About the author

Alimah Fauzan adalah Founder Komunitas Perempuan Berkisah, Expert-Conceil di Daya, Riset & Advokasi (DROUPADI Foundation) 2021, Gender Specialist di Institute for Education Development, Social & Cultural Studies (Infest Yogyakarta) 2015-2019, Pegiat Islam & Gender di Fahmina Foundation 2008-2014. Pembelajaran lainnya juga dapat dibaca di alimahfauzan.id; instagram: @alimah.fauzan

Kelompok intoleran, bukan hanya kelompok yang muncul dari agama Islam. Kelompok non Islam juga kurang lebih melakukan tindakan intoleransi, meskipun misalnya tidak sampai melakukan kekerasan secara fisik. Gerakan-gerakan yang bernuansa puritanisme itu selalu ada di hampir semua agama dan di berbagai macam negara.

Profesor Sumanto Al Qurtuby

Profesor Sumanto Alqurtubi yang secara spesifik memaparkan tentang gerakan intoleransi di Indonesia, bentuk-bentuknya, serta strategi membangun budaya damai di Indonesia. Sumanto sendiri merupakan salah satu Dosen Antropologi Budaya King Fahd University of Petroleum & Minerals di Arab Saudi, Senior Research Fellow Middle East Institute di Singapura, dan anggota Scientific Studies Association (Turki). Sumanto juga sebagai Pendiri dan Direktur Nusantara Institute, sebuah lembaga kajian dan riset ekstra kampus yang fokus di bidang studi agama, budaya, tradisi, dan kerajaan lokal di Indonesia. Dia juga produktif menulis karya ilmiah untuk jurnal di beragam negara, serta puluhan buku dan produktif menulis untuk kuliah virtual di facebook.

Dalam gelar wicara “Stadium General: Bagaimana Menebarkan Paham Toleran dan Moderat di Media Digital” yang diselenggarakan oleh Srikandi Lintas Iman (Srili) Yogyakarta, Sumanto bersama Sakdiyah Ma’ruf menyampaikan pengetahuan dan pembelajarannya secara virtual melalui zoom meeting application, di depan 170-an peserta dari beragam daerah di Indonesia. Gelar wicara ini juga disiarkan langsung melalui youtube live streaming Srikandi Lintas Iman (Srili). Sebelum lanjut membaca, pembelajaran dari pemaparan Sakdiyah Ma’ruf dapat dibaca dengan klik artikel berjudulSakdiyah Ma’ruf: Lawan Intoleransi dengan Konten Empatik Bukan Sekadar Viral.

Siapa sih Kelompok Intoleran, Eksklusif, Radikal dan Semacamnya?

Menurut Prof Sumanto, narasi yang dibangun kelompok intoleran, radikal, eksklusif dan semacamnya, di setiap negara itu bisa berbeda. Sesuai dengan konteks yang terjadi di masyarakat itu sendiri. Dalam konteks catatan pembelajaran ini, Prof Sumanto akan secara khsusus menjelaskan untuk konteks di Indonesia.

“Meskipun beragam, namun ada ciri khas menonjol dari kelompok intoleran adalah suka melakukan tindakan intoleransi dan kekerasan. Itu menjadi salah satu ciri dari kelompok-kelompok ini. Dan kekerasan ini dalam studi ini, definisinya beragam. Dalam konteks indonesia, kelompok yang suka melakukan kekerasan dan intoleransi, ada yang coba mereka usung,” papar Prof Sumanto.

Jadi Narasi Apa yang Dibagun Kelompok Intoleran Ini?

Narasi yang dibangun kelompok intoleran ini beragam, berikut adalah beberapa narasi yang dibangun oleh kelompok intoleran menurut Prof. Sumanto:

  1.  kelompok ingin mengubah atau mentransformasi Indonesia menjadi sebuah negara khilafah (negara Islam) yang mereka impikan. Konsep khilafah mereka tentu berbeda dengan konsep di negara lain. Sejarahnya seperti apa? Itu juga sangat panjang sekali untuk dikaji tersendiri.
  2. Kelompok yang ingin membangun narasi mengganti ideologi dan konstitusi negara, bukan lagi pancasila, tapi diganti yang lain misalnya Al-Qur’an dan lain-lain. Kurang lebih ini beririsan satu sama lain dengna narasi kelompok pertama.
  3. Kelompok yang ingin menjadikan misalnya Indonesia bersyariat, NKRI Bersyariat. Mereka dalam bingkai NKRI, tapi di dalamnya diganti serba syariah, misalnya Perda Syariah dan kebijakan-kebijakan lain yang sesuai dengan syariah Islam atau gagasan/produk keislaman.
  4. Kelompok yang coba ingin mencoba membangun Indonesia tanpa aliran-aliran atau sekte-sekte yang dianggap sesat, termasuk Ahmadiyah, dan kelompok-kelompok yang menurut mereka sesat.
  5. Kelompok-kelompok yang ingin membangun keindonesiaan, membersihkan Indonesia dari praktik-praktik kearifan lokal. Misalnya kelompok-kelompok salafi, mereka tidak tertarik dengan politik, mereka hanya tertarik pada hal moralitas. Mereka tidak tertarik tradisi lokal. Kelompok-kelompok ini juga ada. Tentu saja mereka melakukan kegiatan-kegiatan intoleransi.

Kelompok intoleran, bukan hanya kelompok yang muncul dari agama Islam. 

Yang juga penting dipahami bersama adalah bahwa kelompok intoleran bukan hanya dari kelompok yang muncul dari agama Islam. Kelompok non Islam juga kurang lebih melakukan tindakan intoleransi, meskipun misalnya tidak sampai melakukan kekerasan secara fisik. Gerakan-gerakan yang bernuansa puritanisme itu selalu ada di hampir semua agama dan di berbagai macam negara.

“Bahkan termasuk NU juga ada yang melakukan intoleransi. Jadi intoleransi bisa dilakukan siapa saja, semuanya punya potensi melakukan intoleransi,” tegas Prof Sumanto sekaligus menyarankan pentingnya membaca bukunya yang membahas tentang dampak Kristenisasi dan Islamisasi terhadap budaya lokal.

Jangan lupa juga bahwa kelompok-kelompok pendukung nusantara juga melakukan intoleransi.

“Karena mereka mengalami diskriminasi dan pelakuan intoleransi, akhirnya mereka melakukan intoleransi. Karena mereka ditekan, maka mereka melakukan hal serupa. Sama, keduanya sama-sama melakukan intoleransi,” jelasnya.

Begitu pun dengan kelompok separatisme, juga bisa masuk dalam kelompok yang melakukan tindakan intoleransi.

Apa Saja Bentuk-Bentuk Tindakan Intoleransi?

Bentuk-bentuk tindakan intoleransi pada dasarnya memiliki banyak varian, dari yang level terendah sampai ekstrem. Bentuk intoleransi, bukan hanya kekerasan fisik, tapi juga struktural, verbal, kultural, ekonomi, politik dan lainnya.

Adapun untuk bentuk kekerasan fisik, di antara Seperti contoh berikut ini:

  1. Ada yang melakukan terorisme, tapi bukan satu-satunya bentuk kekerasan yang terjadi.
  2. Ada juga kerusuhan kolektif
  3. Pembunuhan secara massif dan terorganisir dengan target kelompok-kelompok tertentu (seperti komunis)
  4. Ada juga violance jihadism (kekerasan yang dilakukan atas nama jihad).
  5. Ada kekerasan Vigilantizm, yaitu tindakan kekerasan atau intoleransi yang dilakukan untuk mengoreksi perilaku moral masyarakat. Misalnya seperti sweeping warung-warung saat bulan puasa oleh kelompok tertentu, atau misalnya persekusi pasangan yang dituduh melakukan aktivitas yang dianggap meresahkan. Jadi untuk mengoreksi moralitas masyarakat.
  6. Ada kekerasan sekterian, yaitu kekerasan untuk mengintimidasi atau memarginalisasi kelompok-kelompok tertentu karena persoalan tertentu. Misalnya gerakan Anti China dan lain-lain.

Bagaimana Cara Pendekatan yang Tepat untuk Mengembangkan Budaya Damai?

Ada berbagai macam pendekatan dalam mengembangkan budaya damai, namun yang penting adalah sinergi masyarakat dan negara, antara pemerintah dan masyarakat. Sinergi ini penting banget untuk membangun gerakan toleransi dan sebagainya. Misalnya bisa melalui :

  • melalui pendekatan politik
  • melalui kebijakan pemerintah
  • melalui pendekatan hukum
  • melalui pendekatan intelektual
  • melalui media dengan melakukan counter wacana dan media, misalnya dengan menyajikan wacana tandingan
  • melalui pendekatan kultural
  • melalui pendekatan kemanusiaan
  • melalui pendekatan spiritual
  • melalui pendekatan militer

Jika ingin melakukan counter narasi, pastikan disesuaikan dengan subjeknya. Sehingga, bahasa yang digunakan juga akan berbeda. Karena dakwah itu harus disesuaikan dengan konteks audiensnya (Prof Sumanto Al Qurtuby)


Alimah Fauzan

Alimah Fauzan adalah Founder Komunitas Perempuan Berkisah, Expert-Conceil di Daya, Riset & Advokasi (DROUPADI Foundation) 2021, Gender Specialist di Institute for Education Development, Social & Cultural Studies (Infest Yogyakarta) 2015-2019, Pegiat Islam & Gender di Fahmina Foundation 2008-2014. Pembelajaran lainnya juga dapat dibaca di alimahfauzan.id; instagram: @alimah.fauzan

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Contact Us