Pahami 5 Bahasa Cinta untuk Relasi Sehat Versi Gary Chapman

Published by Erlin Fadhylah on

About the author

Erlin Fadhylah atau biasa disapa Erfa adalah lulusan Sastra Indonesia dari Universitas Negeri Jakarta. Setelah sepuluh tahun berprofesi sebagai pengajar di beberapa sekolah internasional, Erfa kini berdaya di rumah saja dengan aktif menulis artikel yang diterbitkan di berbagai media cetak dan daring. Hobinya membaca buku membawa Erfa berkenalan pada dunia menulis fiksi dan mengantarkannya pada profesi pekerja lepas sebagai pengulas novel serta penyelaras aksara. Beberapa tulisannya dapat dibaca melalui tautan linktr.ee/erfa22. Ia juga dapat disapa melalui akun instagramnya @erfa22.

“Jika ingin membangun relasi intim, kita harus tahu keinginan masing-masing. Cinta sejati itu memerdekakan”

Ngobrolin Buku “5 Love Languages, The Secret to Love that Lasts

Salah satu agenda Komunitas Perempuan Berkisah adalah  mengadakan kegiatan ngobrolin buku. Kegiatan ini merupakan salah satu kegiatan pemberdayaan diri komunitas PB. PB yakin bahwa untuk dapat berdaya mesti berangkat dari ilmu. Membaca dan berdiskusi adalah bentuk kegiatan untuk mendapatkan ilmu tersebut. Melalui kegiatan ngobrol santai ini diharapkan para anggota PB dapat membangun kebiasaan membaca, merefleksikan diri, memperkuat refleksi tersebut agar menjadi pembelajaran diri.

Pada sesi ngobrolin buku kali ini, Komunitas PB Jabodetabek memilih buku 5 Love Language dari Gary Chapman. Buku yang sangat populer ini memiliki banyak seri, tetapi dalam diskusi kali ini, buku yang kami baca dan diskusikan adalah The 5 Love Languages, The Secret to Love that Lasts. 

Diskusi yang dipandu oleh Community Leader PB Jabodetabek, Sandra Suryadana ini dibagi ke dalam tiga sesi yang dimulai di awal Juni 2021 dan berakhir pada pertengahan Agustus 2021. Pada setiap sesi ngobrol santai, para peserta didampingi oleh seorang Tim Konselor Feminis PB yang membantu menjawab keresahan atau sekadar menguatkan para peserta diskusi yang berbagi pengalaman terkait bahasa cinta. Pada sesi pertama ngobrolin buku, ada Nurismi Ramadhani, S. Psi., M. Hum yang mendampingi. Sesi ngobrolin buku bab keempat hingga kedelapan didampingi oleh Fitria, S. Psi., dan sesi ketiga didampingi oleh Poppy R. Dihardjo. 

Lima Bahasa Cinta

Pada dasarnya, bahasa cinta merupakan sebuah cara seseorang mengekspresikan kasih sayangnya kepada orang lain dan/atau harapan seseorang untuk mendapatkan bentuk kasih sayang dari orang lain. Pada bukunya, Dr. Gary Chapman membagi bahasa cinta ini menjadi lima, yaitu:

  1. Words of Affirmation merupakan bahasa cinta yang diungkapkan lewat pujian, apresiasi, dan kalimat lainnya yang mengungkapkan rasa sayang dan perhatian. Pemilik bahasa cinta ini akan senang mendengar pujian kecil yang diungkapkan oleh pasangannya meski bukan dalam momen spesial. Kalimat sederhana seperti,“Kamu terlihat cantik pakai baju ini,” atau “Terima kasih, ya sudah jaga anak-anak seharian,” akan membuat seseorang yang memiliki bahasa cinta ini merasa bahagia.
  2. Quality time adalah bentuk bahasa cinta yang mengharapkan adanya waktu berkualitas bersama pasangan. Tak sekadar menghabiskan waktu bersama, pemilik bahasa cinta ini mengharapkan terjalin komunikasi dua arah yang berkualitas tanpa gangguan dari luar. Sediakan waktu mengobrol bersama tanpa diganggu ponsel atau pergi kencan singkat berdua tanpa anak-anak bisa menjadi ide untuk menunjukkan kasih sayang pada pemilik bahasa cinta quality time ini.
  3. Receiving Gifts adalah bentuk bahasa cinta yang merasa bahwa kado merupakan tanda cinta. Bukan berarti pemilik bahasa cinta ini mengharapkan kado mahal dari pasangan, tetapi lebih kepada makna dari kado dan kejutan yang diberikan sebagai bentuk perhatian. Menyelipkan kartu buatan sendiri yang berhadiah pelukan atau memberi kado kecil buatan sendiri bisa menjadi kejutan manis untuk pemilik bahasa cinta ini.
  4. Acts of Service adalah cara menunjukkan cinta lewat tindakan. Kalimat populer “Cinta bukan sekadar kata-kata” merupakan penggambaran paling pas untuk pemilik bahasa cinta ini. Sosok yang memiliki bahasa cinta act of service akan merasa begitu dicintai saat pasangannya memberikan bantuan tanpa diminta untuk meringankan bebannya.
  5. Physical Touch merupakan bentuk bahasa cinta terakhir yang kerap disalahartikan oleh sebagian orang. Physical touch bukan berarti hubungan menunjukkan cinta lewat hubungan seksual, pemilik bahasa cinta ini akan merasa bahagia jika bisa menunjukkan kedekatan dengan orang yang disayang lewat sentuhan kecil yang bermakna seperti membelai rambut atau menggenggam tangan. 

Cari Tahu Bahasa Cintamu

Setelah mengetahui kelima jenis bahasa cinta, beberapa dari kita mungkin masih ragu mengenali bahasa cinta kita. Untuk itu, coba lakukan dialog diri dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan ini.

  1. Apa hal yang dilakukan pasangan atau sebaliknya tidak dilakukan oleh pasangan dan sangat menyakitimu?
  2. Apa yang paling sering kamu minta dari pasangan?
  3. Bagaimana caramu mengekspresikan cinta kepada pasangan?

Jawaban dari ketiga pertanyaan di atas kemungkinan besar adalah bentuk bahasa cintamu yang membuatmu merasa paling dicintai dan bahagia. Jika ingin lebih akurat, kita juga dapat mengisi kuis di www.5lovelanguages.com/quizzes. Kita akan mendapatkan persentase dari tiap bahasa cinta yang ada dan dapat membantu kita untuk mengidentifikasi jenis bahasa cinta yang dominan pada diri kita.

Pentingya Memahami Bahasa Cinta

“Jika ingin membangun relasi intim, kita harus tahu keinginan masing-masing.”

Setiap orang punya bahasa cinta yang berbeda dan tidak mudah untuk mengenali bahasa cinta satu sama lain. Padahal, penting memahami bahasa cinta, terutama bahasa cinta kita dan bahasa cinta pasangan kita untuk membentuk suatu hubungan yang saling mendukung kesehatan emosional. 

Bahaya memasuki dunia pernikahan tanpa memahami diri sendiri, termasuk bahasa cinta diri sendiri karena akan rentan terjadi problem. Cinta saja tidak cukup untuk bertahan dalam hubungan. Sama seperti jenis emosi lainnya, sebetulnya rasa cinta yang menggebu-gebu hanya bertahan selama dua tahun. Itu sebabnya dengan memahami bahasa cinta, kita akan memiliki fondasi dalam mengatasi kerikil yang mungkin terjadi dalam hubungan. 

“Bayangan kita, pernikahan itu sempurna. Sulit mempercayai sebaliknya ketika kita sedang jatuh cinta.”

Ada banyak dinamika yang akan dihadapi dalam relasi pernikahan. Pastikan ketika jatuh cinta, itu adalah bentuk cinta yang saling menumbuhkan dan mengisi, bukan sekadar obsesi. Kebanyakan orang meyakini bahwa kebahagiaan di awal jatuh cinta akan bertahan selamanya. Banyak orang belum mampu berkaca kembali ke dirinya dan mengenali kebutuhan tangki emosinya. Pahami diri sendiri terlebih dahulu baru kemudian kenali calon pasangan untuk membangun relasi setara dan saling bertumbuh. 

Jika kita sudah memahami bahasa cinta pasangan, kita dapat mengisi tangki cinta pasangan kita. Begitupun saat kita memahami bahasa cinta kita, kita akan lebih memahami kebutuhan tangki cinta kita dan lebih mudah untuk mengkomunikasikannya kepada pasangan. Karena, konsep saling melengkapi satu sama lain dalam suatu hubungan artinya bisa saling mengisi tangki cinta bersama pasangan.

“Kita harus mau belajar bahasa cinta utama pasangan kita bila ingin menjadi komunikator cinta yang efektif.

Pentingya Kompromi untuk Saling Memahami

“Mungkinah di balik pasangan yang menyakiti ada tangki kosong yang tidak terlihat? Bila kita mengisinya, apakah hubungan kita bisa kembali?”

Setelah berhasil mengenali bahasa cinta diri dan pasangan, beberapa dari kita mungkin masih terkendala untuk saling mengisi tangki cinta untuk menciptakan hubungan yang membahagiakan. Perlu dipahami bahwa tidak mudah untuk orang lain melakukan hal yang kita pikir mudah. Jadi, jangan mudah kecewa jika pasanganmu masih dalam tahap berusaha memenuhi tangki cintamu dengan bahasa cinta yang kamu butuhkan. Terus berusaha komunikasikan, tunjukkan caranya, dan belajar juga untuk menerima usaha yang telah dilakukan oleh pasangan. Jangan lupa apresiasi usaha pasangan dalam memenuhi tangki cinta kita meski belum sesuai ekspektasi. Ingat, biasanya yang membuat kita kecewa kepada pasangan adalah ekspektasi kita sendiri, bukan pasangan kita. 

“When an action doesn’t come naturally to you, it is a greater action of love.”

Pasangan yang sudah berusaha memenuhi bahasa cinta kita, tidak melakukan hal tersebut untuk dirinya sendiri, tetapi untuk menunjukkan apresiasi dan rasa cintanya pada kita. Jangan terlalu menekan dan mengkritik pasangan yang masih berusaha memenuhi tangki cinta kita karena butuh kerja sama dengan pasangan untuk membuat sebuah hubungan yang berhasil, salah satunya dengan cara kompromi.

Untuk memenuhi kebutuhan bahasa cinta bersama pasangan, Dr. Gary Chapman pada bukunya menyarankan permainan cek tangki cinta. Ketika pulang ke rumah, salah satu harus bertanya pada yang lain, “Dari skala 1–10, berapa isi tangki cintamu hari ini?” 0 artinya kosong, 10 artinya penuh dengan cinta. Jika pasangan menjawab dengan angka yang rendah, kita dapat menawarkan diri dengan langsung bertanya, “Apa yang dapat kulakukan untuk mengisi tangki cintamu?” Dengan cara ini, diharapkan pasangan bisa saling terbuka untuk mendiskusikan kebutuhan bahasa cintanya agar kelak bisa saling memahami dan tercipta hubungan yang lebih harmonis.

Mulai Terapkan Bahasa Cinta pada Dirimu Sendiri!

“Cinta berawal atau harus berawal dari rumah. Setiap anak memiliki kebutuhan emosi dasar yang harus dipenuhi agar ia menjadi stabil secara emosi. Di dalam diri setiap anak ada tanki emosi yang menunggu untuk diisi dengan cinta.”

Segala jenis relasi, selalu bermula dari dari rumah, dimulai dari hubungan anak dan orang tua. Setiap anak, memiliki tangki cinta yang perlu diisi oleh orang tuanya di rumah. Tangki cinta yang tidak pernah terisi penuh di masa anak-anak berpengaruh pada relasi di masa dewasa. Karena itu, penting untuk memenuhi tangki cinta anak sejak dini agar kelak anak memiliki kepercayaan diri dan dapat membagi cinta kepada pasangannya. Anak yang tumbuh dalam keluarga yang jarang mendapat ungkapan cinta secara verbal biasanya juga akan tumbuh menjadi sosok yang sulit bicara cinta kepada pasangannya karena kita tidak akan bisa memberi apa yang tidak kita miliki. 

“Dalam hati setiap manusia ada hasrat untuk menjalin relasi intim dan untuk dicintai orang lain.”

Namun, jika kita merasa tangki cinta kita tidak terisi di masa kanak-kanak, jangan tunggu orang lain mengisi tangki cinta tersebut untukmu. Bangun relasi diri yang positif dengan belajar menjawab kebutuhan bahasa cintamu sendiri. Orang pertama yang harus kita cintai adalah diri kita sendiri. Sebelum kita mempraktikkan bahasa cinta ini kepada pasangan, cobalah untuk menerapkan ke diri sendiri terlebih dahulu. Misalnya, jika bahasa cintamu words of affirmation, bercerminlah lalu puji dirimu sendiri setiap pagi. Jika bahasa cintamu adalah quality time, cari kegiatan yang membuatmu merasa terkoneksi dengan diri sendiri secara optimal, misalnya journaling atau melakukan perawatan diri. Karena cinta itu pilihan, mencintai diri sendiri setiap hari pun merupakan pilihan.

“It is never too late to express love.” 

Kita berhak untuk dicintai termasuk mencintai diri sendiri. Seberapa besar pun orang lain mencintai kita, jika kita tidak mencintai diri sendiri kita tidak akan pernah merasakannya. Maka mulailah terapkan lima bahasa cinta ini dari mencintai diri sendiri. 

“Cinta sejati itu memerdekakan.”


Erlin Fadhylah

Erlin Fadhylah atau biasa disapa Erfa adalah lulusan Sastra Indonesia dari Universitas Negeri Jakarta. Setelah sepuluh tahun berprofesi sebagai pengajar di beberapa sekolah internasional, Erfa kini berdaya di rumah saja dengan aktif menulis artikel yang diterbitkan di berbagai media cetak dan daring. Hobinya membaca buku membawa Erfa berkenalan pada dunia menulis fiksi dan mengantarkannya pada profesi pekerja lepas sebagai pengulas novel serta penyelaras aksara. Beberapa tulisannya dapat dibaca melalui tautan linktr.ee/erfa22. Ia juga dapat disapa melalui akun instagramnya @erfa22.

0 Comments

Leave a Reply

Avatar placeholder

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Contact Us