Ketika Perempuan Kehilangan Sosok Tercinta

Published by Hayyun Nihayah on

Senyumku, tidak selalu berarti kebahagiaan

Dalam kehidupan hanya akan menjumpai dua macam kabar, gembira dan duka. Keduanya sering datang silih berganti dengan rentan waktu yang sangat bervariasi. Tidak pernah bisa diprediksi. Beberapa hari lalu, salah satu orang terkasihku pergi untuk selamanya. Duka selalu datang secara tiba-tiba. Dalam fase kehilangan, aku mencoba untuk bercerita tentang mencari cara untuk menghadapi dan mencobanya. 

Mengajak kalian yang sedang berada dalam posisi yang sama agar tidak terus larut dalam kesedihan dan penyesalan. Beberapa cerita hidup kita dengan seseorang mungkin memang harus menemui tanda titik. Setiap hari adalah belajar tentang memahami diri dan kehidupan ini. Aku ingin memulainya dengan bertanya kepada diri sendiri.

Bagaimana keadaan tubuhmu? Ketika duka masih hangat terasa

Begitu pun ketika aku berduka atas kehilangan salah satu sosok tercinta, yaitu bapakku. Hari pertama mengalami denial (penolakan), seperti tidak percaya jika dia benar-benar telah tiada. Fase penolakan ini mungkin akan berlangsung beberapa hari ataupun berbulan-bulan. Setiap orang memiliki batas akhirnya masing-masing.  Orang-orang terdekat datang dan menguatkan, itu benar-benar membuatku tidak merasa sangat kesepian. Mereka berusaha menciptakan tempat yang lebih ceria, melempar canda tawa agar suasana tidak terus murung. 

Sebenarnya aku juga sering tersenyum di hari-hari setelah kehilangan. Ketika menanggapi orang-orang yang berusaha menceritakan hal-hal menarik untuk mengusir duka. Tetapi tidak bisa kukatakan jika senyum itu sepenuhnya berarti baik-baik saja. Tidak selalu berarti Bahagia. Seiring hari-hari berlalu, tubuhku juga merasakan rindu layaknya orang yang mengalami sebuah perpisahan.

Perasaan perlu diluapkan, tetapi enggan menampakkan kesedihan

Mempunyai karakter tertutup dan enggan dikasihani, adalah tantangan untukku. Ketika harus meluapkan perasaan sedih agar tidak tersimpan lama dalam dada. Berpura-pura tegar? Tentu tidak. Tangisan dalam doa di balik punggung orang-orang adalah salah satu cara. Mungkin juga bercampur amarah dan kekecewaan. 

Menurutku, meluapkan perasaan itu perlu dilakukan untuk membuat hati lebih terasa lega. Tetapi tidak harus selalu di tengah keramaian ataupun di depan seseorang. Tidak hanya hati, tetapi fisik dan mental juga akan membaik. Ketika kita mengeluarkan emosi yang memberatkan itu.

Ekspresiku adalah rangkaian kata yang kutulis

Saran berikutnya yang aku dapatkan yaitu mencari media untuk berekspresi. Salah satunya dengan menulis apapun yang ingin diceritakan. Sebuah tulisan yang mungkin juga membantu orang lain untuk keluar dari perasaan sedih setelah perpisahan. Menulis adalah caraku marah dalam diam tetapi tidak memendamnya dalam-dalam. 

Menulis curhatan setiap hari dalam jurnal juga bisa meringankan beban. Ketika orang-orang mulai sibuk kembali dengan aktivitas mereka. Ketika teman dekat sudah cukup mendengar keluh kesah dan cerita yang berulang-ulang. Jurnal adalah sahabat terbaik untuk membantu seseorang mengolah emosi. Suatu hari jurnal-jurnal tulisanmu akan bercerita tentang cerita hidupmu. 

Mengakui, aku memang sedang sedih 

Senyumanku bukan berarti sebuah kepalsuan saat kesedihan datang. Tetapi lebih kepada ungkapan agar aku segera benar-benar bisa kembali tersenyum. Mengakui kesedihan merupakan langkah yang perlu disegerakan. Menurutku, sebuah pengakuan kesedihan tidak sama dengan pengumuman yang harus semua orang tahu. 

Berkata pada diri sendiri bahwa kita sedang bersedih, tidak serta merta akan membuatmu terlihat perlu dikasihani. Justru pengakuan ini akan membuat fisik dan mental menjadi lebih baik. Prioritaskan diri karena itu lebih penting daripada terus berpura-pura tidak sedih. Sebagai manusia, sebuah duka adalah hal yang normal terjadi. Tidak hanya diri ini, orang-orang pun mengalaminya.

Semua membutuhkan waktu untuk sembuh

Kehilangan memang rasa yang ingin cepat-cepat dihilangkan. Sakit yang obatnya pertemuan kembali, tetapi itu sulit bahkan tidak mungkin dilakukan. Terlalu keras kepada diri sendiri untuk segera tegak kembali sepertinya bukan cara yang terbaik. Dalam kehilanganku akan seseorang ini, aku mencoba tidak memarahi diriku tetapi memberinya waktu. 

Tidak masalah seberapa lama proses yang dibutuhkan untuk menyembuhkan lukanya. Aku hanya berpesan untuk selalu berusaha menikmati prosesnya. Memberi kebebasan lebih untuk sering menangis, mencoba hal-hal baru untuk melupakan kesedihan sesaat, atau hanya berdiam diri di waktu-waktu tertentu. 

Masa penyembuhan ini adalah saat aku meminta diriku untuk lebih nyaman. Tidak perlu terburu-buru ataupun ketakutan. Dan lebih memahami diri sendiri.

Sedih tidak harus selalu berujung depresi

Salah satu reaksi alami seorang manusia adalah dihinggapi rasa sedih. Seiring berjalannya waktu akan berkurang. Ketika kamu bisa memetik hikmah dari perginya seseorang, mungkin akan membawamu setingkat lebih dewasa dari sebelumnya. Tetapi pernahkah bertanya-tanya, apakah kesedihanmu mulai masuk ke sebuah fase depresi?

Menurutku, hal paling sederhana untuk menjaga jarak dari depresi yaitu tidak meninggalkan rutinitas seperti mandi, makan, dan tidur. Setiap pagi berusaha tersenyum dan bersyukur, mandi dan kemudian sarapan meskipun tidak selahap hari-hari sebelumnya. Berusaha untuk tidur dan tetap menjalin sosialisasi dengan orang lain. Selama hal-hal basic kehidupan masih dilakukan. Aku rasa masih akan baik-baik saja.

Niat mencari hiburan sering kali gagal. Coba lagi jangan bosan.

Sering kali untuk mengusir perasaan sedih, aku mencari beberapa hiburan seperti menonton film, membaca buku, makan makanan favorit, atau hal-hal lainnya. Tetapi, memang emosi merasa kehilangan ini tidak mudah ditaklukkan. Suatu hari menonton film tentang keluarga dengan cerita yang happy ending, tetapi responku malah menangis karena merasa nelangsa di kehidupan ini. 

Kemudian beralih ke membaca buku. Kebetulan dapat buku sejarah yang kisahnya sendu, ya menangis juga. Seperti apapun yang aku lihat membuat mata berair. Tetapi itu hanya dua hal dari ribuan hiburan positif lain yang belum aku coba. Buat teman-teman yang mengalaminya juga, jangan menyerah. Kumpulkan tenaga untuk mungkin mendaki gunung, diving, bersepeda, ikut kampanye hutan, dll. 

Apa yang aku pernah coba adalah dunia kecil, tetapi alam begitu luas. Masih banyak yang harus kita syukuri dan jelajahi. Semua punya arti untuk diri. Yuk! Coba lebih banyak hal-hal baru, jangan cepat bosan, perjalanan masih Panjang.

Kehilangan mengajarkanku lebih menghargai

Dari sebuah rasa kehilangan, aku melihat keluarga dalam arti yang berbeda. Sebuah harta paling berharga. Bahwa hidup tidak bisa sendirian, suatu Ketika akan membutuhkan bantuan orang lain, di sini aku belajar untuk lebih menghargai siapapun. Hidup tidak berlangsung selamanya, menghargai yang ada dan terus menebar manfaat adalah poin utamanya. 

Gesekan dan rasa tidak nyaman yang aku terima dari kehidupan ini, membawaku kembali kepada Tuhan. Dia adalah tempat ternyaman. Juga tentang waktu yang benar-benar tidak bisa diulang, meskipun hanya sehari. Mengajarkan akan hal-hal baik yang ingin dilakukan jangan ditunda. Besok bisa jadi orang tersebut sudah tidak bersama kita lagi. 

Teman-teman, sedih adalah emosi alami yang memang kita semua miliki. Alangkah baiknya tidak menentangnya tetapi menghadapinya dengan lembut. Karena tidak akan hilang dalam sehari, berusahalah untuk menghargai dan menikmati setiap proses penyembuhannya. 

About the author

Namaku Hayyun Nihayah, sebuah nama yang memberi arti hidup dengan banyak seni dan menulis. Bagiku, tulisan adalah bagian dari pembelajaran yang satu per satu menjawab rasa penasaran. Menyentuh dengan energi positif kepada kepala-kepala yang tertunduk lesu. Buku fiksi yang pernah terbit yaitu "Ketika Musim Gugur Bertemu Musim Semi" dan "Finding Pearl Eyes". IG : @hayyun_n email: nihayun@gmail.com


Hayyun Nihayah

Namaku Hayyun Nihayah, sebuah nama yang memberi arti hidup dengan banyak seni dan menulis. Bagiku, tulisan adalah bagian dari pembelajaran yang satu per satu menjawab rasa penasaran. Menyentuh dengan energi positif kepada kepala-kepala yang tertunduk lesu. Buku fiksi yang pernah terbit yaitu "Ketika Musim Gugur Bertemu Musim Semi" dan "Finding Pearl Eyes". IG : @hayyun_n email: nihayun@gmail.com

0 Comments

Leave a Reply

Avatar placeholder

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Contact Us