Pelanggengan Budaya Poligami dalam Balutan Agama pada Film “Keep Sweet: Pray and Obey”

“Keep Sweet: Pray and Obey merupakan film dokumenter  kriminal berdasarkan kisah nyata yang tayang di Netflix. Film  ini cukup menyita perhatian dengan alur cerita yang membahas tentang poligami, perkawinan anak dan doktrinasi agama yakni “Hanya laki-laki yang mempunyai istri tiga yang akan masuk surga.” Dalam film ini, perkawinan anak dilegalkan oleh pemuka agama yang disebut dengan “Nabi Tuhan.” Hal ini menunjukkan salah kaprah dalam menerapkan ajaran agama. 

Keep Sweet: Pray and Obey Docuseries tentang Sekte Poligami FLDS yang  Mengharu Biru Halaman 1 - Kompasiana.com
“Keep Sweet: Pray & Obey” (sumber gambar: kompasiana)

Eksploitasi dan Pelemahan Perempuan Lewat Doktrin Agama

Film ini menunjukkan visualisasi tentang marginalisasi perempuan terhadap seks. Kedudukan perempuan sangat rendah, bahkan tidak dihargai karena hanya dieksploitasi untuk kebutuhan biologis semata. 

Di dalam film ini juga terjadi perkawinan anak dengan dalih mendapat wahyu Tuhan melalui Nabi. Perkawinan terhadap anak menjadi hal yang lumrah dilakukan. Masyarakat percaya jika menyerahkan anaknya, jodoh anaknya dipilihkan oleh Nabi Tuhan, atau dinikahkan oleh Nabi Tuhan, maka mereka menjadi sosok terpilih. Mereka akan merasa tersanjung dan mendapat kehormatan meski hal tersebut keliru. Kepercayaan yang salah dan penyebarluasan doktrin yang keliru menjadi suatu ketakutan bagi golongan masyarakat yang menyadari hal yang tidak tepat dalam praktik beragama tersebut.

Salah satu istri dari Nabi Tuhan bahkan dinikahi pada usia 14 tahun. Ia menjadi istri ke-23. Penolakan korban untuk dinikahi tidak dihiraukan. Korban tidak punya pilihan selain menuruti kehendak Nabi Tuhan dan pihak gereja. Sekte ini juga sudah menyiapkan anak–anak yang akan mereka nikahi dengan mengumpulkannya pada satu sekolah. 

Doktrin Mengenai Posisi dan Peran Perempuan Dimulai Sejak Dini

Selain eksploitasi perempuan dalam hal seks, para pemuka agama ini juga merampas hak literasi anak-anak di sekolah. Marginalisasi perempuan pada film ini terjadi dalam berbagai sisi, bukan hanya dari aspek biologis. Perempuan dilemahkan lewat doktrin ajaran agama. Kondisi ini berhasil membawa perempuan  pada kerangkeng budaya yang sempit dan menjadikan mereka sebagai hamba yang hanya patuh dengan wahyu Tuhan. 

Mereka tidak mengizinkan anak–anak di sekolah untuk membaca buku dari luar. Akses bacaan hanya diperbolehkan dari perpustakaan sekolah yang kurikulumnya sudah disesuaikan dengan ajaran mereka. Salah satu isi kurikulum tersebut adalah kewajiban menjadi istri yang harus menyerahkan hidupnya hanya untuk mengurus suami. Mereka juga didoktrin untuk mengikuti seluruh  perintah suami tanpa terkecuali.

Relasi Kuasa yang Timpang Terjadi dalam Seluruh Aspek Kehidupan

Selain perkawinan anak, film ini juga menggambarkan peristiwa pengusiran dan eksploitasi tenaga laki- laki. Kaum laki-laki hanya dijadikan budak untuk menyukseskan perputaran ekonomi bagi mereka yang menganggap dirinya sebagai Wali Tuhan. Anak lelaki diusir keluar dari kawasan mereka. Ada pula eksploitasi tenaga kaum laki-laki untuk dipekerjakan dengan sewenang-wenang demi memenuhi kebutuhan  pribadi Nabi Tuhan. Bahkan, perusahaan yang dimiliki oleh masyarakat diambil alih kepemilikannya oleh gereja dengan dalih untuk memenuhi kebutuhan ekonomi umat. 

Gambaran dalam film ini menegaskan bahwa kaum perempuan di zaman yang katanya sudah modern  ini masih jauh dari kemerdekaan, bahkan kemerdekaan atas tubuhnya sendiri. Film ini membuktikan bahwa dominasi sistem mampu membelenggu dan menyengsarakan kaum yang tertindas, bukan hanya perempuan tetapi juga laki- laki. 

Etic Susilawati

Aktivis perempuan dan relawan di Komunitas Perempuan Berkisah dan Yayasan Perempuan Indonesia Tumbuh Berdaya (Pribudaya)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Contact Us