Berhentilah Mengusik Janda, Biarkan Mereka Menikmati & Merayakan Statusnya Sebagai Perempuan Berdaya

Published by Erlin Fadhylah on

Belakangan, publik dihebohkan dengan beredarnya berita mengenai MUI (Majelis Ulama Indonesia) dan Ayu Ting Ting. Kabarnya, MUI meminta agar acara televisi yang menampilkan sosok pedangdut tersebut dihentikan. Alasannya pun membuat publik geram, yakni karena Ayu dianggap terlalu mengeksploitasi status jandanya. Kabar tersebut pun membuat MUI panen hujatan dari masyarakat. Berbagai lembaga, organisasi, dan komunitas yang menyoroti isu perempuan turut mengeluarkan pernyataan sikap menanggapi berita tersebut.

MUI pun akhirnya buka suara dan membantah tudingan tersebut. Pihak Infokom MUI, Elvi Hudhriyah, menyatakan bahwa kabar ini merupakan hasil pembingkaian media yang memelintir informasi. Dilansir dari mui.or.id, ada beberapa poin yang diklarifikasi terkait kabar ini. Pertama, pernyataan mengenai Ayu Ting Ting sebetulnya disampaikan pada pemantauan program Ramadan yang dilakukan MUI bekerja sama dengan KPI pada tahun 2019. Selain itu, MUI juga membantah meminta seluruh program yang menampilkan Ayu dihentikan, hanya program tertentu yang terpantau saat Ramadan tersebut. Pernyataan tersebut pun muncul karena program tersebut dianggap tidak melakukan perbaikan meski telah mendapat teguran berkali-kali.

***Pembelajaran ini ditulis oleh tim redaksi perempuanberkisah.id berdasarkan gelar wicara bertajuk “Cancel Culture Bidik Janda?” yang disiarkan secara langsung pada 25 Maret 2022 di kanal Youtube Perempuan Berkisah 

Kini, Nova Grid sebagai media pertama yang memberitakan pun sudah merevisi kabar tersebut. Mereka mengakui bahwa berita ini merupakan informasi daur ulang dari tahun 2019. Mereka pun mengamini pernyataan MUI bahwa Ayu Ting Ting tidak sepenuhnya dilarang tampil melainkan hanya beberapa episode saja yang mendapat kritikan. Namun, klarifikasi tersebut tidak membuat persoalan serta-merta selesai, terutama bagi perempuan berstatus janda. Kalimat menikmati dan menonjolkan kejandaan yang dilontarkan sebagai alasan dikritiknya episode Ramadan yang menampilkan Ayu Ting Ting kembali membuat status janda direndahkan. Jadi, salahkah perempuan yang menikmati dan merayakan status jandanya sebagai perempuan yang berdaya?

Dipandu oleh Tania, Host Podcast Janda Becanda, gelar wicara yang disiarkan langsung melalui kanal Youtube Perempuan Berkisah pada 15 Maret 2022 ini menghadirkan perwakilan perempuan-perempuan dari berbagai komunitas perempuan untuk membahas isu ini. Gelar wicara ini tidak hanya bertujuan untuk berbagi opini atau unek-unek perempuan dan juga janda, tetapi sekaligus menjadi media edukasi mengenai posisi perempuan yang kerap dirugikan akibat stigma dan penghakiman.

Relasi Kuasa yang Membentuk Stigma pada Perempuan dan Janda

Stigma yang melekat pada janda memang bukanlah persoalan baru. Namun, pemberitaan mengenai Ayu Ting Ting yang mendapat penghakiman hingga akan diboikot karena status jandanya seolah menegaskan posisi perempuan yang hingga saat ini masih menjadi golongan masyarakat kelas dua. Beban sebagai perempuan saja sudah berat dan akan semakin berlipat saat status janda melekat. 

Hal ini dipertegas oleh Hadynna Pratita Rahayu, perwakilan dari Komunitas Perempuan Berkisah pada gelar wicara ini. Menurut Hadynna stigma tentang janda sudah dilestarikan sejak masa pemerintahan orde baru dengan penetapan perayaan Hari Ibu. Sejatinya, Hari Ibu adalah momentum perjuangan perempuan untuk mendapat haknya sebagai warga negara. Namun, nilai perjuangan tersebut dipersempit menjadi hari ibu yang notabene hanya menyorot peran dan status perempuan sebagai ibu. 

“(Hari Ibu membuat) muncul stereotip (tentang ukuran) perempuan ideal. Janda adalah antitesis dari idealisme tersebut.” (Hadynna P. Rahayu, Perempuan Berkisah) 

Kini, di tengah maraknya gerakan pemberdayaan pada perempuan. Stigma tersebut tidak serta-merta hilang. Stigma negatif pada perempuan dan pada janda masih terjadi di mana-mana, termasuk media hingga lembaga pemerintahan. Seperti diutarakan Nanda Ismael dari Save Janda, persoalan ini bukan lagi persoalan antara MUI dan Ayu Ting Ting, sebab nyatanya stigma semacam ini bisa terjadi pada siapa saja dan di mana saja akibat kuatnya patriarki di dalam pola pikir masyarakat kita. 

“Ada power yang bisa digunakan untuk membatasi atau memberi stigma pada janda.” (Nanda Ismael, Save Janda)

Hal serupa bahkan dialami oleh salah satu panelis yang merupakan pegawai BUMN dan juga seorang janda, Merissa Lishiya S. dari Spin Motion Indonesia. Ia yang seorang janda pun mengalami stigma hingga dirugikan secara ekonomi karena statusnya. Menikah sering ditawarkan menjadi solusi dari persoalan sosial hingga ekonomi yang ia alami. Ia bahkan sulit untuk promosi jabatan akibat status jandanya. Semua ini seolah menegaskan cara patriarki bekerja dengan membentuk relasi kuasa yang merugikan perempuan, terutama janda dalam konstruksi sosial masyarakat kita.

Pentingnya Edukasi Mengenai Kesetaraan untuk Menghalau Stigma pada Janda

Mengutip dari pernyataan Nanda Ismael, berita baik maupun buruk mengenai janda semestinya menjadi momen pembelajaran untuk setiap orang. Nyatanya, banyak janda menanggung beban ganda sebagai kepala rumah tangga dan pencari nafkah utama, tetapi kata janda selalu lekat dengan tindakan asusila dan cap perempuan gampangan. Tidak hanya terjadi di masyarakat, secara tidak langsung kasus Ayu Ting Ting membuktikan bahwa media dan lembaga pun masih memiliki perspektif yang serupa. 

Itu sebabnya, edukasi mengenai perspektif kesetaraan gender dan perempuan mesti tetap dilakukan. Meski telah banyak media pemberdayaan perempuan, mengakarnya pola pikir yang berlandaskan budaya patriarki tidak dapat diputarbalikkan begitu saja. Perlu perubahan secara menyeluruh dan hal tersebut bisa dimulai dari pendidikan. 

https://www.youtube.com/watch?v=J6pY84p5Zdk

Elna Febi Astuti dari Noken Solution Community yang kerap mendampingi persoalan hukum teman-teman janda di Yogyakarta pun mengakui pentingnya peran setiap orang untuk memberi edukasi mengenai perspektif gender dan kesetaraan. Menurutnya, setiap orang memiliki peran dan mesti ambil bagian agar pesan ini tersampaikan dan direalisasikan dalam bentuk regulasi yang memiliki keberpihakan pada perempuan, janda, serta seluruh kelompok terpinggirkan. 

“PR-nya adalah mengedukasi agar tiap orang bisa menjadi influencer dan advokat untuk menyuarakan perspektif gender.” (Elna Febi Astuti, Noken Solution Community)

Sejalan dengan Elna, Hayu Lusianawati dari Komunitas Perempuan Ungu pun mengamini pentingnya edukasi mengenai kesetaraan gender. Ia pun berniat mengadakan sarasehan dengan dengan teman-teman media serta lintas agama untuk meminimalisir bias dan stigma pada janda dan perempuan pada umumnya. 

Self Love to Self Respect kepada Janda sebagai Perempuan Berdaya

Jadi, salahkah perempuan yang menikmati dan merayakan statusnya sebagai janda yang berdaya? Apa pun penyebab menjadi janda, baik itu perceraian ataupun pasangan yang berpulang, menjalani hidup sebagai janda tidak pernah mudah. Alih-alih fokus pada label negatif pada janda, mengapa kita tidak melihat bahwa status janda hadir beriringan dengan perjuangan? 

Banyak janda menanggung beban sebagai pencari nafkah dan kepala keluarga yang mesti membesarkan anak tanpa bantuan. Bahkan, tanpa melakukan apa-apa janda mesti menanggung beban untuk membuktikan dirinya perempuan baik-baik dan tidak melakukan hal melanggar norma. Tidak mudah bagi perempuan berstatus janda untuk mencapai posisi berdaya, terutama jika ia terjebak dalam hubungan toksik di relasi sebelumnya. Itu sebabnya, merayakan dan menikmati status janda yang berdaya bukanlah dosa. 

Janda memang bukan status yang menyenangkan, tetapi bukan pula hal yang menakutkan. Melihat banyaknya sesama perempuan yang justru melakukan penghakiman kepada janda, Descha Muchtar, panelis terakhir, pun berpesan penting untuk memiliki self love agar tidak mudah berpikiran negatif dalam memandang janda. Saat kita merasa aman pada diri kita, maka akan timbul juga rasa penghargaan kepada sesama perempuan, apa pun statusnya, termasuk perempuan janda. 

“Tidak adil untuk melekatkan stigma pada janda karena tidak semua janda menginginkan berada dalam status tersebut. … Janda bukan status menakutkan.” (Descha Muchtar)

***Pembelajaran ini ditulis oleh tim redaksi perempuanberkisah.id berdasarkan gelar wicara bertajuk “Cancel Culture Bidik Janda?” yang disiarkan secara langsung pada 25 Maret 2022 di kanal Youtube Perempuan Berkisah 

Erlin Fadhylah atau biasa disapa Erfa adalah lulusan Sastra Indonesia dari Universitas Negeri Jakarta. Setelah sepuluh tahun berprofesi sebagai pengajar di beberapa sekolah internasional, Erfa kini berdaya di rumah saja dengan aktif menulis artikel yang diterbitkan di berbagai media cetak dan daring. Hobinya membaca buku membawa Erfa berkenalan pada dunia menulis fiksi dan mengantarkannya pada profesi pekerja lepas sebagai pengulas novel serta penyelaras aksara. Beberapa tulisannya dapat dibaca melalui tautan linktr.ee/erfa22. Ia juga dapat disapa melalui akun instagramnya @erfa22.


Erlin Fadhylah

Erlin Fadhylah atau biasa disapa Erfa adalah lulusan Sastra Indonesia dari Universitas Negeri Jakarta. Setelah sepuluh tahun berprofesi sebagai pengajar di beberapa sekolah internasional, Erfa kini berdaya di rumah saja dengan aktif menulis artikel yang diterbitkan di berbagai media cetak dan daring. Hobinya membaca buku membawa Erfa berkenalan pada dunia menulis fiksi dan mengantarkannya pada profesi pekerja lepas sebagai pengulas novel serta penyelaras aksara. Beberapa tulisannya dapat dibaca melalui tautan linktr.ee/erfa22. Ia juga dapat disapa melalui akun instagramnya @erfa22.

0 Comments

Leave a Reply

Avatar placeholder

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Contact Us