Ini Versi Terbaikku Setelah Pulih dari Trauma

5 minutes, 55 seconds Read

Tahun-tahun penuh perjuangan dan air mata itu sudah pernah aku lewati. Diremehkan, dipandang sebelah mata, merasa tertinggal, merasa hancur, merasa tidak memiliki masa depan, mentally unstable, hingga yang terburuk adalah memiliki pikiran untuk menghilang dari dunia? Sudah aku rasakan semua. Jika kamu bertanya kabarku sekarang bagaimana, kabarku baik, baik sekali. Semuanya sudah berubah 180 derajat. 

Diriku yang kemarin tidak sama dengan diriku yang sekarang, tetapi diriku yang kemarin membuatku menjadi versi diriku yang sekarang dan selamanya aku akan berterima kasih untuk itu. Perjalanan hidupku selama masa menunda kuliah faktanya memberi dampak yang sangat besar pada kehidupan perkuliahanku, berikut akan aku jabarkan.

  1. Anti-FOMO karena pernah merasa tertinggal

Selama gap year tentu aku berselancar di media sosial guna mencari tahu bagaimana sih kehidupan perkuliahan itu. Salah satu masalah yang sering menerpa mahasiswa baru itu ternyata datang dari diri sendiri, karena pengaruh lingkungan sekitar. Mahasiswa baru cenderung sering merasa FOMO (fear of missing out).

Aku pernah membaca sebuah kutipan yang menyatakan bahwa “Sesuatu yang baik untuk orang lain, belum tentu baik untukku”. Faktanya aku punya rasa FOMO juga saat menjadi mahasiswa baru, tapi aku bisa mengendalikannya. Aku jadi tidak mengikuti sebuah kegiatan karena ikut-ikutan teman, tapi karena sebuah alasan yang sudah aku pikirkan matang-matang. 

Dampak baiknya, alih-alih memfokuskan pikiran terhadap hal yang berada di luar kendaliku dan menyebabkan stres, aku melakukan refleksi diri dan berfokus pada diriku. Berfokus pada semua hal yang berada di bawah kontrolku dan fokus mengerjakan hal-hal kecil yang bisa membawaku ke mimpi-mimpi besarku. Dengan begitu, aku mendapati diriku jarang merasakan stres dari pengaruh peer pressure karena aku tahu betul apa yang aku mau.

  1. Berani ketika sendiri

Ingin melakukan ini dan itu, tapi belum menemukan teman yang memiliki interest yang sama? Lakukan sendiri dan jadi yang pertama. Ketika aku mengenang masa SMA-ku dan kehidupanku yang sekarang, aku hanya bisa tersenyum bangga. Dulu, untuk mengangkat tangan dan bertanya kepada guru di dalam kelas saja aku berpikir ratusan kali. Untuk saat ini, prinsipku adalah lakukan sekarang atau tidak sama sekali. Lakukan sekarang meskipun sendiri. Lakukan sekarang ketika aku yakin hal yang kulakukan adalah benar dan tidak merugikan lingkungan sekitar.

Awal semester dua, aku memutuskan untuk membuat list tentang hal-hal apa yang ingin aku lakukan dan capai. Saat ini, aku sudah bergabung dengan komunitas kerelawanan, komunitas kecantikan, perkuliahan di luar kampus tentang meditasi dan yoga, dan keanggotaan di pusat kebugaran, semuanya aku lakukan sendiri dan nyatanya berhasil mengalahkan ketakutanku. Untuk tahun ini dan seterusnya aku akan memutuskan untuk selalu menang karena hal-hal sederhana, sesederhana memenangkan pertarungan batin di dalam benakku ketika ingin melakukan hal baru.

  1. Perasaan dihormati dan dicintai

Tanpa usaha yang berarti, aku mendapati diriku dihormati dan dicintai oleh lingkungan di sekitarku. Awalnya, aku masih sering bertanya-tanya apakah aku pantas mendapatkan itu semua. Sekarang, aku tidak perlu bergumul dengan pertanyaan itu lagi karena aku pelan-pelan menemukan jawabannya. Jawabannya adalah iya. Aku pantas mendapatkan itu semua.

Bukan hanya jawaban singkat yang kudapat, tetapi pertanyaan dari “Kenapa”-pun aku temukan jawabannya. Setelah berpikir sejanak, ternyata perasaan-perasaan itu aku dapatkan sebagai akibat dari banyaknya nilai-nilai baik selama masa gap year yang aku kumpulkan dan terakumulasi di masa kini. Jika melihat masa SMA-ku lagi, aku bisa mengatakan bahwa, “I am still mediocre among the best, but I am getting better every day, that’s what matter”.

  1. Kontrol diri yang kuat

Pernah merasakan banyak hal buruk sebelumnya membuatku sadar bahwa kontrol diri adalah yang sangat penting. Selama SMA, waktuku untuk belajar dan bermain sangat tidak seimbang dan aku mendapatkan ganjarannya. Selama gap year, semangat belajarku naik turun karena tekanan-tekanan yang aku dapatkan. Meskipun begitu, selama masa menunda kuliah itu aku mulai tersadar jika aku terus-menerus melakukan kebiasaan yang tidak baik, maka aku tidak akan mendapatkan hal aku inginkan.

Sejak sat itu, aku membiasakan diri dengan target dan rasa optimis karena tidak ingin mengulang hal yang sama seperti tahun-tahun berikutnya. Setiap hari aku mengerjakan soal-soal UTBK dan mengikuti kelas-kelas persiapan ujian dengan lebih konsisten.

Kegiatan yang dilakukan secara rutin itu membentuk diriku yang sekarang. Aku tidak ingin gagal lagi hanya karena kalah oleh suasana hati yang tidak menentu. Setiap hari, aku usahakan untuk melakukan hal-hal sederhana yang memberikan dampak besar untuk kehidupanku di masa depan. Tentu aku masih memiliki rasa malas, tetapi untuk sekarang aku jauh lebih hebat untuk bisa mengendalikannya.

  1. Penerimaan atas kekurangan dan kelebihan

Dulu, aku terlalu fokus pada kekuranganku, tidak mengkritik diri sendiri, dan mengabaikan kelebihanku. Kini, aku menyadari kekuranganku, melakukan perbaikan sedikit demi sedikit setiap hari untuk mencapai versi terbaik diriku, serta tidak berdebat jika aku mendapat kritik yang membangun. Untuk kelebihan yang kupunya, aku sekarang pandai menerima dan menghargainya. Aku tidak lagi menolak pujian-pujian yang dilontarkan oleh orang-orang di sekitarku. Kuusahakan untuk selalu berterima kasih akan itu.

Semua itu tidak akan terjadi tanpa proses panjang. Waktu sendiri yang kuhabiskan selama gap year telah membuat diriku menjadi versi yang sekarang. Kuhabiskan banyak waktuku untuk berbincang dan berkenalan dengan diriku.

  1. Tidak terikat dengan apapun

Tentu banyak yang terjadi selama waktu yang panjang itu. Salah satunya adalah kehilangan. Kehilangan sahabat, kehilangan orang yang kucintai, kehilangan kepercayaan, kehilangan kesempatan, dan lain-lain. Dulu, aku sangat frustrasi dengan hal itu karena aku mendefinisikan diriku dengan hal kuanggap terikat denganku. Aku juga memiliki pemikiran dangkal bahwa seseorang, sesuatu, atau situasi akan bertahan selamanya. 

Setelah proses penerimaan yang cukup panjang juga, aku belajar banyak. Perasaan-perasaan itu nyatanya membuat diriku menjadi buruk dan aku memutuskan untuk tidak mengembangkannya di dalam diriku. Aku melepaskan pemikiran itu pergi dan tidak akan mengizinkannya kembali.

Semua orang, hal, dan momen yang sekarang aku miliki, akan pergi atau selesai pada saatnya. Keyakinanku adalah, setiap orang yang hadir di dalam hidupku bertugas mengajarkan sesuatu padaku dan begitu pula aku yang mengajarkan sesuatu di hidup mereka. Ketika waktunya tiba untuk pergi karena tugas masing-masing telah selesai, aku akan melepas mereka pergi dengan damai. Untuk barang atau momen, aku cukup menyadarkan diriku bahwa semua hal di dunia ini tidak ada yang abadi. Sudah sifatnya jika benda yang kumiliki atau situasi yang sedang terjadi rusak, hilang, atau usai.

  1. Memprioritaskan kebaikan diriku

Aku dulu adalah people pleaser. Mungkin sedikit hiperbola, tapi bisa dikatakan mungkin misi hidup diriku yang dulu adalah membahagiakan semua orang. Kini aku sadar jika itu adalah yang bodoh, sangat bodoh. Aku mementingkan kepentingan dan kebutuhan orang lain daripada diriku sendiri. Sampai di titik dimana aku mempertanyakan hal itu, aku tersadar bahwa aku harus berhenti untuk menjadi people pleaser.

Aku sudah tidak mengenal lagi dengan pemikiran takut berkata tidak. Kepercayaan diriku sudah jauh lebih meningkat jika dibandingkan saat aku duduk di bangku sekolah. Sekarang, ketika aku tidak ingin melakukan apa yang diminta orang lain, aku akan berkata tidak. Ketika aku tidak suka orang lain melakukan sesuatu padaku, aku akan mengatakannya dengan gamblang. Ketika diundang dalam sebuah ajakan, sedangkan aku hanya ingin bergumul dengan selimutku, aku akan menolaknya. Tidak peduli seberapa konyol alasan penolakanku, ketika aku tidak mau, aku akan mengatakan tidak. 

Jika orang lain mengatakan hal buruk padaku akan tindakanku itu, aku tidak akan memusingkannya. Some times it is still the same, but it is so much better. When people talk something bad behind my back, they just being themselves, the bad one. How about me? I am here vibing my happy live.

Ike Nurjanah

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Contact Us