Lepas dari Toxic Relationship: Mengalahkan Ketakutan dan Kecemasan Diri

Published by Dyna Fransisca on

About the author

Dyna Fransisca adalah Sarjana Hukum lulusan Universitas 17 Agustus 1945 Samarinda. Follow instagram Dyna dan berdiskusilah dengannya soal Toxic Relationship dan isu lainnya, melalui akun @violetdusty.

Setelah bertahun-tahun lamanya terjerat dalam toxic relationship (hubungan beracun), sekarang saya dapat berbangga diri. Kenapa? Karena akhirnya saya mampu mengalahkan semua ketakutan dan kecemasan saya sendiri.

Dyna Fransisca

Setiap mendengar istilah toxic relationship, entah mengapa yang selalu muncul di dalam benak saya adalah film Posesif yang pernah diperankan oleh Adipati Dolken dan Putri Marino. Film tersebut menceritakan tentang dua pasang kekasih yang awalnya terlihat sangat manis dan penuh kebahagiaan namun lambat laun hubungan tersebut justru berubah menjadi deretan mimpi buruk karena sang kekasih ternyata memiliki sifat toxic, yaitu posesif dan manipulatif.

Ngomong-ngomong soal hubungan yang sifatnya beracun seperti contoh di atas, sebenarnya hal ini sudah sering terjadi kepada banyak orang, lho―termasuk saya sendiri. Namun, kurangnya pengetahuan akan toxic relationship itu sendiri, membuat banyak pihak merasa bahwa hubungan yang tengah mereka jalani saat ini, ya, baik-baik saja.

Iya, memang benar, biasanya seseorang akan mengalami kesulitan saat mendeteksi adanya sifat beracun yang ada pada pasangan atau di diri kita sendiri. Bahkan tidak sedikit kasusnya ketika kita sudah menyadari adanya perilaku toksik dalam hubungan tersebut, kita malah semakin sulit untuk keluar dari ‘lingkaran setan’ itu.

Jadi bagaimana caranya agar kita tahu bahwa saat ini sedang berada di dalam hubungan yang tidak sehat?

Sebenarnya agak susah, mengingat kita sebagai manusia pasti memiliki toxic trait-nya masing-masing. Mungkin, langkah awalnya adalah dengan bertanya kepada diri sendiri, apakah kamu merasa bahagia dengan hubungan yang sedang kamu jalani bersama pasanganmu saat ini?

Apakah kamu merasa dihargai? Karena idealnya, sebuah hubungan dapat dikatakan sehat apabila terdapat hubungan timbal balik yang sifatnya mutualisme atau saling menguntungkan satu sama lain.

Empat pilar yang wajib diterapkan dalam hubungan yang sehat adalah adanya komunikasi yang baik, timbulnya rasa aman dan saling menghormati, memiliki kepercayaan yang setara antara satu dengan lainnya, dan mampu memberikan dukungan satu sama lain.

Namun, apabila hubungan yang sedang kalian jalani saat ini membuat kalian merasa kurang dihargai, tidak merasa bebas dalam berpendapat atau melakukan sesuatu dapat dipastikan saat ini kalian sedang berada dalam hubungan yang toxic. Bahkan tidak sedikit pula seseorang yang terjerat dalam toxic relationship ini kehilangan rasa kepercayaan dirinya.

Percaya atau tidak, di saat seseorang memiliki relasi yang buruk dengan orang-orang terdekatnya, cepat atau lambat, hal tersebut akan menimbulkan efek post-traumatic stress disorder atau yang biasa disebut dengan gangguan stress pasca trauma. Semakin lama kamu terjebak dalam situasi ini, maka akan semakin besar pula peluangmu untuk mengalami stres berat hingga gangguan kecemasan lainnya. Hal ini tentu akan menimbulkan banyak efek yang merugikan tidak hanya kepada diri kita sendiri, namun juga untuk orang-orang di sekitar.

Jadi, sebelum memulai suatu hubungan dengan seseorang ada baiknya kita lebih dulu mengenal apa saja yang dapat dikategorikan sebagai toxic relationship seperti yang sudah diuraikan di bawah ini:

  1. Sering berbohong dan melakukan gaslighting
  2. Tidak mau mengakui kesalahan dan sulit untuk memaafkan
  3. Melakukan segala bentuk kekerasan; verbal, non-verbal, seksual, dll.
  4. Sulit berkomunikasi dengan baik sehingga mengakibatkan adanya permasalahan yang berulang
  5. Selalu merendahkan, mengkritik, dan cemburu terhadap pasangan
  6. Selalu bersikap posesif, mengekang, dan menutup aksesmu untuk bersosialisasi dengan orang lain.
  7. Sering mengancam, menuduh, dan memaksa sehingga menimbulkan perasaan tidak aman

Padahal Sifat Toksik Tidak Melulu Soal perselingkuhan

Dulu, saya selalu memegang prinsip apapun masalah yang terjadi dalam hubungan percintaan saya pasti akan dapat teratasi selama itu bukanlah masalah perselingkuhan. Padahal sifat toksik kan tidak melulu soal perselingkuhan. Di saat pacarmu membandingkanmu dengan mantan kekasihnya atau tidak pernah memprioritaskanmu sekalipun, berarti hubunganmu sudah memasuki area red flags―sebuah pertanda bahwa kalian harus menghentikan hubungan itu sesegera mungkin.

Pengalaman saya saat menghadapi toxic relationship pun tidak pernah saya ceritakan kepada orang-orang terdekat, karena saya tahu respon mereka akan seperti apa. Pernah suatu hari saya sedang berkumpul bersama beberapa orang teman, dan salah satu teman saya berkata bahwa saat ini ia sedang berada di dalam fase bosan menjalankan hubungan dengan pacarnya karena sering dicemburui dengan alasan-alasan yang tidak masuk akal. Bahkan tidak jarang sampai memukul dan menendang karena menurut cerita teman saya kala itu, sang kekasih ini memang memiliki sifat yang sangat temperamental. Spontan, salah seorang teman saya yang lainnya memberikan respon dengan berkata, “Yaudah, putusin aja, sih!” “Kalau udah nggak nyaman, ngapain masih diterusin?” ”Terlalu bucin, sih, lo!”

Percayalah tidak-semudah-itu. Setelah mendengarkan beberapa respon dari beberapa teman saya tersebut, saya akhirnya hanya bisa terdiam. Pasalnya banyak sekali perempuan di dunia ini yang enggan melarikan diri dari hubungan toksik, karena dihinggapi oleh banyaknya perasaan cemas dan insecure. Takut merasa kesepian. Takut tidak ada yang mau bersama dirinya lagi. Selalu beranggapan bahwa pasangannya akan berubah.

Ancaman Bunuh Diri juga Toksik

Tidak sedikit pula yang akhirnya menjadi terbiasa dengan hubungan yang tidak sehat seperti ini karena sejak kecil sudah tumbuh dalam ruang lingkup yang toksik juga (dalam keluarga, misalnya). Bahkan ada beberapa kasus yang lebih serius lagi, lho, misalnya sang kekasih mengancam akan bunuh diri jika ditinggalkan, kerap meneror, ada juga yang sampai mengancam akan menyebarkan aib si perempuan jika memilih untuk mengakhiri hubungan tersebut. Jadi semua itu tidak semudah mengucapkan ‘tinggalin aja!’ it’s harder than you think, guys. 

Kalau saat ini kalian tengah terjebak dalam hubungan yang tidak sehat, beberapa saran yang akan saya berikan mungkin akan terdengar klise. Mencari pertolongan kepada orang-orang yang dapat dipercaya, misalnya. Iya, tahu, tidak semua orang punya keberanian untuk speak up, namun meminta bantuan kepada orang-orang terdekat seperti keluarga, sanak saudara, sahabat, ataupun ke orang yang jauh lebih profesional merupakan salah satu langkah awal agar kita dapat keluar dari jeratan ini sesegera mungkin. So, please. Let someone know.

Ingat, Kita Tak Dapat Mengubah Watak Pasangan

Ada pula istilah “you are not your partner’s therapist.” yang menekankan fakta bahwa sesungguhnya kita tidak dapat mengubah watak maupun perilaku pasangan. Dulu, saya sering kali bertanya-tanya, apakah saya harus bertanggung jawab terhadap perilaku pasangan? Apa saya punya kewajiban untuk mengubah sikap pasangan saya? Jawabannya tentu saja tidak! Ini adalah sebuah miskonsepsi terbesar yang biasanya dilakukan orang-orang saat menghadapi toxic relationship. Ingat, bukan tugasmu untuk mengubah sikap pasanganmu, karena itu adalah tanggung jawab yang sifatnya individual. Hanya diri kita sendiri lah yang dapat mengubah perilaku kita. Bukan orang lain. 

Yuk, Belajar Memaafkan & Melepaskan

Belajar untuk memaafkan, melepaskan dan menerima segala hal yang sudah terjadi mungkin merupakan langkah-langkah terakhir yang mau tidak mau harus dilalui. Menghadapi kesulitan-kesulitan tersebut tentu saja akan terasa semakin berat apabila kita tidak memiliki support system yang mau membantu untuk mencarikan jalan keluarnya. Maka dari itu, besar sekali peranan orang-orang terdekat untuk tetap aware bahwa toxic relationship itu nyata dan hal-hal seperti ini kerap sekali terjadi di sekitar kita. Upaya melepaskan diri dari hal tersebut juga tidak mudah. Butuh proses yang cukup panjang. Jadi tolong hentikan diskriminasi terhadap perempuan yang tengah berjuang keluar dari jerat-jerat hubungan yang toksik. Cukup dengan melakukan hal-hal kecil seperti mendengarkan permasalahan mereka dan tidak menghakimi itu saja sudah dapat meringankan sedikit beban mereka kok!

Saya Bangga Lepas dari Hubungan Beracun

Akhir kata, setelah bertahun-tahun lamanya terjebak dalam toxic relationship, sekarang saya dapat berbangga diri. Kenapa? Karena akhirnya saya mampu mengalahkan semua ketakutan dan kecemasan saya sendiri. Kalau dulu mungkin saya akan selalu berpikir “biar aja lah toxic, cuma dia yang mau menerima gue!” eh, sekarang malah mikir, “kok gue bisa sekuat itu ya bertahan di hubungan seperti ini?” karena sekarang mindset-nya sudah berubah. Saat kita udah paham sama value diri kita sendiri, bagaimana cara kita berpikir dan menyelesaikan masalah tentunya akan berubah juga. So, please, jangan pernah takut untuk reach out di saat kamu terjebak di dalam hubungan yang toksik, ya!


Dyna Fransisca

Dyna Fransisca adalah Sarjana Hukum lulusan Universitas 17 Agustus 1945 Samarinda. Follow instagram Dyna dan berdiskusilah dengannya soal Toxic Relationship dan isu lainnya, melalui akun @violetdusty.

0 Comments

Leave a Reply

Avatar placeholder

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Contact Us