Berhenti Jegal Mimpi Perempuan Berpendidikan Tinggi

Published by Fitria on

Maka Jangan pernah menyerah akan mimpi-mimpi kita apabila ada orang lain yang berusaha mematikannya. Kita memiliki hak yang sama dengan siapa pun, termasuk untuk mewujudkan mimpi untuk sekolah tinggi-tinggi.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita seringkali mendengar argumen yang menyiratkan bahwa perempuan tidak boleh bermimpi terlalu tinggi, perempuan tidak boleh memilih sesuai dengan keinginan hati, sebab tugas dan peran perempuan hanya akan bermuara sebagai pengurus rumah tangga. Perempuan tidak perlu belajar banyak hal, sebab praktik yang dilakukan dinilai oleh sebagian besar orang tidak memerlukan banyak teori yang mumpuni. Sederhananya, kehidupan perempuan begitu tersudut dan dibatasi. Tak heran, sebab kita masih hidup dalam pekatnya budaya patriarki.

Dalam sebuah buku berjudul “Profil Perempuan Indonesia” yang diterbitkan pada tahun 2019 lalu oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak bekerja sama dengan Badan Pusat Statistik, kuantitas perempuan yang memiliki kesempatan untuk mengenyam Pendidikan tinggi memang lebih besar dibandingkan laki-laki, namun demikian, anggapan agar perempuan tak perlu sekolah tinggi-tinggi tampaknya memang sudah mendarah daging. Perempuan yang terlampau cerdas dianggap tak pantas, sebab bisa mengerdilkan laki-laki di sekelilingnya. 

Beberapa dari kita adalah perempuan yang mungkin memiliki keinginan untuk bersekolah lagi, tetapi sering dihantam pada kenyataan yang membuat patah hati. Tak jarang mimpi-mimpi yang dulu begitu membuncah perlahan memadam. Menghilang bersamaan dengan keinginan yang begitu besar namun terhalang keadaan. Begitulah fenomena yang seringkali kita jumpai. Stigma yang dilekatkan masyarakat sudah tentu membuat perempuan “terkurung” dalam pemikiran yang sungguh tak masuk akal.

Dalam salah satu artikel di Psychology Today yang terbit pada bulan Maret 2009, dikatakan bahwa: 

Education can shape an individual’s life, both in the classroom and outside of it. A quality education can lay the groundwork for a successful career, but that’s far from its only purpose. Education—both formal and informal—imparts knowledge, critical thinking skills, and, in many cases, an improved ability to approach unfamiliar situations and subjects with an open mind.

Makna dari sebuah pendidikan memang tak sepatutnya dipandang hanya dengan sebelah mata. Tidak hanya mengenai karir dan profit yang mungkin akan kita peroleh. Lebih daripada itu, mengenyam pendidikan artinya kita sedang memberikan kesempatan diri untuk belajar berpikir kritis, memperluas wawasan, dan belajar untuk melihat sesuatu dari berbagai sudut pandang.

Sayangnya, pemaknaan yang demikian itu tak sepenuhnya dipahami betul oleh sebagian besar orang. Saya berikan contoh sederhananya, dalam salah satu acara keluarga yang pernah saya ikuti, salah satu kerabat mengatakan kalimat ini: “Buat apa perempuan kuliah atau sekolah tinggi-tinggi. Nanti juga ketika menikah nggak akan jadi apa-apa lagi. Perempuan  itu kewajibannya hanya di dapur dan mengurus keluarga. Diam di rumah aja mengabdi kepada suami.” Kalimat itu disampaikan oleh kerabat saya yang juga seorang perempuan, yang lebih disayangkan lagi semua orang yang ada di ruangan saat itu mengamini kalimat tersebut. Sungguh miris, harapan dan mimpi-mimpi perempuan ternyata sangat mudah dimatikan, bahkan dari lingkup paling dekat, yaitu keluarga.

Lalu benarkah perempuan tak perlu sekolah tinggi-tinggi?

Jelas tidak benar. Persepsi yang demikian hanyalah pandangan subjektif masing-masing orang yang tidak mendasar.

Lantas apa alasannya perempuan juga berhak untuk sekolah tinggi-tinggi?

  1. Laki-laki dan perempuan memiliki kesempatan yang sama dalam hal pendidikan. Dengan mengenyam pendidikan, pengetahuan yang kita dapatkan tentu akan lebih luas sehingga semakin besar kesempatan bagi kita untuk menjadi teman diskusi dan teman bertukar pikiran yang menyenangkan untuk orang lain.
  2. Perempuan memiliki peran dan fungsi yang penting di dalam keluarga. Kita tentu seringkali mendengar kalimat “Perempuan adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya kelak.” Pendidikan yang didapatkan oleh seorang perempuan akan memberinya kesempatan untuk mendidik anak-anaknya dengan baik kelak. Perempuan yang cerdas tentu akan menjadi fondasi yang kuat untuk membangun karakter yang baik untuk anak-anaknya.
  3. Pendidikan itu untuk meningkatkan kualitas diri kita, bukan untuk memuaskan keinginan orang lain. Tidak pernah rugi bagi kita yang memutuskan untuk Melanjutkan pendidikan hingga ke jenjang perguruan tinggi sekali pun. Pendidikan yang kita peroleh tak hanya memperluas wawasan yang kita punya, tetapi juga turut meningkatkan pola pikir dan kematangan diri kita.
  4. Pendidikan melatih kita untuk mandiri dan mampu bertahan di atas kaki sendiri. Ketika kita dihadapkan pada satu kondisi yang mengharuskan kita untuk bertahan dengan mandiri, maka ilmu yang kita miliki tentu akan menjadi bekal untuk kembali menata masa depan dan melanjutkan hidup dengan baik.
  5. Cantik saja tidak cukup. Pernah mendengar celaan dari teman yang mengatakan kalimat seperti ini? “Nggak perlu sekolah tinggi-tinggi buat dapat cowok keren, cukup dengan berdandan dan merias diri nanti laki-laki pasti datang menghampiri.” Tentu menjengkelkan sekali rasanya ketika mendengar kalimat tersebut. Kalau hanya cantik, tetapi tidak satu frekuensi ketika berdiskusi bagaimana? Percayalah, bahwa cantik saja tidak cukup.

Ingatlah selalu pesan Raden Ajeng Kartini, “Kita harus membuat sejarah. Kita mesti menentukan masa depan yang sesuai dengan keperluan sebagai kaum perempuan dan harus mendapat pendidikan yang cukup seperti kaum laki-laki.” Maka Jangan pernah menyerah akan mimpi-mimpi kita apabila ada orang lain yang berusaha mematikannya. Kita memiliki hak yang sama dengan siapa pun, termasuk untuk mewujudkan mimpi untuk sekolah tinggi-tinggi.

Sources:

Psychology Today. (2009, March 17th). Education: Reviewed by Psychology Today. Retrieved from Psychology Today: https://www.psychologytoday.com/intl/basics/education

Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. (2019, Desember). Profil Perempuan Indonesia. Retrieved from www.kemenpppa.go.id

About the author

Fitria adalah seorang Sarjana Psikologi yang lulus pada tahun 2018 lalu. Kesibukannya saat ini adalah bekerja, membangun komunitas anak, dan aktif dalam kegiatan sosial di beberapa komunitas yang concern terhadap isu kesehatan mental. Beberapa kegiatan yang ditekuninya ini adalah hasil dari perjalanan panjang dalam menemukan kebahagiaan dirinya. Dua hobinya saat ini adalah menulis mengenai self love dan membaca buku pengetahuan yang pembahasannya berfokus pada kesehatan mental pada anak. Ia dengan senang hati berbagi mengenai pengalaman dan perasaannya dalam sebuah tulisan yang bisa diakses pada situs blog aksara-fitria.blogspot.com. Teman-teman bisa mengenalnya lebih jauh, silahkan mengunjunginya di akun Instagram @fitriyooo


Fitria

Fitria adalah seorang Sarjana Psikologi yang lulus pada tahun 2018 lalu. Kesibukannya saat ini adalah bekerja, membangun komunitas anak, dan aktif dalam kegiatan sosial di beberapa komunitas yang concern terhadap isu kesehatan mental. Beberapa kegiatan yang ditekuninya ini adalah hasil dari perjalanan panjang dalam menemukan kebahagiaan dirinya. Dua hobinya saat ini adalah menulis mengenai self love dan membaca buku pengetahuan yang pembahasannya berfokus pada kesehatan mental pada anak. Ia dengan senang hati berbagi mengenai pengalaman dan perasaannya dalam sebuah tulisan yang bisa diakses pada situs blog aksara-fitria.blogspot.com. Teman-teman bisa mengenalnya lebih jauh, silahkan mengunjunginya di akun Instagram @fitriyooo

0 Comments

Leave a Reply

Avatar placeholder

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Contact Us