Mengapa Perempuan Berkisah ?

Published by Redaksi Perempuan Berkisah on

Di satu sudut dan waktu, perempuan-perempuan itu tak henti berkisah. Tentang bagaimana pekerjaan mereka yang tak pernah selesai, tentang bagaimana mereka dibayar dengan murah, bahkan tidak jarang yang tak dibayar sama sekali, juga tentang bagaimana penampilan mereka lebih penting ketimbang apa yang mereka lakukan.

Mereka juga berkisah bagaimana ketika mereka menjadi korban kekerasan seksual dan pemerkosaan, maka mereka yang akan disalahkan, ketika mereka berani bersuara dan meninggikan suaranya maka dianggap sundal dan cerewet, bahkan ketika mereka menikmati seks maka dianggap ‘lacur’.

Jika mereka terlalu banyak bertanya pada dokter, maka mereka dibilang neurotik (menderita kelainan syaraf) dan/atau agresif. Jika mereka menuntut pelayanan pemeliharaan anak di masyarakat, mereka dibilang mementingkan diri sendiri. 

Jika mereka berdiri bangkit untuk membela hak-hak mereka, maka mereka dibilang agresif dan “tidak feminin”. Jika mereka ingin menikah, mereka dibilang menjebak laki-laki dan jika kami tidak mau menikah kami dibilang tidak normal.

Ketika mereka tak sanggup dan tak mau mengandung, dan masih banyak lagi maka mereka dibuat merasa bersalah dan banyak sekali alasan-alasan lainnya.

Semua alasan itu juga menjadi bagian dari pergerakan pembebasan perempuan. Alasan-alasan tersebut pernah ditulis oleh Joyce Stevens untuk Pamflet Pembebasan Perempuan, pada Hari Perempuan Internasional tahun1975. ”

Salam hangat dari kami,

Tim Redaksi Perempuan Berkisah

LALU, SIAPA SAJA KAMI?

BACA SELENGKAPNYA PROFIL KAMI DI PROFIL KOMUNITAS

About the author

Media Pemberdayaan | Katalisator Perubahan | Ruang Aman Berbasis Etika Feminis


Redaksi Perempuan Berkisah

Media Pemberdayaan | Katalisator Perubahan | Ruang Aman Berbasis Etika Feminis

0 Comments

Leave a Reply

Avatar placeholder

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Contact Us