Kuldesak: Rangkul ODHA Bangkit, Berkarya & Berdaya di Tengah Kebuntuan

Published by dr. Sandra Suryadana on

Belajar dari proses bangkit, berkarya dan bardaya di tengah kebuntuan orang dengan HIV AIDS (ODHA) bersama Kuldesak.

Sebagai tenaga medis, HIV AIDS adalah satu isu yang menjadi keprihatinan saya. Apa lagi kalau bukan persoalan stigma terhadap ODHA (Orang dengan HIV AIDS). Sedih hati ini setiap kali mendengar kisah teman-teman ODHA menceritakan pengalaman mereka mendapat stigma tidak hanya dari masyarakat tetapi juga dari tenaga medis! Tetapi sebaliknya, saya menjadi senang tak terkira bila mendengar kisah sukses dari teman ODHA. Salah satunya adalah Hages Budiman, 37, Founder Kumpulan dengan Segala Aksi Kemanusiaan (Kuldesak).

AWAL MULA BERDIRINYA KULDESAK

Nah, pada Minggu (2 Mei 2020), Hages berbagi pengetahuan dan pembelajarannya dalam live in instagram @perempuanberkisah. Inisiasi Hages untuk mendirikan Kuldesak, awalnya dari pengalaman pribadi mendapatkan dukungan luar biasa dari Kelompok Dukungan Sebaya ketika dia dinyatakan positif HIV. Bersama 8 orang aktivis peduli ODHA lainnya, Hages Budiman pun bertekad membangun suatu kelompok dukungan ODHA di Depok. Pada saat itu di Depok tidak ada wadah untuk para ODHA, bahkan di Jakarta pun masih sangat sedikit. 

Akun Instagram @kuldesak_official

Akibatnya, ketika kelompok dukungan ini pertama kali dibuka pada tahun 2011, antusiasme teman ODHA sangat di luar ekspektasi. Banyak sekali teman ODHA yang datang, tidak hanya dari Depok tetapi juga dari Bogor dan Jakarta. Semua bersemangat saling mendukung satu sama lain.

Kuldesak berasal dari bahasa Catalan yang artinya “jalan buntu”. Terinspirasi dari situasi yang dianggap selalu terjadi pada teman-teman ketika didiagnosa HIV positif. Buntu, tidak ada harapan, tidak ada pilihan lain. Tetapi alih-alih berdiam diri di jalan buntu, Kuldesak justru aktif mengajak ODHA untuk melihat pilihan lain, yaitu bangkit. 

PENDAMPINGAN ONLINE DI TENGAH PANDEMI

Dengan total lebih dari 800 anggota, Kuldesak aktif mengadakan pertemuan bagi teman ODHA untuk bisa saling mendukung agar tidak merasa sendirian. Saat pandemi ini, pertemuan diganti dengan grup Whatsapp dan pertemuan online.

Bukan hanya kelompok dukungan, Kuldesak juga membantu advokasi teman ODHA yang mendapat perlakuan tidak adil dari perusahaan, melakukan pendampingan kesehatan dan psikologis, bahkan mendorong diadakannya klinik VCT di puskesmas-puskesmas di Depok. Mereka juga konsisten melakukan edukasi pada masyarakat dan mendorong pemberdayaan ekonomi bagi teman ODHA.

Kuldesak bekerjasama dengan banyak sekali instansi untuk mendukung perjuangannya. Mulai dari dinas setempat sampai Kemenpora, komunitas dan organisasi lain seperti IPPI (Ikatan Perempuan Positif Indonesia), GWL Ina (Gaya Warna Lentera Indonesia) sampai KPAN (Komisi Penanggulangan AIDS Nasional), dan untuk pendana Kuldesak kuat dengan bantuan Total Oil Foundation, Indonesia Partnership Fund, Global Fund, dll. 

STIGMA NEGATIF MASIH MENJADI TANTANGAN ODHA

Hages menyampaikan masih banyak sekali tantangan yang selalu dihadapi oleh tim Kuldesak dalam mendampingi teman ODHA. Masih banyak sekali stigma yang berujung diskriminasi terhadap teman-teman ODHA, masyarakat yang enggan belajar tentang penyakit HIV AIDS dan lebih cenderung mempercayai hoax membuat edukasi terasa sulit. Belum lagi stigma ganda yang ditujukan kepada teman ODHA dari populasi kunci seperti pengguna narkoba, LGBT, PSK, dan kelompok rentan lainnya membuat tugas Kuldesak jadi berlipat ganda pula. 

Tetapi yang paling sulit untuk diatasi adalah stigma dari teman ODHA terhadap dirinya sendiri. Banyak sekali teman ODHA yang sudah menstigma dirinya sendiri bahkan sebelum distigma oleh orang lain. Ketakutan menularkan kepada keluarga, ketidakpercayaan diri bahwa masih ada masa depan dan orang-orang yang mau menolong, membuat teman ODHA sulit bergerak maju. 

Seperti yang terjadi pada masa pandemi ini, banyak juga teman ODHA yang terkena imbas PHK dari perusahaan tetapi seakan tidak punya keinginan untuk bangkit, segala upaya dari Kuldesak tidak disambut baik. Padahal Kuldesak sudah membangun CV Samudera Mitra Perkasa untuk mendukung pemberdayaan ekonomi teman ODHA.

Teman-teman boleh mengambil produk-produk dari CV Samudera Mitra Perkasa untuk dijual tanpa membayar lebih dahulu, pembayaran dilakukan belakangan ketika barang sudah terjual. Tetapi bahkan dengan program ini pun banyak teman ODHA yang tidak mau memanfaatkan. 

Ketika ada teman ODHA yang sudah mau memanfaatkan, justru kita sebagai pembeli yang menolak dengan bersikap menghakimi. Barang dagangan teman ODHA sulit laku karena dituduh menyebarkan HIV. Menghadapi situasi sulit seperti ini, Hages selalu memberikan semangat, mendorong agar teman-teman terus berusaha, jangan sampai putus asa.

Hages tidak hanya berpesan kosong, tetapi memberi teladan langsung. Dia adalah seorang pebisnis dan membuktikan diri bahwa ketika teman ODHA konsisten dan menjalani bisnis dengan jujur dan profesional maka rezeki pasti menghampiri. 

Saat ini, Kuldesak sudah berusia 9 tahun. Usia yang sebenarnya masih sangat muda, masih banyak yang bisa diraih dan sedang diperjuangkan oleh Kuldesak. Tetapi juga tidak menutup mata pada keberhasilan-keberhasilan Kuldesak merangkul teman ODHA selama 9 tahun ini. Kuldesak terbuka untuk siapapun yang memiliki kepedulian pada teman ODHA untuk ikut bergabung dan membantu. Semoga dengan segala aksi kemanusiaan yang diupayakan oleh Kuldesak, stigma terhadap ODHA suatu hari bisa benar-benar luntur. 

Ilustrasi cover: freepik

About the author

Sandra Suryadana adalah seorang dokter dan Founder @doktertanpastigma


dr. Sandra Suryadana

Sandra Suryadana adalah seorang dokter dan Founder @doktertanpastigma

0 Comments

Leave a Reply

Avatar placeholder

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Contact Us