Tren Minta Maaf Online Pelaku Kekerasan

Published by Poppy R Dihardjo on

Hari ini sekali lagi melihat postingan pernyataan terbuka dari seorang pelaku kekerasan seksual, meminta maaf dan berjanji tidak akan mengulangi lagi. Sekaligus foto dengan muka sumringah. Sebelumnya juga banyak yang bikin video ‘karifikasi’ atau permohonan maaf ke korban dengan cengangas cengeges. I mean, really? Seriously?!

“Semangat ya Bro!”

“Semua orang pasti pernah bikin salah, lo keren udah mau ngakuin kesalahanlo!”

“Maju terus ya! Salut!”

Dan tiap kali ada yang posting minta maaf, pasti ada saja gerombolan orang yang salah fokus dan malah mengelu-elukan pelaku dengan memberi label gentleman lah, ksatria lah, dan tetap menunjukkan dukungan.

Lalu bagaimana dengan KORBAN?

Jangan salah fokus. Permintaan maaf seterbuka apapun plus foto mukanya tetap tidak ada gunanya jika tidak ada upaya dari pelaku untuk bertanggun jawab membantu pemulihan korban dari trauma yang telah dia sebabkan!

Jadi alih-alih ‘menyemangati’ dan ‘memuji’ pelaku karena dianggap sudah berlaku gentle, ‘SEMANGATI’ pelaku untuk bertanggung jawab membantu korban untuk pulih!

Orang baik tidak akan melakukan kekerasan seksual. Minta maaf secara terbuka di ranah digital tidak bisa membantu korban memulihkan trauma yang diakibatkan oleh tindakan kekerasan itu sendiri. Pelaku harus bertanggung jawab bantu korban untuk pulih.

Setiap tempat adalah sekolah, setiap orang adalah guru, dan setiap kejadian adalah ilmu.

Wow! Keren ya kalimat pembuka dari caption ‘permohonan maaf’ seorang pelaku kekerasan seksual yang saya baca tadi pagi, dan bikin darah mendidih…banyak banget yang mengelu-elukan pelaku!

Saya lebih ingin merangkul mereka dan mengajak mereka untuk #GERAKBERSAMA lawan #KEKERASANSEKSUAL dengan memberikan mereka pemahaman betapa pentingnya kita #bersamapenyintas.

  1. Meminta maaf atas kekerasan seksual yang dilakukan dua tahun lalu itu bukan prestasi ataupun nobility. Bayangkan, korban harus menunggu 2 tahun untuk ‘akhirnya’ pelaku ngaku. Ngapain aja kau selama 2 tahun, ferguso?!
  2. “Tidak semua pelaku berani mengakui kesalahannya, jadi ya mesti diapresiasi!” Itu alasan yang bodoh untuk mendukung pelaku. Selain menihilkan perjuangan penyintas selama 2 tahun dalam mencari keadilan, KEKERASAN SEKSUAL yang dilakukan jadi seolah remeh.
  3. “Orang udah minta maaf ya jangan lalu dirundung masal dong! Sanksi sosial itu kekanakan!” Gitu kata salah satu komentar, yang kami di @norecruitlist jawab dengan: Jika meminta pelaku bertanggung jawab atas perbuatannya dengan membantu korbannya pulih, sebagai tindakan yang kekanakan.

Kalau dulu Dao Ming Tse bilang gini di Meteor Garden: Kalau minta maaf ada gunanya, buat apa ada polisi? Ijinkanlah saya tutup tulisan ini dengan: Kalau minta maaf ada gunanya, buat apa ada kami para feminis?

About the author

Poppy R Dihardjo dikenal dengan Kak Pop. Kak Pop merupakan Founder Perempuan Tanpa Stigma atau kita bisa mengakses akun resminya di instagram dengan nama @pentasindonesia ; Akun Kak Pop sendiri adalah @poppydihardjo .


Poppy R Dihardjo

Poppy R Dihardjo dikenal dengan Kak Pop. Kak Pop merupakan Founder Perempuan Tanpa Stigma atau kita bisa mengakses akun resminya di instagram dengan nama @pentasindonesia ; Akun Kak Pop sendiri adalah @poppydihardjo .

0 Comments

Leave a Reply

Avatar placeholder

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Contact Us