Semua Ibu Berhak Menyusui dengan Bahagia

Published by Siti Fatimah on

Namaku Siti Fatimah. Aku seorang ibu pekerja dengan dua anak, senang berjualan, dan tertarik dengan isu gerakan menyusui. Aku akan menceritakan sedikit kisahku yang mungkin belum menginspirasi dibandingkan perempuan-perempuan lainnya. Namun, sayang rasanya jika kisah ini aku simpan sendiri.

Latar Belakang Inisiatif di Bidang ASI

Tahun 2012, aku melahirkan seorang putri cantik bernama Naura. Tiga bulan waktu cuti melahirkan terasa sangat cepat sekali. Aku ingin menjadi ibu pekerja yang tetap dapat memberikan Air Susu Ibu (ASI) untuk si buah hati. Namun, sebagai seorang ibu baru banyak hal yang belum aku pahami, termasuk cara memompa ASI, manajemen penyimpanan, teknik pencairan Air Susu Ibu Perah (ASIP), teknik pemberian ASIP ke bayi dan ilmu tentang ASIP lainnya. 

Walaupun sekarang banyak media edukasi tentang hal tersebut, tetapi tetap saja ada yang terlewatkan. Hingga suatu ketika, aku membaca sebuah pos di salah satu grup media sosial Facebook. Aku pun menyadari ada yang salah dengan teknik pencairan ASIP yang selama ini kulakukan. 

Prinsip dasar penyimpanan dan pencairan ASIP adalah menjaganya dari perubahan suhu yang tidak terlalu drastis. ASIP beku tidak boleh langsung dipanaskan dan mesti dibiarkan mencari lewat perubahan suhu bertahap. Hal tersebut bertujuan untuk tetap menjaga kandungan gizi makro dan mikro dalam ASIP agar tidak banyak rusak karena proses oksidasi.  Sementara, selama ini aku mencairkan ASIP beku dengan cara direbus. Ya Allah … Berapa banyak gizi anakku yang sudah terbuang? 

Rasanya sedih sekali karena aku menyadari kesalahanku itu setelah sebulan kembali bekerja. Aku pun sadar dan segera berbenah diri sehingga aku lebih aktif belajar tentang manajemen ASIP ini. Aku pun semakin aktif bertanya kepada admin grup menyusui atau seorang konselor menyusui. Aku lebih banyak membaca buku maupun ilmu-ilmu di media sosial. Aku juga rajin mengikuti kelas menyusui bahkan sempat ikut rekrutmen menjadi staf di AIMI Cabang Sleman. 

Semua usahaku akhirnya berbuah manis. Putriku, Naura, tumbuh sehat dan lincah, ASI-ku lancar bahkan berlebih. Aku pun berniat ingin mendonorkan ASIP-ku untuk bayi yang membutuhkan. Semua pengalaman ini juga membuatku ingin memberikan edukasi tentang manajemen ASIP kepada para ibu lainnya agar mereka tidak melakukan kesalahan yang sama sepertiku. 

Inisiatif Mendonorkan ASIP yang Mendapat Tantangan

Aku pun mulai merealisasikan niatku untuk mendonorkan ASIP. Langkah pertama yang kulakukan adalah mengeposkan informasi terkait donor ASIP di media sosial pribadi maupun grup resmi AIMI ASI. Aku memastikan bahwa proses donor ini dilakukan sesuai syarat dan ketentuan AIMI ASI sehingga aku pun memberikan detail diri, anak, serta detail mengenai ASIP yang akan kudonorkan. Aku juga menambakan syarat agar penerima donor mau tetap menjaga silaturahmi denganku.  

Anak susuku yang pertama adalah keponakan dari temanku. Temanku tersebut menghubungi sebab keponakannya lahir prematur sementara ASI sang ibu belum keluar. Susu formula untuk bayi belum direkomendasikan oleh dokter sehingga disarankan untuk mencari donor ASI. 

Sebelum mendonorkan ASIP-ku, aku membicarakan hal ini ke suami. Ternyata, dia tidak setuju dengan hal ini. Dia berpandangan, nanti Naura akan punya saudara sepersusuan. Meski telah kujelaskan bahwa penerima donor ini adalah bayi perempuan, sama dengan Naura, suamiku masih keberatan karena mempertimbangkan keturunan saudara sepersusuan anakku kelak. Aku terdiam dan memikirkan hal ini dengan saksama. Aku sangat ingin berbuat baik, tetapi pertentangan justru datang dari suamiku sendiri. Pada akhirnya, aku tetap memberikan ASIP kepada bayi tersebut. Ia menjadi anak susuku yang pertama. 

Sayangnya, suamiku tetap tidak luluh. Saat temanku berterima kasih lewat media sosialku, suamiku justru menunjukkan ketidaksetujuannya atas tindakanku. Sempat terjadi perang dingin antara aku dan suamiku untuk beberapa waktu. Kami pun tidak pernah membicarakan perihal donor ASIP lagi. 

Hingga suatu saat, seorang saudara dari pihak suamiku menelepon dan memohon kepadaku untuk  memberikan ASIP kepada anak dari temannya. Meski pesimis, aku tetap membicarakan hal ini kepada suamiku. Namun, tidak disangka dia justru memperbolehkan. Ia malah akhirnya berpesan padaku agar tidak setengah-setengah dalam berbuat baik dan tidak membeda-bedakan. 

Sejak saat itu, kendala terbesar dan terdekat telah hilang untuk melakukan hal yang menurutku baik ini. Aku pun bisa dengan bebas mendonorkan ASIP tanpa harus bersitegang dengan suamiku. Namun, aku tidak memberikan ASIP dengan mudah karena ada beberapa prinsip yang kuterapkan dalam pemberian donor ASIP ini, diantaranya adalah donor diutamakan untuk kondisi darurat, penerima donor diusahakan berjenis kelamin sama dengan anakku, serta mau menjalin silaturahmi seumur hidup. Khusus untuk yang terakhir, aku memiliki catatan serta meminta data kependudukan resmi terkait keluarga anak susuku. 

Kini, dua anak kandungku telah memiliki delapan saudara sepersusuan. Memang bukan angka yang fantastis karena masih banyak ibu ASIP lain yang memiliki anak susu hingga puluhan. Namun, aku melakukan hal yang bisa aku lakukan. Kini, dua bulan setelah anak keduaku disapih, ASI-ku telah berhenti. Aku memang tidak bisa melakukan donor ASI lati, tetapi dengan semua ilmu yang kumiliki terkait manajemen ASI, aku siap untuk berkampanye dan memberikan ilmu-ilmuku untuk ibu-ibu yang mengalami kesulitan dalam memberikan ASI. 

Media Sosial sebagai Sarana Berbagi Terkait ASI dan Menyusui

Dengan pengalaman serta pengetahuan yang kumiliki, aku mulai mengepos di media sosialku, terutama di Instagram, tentang ilmu-ilmu terkait ASI. Melalui pos tersebut, aku berharap ibu lain bisa mempelajari sendiri segara infografik tentang teknik-teknik pemerahan, penyimpanan, penyajian dan pemberian ASIP kepada bayi mereka. Selain itu, mereka juga dapat melakukan konsultasi daring denganku. 

Rata-rata yang berkonsultasi kepadaku adalah ibu-ibu muda pekerja yang ingin memberikan ASIP eksklusif kepada anaknya minimal enam bulan atau hingga dua tahun. Kondisi paling umum yang sering dikeluhkan adalah menurunnya hasil perahan ASI. Setelah bercerita secara mendalam dan menggali banyak faktor, kebanyakan hal tersebut terjadi akibat kelelahan, kurangnya dukungan keluarga, atau kurangnya jumlah asupan Ibu. Faktor kebahagiaan ibu juga mempengaruhi jumlah ASIP karena ibu yang bahagia akan membuat ASI semakin berlimpah. 

Itu sebabnya, aku tidak memberikan solusi yang sama untuk setiap orang karena setiap ibu pasti memiliki ASI booster yang berbeda-beda. Penting untuk setiap ibu mengetahui hal yang membuatnya bahagia, misalnya menonton drama, makan es krim, dan lain-lain. 

Selain faktor di atas, pompa ASI juga berpengaruh terhadap produksi ASI. Itu sebabnya, aku juga meminjamkan pompa ASIP kepada ibu-ibu yang membutuhkan secara gratis. Walaupun hanya pompa ASIP manual dan sederhana, tetapi Alhamdulillah pompa tersebut sudah membantu belasan ibu dan bayi yang membutuhkan selama delapan tahun ini. Jika pompa ASIP manualku tidak cocok, aku pun berusaha memberikan informasi penyewaan pompa ASIP dengan kualitas bagus dengan harga terjangkau. 

Semua Ibu Berhak Menyusui dengan Bahagia

Setelah semua proses ini, aku memiliki tiga harapan untuk semua ibu terkait proses menyusui. Pertama, aku berharap agar semua ibu mampu memberikan ASI kepada buah hatinya. Kedua, aku berharap agar semua ibu mendapatkan informasi yang tepat terkait ASI, manajemen ASIP, dan menyusui. Terakhir, aku berharap agar semua ibu bisa mendapatkan dukungan penuh dari keluarga terdekat, terutama suami, untuk menyusui karena ibu berhak merasa bahagia untuk menghasilkan ASI yang cukup.

Lalu, bagaimana dengan seorang ibu yang tidak bisa menyusui anaknya? Jadi, perlu aku sampaikan bahwa aku tidak bermaksud membandingkan seorang ibu yang menyusui dan yang tidak menyusui. Seorang perempuan yang mempunyai anak tetaplah seorang ibu. Entah itu anak yang lahir dari rahimnya atau bukan, melahirkan secara spontan maupun operasi, menyusui ataupun tidak, semua tetaplah ibu. 

Tidak ada gunanya membandingkan seorang ibu dengan ibu lainnya. Semua mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing. Justru karena itulah sebaiknya seseorang yang mempunyai kelebihan dapat merangkul siapa pun yang kekurangan. Aku percaya, seorang ibu pasti telah berusaha maksimal untuk mendapatkan yang terbaik bagi anak-anaknya. Meski tidak selalu memperoleh hal yang diinginkan, seorang ibu pasti telah berusaha sekuat hati dan tenaganya.

Bergerak bersama Yayasan Perempuan Indonesia Tumbuh & Berdaya (Pribudaya)


Siti Fatimah

Bergerak bersama Yayasan Perempuan Indonesia Tumbuh & Berdaya (Pribudaya)

0 Comments

Leave a Reply

Avatar placeholder

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Contact Us