TILIK: Serba Salah Jadi Perempuan Lajang di Desa

Published by Redaksi Perempuan Berkisah on

“Masa pendidikannya cuma lulusan SMA, tapi kok bisa punya barang-barang bermerek? kendaraannya gak biasa? Padahal orang tuanya sudah meninggal, dari kecil juga miskin dan biasa saja, tapi sekarang kondisinya? pasti ada apa-apa…Usia segitu masih belum nikah? Maunya apa? Bikin para suami gak tenang…”

Kurang lebih, begitulah kalimat-kalimat yang jadi andalan warga ketika bergosip tentang perempuan yang masih single alias lajang dan belum menikah di desanya. Tentu saja, kita bicara desa di Indonesia yang masih kuat dengan budaya patriarkinya. Sedihnya lagi, gosip itu dilempar dan disebarluaskan oleh sesama perempuan itu sendiri. Kenyataan ini juga digambarkan secara jelas dalam sebuah film pendek berjudul “Tilik” yang diproduksi Ravacana Films bekerjasama dengan Dinas Kebudayaan DIY. 

DISCLAIMER: Sebelum berlanjut, perlu kami sampaikan bahwa catatan kami tentang Tilik adalah dari sisi kami yang masih awam soal sinematografi, jadi kami tidak akan fokus pada teknis penggambaran yang menurut kami sudah bagus. Catatan ini juga hanya catatan suka-suka kami saja.

Film ini diproduksi tahun 2018. Ajaibnya, kami baru menontonnya tahun ini. Tentu saja, karena filmya memang baru tayang di YouTube dan sempat viral. Iya, tahun 2020 di mana begitu banyak waktu membaca informasi di medsos dan berbagi link video unik. Setelah menonton film pendek ini, tentu saja kami ada catatan tersendiri. Di luar bahwa film ini sudah banyak yang memberikan review, tapi kami masih ingin tetap menuliskan hasil tontonan kami berdasarkan sudut pandang kami. 

PERJALANAN DAN PETUALANGAN PENUH GOSIP

Summer: https://jaff-filmfest.org/open-air-cinema/tilik-the-visit/

Baiklah, kita mulai dari inti sepanjang film ini dulu ya? Berdasarkan sinopsis yang tertera dalam film “TILIK” di kanal YouTube production house-nya, film ini bercerita tentang Dian, yaitu seorang kembang desa. Banyak lelaki yang mendekatinya hingga datang melamarnya. Warga desa bergunjing tentang status lajang Dian. Dalam satu kesempatan perjalanan naik truk dalam rangka menjenguk (tilik) Bu Lurah di Rumah sakit di kota, beberapa warga berdebat tentang siapa yang bakal mempersunting Dian. Perjalanan “tilik” menjadi penuh gosip dan petualangan bagi para warga desa yang naik truk tersebut.

Film berbahasa Jawa ini telah mendapatkan penghargaan berikut ini: Winner Piala Maya 2018 – Film Pendek Terpilih; Official Selection Jogja-Netpac Asian Film Festival 2018; dan Official Selection World Cinema Amsterdam 2019. 

PEMBELAJARAN PENTING DARI FILM INI VERSI KAMI

Seumber: https://twitter.com/hashtag/tilik

Pertama, kami ingin mengapresiasai film ini dulu. Film yang keren, simpel, penuh makna, realistis, mampu mengungkap kearifan lokal, dan tetap kritis dengan cara yang apik dan realistis. Kira-kira begini kalimat kami sebagai awam sinematografi ketika menggambarkan sebuah film yang baru kami tonton.

Film pendek ini sangat berkaitan dengan keseharian kita. Film yang sungguh membuka mata kita, tentang bagaimana elit di desa menyembunyikan kebenaran. Sementara kebenaran itu sendiri dengan asyik diperbincangkan secara telanjang di bak truk dan semua orang bisa ‘menciumnya’. Kebenaran itu bisa dibuktikan oleh siapapun, bahkan diungkap oleh mereka yang disebut julid. 

Kedua, silakan baca beberapa catatan pembelajaran yang kami tangkap dari film Tilik.

Hal sepele namun penting  lainnya yang bisa kita pelajari dari film pendek Tilik: 

  • STIGMA PEREMPUAN SINGLE: Perempuan lajang, khususnya di desa, masih menjadi objek stigmatisasi masyarakat dengan budaya patriarki yang masih kuat mengakar. Termasuk sesama perempuan itu sendiri. Meskipun faktanya benar atau tidaknya stigma itu, tetap saja kehidupan pribadi seseorang bukanlah konsumsi publik. 
  • HOAKS & UJARAN KEBENCIAN: Perbincangan sepanjang perjalanan di atas truk yang dilakukan oleh ibu-ibu itu memang seru, asyik, apa adanya, hidup, kocak, dan gak ada habisnya. Namun percakapan sepanjang itu mengajarkan kita betapa pentingnya memeriksa (verifikasi) informasi, tidak sekadar muncul di medsos lalu disebut valid. Belum lagi, dibumbui dengan kalimat-kalimat yang mengarah pada ujaran kebencian pada seseorang. 
  • SERBA SALAH JADI PEREMPUAN: Hal penting lainnya adalah soal susahnya jadi perempuan, apalagi ketika perempuan itu secara setatus sosial dianggap rendah. Apalagi dalam kasus Dian (tokoh yang dijadikan objek julid para ibu-ibu lainnya), secara ekonomi digambarkan sangat kurang dan orang tuanya juga tidak mampu. 
  • Jika kalian membaca catatan ini dan telah menonton filmnya, silakan tambahkan apa saja yang kalian pelajari dari film tersebut. 

About the author

Media Pemberdayaan | Katalisator Perubahan | Ruang Aman Berbasis Etika Feminis


Redaksi Perempuan Berkisah

Media Pemberdayaan | Katalisator Perubahan | Ruang Aman Berbasis Etika Feminis

1 Comment

perempuan banyu · August 21, 2020 at 4:31 am

bahwa stereotype tentang orang julid, orang yang suka nyogok, adalah perempuan.

Leave a Reply

Avatar placeholder

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Contact Us