Bertahan dan Berjiwa Bebas di Tengah Karantina, Tahan Waras ala Kartini

Published by Novita Rudiany on

Belajar dari Kartini dan Social Distancing ala Gadis Jawa. Social Distancing memang harus tahan waras. Apalagi bagi mereka yang berpikiran bebas.

Novita Rudiany

Masa karantina dalam rangka mengurangi dampak penyebaran COVID-19 memang menuai pro dan kontra bagi masyarakat, termasuk juga para perempuan karier. Aktivitas jadi serba terbatas, padahal banyak tugas yang belum tuntas.

Banyak rencana jadi tertunda, akibatnya persentase ketercapaian jadi tak sesuai harapan semula. Tapi apa mau dikata, keadaan memang memaksa kita untuk melakukan semuanya di rumah saja.

“Sabar, ini semua akan segera berakhir. Situasi akan kembali seperti sedia kala”, hanya itu yang bisa kita ucapkan dalam hati, mencoba menenangkan diri. Minggu demi minggu hingga satu bulan sudah kita semua dikarantina. Bosan mulai melanda, jenuh datang setelahnya, frustasi menjadi puncaknya. Burnout!

Kartini pun Pernah dalam Masa “Karantina”

Bulan April tahun ini memang berbeda. Saat 21 April semakin dekat, tiba-tiba jadi teringat kalau Kartini juga tumbuh di kamar karantina. Tradisi pingitan bagi gadis Jawa di masa lampau mungkin lebih ekstrim kondisinya. Tidak ada jaringan internet, aplikasi chat dengan fitur face time, telepon selular dan bahkan tidak ada buku. Yang ada hanyalah dinding kamar dan teralis jendela yang tinggi untuk sekedar melongok ke halaman rumah.

Terlebih lagi, pingitan dilakukan bukan karena dampak wabah penyakit, melainkan karena adat istiadat. Adat istiadat yang merupakan konstruksi pemikiran dari masyarakat dan belum tentu kebenaran mutlaknyanya karena ia adalah bentuk yang dianggap ideal. Adat yang secara khusus hanya diterapkan untuk kaum perempuan. Tujuannya adalah menyiapkan para gadis untuk menjadi Raden Ayu (sebutan bagi perempuan Jawa yang sudah menikah).

Kartini terpaksa memupus harapan untuk melanjutkan sekolah ke Hogere Burger School (HBS) saat usianya belum genap 13 tahun. Ya, tiba waktunya untuk dipingit.

Perempuan Jawa, apalagi kalangan ningrat, akan masuk masa pingitan saat usianya beranjak remaja dan dipersiapkan untuk menjalani kehidupan sebagai garwa (istri). Gadis-gadis Jawa ini tidak diperbolehkan keluar rumah seenaknya. Apabila ada yang ingin menemui pun juga harus membekali diri dengan izin berlapis yang belum tentu mudah untuk mendapatkannya.

Kendati segala kebutuhan seperti makanan, pakaian, obat-obatan bahkan perhiasan telah disediakan di rumah, tapi itu semua tidak bisa membeli cita-cita Kartini. Kebebasan. Kebebasan untuk bermimpi, kebebasan untuk memiliki cita-cita yang tinggi.

“Kami para gadis Jawa tidak diperbolehkan untuk punya cita-cita. Impian yang boleh kami miliki adalah: bahwa hari ini atau esok akan menjadi istri yang kesekian dari seorang pria”, keluh Kartini.

Kartini frustasi. Rasa tidak terima dan berontak pada budaya patriarki di tanah Jawa membuatnya berkali-kali menolak pinangan dari pria yang datang. Akibatnya, masa pingitan-nya diperpanjang sampai enam tahun.

Bagai hidup dalam penjara, kata Kartini. Ia menuliskan segala kegundahannya di atas secarik kertas surat yang menjadi penghiburan bagi Kartini. Setidaknya, di belahan dunia yang lain sana, masih ada Estelle Zeehandellar, sahabat yang mau mendengarkan dan bertukar pikiran dengannya.

Sungguh, Pingitan Menguji Kewarasan Perempuan

Saking rasa sesak sudah memuncak dalam diri Kartini, ditambah dengan putus asa yang berkepanjangan.

Kartini menuliskan “berulang kali saya menghempaskan tubuh saya ke dinding”. Bisa dibayangkan, betapa pingitan ini menguji kewarasan bagi perempuan seperti Kartini.

Apalagi sudah disaksikan dan dirasakan sendiri oleh Kartini bagaimana perempuan Belanda bisa bebas mengenyam pendidikan hingga tingkat tinggi tanpa harus menjalani karantina untuk menjadi seorang istri.

Perasaan mulai nrimo (menerima) muncul dalam benak Kartini ketika dia diperbolehkan membaca buku. Sang kakak, Sosrokartono sering memberinya buku-buku dan surat kabar berbahasa Belanda, sehingga pengetahuannya meluas. Ia semakin rutin mengirim surat yang secara tidak langsung mengasah kemampuannya dalam mengutarakan pendapat, berargumen dan menulis.

Tapi, Jiwa Kartini Hidup Lagi

Jiwa Kartini hidup kembali. Pemikirannya melengang bebas menembus sudut-sudut kamar pingitnya. Ia kembali menggenggam kewarasannya. Tekadnya semakin bulat untuk mendekonstruksi adat patriarki yang menimpa perempuan Jawa.

Perempuan bukan masyarakat kelas dua. Bangsanya harus berubah. Di balik teralis jendela kamarnya, ide-ide pemberdayaan dan emansipasi perempuan bermunculan di kepalanya. Ide tersebut kemudian pelan-pelan diwujudkannya saat masa pingitan selesai.

Tenangkan Dirimu dan Tetaplah Waras

Hal pertama yang bisa kita pelajari dari Kartini saat masa karantina ini adalah pull yourself together and stay sane. Bagi perempuan karier yang terbiasa bergerak aktif dan kehidupan sosialnya luas, berdiam diri di rumah saja memang butuh penyesuaian. Beberapa hari rasanya seperti bertahun-tahun.

Setiap waktu hanya bisa melihat pemandangan yang sama dalam ruang gerak yang terbatas. Sesak juga, ya lama-lama. Sudah mencoba sabar, eh bukannya berakhir malah makin diperpanjang. Terus menerus menatap layar entah itu smartphone, tablet atau laptop tidak pernah cukup untuk mengganti interaksi sosial tatap muka.

Keterbatasan memang menguji kewarasan. Tapi kita tidak pernah sendirian. Oleh karenanya, ini hal kedua yang dilakukan Kartini, reach out ke orang-orang yang mau mendukungnya, yakni Sosrokartono dan Stella. Tapi, Kartini juga nggak menye-menye saat berkeluh kesah. Gaya bahasanya masih tegas dan lugas, sehingga lawan diskusinya bisa menangkap jelas maksud Kartini.

Kita Butuh Saling Mendukung dan Menguatkan

Pada masa dimana pertemuan banyak yang tertunda seperti sekarang ini, teman berbagi memang diperlukan. Apalagi pada dasarnya manusia adalah makhluk sosial yang butuh emotional support. Jadi, penting untuk saling mendukung dan menguatkan. Bukan justru menebar ketakutan dan menjadi toxic people.

Kartini memang tangguh. Rasa putus asanya dilecut dengan semangat yang jauh lebih besar. Dan dampaknya memang menakjubkan. Kartini tidak hanya memiliki pemikiran-pemikiran tentang kesetaraan perempuan dan laki-laki, tetapi juga melahirkan konsep-konsep kebebasan dan kebangsaan.

Masterpiece Kartini adalah mendirikan sekolah untuk perempuan. Baginya kebebasan untuk mendapatkan pendidikan yang setara bagi perempuan adalah gerbang awal menuju pembangunan bangsa. Kartini sadar betul bahwa di tangan perempuan-lah generasi muda akan dididik untuk menentukan nasib bangsa di masa depan.

Karena Kita Butuh Energi Luar Biasa untuk Bertahan

Tapi yang perlu kita sadari adalah butuh kekuatan yang luar biasa untuk mengubah sebuah kondisi negatif menjadi energi positif. Tidak semua orang bisa memiliki kemampuan adaptasi dalam periode yang singkat. Semua orang butuh waktu. Pun dengan Kartini. Di tahun-tahun awal masa pingitan, Kartini juga mengalami depresi. Kebebasan belajar dan melakukan interaksi sosial tiba-tiba direnggut secara menyeluruh.

Apakah sebanding dengan kondisi saat ini? At some points, yes. Bagi perempuan yang pemikirannya bebas, tagar #dirumahaja bisa jadi bikin stres.

Monoton sekali rasanya setiap bangun tidur sampai tidur kembali berada di petak lokasi yang sama. Maka dari itulah pull yourself together and stay sane menjadi penting. Bukan sebuah dosa kalau kita tidak merasa menikmati berada di rumah saja dalam jangka waktu yang lama.

Tenangkan Diri dan Tetaplah ‘Membumi ‘

Bagaimanapun juga mengubah kebiasaan secara tiba-tiba bukan pekara mudah. Oleh karenanya, dari Kartini kita belajar hal yang ketiga, yakni nrimo atau menerima. Grounding to the recent situation. Dengan perlahan mencoba memahami situasi sekarang ini, kita bisa lebih tenang.

Ketenangan diri juga menjadi salah satu capaian bagi diri sendiri saat berada di tengah situasi sulit. Energi positif tidak selalu dikonotasikan untuk orang lain atau masyarakat luas. Jika ada satu hal produktif dan memang bermanfaat, itu adalah nilai tambah.

Terkadang adanya hasrat untuk melakukan sesuatu buat orang lain, tanpa disadari justru memberi tekanan pada diri sendiri. Tidak. Kartini tidak demikian, dia melahirkan sesuatu yang hebat saat dirinya telah tenang dan siap berpikir dengan jernih.

Intinya, social distancing bagi Kartini dan bagi kita saat ini memang situasi yang saat ini tak bisa dihindari. Kondisinya memang berdampak pada ketahanan diri.

Belajar dari Kartini dan social distancing ala Perempuan Jawa, karantina akibat penyebaran COVID-19 adalah situasi yang sama menakutkannya bagi perempuan yang memiliki pemikiran bebas.

Oleh karenanya, jika memang butuh waktu untuk beradaptasi di lingkungan yang baru, ya sudah lakukan saja. Jangan terlalu keras pada dirimu sendiri. Yakinlah, keadaan ini hanya bersifat sementara. “Nanti, terbangmu akan jauh lebih kuat”, kata Kartini.[]

Sumber ilustrasi: Freepik

About the author

Vita Rudiany merupakan perempuan yang menikmati profesinya sebagai pembelajar dari setiap peristiwa yang terjadi di sekitarnya. Ia dapat diajak mengobrol sambil menikmati sepiring siomay tanpa pare dan sambal. Saat ini Vita bekerja dan bertanya sebagai seorang Dosen di Program Studi Hubungan Internasional Universitas Pertamina, Jakarta Selatan. Vita dapat ditemui melalui akun instagramnya : @vitarudiany


Novita Rudiany

Vita Rudiany merupakan perempuan yang menikmati profesinya sebagai pembelajar dari setiap peristiwa yang terjadi di sekitarnya. Ia dapat diajak mengobrol sambil menikmati sepiring siomay tanpa pare dan sambal. Saat ini Vita bekerja dan bertanya sebagai seorang Dosen di Program Studi Hubungan Internasional Universitas Pertamina, Jakarta Selatan. Vita dapat ditemui melalui akun instagramnya : @vitarudiany

1 Comment

URL · August 7, 2020 at 8:28 am

… [Trackback]

[…] Read More Infos here: perempuanberkisah.id/2020/04/20/berjiwa-bebas-di-tengah-karantina-tahan-waras-ala-kartini/ […]

Leave a Reply

Avatar placeholder

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Contact Us