Mentoring I: Kolaborasi Tim Konselor dalam Proses Konseling

Disclaimer: Ini adalah catatan pembelajaran kegiatan mentoring dari program Sekolah Konselor Sebaya (SKS) berbasis empatik dan keberpihakan pada korban yang diinisiasi oleh Yayasan Perempuan Indonesia Tumbuh Berdaya (Pribudaya) atas dukungan Indika Foundation telah sampai pada tahapan mentoring. Yayasan Pribudaya adalah sebuah organisasi non-profit berbadan hukum yang menaungi Komunitas Perempuan Berkisah yang berada di 7 (Tujuh) Wilayah di Indonesia. Yayasan Pribudaya adalah organisasi non-profit berbadan hukum yang menyediakan layanan konseling online berbasis etika feminisme, pendampingan korban kekerasan berbasis gender (KBG) secara langsung, pemberdayaan bagi perempuan (terutama penyintas kekerasan berbasis gender), serta kampanye edukasi publik untuk pencegahan kekerasan berbasis gender (KBG) terutama kekerasan seksual. 

Memasuki tahun 2023, program SKS ini telah memasuki tahap mentoring. Sebelumnya, para peserta telah mendapatkan materi tentang Kekerasan Berbasis Gender (KBG) dengan pendekatan interseksional. Kemudian, pada tahap pembelajaran kedua, peserta belajar memahami etika, prinsip, dan tahapan konseling berbasis empatik dan keberpihakan kepada korban. Terakhir, peserta juga mempelajari strategi advokasi dan kolaborasi pendampingan kasus, khususnya kasus Kekerasan Seksual (KS). 

Semua materi tersebut sangat penting untuk dipahami sebelum melakukan pendampingan, tetapi teori saja tidak cukup. Itulah yang mendasari Yayasan Pribudaya mengadakan sesi mentoring untuk menguatkan kapasitas para peserta calon konselor. Mentoring ini menjadi momen bagi para peserta program SKS untuk mempersiapkan diri dalam melakukan praktik konseling langsung di Ruang Aman Perempuan Berkisah. 

Tim Konselor dan Psikolog di Ruang Aman Perempuan Berkisah bekerja secara sukarelawan. Mereka hadir dari beragam latar organisasi dan profesi, namun di Ruang Aman Perempuan Berkisah mereka saling berkolaborasi sesuai kapasitas dan kesediaan waktu. Begitu pun ketika ada kebutuhan pendampingan korban dengan organisasi lain, maka proses kolaborasi menjadi kunci dalam pendampingan sosial bersama korban.

Pada sesi mentoring SKS pertama, para peserta mendiskusikan topik Tahapan dan Analisis Proses Konseling di Ruang Aman Perempuan Berkisah. Ada banyak hal teknis serta contoh nyata dari tahapan konseling yang pernah dilakukan para konselor di Ruang Aman PB dipaparkan pada sesi ini. Bersama dengan dua konselor Yayasan Pribudaya yakni Yuliana Martha, S. Sos. dan Farah Sarayusa, M. Si., serta psikolog Yayasan Pribudaya, Naila Kamaliya, M. Psi., Psikolog, sesi ini berlangsung selama kurang lebih tiga jam pada hari Sabtu, 21 Januari 2023. 

Tahapan Mengakses Layanan Konseling di Ruang Aman Perempuan Berkisah

“Penting untuk memiliki boundaries untuk menjaga energi konselor maupun konseli. … (sebab) menceritakan kembali peristiwa traumatik sangat berpotensi memicu trauma. (Yuliana Martha)

Ruang Aman Perempuan Berkisah merupakan sebutan bagi ruang konseling yang disediakan bagi para konseli yang telah mendaftar untuk melakukan sesi konseling. Di Perempuan Berkisah sendiri, sesi konseling biasanya dilakukan secara daring dengan berbagai pilihan moda komunikasi yakni, pesan instan, telepon, maupun konferensi video via Zoom atau Google Meet. Media komunikasi yang digunakan ditentukan oleh konseli saat mendaftar melalui formulir informed consent yang tercantum di berbagai media sosial Perempuan Berkisah. 

Jadi, tahapan pertama untuk mengakses Ruang Aman PB dimulai dengan calon konseli yang melakukan pendaftaran dengan mengisi formulir tersebut. Sebelum mengisi data, formulir tersebut juga memberi penjelasan mengenai proses konseling yang dilakukan oleh Perempuan Berkisah. Hal ini bertujuan agar calon konseli paham, dapat memberi persetujuan pada prosesnya, serta berkomitmen untuk melakukan tahapan konseling bersama konselor.

Pada informed consent, konseli akan diminta mengisi data diri seperti nama, nomor ponsel, nomor ponsel kedua sebagai cadangan untuk dihubungi, dan akun media sosial. Hal tersebut bukan semata sebagai data, tetapi sebagai mitigasi risiko saat konseli sulit dihubungi melalui nomor ponsel pertama. Berikutnya, konseli juga diminta untuk mengisi Nomor Induk Kependudukan (NIK) sebagai validasi dan konfirmasi keaslian data diri. 

Berikutnya, konseli akan diminta memberikan alamat domisili dalam formulir tersebut. Informasi ini akan sangat berguna jika dari hasil konseling diketahui bahwa konseli membutuhkan tindak lanjut layanan, misalnya penanganan profesional. Jika telah mengetahui domisili konseli, Perempuan Berkisah dapat  segera memetakan layanan rujukan terdekat dari domisili konseli.

Dalam kasus tertentu, kondisi konseli bisa jadi tidak memungkinkan untuk mengisi informed consent. Untuk itu, formulir juga memastikan pihak pengisi formulir adalah konseli atau perwakilan. Dalam kondisi ini, perwakilan memang diizinkan mengisi informed consent selama mendapat persetujuan dari konseli sendiri. Itu sebabnya, formulir meminta data pribadi lengkap hingga NIK untuk memastikan persetujuan memang telah diberikan secara sukarela tanpa paksaan atau manipulasi data. 

Setelah data diri, formulir informed consent juga meminta calon konseli memaparkan kronologi peristiwa. Hal ini bertujuan agar konselor memiliki gambaran pada kondisi dan situasi konseli. Selain penyesuaian jadwal dan media komunikasi, kronologi ini juga bisa menjadi bahan pertimbangan konselor dalam mendampingi konseli. Sebab, konselor juga bukan manusia super yang bisa melakukan konseling pada semua kasus. Bisa jadi ada konselor yang masih rentan terpicu trauma saat menghadapi kasus KDRT. Dengan mengetahui kronologi sejak awal, konselor bisa melakukan mitigasi risiko dan memastikan efektivitas sesi konseling itu sendiri. 

Ketika data registrasi konseling sudah diterima, konseli diharapkan menunggu konfirmasi dari pihak admin Perempuan Berkisah untuk memilih jadwal sesi. Karena para konselor Perempuan Berkisah bekerja secara sukarela dan masing-masing juga memiliki kesibukan pekerjaan, biasanya sesi konseling dilakukan malam hari. Dalam satu waktu, sangat mungkin ada lebih dari satu ruang aman yang berjalan dengan konseli yang berbeda. Ini merupakan salah satu keunggulan sesi konseling yang dilakukan secara daring. Selain fleksibilitas waktu dan tempat, para konselor di berbagai daerah bisa dengan mudah terhubung dengan konseli di berbagai daerah, bahkan luar negeri. 

Sesi Konseling di Ruang Aman Perempuan Berkisah

Setelah mendapatkan jadwal konseling maka ruang aman akan dibuka oleh admin Perempuan Berkisah. Pembukaan ini dimulai dengan penjelasan kapasitas konselor Perempuan Berkisah yang telah melewati seleksi dan penguatan kapasitas. Pada bagian ini juga ditekankan mengenai kerahasiaan sesi konseling. Konseli juga mendapat informasi tentang konseling berbasis etika feminisme yang mengedepankan informasi detail agar konseli bisa mengambil keputusan dengan kesadaran penuh. 

Kemudian, sesi pun berlanjut dengan perkenalan antara konseli dan konselor. Saat perkenalan ini, konselor mulai membangun hubungan dengan menanyakan kabar dan nama panggilan yang nyaman untuk konseli. Penting untuk memastikan konseli dalam kondisi aman dan nyaman dan siap untuk menjalani konseling. Konselor sangat fleksibel menunggu kesiapan konseli untuk bercerita terutama pada hal yang memicu trauma.

Masuk ke sesi eksplorasi, konseli akan ditanyakan juga mengenai pengalaman konseling sebelumnya serta ekspektasi setelah mengikuti sesi konseling di Ruang Aman PB. Hal ini penting sebab pada kasus kekerasan berlapis, tentu tidak bisa diselesaikan secara instan. Mengetahui ekspektasi konseli akan membantu konselor memetakan kebutuhan konseli pada sesi lanjutan.

Pada setiap sesi di Ruang Aman Perempuan Berkisah, biasanya ada dua konselor yang mendampingi, sebagai konselor utama dan konselor pendamping. Konselor utama akan merespons langsung setiap kisah yang diberikan oleh konseli pada saat sesi eksplorasi. Sementara itu, konselor pendamping akan melengkapi, menambahkan, dan memberi penguatan di akhir sesi. 

“Kita tidak harus selalu merespons setiap konseli selesai mengetik. Hal yang terpenting, kita mengatakan bahwa kita memang fokus mendengarkan. Konfirmasi lagi apakah memang cerita sudah selesai atau masih ada hal lain. Baru setelahnya berproses bersama mulai dari validasi.” (Yuliana Martha)

Saat konseli bercerita, ada hal-hal yang mungkin perlu dikonfirmasi karena konselor tidak boleh berasumsi. Dalam mengajukan pertanyaan pun, konselor sebaiknya meminta izin terlebih dahulu. Konseli selalu punya hak untuk tidak menjawab. 

Setelah konseli bercerita, tiba waktunya untuk konselor merangkum dan mengapresiasi sesi yang dilalui bersama konseli. Jadi, kita tidak hanya fokus pada kasus kekerasan yang dihadapi, tetapi buat konseli sadar tentang perkembangan atau kekuatan yang ia miliki, tetapi tidak disadarinya selama ini. Dengan berani menghubungi PB dan menjalani sesi ini saja sudah bisa diapresiasi.

Di bagian penutup, tekankan mengenai durasi. Selain untuk membangun batasan sehat, durasi yang cukup juga membantu konseli untuk berkomitmen pada konseling ini. Ruang konseling bukan sekadar ruang curhat sesukanya, tetapi ruang untuk bertumbuh bersama.  Setelah berterima kasih, sesi pun dikembalikan pada admin dan konseli akan diberikan form evaluasi.

Pentingnya PFA dalam Merespons Trauma Korban

Saat menjalani sesi konseling, ada kemungkinan konselor bertemu korban yang mengalami trauma berat hingga berkeinginan untuk mengakhiri hidup. Inilah pentingnya Psychological First Aid (PFA) yang telah dipelajari peserta SKS pada sesi pembelajaran kedua. PFA dalam praktik kembali disinggung oleh Farah Sarayusa, M. Si. Berbeda dengan sesi PFA sebelumnya. Farah banyak memberikan contoh kalimat yang harus dihindari, kalimat yang harus disampaikan dengan hati-hati, serta kalimat yang sebaiknya digunakan dalam sesi konseling. 

Farah juga memberikan tips dalam melakukan PFA agar konselor memperhatikan beberapa hal berikut ini

  1. Menghindari pertanyaan yang menghakimi dan menyudutkan. 
  2. Mempraktikkan keterampilan mendengar aktif 
  3. Merespons dan mengapresiasi keberanian konseli untuk bercerita. 
  4. Hadirlah sepenuhnya dalam sesi konseling, dalam ruang virtual hal ini bisa disampaikan lewat kalimat bahwa kita ada dan mendengarkan mereka. 
  5. Mendorong konseli mencari bantuan profesional jika tidak bisa ditangani dan beri pertimbangan akan baik buruknya
  6. Terakhir, konselor juga harus tetap memperhatikan kesejahteraan diri dan membuat batasan yang sehat dengan konseli. 

Tips Membangun Hubungan dengan Konseli Berdasarkan Usia

Tantangan lain yang mungkin dihadapi konselor dalam sesi konseling adalah variasi usia konseli. Tidak dapat dimungkiri bahwa kebutuhan konseling bukan hanya dimiliki oleh orang dewasa sebab trauma bisa dialami oleh siapa pun. Itu sebabnya, pendekatan dalam sesi konseling pun harus disesuaikan dengan profil konseli. 

Pada bagian ketiga, Naila Kamaliya, M. Psi., Psikolog membagikan beberapa tips untuk menghadapi konseli sesuai rentang usia. Pertama, adalah konseli usia anak (di bawah 17 tahun). Untuk anak, pahami cirinya yang masih tergantung dengan orang dewasa. Perkembangan sosial anak juga belum matang dan belum memiliki keinginan yang terarah. Perlu diperhatikan pula bahwa konseli anak harus datang atas persetujuan dan bersama dengan wali. Informed consent pun harus diisi oleh wali sebagai penanggung jawab.

Ketika konseli anak datang, kita tidak boleh buru-buru konseling karena kemungkinan anak belum bisa langsung nyaman. Hal ini sangat wajar, jadi kita lebih baik mengajak anak diskusi tentang aktivitas sehari-hari. Pertemuan pertama bersama anak sangat mungkin belum masuk pada sesi konseling melainkan hanya membangun rapport dan menggali data pada wali.

“Wajar jika anak susah terbuka dan nyaman pada lingkungan baru. Tanyakan dulu aktivitas sehari-hari, hal yang disukai. Ajak mengobrol walinya agar anak merasa aman. Anak membangun kepercayaan saat melihat kita bisa dipercaya wali.” (Naila Kamaliya, M. Psi., Psikolog)

Kedua adalah konseli usia remaja. Secara psikologis, remaja memiliki ciri perkembangan sosial dan emosi belum matang, tetapi mereka merasa sebaliknya. Remaja sangat tergantung pada teman sebaya sehingga umumnya mereka lebih percaya teman dibandingkan orang tua. Mereka pun sulit terbuka pada orang dewasa dan kerap memiliki pandangan yang berlawanan. 

Saat menghadapi remaja, konselor harus memahami hal ini dan mampu menunjukkan sikap maklum. Pada remaja awal dengan usia kurang dari 17 tahun, semua persetujuan dan proses konseling masih harus bersama wali. Meski konseli remaja tidak bersedia melakukan konseling, kita menganut persetujuan wali. Namun, baiknya jangan lakukan konseling dengan paksaan. Kita bisa melakukan strategi refleksi agar konseli remaja nyaman dan sadar pentingnya konseling bagi dirinya. 

Selain anak dan remaja, menghadapi konseli usia dewasa juga memiliki tantangan tersendiri. Konselor harus bisa menjaga perkataan agar konseling tidak berubah menjadi sesi menasehati atau menggurui. Konseli usia dewasa sebaiknya diajak untuk berpikir. Hindari sikap atau kata-kata menghakimi sebaliknya bangun kepercayaan dengan menanyakan kabar serta menjadi pendengar yang baik selama sesi konseling.

Pada sesi ini, Naila juga membahas micro skill yang hendaknya dilakukan oleh konselor saat sesi konseling untuk membangun kedekatan. Micro skill tersebut termasuk dalam komunikasi nonverbal seperti sikap tubuh dan refleksi. Saat konseling, usahakan untuk duduk menghadap konseli dengan sikap tubuh yang condong. Bangun kotak mata serta tunjukkan kita hadir dan terbuka.

Analisis dan Pencatatan Laporan Sesi Konseling sebagai bagian dari Etika Kolaborasi

Mungkin ada yang berpikir bahwa sesi konseling di ruang aman adalah akhir dari proses yang harus dijalani konselor dan konseli. Padahal, masih ada hal yang tidak kalah penting untuk dilakukan setelahnya yakni pencatatan laporan konseling. 

Meski sifatnya administratif, pencatatan laporan konseling memiliki banyak sekali manfaat. Pertama, laporan konseling berfungsi untuk mengetahui dan memantau perkembangan sesi. Umumnya, konseling tidak akan selesai dalam satu kali sesi. Untuk memudahkan konselor memantaunya, laporan konseling bisa dijadikan rujukan. Laporan ini juga bermanfaat untuk digunakan saat konseli akan dirujuk ke lembaga layanan lain atau ingin melanjutkan kasusnya ke ranah hukum, misalnya. Dengan laporan yang terstruktur, konseli terhindar dari pertanyaan berulang yang kemungkinan memicu trauma.

Jadi, memberikan laporan lengkap sesi konseling merupakan salah satu etika dasar dalam melakukan kolaborasi konseling ataupun pendampingan. Untuk itu, Naila menekankan pentingnya menulis nomor surat. Meski terkesan kaku, laporan konseling yang ditulis resmi dengan nomor surat akan memudahkan pihak yang terlibat dalam pendampingan untuk memahami urutan kejadian. 

Dalam penyusunan laporan konseling sendiri ada empat prinsip yang harus dipenuhi, yaitu

  1. Kerahasiaan; Pada lembar laporan konseling, kata rahasia hendaknya dicantumkan di pojok kanan atas. Laporan juga dikumpulkan dalam folder yang dikunci menggunakan kata sandi serta tidak disebarkan kecuali untuk rujukan atau case conference antara konselor. Case conference pun ada aturannya, yakni wajib menyamarkan identitas dan waktu kejadian. 
  2. Urut; Sebelum menulis laporan konseling, disarankan untuk membuat buat kerangka laporan 
  3. Objektif; Laporan konseling harus ditulis berdasarkan observasi dan penggalian data. Konselor tidak disarankan untuk menulis segala jenis interpretasi 
  4. Jelas dan administratif; Laporan konseling sebaiknya ditulis menggunakan bahasa mudah dipahami, lampirkan informed consent dan dokumentasi yang diambil berdasarkan persetujuan konseli. 

Seluruh sesi mentoring ini diharapkan dapat menjadi bekal bagi para peserta untuk mempersiapkan diri dalam melakukan praktik langsung konseling di Ruang Aman Perempuan Berkisah. Meski mustahil melakukan semua hal secara sempurna dalam satu waktu, setidaknya para peserta telah memiliki gambaran pada prosedur standar konseling yang kelak bisa diaplikasikan di lembaga masing-masing dan membantu lebih banyak korban KBG sesuai dengan tujuan program SKS.

Konselor Perempuan Berkisah

Konselor Perempuan Berkisah adalah Tim relawan konselor, Psikolog Klinis, dan Pendamping Korban di Ruang Aman Perempuan Berkisah. Komunitas Perempuan Berkisah adalah komunitas di bawah naungan Yayasan Perempuan Indonesia Tumbuh Berdaya (Pribudaya), sebuah organisasi non-profit berbadan hukum yang menyediakan layanan konseling online berbasis etika feminisme, pendampingan korban kekerasan berbasis gender (KBG) secara langsung, pemberdayaan bagi perempuan (terutama penyintas kekerasan berbasis gender), serta kampanye edukasi publik untuk pencegahan kekerasan berbasis gender (KBG) terutama kekerasan seksual. Yayasan Pribudaya juga merupakan transformasi dari Komunitas Perempuan Berkisah yang telah sah secara hukum menjadi sebuah Yayasan sejak per 10 Mei 2022.

Media Pemberdayaan | Katalisator Perubahan | Ruang Aman Berbasis Etika Feminis

Erlin Fadhylah atau biasa disapa Erfa adalah lulusan Sastra Indonesia dari Universitas Negeri Jakarta. Setelah sepuluh tahun berprofesi sebagai pengajar di beberapa sekolah internasional, Erfa kini berdaya di rumah saja dengan aktif menulis artikel yang diterbitkan di berbagai media cetak dan daring. Hobinya membaca buku membawa Erfa berkenalan pada dunia menulis fiksi dan mengantarkannya pada profesi pekerja lepas sebagai pengulas novel serta penyelaras aksara. Beberapa tulisannya dapat dibaca melalui tautan linktr.ee/erfa22. Ia juga dapat disapa melalui akun instagramnya @erfa22.

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Contact Us