Perempuan Emosional dan Akalnya Separo Laki-laki?

Published by Kalis Mardiasih on

Masih sering dengar perempuan didiskriminasi oleh akhi-akhi dengan pakai hadits “wanita kurang akal dan agamanya”? Dengan pakai hadits itu, lalu perempuan dituduh macam-macam, mulai dari tidak dibolehkan menjadi pemimpin karena emosional, sampai distigma mengundang syahwat karena agamanya kurang.

Stigma negatif terhadap perempuan bahkan sampai melebar pada peran-peran perempuan di posisi strategis. Pernah ada kasus dimana wajah perempuan di-blur (disamarkan) dalam gambar flyer untk publikasi struktur kepengurusan badan eksekutif mahasiswa (BEM). Belum lama usai isu pembluran wajah perempuan, tidak lama kemudian muncul propaganda di salah satu kampus tentang pelarangan memilih pemimpin berjenis kelamin perempuan.

Perlu kita tahu, Khadijah, bergelar ummul mukminin (ibu Kaum Beriman) dan khair al-nisa (sebaik-baiknya perempuan) adalah orang pertama yang memberi keyakinan kepada Nabi, bahwa wahyu yang diterima Nabi dalam khalwatnya (menyepi mendekatkan diri kepada Allah Swt) di Gua Hira adalah benar dari Allah Swt dan bukan bisikan setan. Nabi pulang ke rumah dalam kondisi ketakutan dan demam lalu diberi ketenangan oleh Siti Khadijah, istrinya.

Mengimani wahyu pertama itu luar biasa. Jika kita semua yakin proses keberimanan kepada Allah Swt adalah proses yang melibatkan kesadaran penuh, bukan semata-mata halusinasi atau emosi, maka tidak ada alasan bagi siapa pun untuk menuduh perempuan kurang akal atau mengedepankan emosi saja.

Tapi, kan yang dimaksud “kurang akal” dalam hadist di atas adalah nilai persaksian perempuan yang hanya separuh laki-laki?

Di Indonesia, sejak tahun 1950 ketika ayah Gus Dur (KH Wahid Hasyim) jadi menteri agama, perempuan boleh belajar di Sekolah Guru Hakim Agama Negeri (SGHAN). Jadi, perempuan di Indonesia udah boleh jadi hakim sejak tahun 50. Di Pengadilan Agama banyak tuh hakim perempuan. Bagaimana kesaksian mau bernilai separuh kalau bahkan perempuan di Indonesia bisa jadi pengadil?

So, keren kan Indonesia? Ulama-ulama kita sejak zaman dulu tuh paling TOP. Itu ulama-ulama senior yang hari ini masih sering dikata-katain atau diberikan label macam-macam oleh kelompok tertentu yang kurang. Kelompok-kelompok ini biasanya paling suka menghakimi kelompok lain yang dianggap berbeda dari kelompoknya. Misalnya, mereka memberi label pada ulama lain dengan menyebut mereka “liberal” dan seterusnya. Jadi, mulai sekarang jangan mau diajak mundur lagi!

*Opini Kalis ini juga telah dipublikasikan di akun instagramnya @kalis.mardiasih

About the author

Kalis Mardiasih adalah aktivis Gusdurian, Penulis buku "Muslimah yang Diperdebatkan, "Hijrah Jangan Jauh-jauh Nanti Nyasar", dan kolumnis di sejumlah media tentang persoalan perempuan dan sejumlah isu sosial-keagamaan lainnya.


Kalis Mardiasih

Kalis Mardiasih adalah aktivis Gusdurian, Penulis buku "Muslimah yang Diperdebatkan, "Hijrah Jangan Jauh-jauh Nanti Nyasar", dan kolumnis di sejumlah media tentang persoalan perempuan dan sejumlah isu sosial-keagamaan lainnya.

1 Comment

ANONIM · September 29, 2020 at 3:47 am

awwwwwwwwwwwww

Leave a Reply

Avatar placeholder

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Contact Us