Amor Fati: Menerima Semua Baik dan Buruk Kehidupan

Pernahkah kamu merasa dipermainkan oleh kehidupan? Beberapa tahun lalu, saya adalah seorang pengajar di salah satu sekolah internasional. Bisa dibilang, situasi saya saat itu ideal. Saya bekerja di sekolah yang bagus, gaji saya pantas, saya suka pekerjaan saya, dan saya tidak perlu menerjang macet karena lokasi rumah saya sangat dekat dengan sekolah tersebut. Bahkan, anak saya bisa ikut mendapatkan fasilitas pendidikan terbaik di sekolah tersebut tanpa harus membayar sebesar murid biasa. 

Lalu, badai itu datang juga. Keluarga saya mengalami guncangan hebat. Salah satu penyebab utama adalah pernikahan saya yang sejak awal dijalani secara jarak jauh ternyata menimbulkan masalah besar di antara saya dan pasangan. Saya memilih menyelamatkan pernikahan, bukan demi anak, tetapi demi diri saya sendiri. Saya pun berhenti bekerja, meninggalkan karir yang saya suka demi mengikuti suami yang kerap ditugaskan berpindah-pindah kota.

Lucunya, tidak lama setelah saya berhenti bekerja, saya justru mendapat kabar bahwa suami mendapat pekerjaan di area Jabodetabek. Bahkan, setahun berselang, pandemi melanda dan suami bekerja penuh dari rumah selama lebih dari dua tahun. Saya sungguh merasa hidup sedang bercanda. Sempat pula saya menyesali keputusan untuk berhenti dan ikut dengan suami demi menyelamatkan hubungan dan pernikahan kami. Semua kalimat yang dimulai dengan kata “Andai” kerap bermain-main di pikiran saya. Andai saya masih bekerja, andai saya masih punya penghasilan, andai, andai, dan andai. 

Kini, semua andai tersebut terjawab ketika seorang mentor serta kawan baik yang sangat saya hormati meminta saya untuk membaca sebuah tulisan dan mengolahnya. Salah satu pelajaran penting dari tulisan tersebut adalah tidak ada satu pun hal di alam semesta ini yang terjadi secara kebetulan, termasuk sampainya tulisan tersebut di tangan saya. Kini, bukan hanya sebuah konten, yang saya harap bernas, yang telah selesai, tetapi penyesalan saya pada semua kalimat andai dan situasi pun juga ikut mencapai kata tamat setelah saya membaca tentang Amor Fati.

Amor Fati = Mencintai Takdir

Amor Fati dibaca aa-more faa-tee berasal dari bahasa latin yakni amor yang berarti cinta dan fati yang berarti berarti takdir. Secara sederhana Amor Fati bisa diartikan sebagai “Mencintai takdirmu.” Amor Fati merupakan konsep dan cara untuk menerima segala sesuatu yang telah terjadi, sedang terjadi, dan akan terjadi di masa depan. 

Amor Fati tidak meminta kita untuk menghapus masa lalu atau menyesali semua hal buruk yang telah terjadi. Sebaliknya, Amor Fati membuat kita bisa menerima semua baik dan buruknya serta jatuh dan bangun diri kita di masa lalu. Konsep ini membuat kita menerima semua masa tersebut, termasuk depan yang belum pasti sambil terus berusaha menggapai mimpi atau cita-cita kita.

Stoikisme: Kita Memang Tidak Bisa Memilih Takdir, tetapi Kita Bisa Memilih Cara Kita Menyikapi Takdir

Pola pikir Amor Fati membuat kita melihat segala sesuatu dari sisi positif atau setidaknya merasa berkecukupan. Amor Fati menguatkan kita untuk menerima segala kesulitan, penderitaan, dan tragedi sebab, suka atau tidak, hal tersebut memang tidak terpisahkan dari hidup kita. Namun, Amor Fati tidak mengajarkan kita untuk pasrah. Mencintai dan menerima takdir tetap mesti diiringi dengan sikap memberikan usaha yang terbaik, bagaimana pun hasilnya nanti. Kita diajak untuk menerima hasilnya dengan tetap memaksimalkan usahanya sebab hanya proseslah yang bisa kita kontrol, bukan hasilnya. 

Stoikisme percaya bahwa semua yang terjadi di alam semesta sudah ada aturannya. Melawan takdir hanya akan membawa kita pada penderitaan. Pilihan yang lebih baik adalah menerima takdir kita sambil terus bekerja keras untuk mencapai hal yang terbaik sebab tidak ada usaha yang tidak berharga.

Penerimaan, Usaha, dan Kesabaran Merupakan Kunci dari Amor Fati

Menjalani Amor Fati memang tidak mudah. Namun, ada beberapa langkah yang bisa kita praktikkan untuk mencobanya, terutama saat stress sedang melanda. 

Pertama, terima dan akui perasaan stress tersebut. 

Lalu, jadikan peristiwa tersebut sebagai kesempatan untuk melatih kesabaran, penerimaan, serta melatih nalar utuk mencari jalan keluar. 

Terakhir, sibukkan pikiran untuk mencari jalan keluar atau cara mengatasi stress alih-alih membiarkan diri dan pikiran kita dikuasai emosi negatif yang melelahkan.

Baik dan Buruk Terkadang Hanya Tentang Waktu dan Sudut Pandang

Masa depan belum menjadi milik kita, tetapi usaha saat ini bisa menentukan masa depan.

Ketika stres melanda, kita biasanya membayangkan berbagai hal buruk yang belum tentu terjadi. Kita cenderung gelisah membayangkan hidup kita tidak akan sama lagi di masa depan. Padahal, kita tidak bisa mengontrol apa pun di masa depan dan mengkhawatirkannya hanya membuat kita tidak produktif.

Situasi pandemi mungkin bisa menjadi contoh nyata untuk Amor Fati. Saat pandemi melanda, banyak kantor menerapkan sistem kerja dari rumah. Hal ini awalnya dirasa merugikan karena jam kerja menjadi tidak karuan bahkan tuntutan untuk tetap aktif bisa seharian. Namun, di sisi lain saat pandemi mencapai puncaknya pasti banyak karyawan yang bekerja dari rumah merasa bersyukur karena risiko mereka terpapar virus menjadi lebih rendah dan bisa tetap bekerja selama masa krisis tersebut. Kini, setelah situasi pandemi terkendali, malah banyak karyawan yang merasa enggan untuk kembali bekerja ke kantor. 

Hal tersebut menunjukkan bahwa situasi yang dahulu dianggap keburukan ternyata bisa menjadi situasi yang baik dan menguntungkan. Masa depan adalah misteri, hal yang saat ini tidak kita syukuri bisa jadi menjadi hal yang akan menyelamatkan atau menguntungkan kita di masa depan. Itu sebabnya Amor Fati mengajarkan kita untuk menerima sambil tetap berusaha dan memberikan yang terbaik sebisa kita. 

Sama seperti cerita saya sebelumnya, keputusan berhenti bekerja yang awalnya saya anggap sebagai keputusan terburuk dalam hidup ternyata bisa saya syukuri ketika pandemi melanda. Saya bersyukur bisa di rumah bersama anak-anak dan menjaga kami semua dari risiko penularan yang lebih tinggi jika harus beraktivitas. Bahkan, setelah direnungkan, ada jauh lebih banyak hal yang bisa saya dapatkan setelah tidak lagi bekerja. 

Misalnya, saya berkesempatan mengembangkan diri di bidang tulis-menulis, aktualisasi diri saya terpenuhi karena saya berkesempatan bergabung di berbagai komunitas, bahkan tidak sedikit rezeki berupa materi yang tetap saya dapatkan meski tidak bekerja penuh waktu lagi. Ternyata, rasa syukur itu hanya butuh waktu untuk disadari. Untungnya, saya tetap melakukan yang terbaik sebisa saya dan berhenti mengutukki keadaan meski saat itu saya belum mengenal konsep Amor Fati.

Bagaimana Jika Takdir Buruk Tidak Bisa Diubah? 

Hidup memang tidak selalu indah, tentu ada kondisi yang tidak bisa diubah sekeras apa pun kita berusaha. Sebagai contoh, jika kita mengalami penyakit kronis, haruskah kita mencintai penyakit tersebut sebagai praktik dari Amor Fati? Tentu saja tidak. Mencintai penyakit dengan mencintai takdir merupakan dua hal yang berbeda.

Mencintai takdir berarti kita bisa menjaga ketenangan dalam menghadapi situasi sulit dan menyedihkan. Saat kita bisa menerima, kita bisa melakukan yang terbaik sebisa kita. Karena toh, mengutuk situasi juga tidak bisa mengubah apa pun dan malah memperburuk keadaan. 

Bahkan, selama proses menulis dan merenungkan tulisan ini, saya lagi-lagi dikejutkan oleh takdir. Laptop saya rusak total karena tidak sengaja terjatuh. Tahu apa yang saya lakukan? Saya menarik napas, saya akui saya sedih, lalu, saya menghibur diri dengan mencari bubur ayam kesukaan. Kemudian, saya tetap mencari cara untuk menyelesaikan tulisan ini karena saya tahu berdiam diri tidak akan membuat laptop saya kembali. Siapa tahu, tulisan ini justru bisa menjadi pembuka rezeki di kemudian hari untuk memperbaiki atau membeli laptop baru. Siapa tahu, kan? Amor Fati, aku cinta takdirku dulu, kini, dan nanti. 

Disarikan dari: Amor Fati: Stoic practice to soar above the volatile times we. The Happiness Blog. (2022, May 7). Retrieved June 22, 2022, from https://happyproject.in/amor-fati/

Erlin Fadhylah atau biasa disapa Erfa adalah lulusan Sastra Indonesia dari Universitas Negeri Jakarta. Setelah sepuluh tahun berprofesi sebagai pengajar di beberapa sekolah internasional, Erfa kini berdaya di rumah saja dengan aktif menulis artikel yang diterbitkan di berbagai media cetak dan daring. Hobinya membaca buku membawa Erfa berkenalan pada dunia menulis fiksi dan mengantarkannya pada profesi pekerja lepas sebagai pengulas novel serta penyelaras aksara. Beberapa tulisannya dapat dibaca melalui tautan linktr.ee/erfa22. Ia juga dapat disapa melalui akun instagramnya @erfa22.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Contact Us