Makna Mencintai Orang yang Salah dalam “Noktah Merah Perkawinan”

Kamu bukan orang jahat, Yuli. Kamu hanya mencintai orang yang salah

“Tante baru pertama kali ini lho, mendengar cerita dari sudut pandang—”

Yuli memotong perkataan tantenya, “Sudut pandang orang jahat?”

Sarah, seorang konselor pernikahan sekaligus keluarga terdekat Yuli, tersenyum melihat keponakannya. Ia berujar lembut, “Kamu bukan orang jahat, Yuli. Kamu hanya mencintai orang yang salah.”

Gambaran salah satu scene film ‘Noktah Merah Perkawinan’ (2022)

Film Noktah Merah Perkawinan & Sisi Lain dari Orang Ketiga

Noktah Merah Perkawinan yang dirilis pada 15 September 2022 merupakan sebuah film garapan sutradara Sabrina Rochelle Kalangie yang bercerita tentang hubungan pernikahan Gilang (Oka Antara) dan Ambar (Marsha Timothy). Layaknya pasangan pada umumnya, Gilang dan Ambar tengah menghadapi sebuah masalah yang cukup pelik di awal cerita. Namun, dapat dikatakan konflik baru dimulai setelah kehadiran Yuli (Sheila Dara) sebagai sosok ketiga di rumah tangga mereka.

Tidak hanya berfokus pada cara Gilang dan Ambar yang berusaha untuk menemukan kebahagiaan sembari tetap mempertahankan pernikahan mereka, Noktah Merah Perkawinan juga berpusat pada hubungan Gilang dan Yuli. Meski begitu, film ini berbeda dengan penggambaran sebuah perselingkuhan, baik dalam film maupun narasi pada umumnya. Terutama pada karakter Yuli yang menjadi sosok orang ketiga.

Dalam film ini, Yuli tidak dibuat sebagai perempuan penggoda yang penuh dengan rencana licik dan dandanan seksi untuk merebut suami orang. Sebaliknya, penokohan Yuli menunjukkan ia hanyalah seorang wanita muda dengan latar belakang sederhana yang sedang jatuh cinta.

Sabrina Rochelle Kalangie, sang sutradara, mengaku bahwa ia tidak ingin membangun karakter dan penampilan Yuli sesuai pandangan masyarakat terhadap sosok orang ketiga pada umumnya.

“Emang karakter Yuli, aku gak pengen bikin jadi kaya bitchy, karakter yang biasanya orang ngerasa pelakor kaya gimana sih stereotyping perempuan penggoda? Secara karakter, kita pengen kedekatan mereka (Gilang dan Yuli) bukan secara fisik, lebih karena inner(emosional)-nya.” 

Sabrina Rochelle Kalangie, IN-FRAME with Ernest Prakasa (2022)

Hal ini tidak hanya membuat film Noktah Merah Perkawinan menjadi lebih unik, tetapi membuka pemikiran penonton akan sisi lain dari pandangan orang ketiga dalam rumah tangga yang erat dengan konotasi jahat. 

Pertemuan antara Gilang dan Yuli pun digambarkan terjadi akibat ketidaksengajaan. Mereka yang awalnya cenderung tak acuh dengan satu sama lain menjadi semakin dekat akibat keretakan rumah tangga Gilang dan Ambar yang sebetulnya menjadi pemicu benih perselingkuhan. Pun selaras dengan yang dijelaskan Sabrina Rochelle Kalangie, hubungan Gilang dan Yuli tidak termanifestasi dalam bentuk fisik. Keduanya cenderung berada pada garis abu-abu dengan kesadaran Yuli akan status Gilang sebagai suami Ambar, pengajar workshop keramik yang Yuli ikuti.

Makna Mencintai Orang yang Salah dalam Noktah Merah Perkawinan

Kembali pada percakapan Yuli dan tantenya di awal, artikel Noktah Merah Perkawinan seakan memberikan validasi akan perasaan dan perilaku Yuli dengan kedok mencintai orang yang salah. Dalam hal ini, film tersebut mengatakan bahwa Yuli bukanlah sosok yang jahat untuk memiliki perasaan pada Gilang dan pada beberapa kesempatan membiarkan perasaannya mengontrol hal yang ia lakukan. Yuli tidak menghindari ajakan Gilang untuk pergi berdua sebab ia dikendalikan penuh oleh perasaannya saat menyetujui permintaan lelaki itu. Yuli melakukannya tanpa berpikir lebih jernih tentang hal yang mereka berdua lakukan, mengingat status Gilang sebagai suami orang.

Perasaan manusia yang tidak dapat diukur seringkali disebut sebagai hal yang tak mampu dikontrol. Sejatinya, jika sering dipertemukan dan menemukan kecocokan antara satu sama lain, manusia akan memiliki kecenderungan untuk tertarik dan bersimpati. Sehingga, tidak sedikit kasus saat seseorang mempunyai perasaan kepada pihak-pihak yang tak seharusnya. Dalam kasus ini, Yuli jatuh hati kepada suami orang setelah sering menghabiskan waktu bersama Gilang.

Namun, dibalik opini mencintai orang yang salah, penting bagi seseorang untuk mengatur perilaku yang dapat muncul akibat perasaan. Ya, mungkin tidak salah bagi Yuli untuk mencintai Gilang. Akan tetapi, ia tetap salah ketika membiarkan Gilang mendekatinya dan secara emosional bergantung padanya. Dengan kata lain, godaan akan selalu ada, kita tidak dapat berekspektasi bahwa semua orang berperilaku sesuai norma. Namun, kita juga dapat memilih untuk tidak tergoda rayuan tersebut hingga melakukan kesalahan-kesalahan yang tak dapat ditarik kembali.

Biarkan Hati Nurani yang Menang

Terlepas dari kesalahan Yuli, jalannya film mampu menunjukkan usaha perempuan muda itu untuk menghindari godaan di depan matanya. Beberapa kali terlihat bahwa Yuli berusaha untuk menjauh dari Gilang. Pesan-pesan Gilang yang tidak ia balas hingga memilih pergi ketika ia tahu bahwa kehadirannya hanya mengundang kesalahpahaman. Akting Sheila Dara, pemeran Yuli, pada beberapa adegan cukup berhasil mengimplikasikan perang batin antara kesempatan untuk mendapatkan lelaki yang ia cintai dan rasa bersalahnya sebagai seorang perempuan yang menerima ajakan dari suami orang.

Meskipun terlihat mudah dilakukan, keputusan Yuli untuk menekan perasaannya dan memilih jalan yang benar membutuhkan kedewasaan. Demi memperbaiki kesalahannya, ia mengalah dan mengorbankan perasaannya. Yuli bisa saja memutuskan untuk tidak peduli dan tetap membiarkan hubungannya dengan Gilang berkembang seiring berjalannya waktu. Namun, kata hatinya mengatakan bahwa hal yang ia lakukan dengan Gilang tidak seharusnya berlanjut.  

Menjadi sosok seperti Yuli, dalam kehidupan nyata tentu saja mengalami dilema. Bahkan ketika akhirnya sosok seperti dia memilih mundur, tentunya tidak mudah melupakannya begitu saja. Bisa jadi juga, sosok seperti Yuli di kehidupan nyata tak pernah mau mundur apalagi memilih mengalah agar keluarga si lelaki kembali rukun dengan istrinya.

Yuli membiarkan hati nuraninya menang melawan perasaannya pada Gilang.

Tidak hanya memberikan penonton sisi lain dari orang ketiga, Noktah Merah Perkawinan juga menunjukkan bahwa sosok orang ketiga pada akhirnya hanyalah manusia biasa. Layaknya manusia pada umumnya, mereka dapat melakukan kesalahan dan memiliki hati nurani.  Sehingga alih -alih merasa benci pada sosok orang ketiga di film ini, penonton dibuat terombang-ambing pada cara mereka memandang Yuli.

Manusia akan selalu dihadapkan dengan berbagai masalah serta godaan selama mereka bernapas. Terkadang, hal-hal buruk dapat timbul dari ketidaksengajaan atau kelalaian untuk mencegah sesuatu terjadi. Di sinilah kita sebagai manusia dapat melakukan kesalahan tanpa direncanakan. Hal terpenting adalah, kendati membiarkan kesalahan tersebut terjadi berlarut-larut, kita harus selalu membiarkan hati nurani yang mengutamakan kebaikan antara sesama manusia menang melawan apa pun.

Sumber:

  1. Film ‘Noktah Merah Perkawinan’, 2022
  2. Noktah Merah Perkawinan: “Dijamin Kesel Tapi Gemes” – IN-FRAME w/ Ernest Prakasa, 2022 (Youtube)

Seorang junior analyst dengan pengalaman pada bidang machine learning, penggunaan model dalam menganalisis indikator ekonomi, dan manajemen produk. Saat ini aktif menjalankan kegiatan sosial serta menulis tentang kesehatan mental dan pemberdayaan perempuan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Contact Us