Saya Manusia, Bukan Robot

Published by Mutiara Proehoeman on

Percayalah, pada akhirnya, jiwa kita adalah tempat terbaik untuk diri kita sendiri. Bahkan ketika tak seorang pun menunjukkan kasih sayangnya, kita lah sumber kasih sayang itu sendiri.

Berbicara tentang kasih sayang (affection) secara edukasi, pastinya saya sangat tidak berkompetensi karena saya hanya seorang perempuan biasa tanpa gelar apa-apa dalam bidang psycho education.

Kalau kita merujuk makna “kasih sayang” itu sendiri, dalam dictionary.com dan Plato.stanford.edu tentang The Emotions (Stanford Encyclopedia of Philosophy), kasih sayang (affection) dapat dikomunikasikan dengan penampilan, kata-kata, gerak tubuh, atau sentuhan. Perilaku kasih sayang mungkin telah berevolusi dari perilaku pengasuhan orang tua karena hubungannya dengan penghargaan hormonal. Kasih sayang seperti itu telah terbukti memengaruhi perkembangan otak pada bayi. Ekspresi kasih sayang juga tidak dapat diterima jika menunjukkan ancaman tersirat terhadap kesejahteraan seseorang. Jika diterima, perilaku penuh kasih dapat dikaitkan dengan berbagai manfaat kesehatan.

Dari sudut pandang saya sebagai manusia yang berinteraksi dengan manusia lainnya, dimana saya sebagai seorang ibu, anak dan pasangan, saya sangat memenuhi syarat memaknai apa itu kasih sayang, karena saya seorang manusia. Buat saya pribadi, materi bukanlah segalanya. Memang materi itu penting, tapi itu hanya bisa memenuhi kebutuhan jasmani saja.

Kadang kita memang suka lupa bahwa kita mempunyai Jiwa. Jiwa yang memerlukan “makanan” juga, yang sering disebut “Food For The Soul“. Untuk apa Jasmani kita (outer) sangat terpenuhi, sedangkan jiwa (inner) merasakan kelaparan? Kalau begitu tidak ada bedanya kita dengan robot, yang energinya hanya perlu diisi lagi dengan listrik, tanpa perlu embel-embel pelukan, suara yang manis, sentuhan hangat, yang kemudian dia akan selalu “tersenyum” mengikuti kemauan tuannya. Bahkan robot pun perlu mendapatkan service secara berkala.

Perlakuan Baik dari Manusia Lainnya Membuat Jiwa Kita Penuh

Kembali lagi, kita manusia yang punya Jiwa, yang mempunyai hati. Kita punya apa yang robot gak punya, yaitu emosi. Emosi tidak selalunya negatif. Kita bisa merasakan senang, sedih, gembira, marah, yang robot tidak bisa rasakan. Badan kita bisa merasakan kenyang karena makan dan minum, rambut kita bisa keren karena dicat atau dipotong di hairstyler ternama, itu semua materi.

Jiwa kita bisa merasa penuh salah satunya adalah dengan mendapatkan perlakuan yang baik dari manusia yang lain, begitu pun sebaliknya. Sebuah pelukan tidak akan melukaimu dan untuk apa kita melontarkan kata-kata kasar, jika kita bisa memilih untuk berbicara secara menyenangkan.

Coba deh, mulai peluk manusia lain yang kamu bilang kamu cintai, pujilah mereka secara verbal, tepuk lah mereka di pundak untuk menyampaikan bahwa “semua akan baik-baik saja”, tertawalah bersama, minimalisir kata-kata kasarmu, turunkan intonasimu dan maksimalkan kata-kata indahmu.

Peganglah tangannya seperti kamu benar-benar berniat untuk menggenggam dengan hatimu. Tawarkan teh hangat atau cheese cake walaupun mereka tidak memintanya. Belikan mereka bungan Matahari di pot, karena kamu tahu itu bunga favorit mereka. Cobalah melakukannya secara spontan.

Dan,

Jika kamu belum mendapatkan apa yang saya sebutkan di atas, akan selalu ada “Dirimu” yang dapat memperlakukanmu, seperti baiknya yang kamu mau. Percayalah, pada akhirnya, kamu adalah tempat terbaik untuk dirimu sendiri. Kamu adalah sumber kasih sayang bagi dirimu sendiri.

About the author

Mutiara Proehoeman adalah Founder Komunitas @save_janda.


Mutiara Proehoeman

Mutiara Proehoeman adalah Founder Komunitas @save_janda.

0 Comments

Leave a Reply

Avatar placeholder

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Contact Us