Awas Grooming! Ketika Individu Dewasa Menjalin Relasi Romantis dengan Anak-anak

“Kamu terlihat lebih dewasa dari umur kamu, ya”

Semua itu dimulai dari sebuah relasi romantis…

Trigger Warning: Grooming, non consensual sex, sexual abuse

“Aku mulai berpacaran tuh umur 15 tahun dan pelakunya nggak cuma satu orang, kebetulan pasangan-pasanganku di saat umur ku segitu itu tua-tua.(M, 21 tahun)

M adalah perempuan penyintas grooming yang ia alami ketika usia nya masih 15-16 tahun. Ini adalah pengalaman M bagaimana relasi dengan pelaku groomingnya dimulai. 

“Gue tuh sebenernya nggak sayang-sayang banget sama mereka. Tapi karena saat itu gue masih insecure dan ada orang yang memberikan gue perhatian, gue dulu kayak seneng aja punya pacar lebih tua,” tutur M ketika menjelaskan mengapa dirinya berpacaran dengan orang-orang yang lebih tua sementara dirinya masih di bawah umur. Pelaku grooming juga memiliki pattern (pola) untuk memberikan komentar seperti “kamu kok dewasa, ya” ketika mereka mendekati M yang usianya masih remaja. 

“Pacar pertamaku itu usia nya 30-an tahun sedangkan aku masih berumur 15 tahun, kami kenal melewati platform social media dan kami dekat karena agama kami sama.”

M mengaku di saat pelaku pertamanya tahu mengenai umur M yang masih di bawah umur, pelaku awalnya ragu, namun tetap melanjutkan relasi tersebut. Relasi yang dijalin M dengan pelaku pertamanya terjalin melalui daring. Setelah hubungan M berakhir dengan pelaku pertama, M melanjutkan studinya di salah satu perguruan tinggi di Jakarta. Dengan status M sebagai anak akselerasi, pada saat dirinya menginjak bangku kuliah M masih berusia 16 tahun.

“Gue tuh nggak bohong kok sama usia gue, orang-orang tau kalo gue 16 tahun”. Namun, meskipun usia M sudah jelas diketahui oleh lingkungan sekitarnya, hal tersebut tidak menghentikan orang-orang yang “sudah cukup usia” yang ada di sekitar M untuk berusaha menjalin hubungan dengan M.

Ketika berbicara mengenai grooming kita biasanya kita mengasosiasikannya dengan relasi seksual atau relasi romantis. Banyak kasus grooming terjadi dalam relasi intim seperti relasi romantis dan seksual, karena tidak sedikit pelaku mencoba membangun kepercayaan korban. Cara yang dipilih oleh pelaku adalah dengan menjalin relasi terlebih dahulu dengan korban.

Jadi, Grooming adalah

Fenomena grooming memang sudah ramai dibicarakan dan diangkat topiknya, baik dalam dunia daring atau pun luring. Grooming sendiri didefinisikan sebagai proses yang dilakukan orang dewasa atau individu yang sudah cukup usia, untuk mendapatkan kepercayaan dari sang anak atau remaja untuk membangun relasi seksual. Dalam proses ini, ‘pelaku’ atau individu dewasa memanfaatkan relasi kuasa untuk melakukan manipulasi dan eksploitasi kerentanan sang remaja untuk mendapatkan keuntungan seperti relasi seksual. 

Proses grooming biasa dilakukan pelaku lewat membangun kepercayaan dengan korban. Pelaku akan membangun persona dirinya sebagai pribadi yang charming, reliable (dapat diandalkan), dan dapat dipercaya. Pada kasus M, pelaku grooming memanfaatkan ketidakpercayaan diri M dan perasaan rendah dirinya untuk dimanipulasi agar M dapat percaya kepada pelaku grooming dan membangun rasa kepercayaan dan kedekatan di antara mereka. Dari mendapatkan kepercayaan korban, pelaku akan melakukan kontrol atas tubuh korban dan bahkan sampai ranah kehidupan personal korban. 

Tidak sedikit pelaku grooming akan menjaga hubungannya dengan korban secara eksklusif, M mengaku mantan kekasihnya tidak ingin menggandeng tangannya di publik, tapi pelaku tetap meminta melakukan aktivitas seksual ketika mereka ada di ruang privat.

Pelaku grooming juga akan membatasi korban untuk bercerita kepada orang terdekat mengenai relasinya, atau membatasi korban melakukan hal-hal yang dikehendaki. Selain kekerasan emosional, grooming memiliki hubungan dekat dengan kekerasan seksual. 

Tidak sedikit penyintas grooming juga menjadi penyintas kekerasan seksual dalam hubungannya dengan pelaku grooming. Tentunya, segala aktivitas seksual yang dilakukan dengan anak di bawah umur tidak dapat dianggap konsensual. Pengalaman M yang berkaitan dengan aktivitas seksual sebagai korban dari grooming adalah ketika pelaku meminta M untuk mengirimkan foto pribadi bernuansa seksual, tapi M menolak.

M juga menceritakan pengalamannya dengan mantan kekasihnya. M pernah mengalami kekerasan seksual karena M menolak berhubungan seksual, namun pelaku tetap memaksa dan membujuk M. “Aku tuh inget banget aku nggak mau untuk melakukan seks, aku pun sampai menangisM mengakui bahwa pelaku tidak menggubris tangisan dan tolakan M.

Kebanyakan Korban Grooming Takut untuk Melapor

Tidak sedikit korban dan atau penyintas grooming merasa takut untuk bercerita atau melapor, karena manipulasi dari pelaku grooming yang meyakinkan korban dan penyintas untuk tidak membuka mulut mereka mengenai hubungan yang mereka jalani.

Pelaku grooming juga melakukan koersi agar korban tidak menceritakan pengalaman ini ke orang terdekat. Karena tindak manipulasi ini, korban akan merasa sendirian serta merasa bahwa tidak akan ada orang yang percaya kepada cerita nya. Ketakutan ini bisa berujung ke rasa cemas atau meninggalkan trauma bagi korban dan penyintas.

“Aku jadi takut pacaran dan it leads me to many casual relationships, karena gue akan lebih merasa nothing to lose,” ujar M ketika apa yang dirinya rasakan setelah keluar dari relasi dengan pelaku grooming. 

Tidak sedikit juga korban dan penyintas menyalahkan diri mereka atas pengalaman yang mereka alami. Karena normalisasi akan grooming yang masih mengakar dalam masyarakat, serta budaya victim blaming yang menyudutkan korban dan penyintas sehingga dapat menghambat proses pemulihan korban dan penyintas. Terlebih lagi, jika pelaku grooming adalah orang yang memiliki kuasa dan “terpandang” status sosialnya, masyarakat akan menaruh beban lebih berat kepada korban dan penyintas yang sedang mencari keadilan dan ruang aman untuk pemulihan.

Berhenti Menormalisasikan Grooming

Diskursus mengenai grooming sudah banyak dibicarakan baik oleh penyintas atau orang awam yang memang memiliki concern akan modus kekerasan berbentuk grooming. Tapi, tak jarang juga remaja yang mungkin sedang berada di hubungan dengan pelaku grooming tidak sadar atau kurang edukasi mengenai fenomena grooming. Hal ini mungkin dikarenakan mereka merasa hal-hal atau aktivitas yang mereka lakukan bersama pasangan mereka yang berusia lebih dewasa adalah konsensual.

Tanpa sepengetahuan atau secara sadar, korban grooming telah ada di dalam skema manipulasi kepercayaan yang dilakukan oleh pelaku grooming. Kerentanan emosi dan ketidakstabilan sangatlah wajar dialami oleh remaja, yang tidak wajar adalah ketika orang yang lebih dewasa memanfaatkan hal tersebut untuk keuntungan dan kepuasan mereka tersendiri. 

M mengaku bahwa dia telat menyadari kalau dirinya ada di dalam hubungan grooming yang manipulatif, karena pada saat itu ia masih belum mendapatkan banyak edukasi mengenai dampak membahayakan dari grooming. M menambahkan jika ia mendapatkan kesempatan untuk bertemu dengan dirinya yang masih remaja, M ingin mengucapkan pesan, “Untuk lo gak menginginkan hal yang berat-berat itu wajar banget, dan explore hobi lo bahkan kalau pun lo mau jadi poser nggak apa-apa daripada lo ada di relasi romantis dengan orang-orang dewasa ini.”

Levyna Alexandra adalah mahasiswi Psikologi dan juga seorang yang memiliki concern dan aktif terlibat dalam pergerakan penghapusan kekerasan seksual dan isu perempuan. Kamu bisa berdiskusi dengan Levyna melalui instagramnya: @everlastsaudade

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Contact Us