Tak Melulu Domestifikasi, Perempuan & Alam Punya Hubungan Sangat Dekat

Published by Idha Nafiatul Aisyi on

Untuk terus menjaga keberlangsungan hidup sebagai manusia, kita tidak pernah bisa terlepas dengan alam dan lingkungan sekitar lainnya. Kualitas hidup seseorang bergantung dengan kondisi alam dan lingkungan yang ada di sekeliling mereka. Ketika lingkungan tersebut bermasalah, kehidupan manusia pun secara langsung atau tidak akan terkena dampaknya. 

Begitupun ketika krisis lingkungan terjadi, perempuan menjadi bagian dari hal yang berkemungkinan terkena dampak tersebut. Hal ini karena pada umumnya perempuan punya peran lebih dalam menjaga keberlangsungan hidup keluarganya. Meski hal itu juga bisa dilakukan oleh laki-laki, aktivitas seperti mengolah, menyajikan, menjaga ketahanan pangan dan hal-hal lainnya dalam keluarga sangat dekat dengan perempuan. 

Kedekatan perempuan dan alam sudah berlangsung sekian tahun lamanya

Evelyn Reed dalam bukunya yang berjudul Mitos Inferioritas Perempuan menunjukan fakta-fakta menarik tentang kehidupan perempuan primitif. Fakta tersebut selain bisa menjegal mitos bahwa perempuan adalah makhluk yang lemah, kita juga bisa melihat bagaimana perempuan dan alam punya hubungan yang sangat dekat. 

Perempuan dahulu, selain melakukan perannya menjadi seorang ibu, ia juga melaksanakan dan merintis kerja-kerja kemanusiaan lainnya. Tentang bagaimana mengontrol makanan, misalnya, perempuan punya tugas untuk mengumpulkan produk-produk nabati di kamp atau tempat ia tinggal. Saat laki-laki bertugas mengumpulkan makanan berupa hewan, perempuan mengumpulkan sayur-sayuran. Tak hanya itu, ia juga menggali akar, umbi-umbian, tanaman, dan binatang kecil lainnya yang bisa diolah menjadi makanan.

Perempuan berkecimpung pula dalam dunia pertanian dan perkebunan, melindungi alam yang tumbuh di sekitarnya. Merekalah yang akhirnya juga menemukan teknik dan metode penanaman seperti menampi, merontokan, menggiling dan teknik lainnya. 

Sejak api ditemukan, perempuan bisa mengembangkan teknik memasak dengan memanggang, merebus, dan mengukus. Dengan melaksanakan kerja-kerja menyediakan makanan itulah perempuan juga menemukan peralatan penunjang dan tempat menyimpan makanan seperti lumbung dan gudang. Dengan api ini juga perempuan bisa mengubah makanan menjadi makanan yang baru. 

Banyak sekali hal-hal yang ditemukan oleh perempuan karena inovasi dan produk baru yang diciptakan. Perempuan mengembangkan apa yang tersedia di alam untuk menciptakan industri tekstil. Ia menenun tali tambang, memanfaatkan kayu, rumput, kulit, akar untuk dijadikan keranjang.

Perempuan melakukan pekerjaan yang menakjubkan karena dapat mengorganisir dan bermanfaat secara sosial. Ia menyamak dan mengawetkan kulit, membuat pot dan hiasan, membuat tembikar, bahkan membangun gereja-gereja. Tanpa sadar, perempuan telah menjadi ilmuwan, pendidik, perawat, dokter, sejarawan, dan apa saja karena aktivitas besar mereka sebagai seorang ibu.

Tak hanya itu, perempuan berjuang menyelamatkan dasar kehidupan

Kita ketahui bersama bahwa semakin hari kondisi alam terus berubah. Sayangnya, perubahan tersebut bukan ke arah yang lebih baik, melainkan sebaliknya. Human Development Report (2007) melaporkan bahwa sebanyak 262 juta orang menjadi korban bencana iklim akibat pemanasan global tahun 2000-2004, sebagian besar yang terdampak adalah masyarakat dunia ketiga. Begitupun dengan yang terjadi di Indonesia, hingga akhir Agustus 2020, jumlah bencana alam yang terjadi hampir menyentuh angka dua ribu (BNPB). Bencana paling sering terjadi adalah banjir, dan Jawa masih menjadi wilayah terbanyak.

Perubahan iklim tidak terjadi secara tiba-tiba. Ia tak lepas dari campur tangan manusia. Dampak pembangunan, eksploitasi besar-besaran, dan perusakan alam lainnya jadi sebab terjadinya bencana. 

Sebagai manusia, potensi apapun yang mengancam keberlangsungan hidup banyak orang menjadi tanggung jawab semua orang, termasuk perempuan. Jauh sebelum ini, perempuan punya peran yang tak kalah besar dalam upaya mempertahankan dasar kehidupan manusia yaitu alam. 

Kisah gerakan chipko yang ada di India Utara, misalnya. Pada tahun 1974, dua puluh tujuh perempuan india utara bergerak melawan pemerintah dan kontraktor swasta yang hendak menebangi hutan wilayah tempat mereka tinggal. Penduduk merangkul pohon sambil bergandengan tangan, berjaga sepanjang malam selama empat hari, hingga mereka bisa berhasil mengusir dan menghalau para kontraktor itu pergi. 

Atau, penolakan pabrik semen di Kendeng, Jawa Tengah. Ancaman eksploitasi sumber daya alam akibat pendirian pabrik semen menjadi alasan para kartini kendeng mengorganisir diri untuk bersuara atas protes mereka terhadap Gubernur Jawa Tengah kala itu, Ganjar Pranowo. Mereka berjalan kaki dari desa masing-masing dengan harapan bisa membuat pemerintah menghentikan dan mencabut izin pendirian pabrik semen yang ada di wilayah Rembang. Warga dan kawan perempuan kendeng lainnya memasung dan menyemen kaki di depan istana merdeka. Dialog bersama yang dianggap tak cukup memuaskan warga kendeng membuat unjuk rasa terus berlanjut, hingga akhirnya protes harus berhenti karena Yu Patmi, salah satu massa aksi menghembuskan nafas terakhirnya dini hari saat berniat pulang ke rumah terlebih dahulu.

Paparan di atas adalah cerita tentang perjuangan perempuan merawat dan menjaga alam. Mereka berjuang memulihkan tanah dan mempertahankan hal paling dasar dalam hidup. Ia memimpin dirinya sendiri, dengan cinta dan ketulusan mereka menggandeng, mengorganisir dan menggerakkan kaum perempuan lainnya.

Kedekatan perempuan dengan alam dan kerja-kerja merawat, mengolah, menyajikan, dan menjaga ketahanan pangan bukan melulu soal ancaman domestikasi yang membatasi peran perempuan pada urusan kerumahtanggaan saja. Lebih dari itu, domestik dan publik bukan ruang terpisah bagi perempuan. Ia bisa didapatkan oleh perempuan sekaligus.

Jangan sampai kita beranggapan bahwa kedekatan perempuan dengan ruang domestik malah membuat perempuan terdomestikasi. Terdomestikasi disini adalah terbatasi ruang geraknya dan menganggap bahwa perannya hanya melulu soal urusan kerumahtanggaan saja. Dalam hal ini, urusan rumah tangga yang dimaksud diatas  membatasi perempuan untuk memperoleh ilmu pengetahuan, berekspresi di ruang publik, dan memperjuangkan hak-haknya sebagai perempuan. 

Tugas penjagaan alam dan hal-hal domestik lainnya pun tak hanya jadi urusan perempuan, tetapi laki-laki. Begitupun dengan urusan publik, laki-laki dan perempuan punya peran yang sama.

About the author

Aktivis Perempuan di Yogyakarta, saat ini masih kuliah di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.


Idha Nafiatul Aisyi

Aktivis Perempuan di Yogyakarta, saat ini masih kuliah di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

0 Comments

Leave a Reply

Avatar placeholder

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Contact Us