOOD ENOUGH”. DIA SELALU DITUNTUT UNTUK MENJADI SEMPURNA DAN SEJUMLAH TUNTUTAN LAINNYA. Karena dianggap sebagai jalan memperbaiki nasib. Misalnya: “Nilai kamu kok 90, kenapa gak 100?”. Hal ini juga bisa disebabkan karena masa lalu ibu yang tidak nyaman dan kondisinya unprivileged, seperti kurang akses untuk belajar parenting.

Ada pemikiran bahwa orang tua terbaik adalah yang paling banyak pengorbanannya, FAKTANYA KALAU ORANG TUA TIDAK BAHAGIA, MAKA TIDAK MAMPU LEBIH BANYAK MEMBAGIKAN KEBAHAGIAANYA KE ANAK, JADI YANG PENTING UNTUK MENJADI COMPLETE DULU. Masa kecil kita bisa jadi banyak “unavailable emotions“. Misalnya: “Mama ini seru deh!”, lalu direspon “Ah, cuma gitu doang!”. Pada posisi ini, seorang ibu kurang excited dan kurang tepat merespon emosi anak. Manusia itu butuh tahu pola baru, kita perlu putus rantainya dengan belajar informasi lainnya yang dibutuhkan adalah belajar mengenai relasi yang sehat seperti apa? Buatlah diri kita di posisi tengah atau win-win solution. Jadi yang berubah itu kita dan pasangan kita, bukan salah satu pihak saja yang perlu improve.

APA PERBERDAANNYA DENGAN POLA PENGASUHAN OLEH AYAH, IBU, NENEK, ATAU PENGASUH LAINNYA?

Siapapun yang punya ikatan emosi dengan kita, bisa memengaruhi. Ayah pun termasuk. Namun ada bedanya. Apa bedanya? Kenapa hubungan ibu dan anak dibahas? Anak perempuan dengan ibunya, terdapat pengalaman ketubuhan yang sama.

Kepribadian terbentuknya dari gabungan bio-psiko-sosial. Yang paling mirip itu dengan ibu, secara biologis, dan sosial (budaya patriarki). Misalnya feedback orang lain: “wah bagus ya, kayak ibunya”, “pintar ya kayak ibunya”. Maka susah bagi anak perempuan untuk punya identitasnya sendiri.

Yang melanggengkan patriarki bukan laki-laki saja, perempuan juga. Misalnya tuntutan menikah dan lain-lain, bisa datang dari siapa saja. Jadi yang perlu dibebaskan adalah mindset patriarki bukan orangnya yang harus dimusuhi.

Pembahasan mengenai adanya mindset seberapa pun orang memperlakukan kita dengan tidak baik, maka kita terima terus, padahal tidak tepat.

Kebiasaan yang ada pada umumnya, kita membicarakan masalah adalah membicarakan aib, sementara penting untuk membicarakan masalah dan mencari solusi. Misal, secara fisik, tanda kesehatan kita adalah kita bisa BAB, begitu juga emosi, ada yang perlu diproses dan dibuang juga agar tidak menjadi penyakit di dalam diri. Ibu-ibu juga banyak yang menggantungkan prestasi di dalam diri anak, sehingga membebani anak.

Parentication adalah ketika misalnya bapak jarang terlibat di keluarga, semuanya ibu, akhirnya ibu yang stres bercerita ke anak. Muatan emosional pada cerita itu sebenarnya untuk orang dewasa dan penuh beban untuk seorang anak yang belum cukup kematangan emosinya. Variasi itu belum biasa bagi anak, tapi dipaksakan harus siap. Karena itu, muncul keinginan anak untuk membahagiakan orang lain, bertanggungjawab untuk menyenangkan orang lain, padahal idealnya tidak harus demikian. Akhirnya begitulah menyenangkan orang lain menjadi satu-satunya cara mengisi kekosongan diri.

Banyak yang memutuskan menikah karena ingin melarikan diri dari keluarga. Banyak yang memutuskan segera ingin menikah juga karena stres kuliah. Semua ini karena keinginan untuk dapat validasi yang tidak didapatkan di posisi anak perempuan saat itu. Padahal menikah itu kompleks. Pasangan tidak bisa kita jadikan sumber utama validasi kita. Di lingkungan kita, kita terbiasa dengan pemikiran bahwa validasi itu datangnya dari eksternal. Misalnya ada pertanyaan, kamu berharga gak? Kita jawab, kata ibu saya saya anak yang bisa diandalkan. Kata pasangan saya, saya jago masak. Sebaiknya discover diri lagi, tidak ada kata terlambat untuk melihat keberhagaan diri dari dalam diri kita sendiri. Intinya: IDEALNYA VALIDASI DARI DALAM DIRI SENDIRI

Apakah berlaku untuk anak korban perceraian yang tidak dapat figur ibu?

Di beberapa kasus, ibu meninggal saat remaja, maka biasanya mencari figur ibu yang lain, pasti ada, seperti oma, tante, guru. Anak broken home perlu dibangun pemikirannya, bahwa yang “broken” itu “home“, bukan kamunya. Jangan sampai punya pemikiran relasi itu seperti itu berjalannya, harusnya relasi itu setiap hari bangun segar dan nyaman. Saat pemikiran kita apapun yang terjadi, saya berharga, saya tidak tertekan emosi.

Gunakan perspektif anak, bagaimana agar anak merasa berarti (ada bahasan tersendiri). Pengalaman boleh jadi membuat kita berpikir begini: saya gak mau kayak ibu saya, gak mau punya suami kayak bapak saya yang suka memukul. Sementara, otak kita suka ter-set untuk mencari yang familiar. Kita sudah mencari pertemanan, misalnya ada 100 laki-laki, tapi hanya segelintir yang saya suka, karena familiaritas itu melekat di diri kita, padahal itu tidak sehat.

Maka lakukan relaksasi meditasi, journaling (menulis curhat harian), semakin kita mengenali diri kita, semakin kita punya kontrol yang baik atas diri kita. Self-love, self-care, inner talk, untuk jadi blue print mengenai bagaimana kita perlu diperlakukan oleh orang lain. Maka apa yang terjadi di luar, bisa jadi representasi kita di dalam, apakah kita menyadari keberhargaan diri kita. Kita berada di toxic relationship, diperlakukan dengan tidak nyaman. Ternyata itu terjadi selain karena pasangan tidak respect, juga karena diri kita yang tidak menyadari kelayakan diri kita. Kita pantas diperlakukan baik karena kita berharga.

Case: survivor kekerasan dalam pacaran. Saat ke terapi, dibilang kurang dekat secara emosional  dengan ayah. Padahal merasa ada dalam keluarga relijius dan dengan ayah yang baik-baik  saja. Adakah sifat spesifik yang tidak disadari tapi itulah yang membuat terjebak dalam toxic relationship?

Menurut Shefali Tsabary, Ph.D., is a clinical psychologist: konsep conscious parenting. Penting untuk connect sama diri sendiri, maka connect ke anak jauh lebih baik. Tidak ada rumusnya. Tapi apabila tidak ada relasi, akan sulit menerapkan hubungan harmonis.

Ada dua hal yang penting untuk menjadi orang tua: kemampuan mengelola stres sendiri & pengetahuan mengenai anak. Contohnya: kenapa usia 2 tahun suka banting barang? (ada fasenya). Kenapa ada masa remaja selalu bilang tidak? (dianggap membangkang padahal memang ada dinamuka di tahap perkembangannya saat uia remaja). Jangan sampai merasa melahirkan anak, maka punya kemampuan mengerti semua tahap perkembangan anak. Perlu belajar.

Idealnya?Anak merasa Nyaman secara fisik, emosional, terpenuhi sejak kecil sehingga saat dewasa sudah tahu referensinya, tahu bahwa kondisi nyaman itu yang dibutuhkan. Sehingga jika sudah dewasa, akan mencari relasi yang sebaik itu, KARENA Sudah ada RUJUKANNYA.

BAGAIMANA YANG SUDAH TERLANJUR PUNYA TOXIC RELATIONSHIP DENGAN KELUARGA? APA SOLUSINYA?

Basic-nya bukan silaturahim lebaran. Bahkan anak gak perlu minta maaf ke orang tua apabila merasa tidak perlu. Ibarat komputer, kita lagi re-learn. Di Indonesia umumnya dibiasakan ucapan jangan takut, masa penakut banget sih! Sekarang kita belajar lagi untuk jadi orang tua di masa lalu, bilang ke diri sendiri Kamu gak apa-apa kok takut, tenang aja ya? agar punya inner talk lebih baik. Tidak perlu meminta maaf, karena bisa ada kemungkinan orang tua masih menyalahkan kita atau bahas mengenai unpleasant things. Fokus di PUTUS RANTAINYA. Kita yang relearn. Tidak harus membuka celah untuk membahasnya kalau orang tua malah akan menyalahkan diri  kita yang meminta maaf.

  • Referensi : Teknik Hoopono pono (Bahasa Hawaii) : I am sorry, please forgive me, thank you and I love you. Ini kata-kata yang perlu dilakukan ke diri sendiri dulu, baru ke orang lain. 
  • Tambahan: What is HOOPONOPONO? It’s a Hawaiian forgiveness ritual made famous by Haleaka Hew Len PhD, a Hawaiian Psychologist and Shamanic Practitioner. Bisa cari di youtube.

CARA SELF CARE: (BEDA-BEDA, TAPI INI 2 HAL YANG BISA DISHARE):

  • Big picture: dengerin musik, rasain nafasnya.
  • Menerimanya sebagai journey kita: Hari ini mau bayangkan masa anak-anak. Visual imaginery: rewind masa kecil yang kurang baik, atau saat berada di toxic relationship. Rasakan itu adalah bagian dari perjalanan kita. Lakukan 2x sebulan. Nantinya akan ada perubahan. Idealnya ke konselor yang cocok, dalam 6 bulan bisa banyak perubahan baik dalam diri kita.
  • Application: Gunakan juga aplikasi yang tepat untuk membantu.

THEN, HOW TO START?

Menjauh dari lingkungan toxic, dan di waktu sendiri tersebut kita belajar self care, self-talk dan lain-lain. Belajar punya healthy boundaries dan menambah skill set yang baik agar jika. Kembali bertemu toxic environment pun, kita sudah lebih mampu mengatasinya. Misalnya: Selama bekerja dari rumah atau working from home #WFH, sepakati dan batasi ke luar kamar hanya 1 jam untuk makan atau sekian durasinya untuk beres-beres, batasi agar tetap sehat. Sisanya kalau di kamar lebih baik, ambil me-time.

Mungkin gak kita yang toxic?

Mungkin! Ada self-sabotage: fisik dan emosi. Tapi sadari juga, it doesn’t start with my self, banyak faktor di masa lalu juga. Bagaimana caranya?

  • Dimulai dari menyadarinya. Belajar untuk menyadari hal-hal yang ada dalam diri kita.
  • Dengarkan diri kita. Emosi kita kadang memberi warning pada diri kita.
  • Ada hal-hal dalam diri yang mencari perhatian diri kita. Kita perlu menyadarinya.

BAGAIMANA CARA JADI ORANG TUA YANG TIDAK TOXIC?

Manusia gak didesain happy naturally. Ada cara-caranya. Bahagia gak harus kayak di film standarnya. Bahagia yang sehat adalah yang di tengah-tengah. There is no perfect father, mother, tapi just good enough partner, good enough self is already enough.

Kan butuh waktu, bagaimana mengkomunikasikannya dengan orang tua? Lagi di kamar misalnya selama WFH, pintu kamar digedor, dipanggil, disuruh itu-ini, kalau gak mau saat itu, dibilang durhaka.

Idealnya perlu pergi ke konselor terdekat, tercocok. Butuh bantuan orang lain untuk mempelajarinya. Jadi sarannya akan “case per case“, berbeda setiap orang. Tapi aka nada perubahan signifikan kalau sudah dapat bantuan professional. Sekarang banyak layanan gratis atau murah, perlu dicoba.

Pikiran kayaknya ada seseorang yang bisa save my self deh!

INI PEMIKIRAN YANG MEMBAHAYAKAN. Sebaiknya menunda pernikahan, setidaknya  hingga bisa membuat pikiran itu seminimal mungkin. Karena hanya diri kita lah yang  bisa menolong kita.

PENTINGNYA BELAJAR  SELF-CARE 

Konsep paradoks, makin kita merasa nyaman (secured), lingkungan kita (orang tua, dll) malah menjadi  berubah. Ketika belajar self-care kita menginvestasikan kebaikan ke diri sendiri.

CONTOH SELF-CARE

Contoh: sebelumnya merasa exploited. Lalu dengan sudah mampu self-care, akhirnya  bisa berurusan dengan orang-orang yang bisa diajak kerja sama, menghargai boundaries kita, sehingga berinteraksi semakin nyaman, lingkungan nyaman.

MANFAAT SELF-CARE

Manfaatnya banyak, kita bisa menolak pekerjaan, membuat waktu kita cukup istirahat, membuat diri lebih nyaman dan sehat. Self-care: membuat diri makin seperti menjadi diri kita, tenang, dan menjadi best version of my self.

BUAT SOBAT YANG INGIN MEMAHAMI APA ITU SET BOUNDARIES, SELF-LOVE & SELF-CARE, SILA BACA KONTEN INSTAGRAM @PEREMPUANBERKISAH DI POSTINGAN-POSTINGAN SEBELUMNYA

______________

Konten pengetahuan disusun berdasarkan notulensi yang ditulis oleh @nadiamatul dari materi diskusi diskusi santai #NgobrolSantai live on instagram @perempuaberkisah bersama Anastasia Satriyo M.Psi., Psi dan dr. Sandra Suryadana, Tim Redaksi @perempuanberkisah sekaligus Founder @doktertanpastigma pada Minggu, 17 Mei 2020.


Redaksi Perempuan Berkisah

Media Pemberdayaan | Katalisator Perubahan | Ruang Aman Berbasis Etika Feminis

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Contact Us