Bangun Hubungan Sehat & Cegah Diri dari Toxic Relationship

Published by Idha Nafiatul Aisyi on

Masing-masing individu punya otoritas untuk mengatakan dan mengekspresikan banyak hal sesuai kehendak diri tanpa adanya ketidakenakan dan ketakutan apapun.

Besok-besok kalau mau pergi keluar kabarin aku dulu ya. Aku mau tahu kamu perginya sama siapa aja.

“Weekend besok aku kosong. Jalan sama aku yuk, rapatnya kalau bisa di tunda dulu, kan kita jarang ada waktu berdua.”

Pernah atau bahkan sering mengalami kejadian demikian dengan pasangan? Hal tersebut begitu mengganggu aktivitas keseharianmu bukan? Hidup kamu seperti terus di awasi. Tetapi, sering kali terlintas dalam benakmu kalau pasanganmu melakukan itu karena sayang dan perhatian.

Kalau kamu merasakan bahwa hal tersebut mengganggu dirimu baik fisik maupun psikis, itu artinya dirimu terjebak dalam hubungan beracun atau toxic relationship. Jangan percaya kalau pasanganmu selalu membawa dalih ‘cinta’ dalam banyak hal di hubunganmu. sayangi dirimu dan hindari hubungan beracun teresebut.

Lalu, kira-kira bagaimana sih caranya agar kita bisa membangun hubungan yang sehat dengan pasangan? Semua orang memimpikan untuk mendapat pasangan yang bisa berbagi kasih sayang, saling menghormati, dan menghargai dunia masing-masing.

Kita bukanlah HERO untuk pasangan kita.

Kita ini manusia biasa, bukan pahlawan seperti di film Marvel yang bisa menyelesaikan banyak persoalan. Dalam berpasangan pun demikian, satu diantara kita tidak boleh merasa ada yang jadi korban dan penyelamat. Jika begitu, satu sama lain akan menggantungkan diri dengan pasangan dan merasa selalu perlu menyelamatkan pasangan jika ia dilanda masalah. Hubungan yang sehat bukan menjadikan pasangan sebagai jalan keluar masalah kita, melainkan menyelesaikan masalah kita sendiri dengan dukungan pasangan.

Hubungan yang sehat itu, membentuk masing-masing individu untuk terus tumbuh, bukan saling mengambil tanggungjawab pada hal-hal yang bersifat pribadi.

Merasa perlu terlibat pada semua kehidupan pasangan adalah sebuah penyakit. Kita harusnya tidak ikut campur pada masalah pasangan karena ia bertanggungjawab dan punya otoritas penuh atas dirinya. Bukan berarti jadi tidak peduli dengan pasangan, keduanya hanya butuh dukungan. Tapi ingat, suportif pada pasangan bukan berarti harus menyelesaikan semua masalahnya.

Berani Berkata TIDAK Kepada Pasangan.

Pasangan mengajakmu keluar, padahal pekerjaanmu sedang banyak-banyaknya. Satu sisi pekerjaanmu harus diselesaikan, di sisi lain kamu tidak ingin menyakiti pasanganmu dengan menolak ajakannya.

Berhentilah sungkan untuk bilang tidak pada pasangan. Ketidakenakan membuatmu terbiasa tidak jujur. Bukan hanya buruk untuk dirimu, tetapi juga untuk pasanganmu. Menghindari penolakan hanya karena takut jika pasangan marah ketika kita bilang ‘tidak’ adalah masalah besar.

Ungkapan yang jujur membuat kita terhindar dari ketidakikhlasan. Kejujuran membuat komunikasi yang dijalani juga jadi tanpa syarat, tanpa tekanan, tanpa motif tertentu. Kejujuran membuat hubungan jauh lebih baik dan sehat.

Melayangkan komitmen bersama berarti mempertemukan dua individu yang punya nilai sendiri-sendiri. Ketika nilai itu dapat dipahami bersama, masing-masing akan terbuka, bahkan untuk memberi dan menerima penolakan sekalipun.

Jangan mengira bahwa sebuah komitmen yang sudah terjalin benar-benar akan mengikat dua individu secara ketat. Sebuah hubungan yang sehat tidak memenjarakan. Dua orang bisa membangun komitmen yang tetap memerdekakan dan membebaskan diri untuk bisa melakukan segala sesuatu yang dikehendaki.

Mencintai Tanpa Syarat

Seperti apa yang sudah digambarkan diatas, saat pasangan minta tolong dan kita enggan menolak, kemungkinan yang bisa terjadi adalah kita akan berharap pasangan kita juga bisa menolong kita saat dilanda masalah. Ketika pasangan menolak karena punya tanggungjawabnya sendiri, kita akan merasa bahwa hal tersebut tidak adil. Ujungnya, salah satu akan merasa bahwa ia berkorban lebih banyak dibanding pasangannya.

Ingin berkorban untuk pasangan, ya harusnya berkorban saja, tidak perlu ada embel-embel lain. Apalagi, merasa bahwa menyenangkan dan membahagiakan pasangan adalah sebuah kewajiban yang harus dituntaskan. Segala sesuatu yang dilandaskan pada cinta bisa dilakukan tanpa syarat dan tanpa harapan sekecil apapun. Ibarat kata, tingkatan mencintai paling tinggi adalah ketika kita bisa ikhlas dan tidak mengharapkan apapun.

Konflik Itu Wajar, Percaya dan Terus Menjaga Komitmen Kuncinya.

Jangan hanya karena sering konflik atau berselisih paham, dua orang menjadi enggan untuk meneruskan hubungan. Hal yang tidak kalah penting untuk dipahami bahwa adanya konflik dalam hubungan dapat menunjukan seberapa kuat sebuah hubungan menerima tempaan. Di dalam konflik, kita bisa melihat siapa yang ada tanpa syarat dan siapa yang ada karena syarat tertentu.

Ketika sebuah konflik terjadi, masing-masing harus mempu untuk mengatakan apapun sejujur-jujurnya. Satu sama lain berani memberikan atau menerima masukan, ketidaksesuaian, bahkan penolakan agar terhindar dari adanya manipulasi dalam hubungan. Cari jalan tengah dari setiap permasalahan dan bangun kepercayaan serta komitmen terus menerus dengan pasangan.

Untuk lebih lengkapnya, soal bagaimana membuat hubungan lebih baik dengan banyak orang, sobat Perempuan Berkisah bisa membaca di buku “Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat, Pendekatan Yang Waras Demi Menjalani Hidup Yang Baik” karya Mark Manson, Hlm. 191-215.

About the author

Aktivis Perempuan di Yogyakarta, saat ini masih kuliah di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.


Idha Nafiatul Aisyi

Aktivis Perempuan di Yogyakarta, saat ini masih kuliah di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

0 Comments

Leave a Reply

Avatar placeholder

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Contact Us