Saya Memilih Merdeka Sebagai Perempuan, Apapun Status Saat Ini

Published by Erlin Fadhylah on

Sebagai perempuan, kita telah terjajah oleh ideologi, stigma, dan ekspektasi ideal yang kebanyakan hanya ilusi. Sebagai perempuan dan sebagai ibu, saya memilih merdeka dari hal-hal tersebut dengan pelan tetapi pasti.

Saya memang istri, tetapi saya bukan hanya pasangan dari seseorang karena kami individu setara dan saya pun tetap melakukan sesuatu yang bisa saya banggakan. Saya ibu, tetapi panggil nama saya ketika bertemu. Saya perempuan, tetapi tidak salah, kan kalau saya tidak suka menyetrika pakaian? Saya melawan ideologi patriarki, stigma ibu sempurna, dan ekspektasi ibu rumah tangga ideal dengan cara saya. Saya memilih untuk memerdekakan diri dan bahagia lewat cara sederhana. Jadi, bagaimana caramu untuk menjadi perempuan merdeka?

Banyak Perempuan Lupa Kemerdekaan Dirinya Setelah Menjadi Ibu

Belum lama ini, saya menghadiri sebuah pertemuan virtual antara orang tua siswa dan pihak sekolah. Seperti prosedur umum saat akan memasuki ruangan pertemuan virtual, kita akan diminta mengisi nama yang akan ditampilkan kepada peserta lain. Saya pun menulis nama panggilan saya dan tidak lupa menyertakan tulisan di dalam tanda kurung yaitu wali murid diikuti nama putra sulung saya. 

Menariknya, hal sederhana tersebut ternyata menjadi sorotan dari kepala sekolah. Ia menyapa saya dan seorang ibu lainnya kemudian dengan sopan meminta para ibu lainnya untuk menuliskan nama mereka agar ia bisa menyapa secara personal. Sebab, beberapa ibu memilih untuk menuliskan identitas mereka sebagai mama, bunda, ataupun umi diikuti dengan nama anak dan menanggalkan nama pribadi mereka. Saya hanya bisa tersenyum sambil teringat situasi lain yang membuat saya sadar akan pentingnya identitas pribadi sebagai seorang individu dan perempuan.

Lalu, apa pentingnya hal itu? Mengapa cara saya, sebagai perempuan dan juga seorang ibu, memaknai kemerdekaan berkorelasi dengan situasi tersebut?

Perempuan dan Identitas

Sebagai perempuan yang telah menanggalkan profesi di ruang publik dan mengurus rumah penuh waktu, saya rentan kehilangan identitas pribadi. Di lingkungan, saya dikenal sebagai Bu Tommy–merujuk pada nama suami saya–atau Mami Hazqil, nama anak pertama saya. Sesekali, saya disapa Mbak, tetapi nama pribadi saya paling jarang disebut saat orang lain menyapa. 

Saya pun teringat sebuah fakta yang saya dapat saat mengikuti Serial Ngaji Keadilan Gender Islam (KGI) bersama Bu Nyai Nur Rofiah. Beliau mengatakan bahwa rahim perempuan bukanlah miliknya. Sebelum menikah, rahim tersebut adalah milik ayah yang kemudian berpindah menjadi milik suami dan mertua setelah akad nikah. Ternyata, bukan cuma rahim. Hal serupa juga terjadi pada identitas perempuan yang, entah kenapa, sulit menjadi miliknya seperti dalam situasi saya.

Memang bukan hal yang salah, apalagi dosa, merujuk saya dengan nama suami ataupun anak. Beberapa perempuan pun mendapatkan kebanggaan serta kebahagian dari status tersebut, termasuk saya. Tulisan ini pun sama sekali tidak bermaksud menyindir atau mengkritik perempuan yang memilih menyebut dirinya sebagai istri atau ibu dari seseorang di media sosial ataupun ruang publik. Namun, saya sendiri sempat mengalami krisis ketika saya mengambil peran istri dan ibu sebagai identitas personal saya. Salah satu krisis yang paling besar adalah terkikisnya kebahagiaan dan jati diri saya. 

Kebahagiaan dan Ekspektasi

Di tahun pertama berhenti bekerja sebagai guru, saya menikmati peran baru saya sebagai istri dan ibu penuh waktu, saya pikir begitu. Saya ingat sekali, saat itu saya baru memiliki putri kedua. Berbeda dengan anak pertama, saya memilih mengurus kedua buah hati saya seorang diri tanpa bantuan pengasuh atau asisten rumah tangga. Hampir semua tugas rumah saya kerjakan, seperti memasak, mencuci pakaian, membereskan mainan, pastinya mengurus bayi dan balita, dan sekian tugas domestik lainnya.

Lucunya, saya berkata bahwa saya menikmati peran tersebut–istri dan ibu di rumah. Masih terekam jelas percakapan saya dengan rekan sejawat mengajar dulu setelah menjalani situasi tersebut hampir setahun. Saya mengaku bahagia bahkan mengucapkannya sembari tersenyum saat berbincang di telepon. Namun, saya tidak sadar saat tenggelam dalam rutinitas dan identitas sebagai istri dan ibu penuh waktu, saya turut menggantungkan kesuksesan dan kebahagiaan saya pada identitas tersebut. 

Ternyata, pengakuan bahwa saya bahagia hanyalah semu belaka. Contoh paling nyata, saya mengamuk saat anak saya menolak makan buah. Saya terluka saat berat badan anak saya yang tidak naik dipertanyakan. Saya kesal saat anak saya kerap memilih-milih makanan. Sepele? Memang. Namun, saat itu saya ibu penuh waktu, pikir saya. Apa gunanya saya menjadi ibu yang tidak bekerja dan selalu di rumah jika berat badan anak saya tidak naik dan mereka tidak makan dengan baik? Bukankah itu artinya saya gagal menjadi ibu? Padahal, ibu yang sukses merupakan salah satu identitas yang tersisa dan yang paling bisa serta paling ingin saya banggakan sejak berhenti bekerja. 

Jadi, secara tidak sadar ketika saya mengambil peran ibu sebagai identitas pribadi, kesuksesan dan kebahagiaan saya diukur dari keterampilan makan serta berat badan anak-anak. Saya kehilangan jati diri dan tidak bisa bahagia karena hal-hal yang sebelumnya saya sukai. Saya lupa rasanya puas saat menyelesaikan novel baru. Saya bahkan tidak merasa gembira atau ikut bersenandung saat mendengar lagu favorit diputarkan. Anak pun menjadi korban akibat ekspektasi saya yang kelewatan. Saya emosi dan anak pun frustrasi.

Identitas Personal untuk Kesejahteraan Mental dan Emosional

Lalu, kapan tepatnya saya menyadari bahwa saya membutuhkan identitas pribadi? Amukan di luar nalar akibat hal sepele yang berkaitan dengan kondisi anak membawa saya pada sesi konseling dengan psikolog. Ia pun menyarankan saya untuk mulai menulis atau berolahraga. Pilihan jatuh pada menulis karena saat itu energi untuk berolahraga telah terkuras habis untuk tugas domestik. Saat menulis inilah saya kembali menyematkan nama pribadi di karya saya. 

Saat karya saya dibaca dan diapresiasi, saya tahu itu untuk saya bukan karena pencapaian anak atau peran domestik saya. Ternyata, dari situ saya kembali menemukan kebahagiaan pada hal-hal sederhana yang biasa saya lakukan. Saya merasa merdeka karena bisa kembali bahagia atas pencapaian pribadi. Saya mendapatkan kembali rasa bangga sebagai individu yang berdaya bukan hanya ibu yang menggantungkan kesuksesan pada keterampilan makan anak-anaknya. Sejak itulah saya sadar pentingnya identitas personal untuk kesejahteraan mental dan emosional saya sebagai perempuan dan juga ibu.

Banyak perempuan, termasuk saya, yang lupa pada kemerdekaan dirinya setelah menjadi ibu. Meski kita tidak bisa mengambil jeda dari peran tersebut, kita tidak semestinya lupa pada hak kita sebagai individu. Sebagai perempuan, baik berstatus ibu ataupun bukan, kita berhak merdeka dan bahagia. Dan, kalau kita mau refleksi sejenak ada banyak hal sederhana yang sebetulnya bisa dilakukan untuk memerdekakan diri kita sebagai perempuan apa pun statusnya.

Perempuan Merdeka Apa Pun Statusnya

Tetap menggunakan identitas pribadi merupakan salah satu cara yang saya praktikkan untuk tetap merdeka sebagai diri. Meski begitu, tidak masalah jika ada perempuan yang memilih untuk tetap memakai nama sebagai istri dari seseorang ataupun ibu dari seseorang di ruang publik. Karena, kunci kedua untuk menjadi merdeka adalah berhenti membanding-bandingkan. 

Masing-masing kita adalah individu yang unik. Pengalaman saya mungkin tidak sama dengan pengalaman Anda, pun sebaliknya. Jadi, cara saya meraih kemerdekaan dan kebahagiaan memang tidak dapat dibandingkan dengan cara individu lain. Namun, jika jati diri dan kebahagiaan mulai hilang secara perlahan, mungkin identitas bisa menjadi salah satu aspek yang patut dipertimbangkan. Kuncinya adalah jangan membanding-bandingkan karena setiap orang punya standarnya sendiri-sendiri. 

Sebagai perempuan, kita telah terjajah oleh ideologi, stigma, dan ekspektasi ideal yang kebanyakan hanya ilusi. Sebagai perempuan dan sebagai ibu, saya memilih merdeka dari hal-hal tersebut dengan pelan tetapi pasti. Saya memang istri, tetapi saya bukan hanya pasangan dari seseorang karena kami individu setara dan saya pun tetap melakukan sesuatu yang bisa saya banggakan. Saya ibu, tetapi panggil nama saya ketika bertemu. Saya perempuan, tetapi tidak salah, kan kalau saya tidak suka menyetrika pakaian? Saya melawan ideologi patriarki, stigma ibu sempurna, dan ekspektasi ibu rumah tangga ideal dengan cara saya. Saya memilih untuk memerdekakan diri dan bahagia lewat cara sederhana. Jadi, bagaimana caramu untuk menjadi perempuan merdeka?

Dirgahayu Republik Indonesia! Saya Perempuan Merdeka!

Erlin Fadhylah atau biasa disapa Erfa adalah lulusan Sastra Indonesia dari Universitas Negeri Jakarta. Setelah sepuluh tahun berprofesi sebagai pengajar di beberapa sekolah internasional, Erfa kini berdaya di rumah saja dengan aktif menulis artikel yang diterbitkan di berbagai media cetak dan daring. Hobinya membaca buku membawa Erfa berkenalan pada dunia menulis fiksi dan mengantarkannya pada profesi pekerja lepas sebagai pengulas novel serta penyelaras aksara. Beberapa tulisannya dapat dibaca melalui tautan linktr.ee/erfa22. Ia juga dapat disapa melalui akun instagramnya @erfa22.

Categories: OPINIMU

Erlin Fadhylah

Erlin Fadhylah atau biasa disapa Erfa adalah lulusan Sastra Indonesia dari Universitas Negeri Jakarta. Setelah sepuluh tahun berprofesi sebagai pengajar di beberapa sekolah internasional, Erfa kini berdaya di rumah saja dengan aktif menulis artikel yang diterbitkan di berbagai media cetak dan daring. Hobinya membaca buku membawa Erfa berkenalan pada dunia menulis fiksi dan mengantarkannya pada profesi pekerja lepas sebagai pengulas novel serta penyelaras aksara. Beberapa tulisannya dapat dibaca melalui tautan linktr.ee/erfa22. Ia juga dapat disapa melalui akun instagramnya @erfa22.

0 Comments

Leave a Reply

Avatar placeholder

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Contact Us