Remaja Berani: Jadi Bystander Aktif? Siapa Takut!

Published by Annisa Azzahra on

Active Bystander adalah saksi yang memilih untuk mengambil tindakan aktif dalam menghentikan kekerasan yang disaksikan. Peran Active Bystander ini penting banget loh!. Bahkan kita butuh lebih banyak orang khususnya para remaja buat semakin berani berpartisipasi jadi Active Bystander ketika melihat ada kekerasan yang terjadi di lingkungannya. 

Pagi tadi Andi tidak mengira kalau ia akan ketiban sial sampai harus menyaksikan secara langsung pelecehan seksual yang dilakukan oleh guru kelasnya. Bapak tua dengan kopiah di kepalanya itu terlihat sedang menggesekkan alat kelamin pada punggung – sebut saja – Cika, salah satu teman kelas nya. Andi merasa marah melihat temannya dilecehkan dan paham betul bahwa Cika terdiam karena takut dan tidak berani untuk melawan. 

Andi lalu dengan segera mengamati lingkungan di sekitar mereka, melihat apakah ada orang lain yang turut menyaksikan kekerasan tersebut, serta menimbang apa saja bahaya yang dihadapi Cika sebagai korban serta dia sendiri kalau melawan secara terbuka. Setelah selesai mengamati Andi memilih mengajak Dina salah satu teman kelasnya yang ternyata juga menyaksikan perilaku menjijikkan yang dilakukan oleh pelaku. 

Mereka memilih untuk berjalan ke arah pelaku dan korban, dengan Andi bertugas untuk pura-pura menabrak pelaku. Sedangkan Dina segera menghampiri Cika dan mengajaknya pergi ke kantin. Keputusan ini mereka ambil dengan mempertimbangkan kenyamanan serta keamanan Cika sebagai korban tak lupa keamanan mereka sendiri. 

Mungkin kalian pernah berada di posisi seperti Andi yang menyaksikan kekerasan terjadi di lingkungan sekitar kalian, misalnya seorang anak perempuan di-catcalling saat berjalan di gang, seorang teman dipukul karena bertengkar, atau melihat seseorang dibully habis-habisan melalui akun media sosial mereka. Ketika melihat kekerasan seperti itu maka kalian bisa disebut sebagai bystander atau yang namanya saksi. 

Apa sih Active Bystander?

Dari cerita di atas artinya kita bisa menyimpulkan kalau Andi dan Dina adalah saksi kekerasan seksual yang terjadi kepada Cika. Tapi, apa sih yang bikin mereka bukan sekedar saksi biasa? Yang membedekan adalah mereka mengambil suatu tindakan langsung untuk menghentikan kekerasan yang mereka saksikan, nah, karena itu mereka beda nih dari sekedar saksi. Lebih tepatnya dari apa yang sudah dilakukan mereka bisa disebut sebagai Active Bystander.

Jadi bisa kita simpulkan kalau Active Bystander adalah saksi yang memilih untuk mengambil tindakan aktif dalam menghentikan kekerasan yang disaksikan. Peran Active Bystander ini penting banget loh!. Bahkan kita butuh lebih banyak orang khususnya para remaja buat semakin berani berpartisipasi jadi Active Bystander ketika melihat ada kekerasan yang terjadi di lingkungannya. 

Bisa Dilakukan Secara Aman dan dan Tidak Membahayakan

Eits, tapi jangan takut. Biar kedengarannya seram dan berbahaya. Jadi Active Bystander tetap bisa dilakukan secara aman dan tidak membahayakan. Karena itu penting untuk tahu starter pack jadi Active Bsytander yaitu praktek ABC kit alias Amati, Berkelompok, Cari tau kebutuhan korban.

Kalau kalian kaitkan lagi ke cerita Andi, pasti bisa dilihat kalau Andi sudah mempraktekkan ABC kit sebelum memutuskan membantu Cika. Pertama dia sudah mengamati lingkungan sekitar, lalu mengajak Dina untuk melakukan sesuatu sehingga jadi berkelompok, mereka berdua lalu memilih menghentikan kekerasan yang terjadi tidak dengan menegur tapi dengan menabrak pelaku dan membawa korban menjauh. 

Menurut kalian kenapa sih Andi nggak langsung negur aja. Kan sudah tahu gurunya itu salah. Andi dan Dina memilih untuk tidak menegur pelaku tentu dengan pertimbangan Cika sebagai korban akan merasa terancam juga malu. Belum lagi Cika beresiko akan disalahkan oleh lingkungan kalau mereka menghentikan kejadian tadi dengan menegur secara langsung mengingat pelaku adalah seorang guru yang disegani di sekolah mereka. 

Jangan Lupa Praktikkan ABC Kit

Nah, karena itu kalau kalian mau jadi Active Bystander jangan lupa buat praktik ABC kit dan selalu ingat kalau kebutuhan korban adalah yang paling utama. Jadi, apapun langkah yang kita ambil harus mempertimbangkan korban. Namun, tentu keamanan kalian juga penting makanya usahakan untuk menemukan teman dalam menghentikan kekerasan yang kalian lihat ya! 

Setelah sudah praktik ABC kit. Kita akan berlanjut dan mengupas lebih jauh tentang berbagai cara untuk jadi Active Bystander. Karena seperti kata pepatah “Ada seribu cara untuk jalan ke Roma” kalau disini ada 5 cara jadi Active Bystander atau kita sebut dengan Metode Super 5D yang sudah dirumuskan oleh Hollaback Jakarta!

Pertama: Delay

Kita bahas dua cara yang paling aman dan minim resiko terlebih dahulu. Yang pertama ada delay nah kalau pake metode ini artinya kalian menunggu sampai kekerasan selesai dan pelaku pergi. Kalau kalian melihat korban sendiri setelah kejadian maka kalian bisa samperin dan tanya apa sih yang dia butuhkan saat ini. Usahakan untuk membuat korban merasa lebih aman dan nyaman. Kalian bisa nawarin es teh atau sekedar duduk di sebelah dia, karena kehadiran kalian sangat berarti. 

Kedua: Delegate

Kedua ada delegate metode yang satu ini artinya kalian membantu korban dengan mencari bantuan pihak lain misalnya satpam, guru, atau siapapun yang ada di lokasi kejadian dan terlihat bisa dipercaya untuk membantu korban supaya kekerasan dapat segera dihentikan. Biar terkesan seperti penakut yang minta bantuan orang lain, cara ini terbukti ampuh dan membuktikan kalian sudah mengambil selangkah lebih berani dalam berkontribusi menghentikan kekerasan yang terjadi di lingkungan sekitar. 

Ketiga: Distract

Yang ketiga ada distract ini cara dengan resiko medium sehingga kalian harus memastikan kondisi lingkungan sekitar akan aman untuk kalian dan korban ketika kamu berupaya mengalihkan perhatian pelaku. Ada banyak cara mengalihkan perhatian, beberapa diantaranya kalian bisa pura-pura ngobrol sama korban sebagai teman, mendorong pelaku, atau pura-pura bertanya jalan. Kuncinya adalah perbuatan yang membuat pelaku sadar bahwa ada orang yang melihat tindakannya. 

Ketiga: Direct

Sekarang kita akan beralih ke metode dengan risiko lebih tinggi alias kalian harus lebih berhati-hati dan memastikan bahwa keamanan kalian sudah terjamin. Yang keempat ada direct metode ini artinya kalian berupaya menghentikan kekerasan yang terjadi dengan

bicara langsung kepada pelaku dan menegaskan kalau perilakunya adalah sesuatu yang salah dan dia harus menghentikannya. Ketika kalian melakukan ini upayakan menggunakan kalimat yang baik ya, tentunya bisa dimengerti kalau kalian ingin berkata kasar karena marah. Tapi, itu bisa saja jadi bumerang dan malah membuat kalian berada di situasi yang tidak aman. 

Keempat: Documentation

Terakhir ada documentation kalau yang ini pastinya sudah familiar apalagi mungkin kalian pernah menemukan video viral kejadian kekerasan khususnya di tempat umum. Tapi, ingat ya kalau metode ini berisiko sangat tinggi. Sebelum mengambil langkah untuk mendokumentasikan kekerasan kalian harus pastikan kalau jarak dengan pelaku sudah aman, mendapatkan latar tempat secara jelas, serta menyebutkan waktu kejadian. 

5 metode diatas bisa kalian gunakan secara langsung atau ketika di dunia digital. Tinggal kalian sesuaikan saja metode mana yang paling tepat untuk dilakukan serta nyaman dan aman untuk kalian ataupun korban. Setelah membaca tulisan ini semoga semakin banyak yang berani mengambil langkah menjadi Active Bystander supaya kita bisa memutus rantai kekerasan di lingkungan sekitar.

Illustration: https://www.louisereimer.ca/2018/11/22/overcoming-the-bystander-effect-for-local-love

Community Leader Perempuan Berkisah Sumatera 2022 dan Vice Head of External Advancement Women Beyond Indonesia 2022.


Annisa Azzahra

Community Leader Perempuan Berkisah Sumatera 2022 dan Vice Head of External Advancement Women Beyond Indonesia 2022.

0 Comments

Leave a Reply

Avatar placeholder

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Contact Us