Andaikan Semua Perempuan Kompak Lawan Candaan Seksis

Published by Yunita Umar on

Perempuan adalah subjek yang bebas menentukan perasaannya sendiri. Bukan objek tertawaan seakan-akan tanpa menertawakannya suasana akan mati loyo. Jokes-jokes seksis sama sekali bukan cara melucu yang baik. Bukan cara menghangatkan suasana.

Pernah gak sih mendengar celetukan teman-teman kita, apalagi teman lelaki yang terkadang melecehkan perempuan? Seperti di kelas misalnya, seharusnya menjadi tempat kedua paling nyaman  setelah kamar kos. Tapi, ternyata ruang belajar tidak selalu menyajikan hal-hal yang menyenangkan. Ruangan yang diisi oleh perempuan dan laki-laki itu, dan kebanyakan yang aktif nyeletuk saat belajar adalah laki-laki, ruangan itu kerap diisi oleh candaan berbau seksis. Sayangnya, banyak perempuan  belum memahami kalau kalimat yang sedang dilontarkan merendahkan kedudukan perempuan.

Candaan atau humor atau lelucon seksis adalah candaan yang tujuannya merendahkan, menghina, memberikan stereotip, memperdaya, dan menjadikan individu sebagai objek berdasarkan gender mereka. Candaan seksis juga termasuk humor penghinaan, atau disparagement humor artinya merendahkan beberapa kelompok sosial.

Contohnya ketika  presentasi makalah, dari banyak pertanyaan yang muncul  tidak sedikit menimbulkan perdebatan. Ketika perempuan berhasil menjawab pertanyaan dengan lugas, tidak segan para laki-laki itu menanggapi dengan, “perempuan selalu benar, mengalah sajalah.” Seakan-akan ini adalah senjata paling ampuh untuk mematahkan keberhasilan perempuan yang menjawab. Sikap mengalah yang ditujukan seperti sikap jiwa besar yang datang dari laki-laki super pengertian. Tidak ada yang lebih disoroti kebaikannya selain laki-laki itu sendiri.

Terkadang, Suara Perempuan Dibungkam dengan Kata-kata Manis

Saya secara pribadi memang mengalami langsung sebagai objek candaan seksis. Suara perempuan dibungkam dengan satu kalimat yang terdengar manis, tapi membunuh karakter perempuan sejak ratusan tahun lalu. Yang membuat saya lebih geleng-geleng kepala lagi ini terjadi di lingkungan akademis tempat menimba ilmu. Di mana setiap kegiatannya tidak pernah lepas dari pena dan buku.

Suatu hari, saya juga pernah menangis sesenggukan di sudut taman kampus di depan banyak laki-laki.  Peristiwa itu terjadi lantaran saya diganggu oleh seorang laki-laki yang sudah lebih dari dua semester memang selalu mengganggu saya dengan perilaku aneh-aneh. Mulai dari mengomentari bentuk muka saya yang bulat dan chubby, jerawat yang tumbuh besar dengan mata putihnya, sampai perkataan yang lambat saya ketahui adalah pelecehan verbal melalui gombalan-gombalan yang ia keluarkan.

Bagaimana tidak nyamannya saya di posisi ini. Saya mencoba menegurnya untuk tidak lagi mengganggu saya. Tapi semakin ditegur malah semakin menjadi-jadi. Baginya, itulah daya tarik saya yang membuat ia semakin ingin mengganggu dengan bahagia tanpa rasa bersalah.

Bahkan, Sesama Perempuan Ikutan Memaklumi Candaan Seksis

Lalu, karena saya tahu percuma saja saya menegurnya.  Saya meluapkan kekesalan saya dengan teman perempuan lain. Mungkin dengan bercerita dengan mereka segala ketidaknyamanan ini bisa diselesaikan. Tentu sebagai sesama perempuan, membicarakan hal ini akan nyambung dan sehati, bukan?

Tapi, dugaan saya kurang memuaskan. Sebagian dari mereka malah menganjurkan saya untuk memaklumi tingkah aneh yang dilakukan laki-laki itu. Karena sudah menjadi tabiat dan akan sulit menegurnya karena laki-laki itu sendiri memang tidak mau merubahnya.

Sampai di sini saya mengelus dada, bahkan sesama perempuan pun kadang sulit untuk meyediakan ruang untuk saling memahami. Beberapa teman menganggap saya perempuan baperan. Selalu memakai perasaan mudah tersinggung dan sulit diajak bercanda. Sama sekali tidak asyik untuk menghangatkan suasana agar riuh oleh canda tawa.

Loh, bagaimana mau tertawa bahagia, obyek bahan tertawaannya saya sendiri. Perempuan yang jelas-jelas dikerdilkan begitu rupa. Tentu memerahlah muka dan telinga saya menahan marah. Pada akhirnya, saya yang memang tidak bisa lama-lama marah meluapkan segala emosi itu dengan air mata. Tepat di depan banyak laki-laki.

Berminggu-minggu saya tidak lagi bersemangat pergi ke kelas. Ruang belajar begitu kelam untuk saya duduki meski sebentar. Teman-teman terasa menakutkan bagi saya. Tidak ada yang sudi mendengar bahkan membela saya secara utuh.  Jujur, saya pun sangat malu menangis seperti itu. Saya takut dianggap lemah dengan tangis berderai karena diganggu laki-laki. Takut tidak takutnya saya, ternyata perempuan memang dianggap lemah lewat air matanya. Pandangan ini belum punah meski manusia sudah hidup di abad milenium yang dipenuhi kecanggihan teknologi yang mengakses bacaan kesetaraan gender bisa dilakukan hanya hitungan jari.

Sesama Perempuan Harusnya Kompak Lawan Candaan Seksis

Berangkat dari pengalaman buruk di atas, saya mulai mencari bacaan-bacaan yang mendukung saya sebagai perempuan yang pernah mengalami hal-hal yang tidak menyenangkan dari laki-laki. Tidak terlepas dari bantuan seorang dosen perempuan saya, yang mengenalkan saya akan pentingnya belajar soal kesetaraan perempuan dengan laki-laki.

Dengan memanfaatkan media sosial, hari ini saya bisa banyak membaca beragam kisah perempuan dengan segala pengalaman seksisnya. Sehingga menyadarkan saya, bahwa sesama perempuan seharusnya satu rasa, sama menguatkan, bukan malah menjatuhkan di saat kaumnya merasa dilecehkan.

Sebenarnya saya tidak mau lagi mengingat hal yang -bagi saya- sangat memalukan ini. Tapi, saya percaya, dengan menulis saya bisa mengobati hal-hal traumatik itu pelan-pelan. Menyembuhkan hati dengan lebih menghargai segenap atribut perasaan sebagai  perempuan. Tindakan saya menolak perlakuaan laki-laki itu bukan baperan kok.

Memang seharusnya dilawan dan disuarakan dengan berani. Tidak ada yang harus disifati memalukan dari perempuan yang berani bicara soal ketidaknyamanan dirinya terhadap laki-laki. Ingat saja perkataan Madeleine Albright, “butuh waktu yang cukup lama untuk bersuara. Sekarang saya telah memilikinya dan saya tidak akan diam saja.”

Perempuan itu berharga, loh! Perempuan adalah subyek yang bebas menentukan perasaannya sendiri. Bukan objek tertawaan seakan-akan tanpa menertawakannya suasana akan mati loyo.

Jokes-jokes seksis sama sekali bukan cara melucu yang baik. Bukan cara menghangatkan suasana. Jika tidak bisa membuat bahan candaan yang bermartabat  lebih baik diam saja. Dari pada dilakukan malah menumbuhsuburkan pandangan patriarki yang meletakkan perempuan di ketiak laki-laki.

About the author

Yunita adalah perempuan yang menikmati masa pandemi di rumah saja. Suka baca hal-hal yang berbau gender dalam rangka mengasuh perasaannya untuk mencintai diri sendiri sebagai perempuan. Kamu bisa menemui Yunita di akun instagramnya: @kerudung_sendu .

Categories: OPINIMU

Yunita Umar

Yunita adalah perempuan yang menikmati masa pandemi di rumah saja. Suka baca hal-hal yang berbau gender dalam rangka mengasuh perasaannya untuk mencintai diri sendiri sebagai perempuan. Kamu bisa menemui Yunita di akun instagramnya: @kerudung_sendu .

0 Comments

Leave a Reply

Avatar placeholder

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Contact Us