Perempuan atau Wanita, Memang Perlu Diverifikasi?

Published by Yunita Umar on

“”Kamu masih perempuan, belum menjadi wanita.”

Cerocos seorang teman

Setahun lalu, tepat di sebuah tongkrongan yang riuh dengan lagu Minang. Saya larut dalam obrolan dengan seorang laki-laki, teman kampus. Kala itu, apa yang kami bahas sebenarnya cukup berat untuk saya cerna. Bagaimana tidak, gara-gara obrolan malam itu saya sampai harus membaca banyak literatur tentang apa definisi perempuan dan wanita.

“”Kamu masih perempuan, belum menjadi wanita.” Cerocosnya tiba-tiba. Hati saya mulai diliputi kebingungan. Memang apa bedanya perempuan dan wanita? Bukankah perempuan dan wanita adalah sinonim kata yang mempunyai makna sama?

Pelan-pelan saya mengambil kesimpulan, sepanjang obrolan malam itu dan masih berlanjut kemudian di dalam chattingan whatsapp, bahwa seorang perempuan akan menjadi wanita manakala ia telah menunjukkan sifat keibuan, lemah lembut, tampak dewasa, penurut, dan segala sifat kemayuan yang selama ini didefinisikan oleh laki-laki. Saya masih mengiyakan pendapatnya sambil terus mencari jawaban yang tepat atas kebingungan ini. 

Apakah definisi darinya bisa dipercayai? Butuh berapa lama untuk saya bisa disebut sebagai wanita? Sifat judes dan keras kepala yang saya miliki, tentu tidak masuk kategori menjadi wanita versi dia, bukan?

Saya mencoba melarik satu per satu kata perempuan dan wanita. Perempuan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) daring, diartikan orang (manusia) yang mempunyai puki, dapat menstruasi, hamil, melahirkan anak, dan menyusui. Ini versi KBBI dengan penambahan kata geladak, jalang, jalanan, jahat, lacur, nakal, dan lainnya yang berkonotasi negatif. Saya beralih pada pengertian perempuan secara etimologis, kata perempuan berasal dari kata empu yang berarti tuan, orang yang mahir atau berkuasa. Misalnya, empu gending untuk orang yang mahir mencipta tembang. Selanjutnya kata empu diberi imbuhan per- dan –an menjadi perempuan. Dalam memaknai kata perempuan, digambarkan sebagai sosok yang mandiri dan berdiri sebagai subjek. 

Lalu, bagaimana pemaknaan dengan kata wanita sendiri?

Ada banyak teori yang berusaha mengartikan asal usul kata wanita. Zoetmulder dalam Old Javanese English Dictionary menyebutkan wanita diambil dari kata wanted a yang berarti sesuatu yang diinginkan. Tentunya, wanita merupakan sesuatu yang diinginkan dan diatur oleh laki-laki. Pemaknaan wanita ini sebenarnya bukanlah penanda untuk membedakan jenis kelamin tertentu. wanita justru berasal dari bahasa Sansekerta, vanita yang salah satu maknanya adalah sesuatu yang diinginkan. Lalu diserap lagi ke dalam bahasa Jawa yang dimaknai sebagai wani ditoto. Pemaknaan wanita ini tentu dipengaruhi oleh konstruksi sosial yang menganggap wanita sebagai makhluk inferior. Harus memiliki sikap kepatuhan agar bisa diatur oleh laki-laki, khususnya suami. 

Pada masa Orde Baru, pemerintah membentuk sebuah organisasi yang semua anggotanya adalah istri para Pegawai Negeri Sipil. Dharma Wanita, demikian organisasi ini disebut, secara tidak langsung ikut berkontribusi mengentalkan patriarki. Dari visi misi sederhananya yang berbunyi: mendukung tugas sang suami sebagai aparatur negara dan abdi masyarakat yang membaktikan hidupnya bagi negara dan bangsa. Sehingga memberikan pemahaman kepada masyarakat bahwa kodrat wanita adalah menjadi istri yang berada di belakang laki-laki. Sudah pasti, berdirinya organisasi ini telah menyebabkan depolitisasi perempuan di ranah politik sekaligus melestarikan peran domestiknya. Tugas wanita tidak lain hanya di kasur, dapur, dan sumur. Merawat anak-anak dengan baik agar bermanfaat untuk negara dan bangsa.

Bias Gender dalam Pemaknaan Wanita

Bias gender yang terjadi dalam pemaknaan kata wanita membuat saya tidak lagi bertanya mengapa saya belum menjadi wanita sesuai pernyataan laki-laki itu. Sebab jelas sekali pemaknaan kata untuk menentukan jenis kelamin manusia ini berkaitan dengan mitos ataupun stereotipe yang dibuat oleh masyarakat sejak ratusan tahun lalu. Serta terjadi karena pengaruh kultur patriarki yang memang sudah mengakar. Sehingga tugas saya pula sebagai perempuan untuk tidak terpengaruh oleh stigma yang dilanggengkan laki-laki bahwa perempuan harus menjadi objek yang siap didekati.

Sebenarnya saya tidak perlu menaruh curiga atas pemaknaan terhadap kata perempuan atau wanita. Jika dua kata ini tetap memposisikan perempuan sebagaimana mestinya. Setara dan sama halnya dengan laki-laki dari segala aspek apa pun dalam menjalankan kehidupan. Namun, saat dihadapkan dengan pandangan yang memojokkan status perempuan, maka perlu kiranya saya memaknai ulang.

Siapa perempuan atau wanita itu?

Sebagai upaya mendobrak maskulinitas yang terus menomorduakan perempuan. Huft, saya perempuan. Selamanya tetap perempuan tanpa perlu diverifikasi oleh laki-laki mana pun. Bebas berekspresi sebagai makhluk Tuhan yang diciptakan sebaik-baik rupa lengkap dengan keistimewaan. Be yourself, Puan!

About the author

Yunita adalah perempuan yang menikmati masa pandemi di rumah saja. Suka baca hal-hal yang berbau gender dalam rangka mengasuh perasaannya untuk mencintai diri sendiri sebagai perempuan. Kamu bisa menemui Yunita di akun instagramnya: @kerudung_sendu .

Categories: OPINIMU

Yunita Umar

Yunita adalah perempuan yang menikmati masa pandemi di rumah saja. Suka baca hal-hal yang berbau gender dalam rangka mengasuh perasaannya untuk mencintai diri sendiri sebagai perempuan. Kamu bisa menemui Yunita di akun instagramnya: @kerudung_sendu .

0 Comments

Leave a Reply

Avatar placeholder

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Contact Us