Makna “Berpulang” Orang-orang Terkasih

Published by Selvy Arianti on

“Segala sesuatu berubah dalam pengalaman manusia karena memang pengalaman manusia akan selalu berubah.”

Dalam rentang waktu beberapa bulan selama pandemi, di sekitar tempat tinggalku ada beberapa yang telah ‘berpulang’. Tenda yang terpasang, tangisan yang terdengar serta keluarga yang ditinggalkan, ingatan itu bergulir manakala dalam keadaan ramai maupun sendirian.

Usia yang sudah puluhan tahun bahkan yang masih muda. Sakit atau pun tidak sakit dalam waktu yang lama. Ya, kehidupan adalah misteri. Aku pun belajar dari kehidupan ini. Dari segala yang terjadi tanpa pernah diduga-duga sebelumnya. Kemarin masih tertawa bersama, keesokannya kehilangan menjadi begitu terasa.

Healing and Recovery

Aku tergerak menuliskan apa yang terjadi di sekitarku tentang sebuah kondisi yang juga dialami orang lain. Aku semakin terdorong untuk menuliskan ini setelah membaca buku karya David R. Hawkins berjudul “Healing and Recovery: Jalan Praktis dan Efektif Hidup Sehat secara Fisik, Mental, dan Spiritual” yang baru diterjemahkan oleh Penerbit Javanica pada bulan Januari 2021. Isi buku ini membuatku berpikir, terutama saat membaca di  halaman 376 dengan mengenai depresi.

“Bagaimana aku bisa melihat hidupku memiliki niat yang cukup besar, sehingga ketika apa yang kucintai meninggalkanku, aku masih melihat hidup ini masih layak dijalani? Pada hal apa aku bisa mendedikasikan hidupku? Bagaimana pekerjaanku bisa memberikan makna pada hidupku? Bagaimana aku bisa mempunyai cara pandang yang lebih luas untuk melihat hidupku? Bagaimana aku bisa melihat hidupku sedemikian rupa sehingga nilaiku sebagaimana manusia tidak berubah jika apa yang kucintai meninggalkanku?”

Sekian kisah-kisah di instagram @perempuanberkisah yang dikirimkan para perempuan penyintas memang bukan kisahku, tapi ada juga yang serupa dengan apa yang kualami. rasanya tak henti ingin terus menguatkan para penyintas. Membagi energiku dengan mereka, sama sepertihalnya menguatkan diriku sendiri. Tidak apa-apa saat diri terluka karena hal di luar kendali kita, selalu ingat ya, kita tetap bernilai dan bermakna.

Aku pun bersedih hati ketika melihat kawanku ditinggalkan orang yang berarti dalam hidupnya, alih-alih menyerah justru aku melihatnya begitu tegar. Meski aku meyakini puncak gunung es (tip of the iceberg), masalah yang tampak hanyalah sebagian kecil dari masalah yang lebih besar, akan tetapi tiap-tiap orang adalah pejuang. 

Tugasku adalah memahami bahwa segalanya berubah. Menurut Dr. Hawkins, “Segala sesuatu berubah dalam pengalaman manusia karena memang pengalaman manusia akan selalu berubah.” Dari kawanku dan siapapun yang pernah berduka karena kehilangan seseorang terkasih, aku menyelami diri hingga sadar bahwa, “Bagaimana pun sulitnya kehidupan, masih ada harapan. Bagaimana pun badai menerpa, aku di sini bersama diriku melakukan hal-hal yang menurutku akan berguna pada hari-hari selanjutnya.”

Rasa Kehilangan dan Trauma

Dalam buku karya Guy Winch yang berjudul “Pertolongan Pertama pada Emosi Anda: Panduan Mengobati Kegagalan, Penolakan, Rasa Bersalah, dan Cedera Psikologis Sehari-hari Lainnya”, aku mendapati adanya pembahasan mengenai rasa kehilangan dan trauma.

Pada halaman 144, penulis yang juga menghasilkan karya berupa buku berjudul “Bagaimana Mengobati Patah Hati” menyampaikan bahwa, “Kehilangan dan trauma menciptakan empat luka psikologis. Mereka menyebabkan rasa sakit emosional yang berat, meruntuhkan rasa identitas kita yang mendasar, serta peran yang kita mainkan dalam hidup, mereka mengganggu sistem keyakinan dan pemahaman kita tentang dunia, mereka juga meragukan kemampuan kita untuk tetap ada dan terlibat di dalam hubungan yang paling penting.” 

Ada 3 penanganan yang dibahas dalam buku “Pertolongan Pertama pada Emosi Anda” yang berkaitan dengan rasa kehilangan dan trauma. Di antaranya adalah:

Penanganan A: Menenangkan sakit emosional dengan cara Anda

Menurut Guy Winch seperti yang tertera pada halaman 149, langkah terbaik yang bisa kita lakukan sesudah mengalami peristiwa tragis adalah dengan melakukan persis seperti apa yang diperintahkan oleh perasaan kita. Ketika kita merasa ingin berbagi pikiran serta perasaan kepada orang lain, maka lakukanlah. Ketika kita merasa ingin menarik diri dari pembicaraan, sebisa mungkin hindari pembicaraan tersebut.

Bila tidak memiliki dukungan sosial, cobalah untuk membuat tulisan tentang pengalaman atau surat kepada orang yang kita rindukan.

Mengingat ada hasil penelitian Dr. Pennebaker mengenai menulis yakni, “Menulis tentang pikiran dan perasaan terdalam tentang trauma yang dialami menghasilkan suasana hati yang lebih baik, pandangan yang lebih positif, dan kesehatan fisik yang lebih baik. 

Penanganan B: Memulihkan aspek yang hilang dari “diri” Anda

Ada 6 langkah menulis yang dapat membantu kita untuk mengenal aspek-aspek dari diri kita yang mungkin hilang. Dengan catatan bahwa penanganan ini dilakukan ketika merasa secara psikologis sudah siap melakukannya.

  1. Membuat daftar yang memuat sifat, karakteristik, dan kemampuan yang kita hargai atau yang dihargai oleh orang lain sebelum peristiwa itu terjadi (minimal 10 hal).
  2. Mana dari hal-hal tersebut yang rasanya benar-benar terputus dari kehidupan kita saat ini atau cenderung tidak sering diungkapkan dibanding waktu sebelumnya.
  3. Untuk setiap sifat yang kita cantumkan, tulis sebuah paragraf singkat yang menjelaskan mengapa kita merasa terputus dari sifat yang dimaksud atau tidak diekspresikan sesering sebelumnya.
  4. Untuk setiap sifat yang kita cantumkan, tulis sebuah paragraf singkat yang menjelaskan tentang orang-orang, kegiatan, atau jalan-jalan yang ingin kita tempuh yang dapat membantu kita mengekspresikan sifat tersebut dengan cara yang lebih substansial daripada yang bisa kita lakukan saat ini.
  5. Beri peringkat hal-hal dari pertanyaan sebelumnya menurut urutan mana yang bisa dilakukan sekaligus secara emosional dapat diatur.
  6. Tentukan sasaran untuk melaksanakan daftar tersebut sesuai kemampuam kita dan pada seberapa pun kecepatan yang kita rasakan paling nyaman.

Penanganan C: Menemukan makna di dalam tragedi

Saat ini aku sendiri tertarik untuk menemukan makna di dalam tragedi setelah membaca beberapa buku yang recommended untuk self-healing. Termasuk setelah membaca dua karya Guy Winch yang merupakan seorang psikolog, penulis, dan juga motivator. Pada pembahasan menemukan makna di dalam tragedi, ia mengajak kita untuk memahami peristiwa tragis dengan bertanya mengapa, bukan bagaimana. Serta memahami peristiwa tragis dengan bertanya apa yang mungkin terjadi.

Artikel ini ditulis sebagai pengingat bagi diriku juga mengenai peristiwa di lingkungan sekitar serta buku-buku yang sudah aku baca. Jika ada kekeliruan, mohon sekiranya dapat dimaklumi. Apa yang aku tuliskan tidak harus diterima begitu saja karena aku pun masih belajar.

Akhir kata, salam sayang dariku untuk diriku di masa yang akan datang maupun diriku yang telah melalui badai kehidupan. Salam sayang untuk tim Perempuan Berkisah yang masih terus semangat berada di antara kami. Salam sayang juga untuk para pembaca, saling menguatkan satu sama lain untuk perempuan berdaya, berkarya, dan berjuang tiada hentinya. Sebab kehidupan adalah perjuangan dengan segala liku-likunya.

About the author

Selvy Arianti adalah mahasiswi di UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten.


Selvy Arianti

Selvy Arianti adalah mahasiswi di UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten.

0 Comments

Leave a Reply

Avatar placeholder

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Contact Us