Memilih Menjadi Orang Tua Tunggal, Bukan Berarti Saya Siap

Published by Husna Fauziah on

About the author

Husna Fauziah adalah ibu dari seorang putra yang masih berproses dan belajar setiap harinya untuk menjadi manusia dan ibu yang lebih baik. Saat ini, Husna aktif di Komunitas Perempuan Berkisah Jabodetabek dan senang menyalurkan hobinya untuk mengisi suara yang bisa dinikmati di akun instagram @suara_nana. Husna dapat dihubungi melalui akun instagram pribadinya @nanna.husna.

Penulis: Husna Fauziah | Editor: Erlin Fadhylah

Memiliki anak adalah sebuah anugerah, terutama bagi mereka yang mendambakan. Namun, bagaimana jika perempuan yang belum siap secara mental, finansial, dan aspek lainnya dikaruniai anak? Itulah yang saya alami.

Saya adalah perempuan penyintas kehamilan tidak direncanakan (KTD). Sebelum menulis ini, saya pernah berbagi pembelajaran saya melalui diskusi yang diselenggarakan oleh Komunitas Perempuan Berkisah tentang pilihan hidup saya. Saya memilih untuk tidak menikah dengan lelaki yang merupakan bapak biologis dari janin saya saat itu. Sampai saat ini, saya memilih menjadi orang tua tunggal bagi anak saya.

Sebagai penyintas KTD, saya sadar bahwa ada tiga pilihan sikap penting yang menurut saya perlu dipahami oleh para penyintas KTD. Apakah kita akan menikah dengan sang ayah dari janin, memilih menjadi orang tua tunggal, atau menitipkan anak kita pada mereka yang mampu mengurusnya atau melakukan aborsi. Tapi saya memilih memilih menjadi orang tua tunggal.

Pengalaman Menghadapi Kehamilan Tidak Direncanakan

Tentu saja, kala itu, beragam perasaan menyelimuti saya, mulai dari rasa takut, rasa bersalah, hingga marah pada diri sendiri. Semua perasaan tersebut datang bersamaan di tengah emosi yang tidak stabil. Sementara, situasi mendesak dan mengharuskan saya untuk berpikir secara jernih agar dapat mengambil keputusan yang terbaik. Akhirnya, saya memilih untuk mempertahankan kandungan saya dan mengizinkan diri saya untuk menjadi seorang ibu di tengah berbagai ketidaksiapan mental maupun finansial.

Ternyata, semua tidak semudah yang saya pikirkan. Menjadi orang tua adalah tanggung jawab yang sangat besar dan tidak bisa dipaksakan, …

Saat itu, saya pikir semua bisa diatasi sembari menerapkan learning by doing untuk menjadi ibu. Ternyata, semua tidak semudah yang saya pikirkan. Menjadi orang tua adalah tanggung jawab yang sangat besar dan tidak bisa dipaksakan, terutama untuk saya pribadi. Ketika mental saya belum siap, bukan hanya saya yang dirugikan, tetapi anak pun akan merasakan dampaknya karena ia tumbuh melihat ibunya dalam kondisi emosi yang labil. Perilaku ini tidak jarang ditiru oleh anak.

Pentingnya Kesiapan Menjadi Ibu

Sebagai manusia, perasaan marah dan menyesal sempat terlintas ketika saya mengalami kesulitan dalam mengatur emosi dan kondisi finansial setelah menjadi ibu. Namun, ketika tanggung jawab sudah di depan mata, mau tidak mau saya harus bisa belajar untuk memperbaiki diri.

Jika saat ini saya kembali menjadi lajang dan mendapat pertanyaan mengenai kesiapan memiliki anak, saya tentu akan menjawab tidak siap dengan tegas. Jawaban tersebut bukan berarti saya tidak menyayangi anak saya. Justru karena saya menyayanginya, saya mau anak saya memiliki ibu yang sudah siap untuk memberikan kehidupan yang layak kepadanya.

Layak bukan hanya soal materi, tetapi juga tentang emosionalnya. Memang benar teori dan praktik tak selalu sejalan. Namun, andaikan saya telah siap terlebih dahulu secara emosional maupun finansial, tentu akan lebih mudah bagi saya dalam memberikan kehidupan yang layak kepada anak saya. 

Andai persiapan saya matang, saya pasti bisa dan berhak memutuskan jalan hidup saya karena menurut saya hanya diri sendiri yang bisa mengenali kemauan diri dengan baik. Namun, tantangannya adalah anak saya sudah ada, apakah saya menyesali keputusan untuk tetap mempertahankan janin saya saat itu? Tentu tidak karena bagi saya, saat ini saya memang dituntut agar mau belajar menjadi ibu dan saya pun bersedia untuk melakukannya.

Tantangan dan Proses Belajar Menjadi Ibu 

Proses belajar menjadi ibu tidak mudah bagi saya, apalagi saya tumbuh dari keluarga broken home. Banyak sekali PR yang harus saya tuntaskan satu persatu. Mulai dari menyembuhkan luka lama semasa kecil yang ternyata berdampak saat saya menjadi seorang ibu hingga terus belajar agar bisa tetap berdaya di tengah keterbatasan saya.

Maka, saya mulai untuk belajar banyak hal. Saya mulai berkenalan dengan diri sendiri supaya saya bisa mengenali sisi negatif dan positif yang saya punya. Proses ini saya lakukan untuk memperbaiki yang negatif dan mempertahankan, bahkan memupuk, kelebihan saya yang mungkin belum maksimal. 

Selanjutnya, saya belajar berdamai dengan masa lalu. Berdamai dengan masa lalu memang tidak mudah bagi saya, apalagi dalam perjalanan saya menguraikan masa lalu yang saya anggap menyakitkan satu per satu. Terkadang, ada memori yang membuat saya menyesal dan merasa hal tersebut seharusnya tidak terjadi. Hal ini tak jarang membuat usaha saya untuk berdamai dengan masa lalu menjadi sebuah emosi negatif. Namun, pelan tapi pasti proses itu saya nikmati agar bisa memutuskan rantai masalah dari masa lalu supaya anak saya tidak merasakan apa yang saya rasakan dulu.

Namun, pelan tapi pasti proses itu saya nikmati agar bisa memutuskan rantai masalah dari masa lalu supaya anak saya tidak merasakan apa yang saya rasakan dulu.

Selanjutnya, saya mencari relasi yang sekiranya menerapkan pola asuh yang mengutamakan ketersediaan ruang aman bagi anak. Saya mengikuti webinar tentang parenting, belajar dari orang-orang yang lebih berpengalaman, dan yang baru saya lakukan akhir-akhir ini, membaca buku tentang parenting.

Begitu pun dengan masalah finansial, saya belajar manajemen diri agar bisa mendapatkan penghasilan walaupun dari rumah di tengah keterbatasan yang ada. Meskipun kepala terasa penuh memikirkan ini itu dan tidak jarang dihampiri kesedihan, banyak sekali pelajaran yang bisa saya ambil dari keadaan saya.

… yang terpenting belajar memahami untuk apa saya memutuskan untuk mempunyai anak.

Saya mulai menyadari pentingnya belajar sebelum memutuskan untuk memiliki anak. Belajar di sini bisa saya artikan belajar mempersiapkan diri secara emosional, memahami diri sendiri, mengatur masalah finansial, dan yang terpenting belajar memahami untuk apa saya memutuskan untuk mempunyai anak. Karena menjadi orang tua itu benar-benar tugas yang tidak bisa dilimpahkan kepada orang lain ketika saya sedang tidak sanggup. Itulah mengapa penting bagi perempuan untuk mempersiapkan diri sebaik-baiknya sebelum memutuskan untuk menjadi ibu. 

Kisahku dan perempuan penyintas KTD lainnya, selengkapnya dapat disimak di video ini:


Husna Fauziah

Husna Fauziah adalah ibu dari seorang putra yang masih berproses dan belajar setiap harinya untuk menjadi manusia dan ibu yang lebih baik. Saat ini, Husna aktif di Komunitas Perempuan Berkisah Jabodetabek dan senang menyalurkan hobinya untuk mengisi suara yang bisa dinikmati di akun instagram @suara_nana. Husna dapat dihubungi melalui akun instagram pribadinya @nanna.husna.

1 Comment

Mia · August 24, 2021 at 11:13 am

Semangat, ya ?

Leave a Reply

Avatar placeholder

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Contact Us