Detoksifikasi Diri dari Hubungan Beracun

Published by Michiko Karlina on

Lagi-lagi kita berbicara tentang toxic relationship (hubungan beracun). Rasanya kita tidak boleh berhenti berbicara tentang ini, mungkin untuk sekedar mengingatkan diri. Kita sudah familiar dengan tipe, ciri-ciri, dan cara menghadapi hubungan yang toksik. Maka mari kita ambil waktu sejenak untuk mengenali kutub polarnya; hubungan yang sehat. Suatu konsep yang mungkin belum cukup kita pahami dan terapkan. Bahkan untuk penulis sendiri. Tetapi kita semua mau untuk belajar, bukan?

Pahami Dulu Apa Itu Hubungan Sehat?

Hubungan yang sehat adalah ketika semua individu yang terlibat dapat berkembang dan tumbuh secara dewasa, tanpa mencederai hak dasarnya sebagai individu yang utuh. Hubungan yang sehat adalah yang berlandaskan kasih sayang dan hormat, tanpa adanya dominasi. Pondasi dari hal tersebut adalah komunikasi yang baik dengan keterbukaan, kejujuran, dan kompromi. Komunikasi yang sehat juga berarti komunikasi yang tidak merendahkan dan menghargai perasaan satu sama lain. Hubungan yang sehat akan menginginkan kebahagiaan kolektif dengan menciptakan rasa aman dan nyaman.

Selain itu, ciri-ciri hubungan yang layak diperjuangkan adalah hubungan yang berlaku dua arah ketika individu yang terlibat mampu berbicara dan diskusi ketika ada masalah. Mereka mampu mengakui kesalahan dan meminta maaf secara dewasa, bukan karena telah ketahuan atau iba melihat pasangan yang menangis.

Bagaimana dengan Hubungan Beracun?

Toxic Relationship atau hubungan beracun menentang komunikasi sehat. Agresor akan menutup jalur komunikasi dan mencari justifikasi terhadap masalah tersebut. Manipulasi secara emosional dan tidak memvalidasi perasaan pasangan adalah bentuk hubungan tidak sehat, dan dapat beracun. Sering sekali seseorang tidak sadar dicekoki racun, karena mereka lebih baik menyerah pada hubungan toksik daripada menjadi sendirian. Mereka memilih untuk memiliki hubungan beracun daripada tidak memiliki hubungan sama sekali. Ada juga yang ingin keluar dari lingkaran tersebut tetapi terhalang pasangan yang manipulatif yang akan menangis bersimpuh di kakimu dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi.

Menjalani hubungan beracun dapat menguras energi, emosi, waktu, dan tenaga seseorang. Akhirnya, mereka akan lelah secara emosional, mental, dan juga fisik. Hubungan tersebut dapat berpengaruh pada seseorang dalam menjalani kesehariannya. Seseorang dapat mengalami penurunan semangat dan suasana hati.

Hubungan Beracun Butuh Detoksifikasi

Hubungan beracun memerlukan detoksifikasi yang secara harfiah merupakan proses menyingkirkan racun dari tubuh atau membersihkan diri dari zat-zat berbahaya. Dalam konteks ini, detoksifikasi merujuk pada proses untuk ‘membersihkan’ diri dari hubungan yang toksik.

Untuk keluar dari suatu hubungan yang toksik bukanlah perkara mudah dengan sekedar kalimat “kita udahan ya…”. Kemungkinan yang dapat muncul adalah ketika pasangan mengancam untuk mengakhiri hidupnya, menyebarkan konten pribadi, atau memutarbalikkan fakta. Semuanya rumit dan membutuhkan keberanian yang lebih. Untuk menyingkirkan racun tersebut, kita memerlukan bantuan dan dukungan dari diri sendiri dan juga orang lain. Mulai dari bertanya terhadap diri sendiri seperti;

“Apakah saya bahagia?”

“Apa alasan utama saya untuk bertahan?”

“Apakah pasangan saya melengkapi dan mendukung keberadaan saya, atau hanya memenuhi kebahagiaan sesaat?”

Coba Pelan-pelan Menerima Semua yang Terjadi

Langkah kecil yang kita ambil selanjutnya adalah menerima kalau semua pernah terjadi. Tidak menyangkal dan tegar menerima bahwa “Ya, saya sedang berada dalam hubungan yang toksik”. Tidak ada pembenaran sikap pasangan lagi dan berani untuk meneguhkan hati. Kalau racunnya sudah mengakar, kita bisa berhenti mencari alasan untuk bertahan meskipun melalui hal kecil. Berhenti meromantisasi ketika ia menempuh perjalanan ke rumah untuk meminta maaf atas janji yang sering dilanggar di atas kesehatan mentalmu. 

Jangan Menguntit Akun Medsosnya, Apalagi Romantisasi Hubungan Beracun

Selanjutnya, sangat penting untuk mengambil waktu dari sosial media atau hiatus. Berhenti menguntit akun-akunnya dan berhenti peduli terhadap aktivitasnya di story Instagram. Hentikan segala bentuk komunikasi apabila pasangan menolak diskusi yang sehat. Selain itu, carilah dukungan dari orang-orang terdekat. Bertumpu pada support system yang terpercaya. Apabila merasa perlu, bantuan profesional juga sangat penting dalam detoksifikasi hubungan beracun. Terakhir dan yang mungkin paling sulit adalah memaafkan. Berbesar hati untuk memaafkan diri sendiri, keadaan, dan hubungan itu sendiri. Tentu saja, waktu akan menjadi sahabat terbaik. Proses detoksifikasi membutuhkan waktu yang berbeda bagi setiap orang. Linimasa penyembuhanmu adalah milikmu seutuhnya. Ada yang mampu dalam beberapa bulan dan ada yang butuh tahunan. Semuanya valid.

Jangan Gantungkan Kebahagiaan Kita pada Orang Lain

Hubungan beracun memperlihatkan kita betapa rapuhnya manusia. Manusia egois yang ingin mendapatkan pengakuan, manusia yang ingin merasakan cinta dan kasih, atau manusia yang terjebak. Setiap pemain memiliki cerita masing-masing. Kita terkekang oleh skenario bahwa cinta itu terkadang sakit, dan kita bertahan karena keyakinan tersebut.  Tentu saja semua orang berhak mendapat kesempatan untuk berubah menjadi lebih baik lagi. Begitu juga dengan hubungan. Menolaklah untuk bergantung terlalu lama pada ide tersebut. Karena aktor utama yang memainkan peran terbesar dalam perubahan adalah diri sendiri, bukan pasangannya.

Kita Berhak Diperlakukan dengan Hormat

Setelah berhasil keluar dari hubungan beracun, kita perlu mengenali kembali diri kita. Mengingat diri yang dahulu, sekarang, dan rencana-rencana di masa depan. Kembali ke jalur aktualisasi diri dan menyibukkan diri dengan aktivitas yang menyenangkan hati. Trauma tentu dapat membayangi seseorang untuk kembali lagi dalam suatu hubungan. Namun yakinlah, bahwa penyintas hubungan toksik dapat melanjutkan hidup dan mendapatkan yang terbaik. Yakin apabila kamu berhak untuk hubungan yang sehat. Yakin bahwa kamu berhak diperlakukan dengan hormat dan sopan. Suatu saat ketika kamu berhasil menyingkirkan racun dari hidupmu, yang tersisa tinggal diri sendiri dan kesehatanmu yang pulih. Dan itu jauh lebih baik dan cukup. Itu hebat.

About the author

Michiko Karlina, lulusan Hubungan Internasional dari salah satu universitas negeri di Yogyakarta. Kamu bisa berdiskusi dengannya melalui instagramnya @michikomoko.


Michiko Karlina

Michiko Karlina, lulusan Hubungan Internasional dari salah satu universitas negeri di Yogyakarta. Kamu bisa berdiskusi dengannya melalui instagramnya @michikomoko.

0 Comments

Leave a Reply

Avatar placeholder

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Contact Us