People Pleaser Syndrome: Perilaku Baik, tapi Abai Kesejahteraan Diri

Dua minggu terakhir, berita tentang pelecehan seksual terhadap anak seolah tidak ada habisnya. Meski secara pribadi saya kerap menghindari berita-berita tersebut, tetapi saat membuka media sosial selalu ada saja berita baru tentang hal ini muncul di beranda. Rasanya sungguh menghancurkan hati, apalagi ada salah satu korban anak yang terinfeksi HIV AIDS akibat pelecehan yang ia alami. 

Sebagai ibu dari dua orang anak balita, respons pertama saya menghadapi berita tersebut tentu saja sesak. Sambil terus berdoa agar anak-anak saya dan anak-anak lain terus dijaga, saya pun memikirkan hal yang harus dilakukan untuk mempersiapkan anak-anak agar bisa menjaga dirinya dari risiko pelecehan.

Di rumah, saya bersama anak-anak memang sudah pernah mengikuti sesi pendidikan seksualitas untuk balita. Kami belajar tentang sentuhan boleh dan tidak boleh serta menekankan pentingnya komunikasi antara anak dan orang tua. Anak mesti dibiasakan terbuka dan bercerita pada orang tua tentang pengalamannya agar bisa dilakukan tindakan preventif jika terdapat risiko pelecehan di lingkungannya.

Namun, pengalaman saya sebagai anak mengajarkan bahwa hal tersebut belum cukup. Saya masih ingat betul saat usia saya sembilan atau sepuluh tahun ada kejadian yang hampir saja membuat saya dan adik perempuan saya menjadi korban pelecehan. Entah adik saya mengingatnya atau tidak karena saat itu ia masih berusia di bawah lima tahun

Kalau tidak salah, kami sedang berjalan berdua, kemungkinan besar ke warung tidak jauh dari rumah. Tepat di depan gang, ada seorang pria asing–saya yakin ia bukan warga sekitar karena saya tidak pernah melihatnya–menghampiri kami. Ia bertanya lokasi suatu tempat dan meminta adik saya menemaninya untuk menunjukkan tempat tersebut. Saya bimbang, di mata kecil saya ia adalah sosok yang butuh bantuan dan di sekolah maupun di rumah kami selalu diajarkan untuk menolong orang lain, bukan?

Meski begitu, naluri saya sebagai kakak juga tidak bisa menyerahkan adik saya begitu saja ke orang yang tidak dikenal. Namun, bukannya menolak mentah-mentah permintaan orang tersebut, saya justru menawarkan diri untuk menggantikan adik saya. Saya beralasan bahwa adik saya masih kecil dan saya lebih paham tempat yang ia cari. Untung saja pria asing itu menolak. Tidak lama setelah kejadian tersebut, saya mendengar orang tua bercerita bahwa ada anak balita menjadi korban pelecehan tidak jauh dari rumah kami. 

Saat itu, saya memang belum sepenuhnya mengerti dan masih belum bisa mengaitkan rangkaian kejadian tersebut. Ingatan tersebut secara acak menyeruak saat membaca berbagai berita terkait pelecehan seksual terhadap anak akhir-akhir ini. Namun, sebagai pribadi yang lebih dewasa saya pun menjadikan ingatan tersebut sebagai bahan refleksi. Salah satu pertanyaan refleksi saya adalah, apa alasan versi kecil diri saya menceburkan diri dalam kondisi berisiko semacam itu? Padahal, saat itu saya sudah hampir kelas enam SD, bukan lagi anak kecil yang mudah diimingi permen. 

Saya Menyadari Bahwa Menjadi People Pleaser Harus Kukurangi

Dari proses refleksi tersebut, saya pun mencoba mengenal diri saya dahulu dan sekarang. Saya menyadari bahwa ada satu sikap yang hingga kini masih berusaha saya kurangi–jika tidak bisa dihilangkan sepenuhnya–yakni kebiasaan untuk selalu menyenangkan orang lain atau people pleaser.

Definisi people pleaser syndrome mudah ditemukan di internet. Namun, menurut saya pribadi people pleaser ditandai dengan perilaku yang kebanyakan dianggap sebagai sikap baik, tetapi dilakukan dengan mengabaikan kesejahteraan diri. Contoh paling mudah adalah sulit bilang tidak saat orang lain meminta bantuan meski diri sendiri sebetulnya kewalahan untuk menolong.

Sosok people pleaser seperti saya sejatinya memiliki pandangan yang kabur dalam membedakan perilaku baik dan perilaku yang menyusahkan diri sendiri. Hal tersebut terjadi karena seorang people pleaser sebetulnya ingin selalu menjaga hubungan baik dengan siapa pun. Selain berisiko menjadi korban pelecehan seksual, sosok people pleaser juga rentan menjadi korban perundungan.

Sama seperti kondisi berisiko yang saya ceritakan di atas, diri kecil saya tidak bisa membedakan antara situasi membahayakan dengan kewajiban menolong orang lain. Entah karena bibit people pleaser memang sudah ada dalam diri saya atau bukan, tetapi saya menyadari salah satu permasalahan yang mungkin menjadi penyebab hal itu terjadi yakni pelajaran dan pesan tentang menolong orang lain.

Coba kita ingat bersama, apa pesan orang tua atau guru kita tentang menolong orang lain? Pernahkah di antara sekian ajaran baik untuk menolong orang lain tersebut terselip anjuran kapan kita harus berhenti atau menolak untuk menolong? Mungkin pernah, tetapi seperti halnya pengalaman saya sebagai anak dan orang tua, anjuran tersebut tidak diberikan sebanyak pesan mengenai kewajiban menolong orang lain.

Pertanyaan berikutnya, jika kita sebagai orang tua, guru, atau orang dewasa di sekitar anak, apa yang akan kita lakukan saat melihat seorang anak tidak mau atau menolak untuk menolong temannya? Reaksi paling mungkin yang diberikan orang dewasa pasti mengingatkan anak untuk menolong, menasehati untuk berbagi, dan meminta anak untuk tidak bersikap menang sendiri. 

Dari situasi-situasi tersebut, sadarkah kita bahwa, di luar faktor sikap bawaan anak maupun pola pengasuhan lainnya, kemungkinan kitalah yang membuat anak menjadi seorang people pleaser? Sikap baik selalu diglorifikasi tanpa menyeimbangkannya dengan anjuran memiliki batasan diri. Penolakan anak untuk menolong dianggap nakal tanpa melihat sisi bahwa hal tersebut perlu diajari. 

Seperti halnya kondisi yang saya alami, saya takut berkata tidak saat ada pria asing yang meminta bantuan dan mungkin saja berbahaya. Dibanding memikirkan risikonya, saya lebih khawatir gagal menjadi anak baik karena tidak menolong orang yang tampaknya butuh bantuan. Saya pun yakin ada banyak kondisi anak korban pelecehan seksual yang mengalami situasi yang tidak jauh berbeda. 

Pengalaman menyunting cerita korban kekerasan seksual di Perempuan Berkisah setidaknya bisa jadi bukti atas dugaan tersebut. Banyak korban yang awalnya berniat menolong, tidak enak menolak, atau takut berkata tidak saat menghadapi pelaku kekerasan seksual. Beberapa dari mereka kemungkinan adalah people pleaser seperti saya. Mungkin saya beruntung, tetapi banyak yang tidak dan itu sama sekali bukan berita baik, terlebih bagi para korban di bawah umur.

Terima Penolakan, Cara Mudah Ajari Batasan Diri Sehat pada Anak

Pertanyaan berikutnya sudah jelas, apa yang harus kita lakukan? Tentu tidak mungkin kita mengajarkan anak kita untuk berhenti melakukan kebaikan dan menolong orang lain. Lewat pengalaman ini, saya pun mencoba memperbaiki gaya pengasuhan–hal yang memang harus terus dilakukan sepanjang saya menjadi orang tua. Salah satu perbaikan tersebut adalah menerima penolakan anak. 

Sebagai orang tua, kita cenderung merasa superior dan paling tahu yang terbaik untuk mereka. Penolakan mereka pada hal yang kita anjurkan sering dianggap tanda perlawanan. Tentu tidak mudah menurunkan ego sebagai orang tua, tetapi menerima penolakan dan kata tidak dari anak mestilah dibiasakan tentu dengan syarat dan ketentuan. 

Dalam hal ini, diskusi terbuka sangat saya anjurkan. Saat anak menolak, jangan langsung bersikap defensif atau melabeli anak secara negatif. Beri anak ruang mengungkapkan alasan penolakannya. Validasi dan terima perasaannya kemudian jelaskan pandangan dari sisi kita. 

Hal ini cukup berhasil saya terapkan pada anak yang kerap menolak makan sayur. Awalnya saya kesal, melabelinya sebagai anak yang tidak sehat dan tidak mau mendengarkan orang tua. Kemudian, saya sadar hal tersebut tidak membuat situasi menjadi lebih baik. Saya pun mengubah strategi dengan memintanya menjelaskan alasan ia menolak sayur tertentu. Kami berdiskusi tentang sayuran yang mau ia konsumsi, manfaatnya, serta membuat kesepakatan agar ia mau mencoba setidaknya satu suap setiap melihat jenis sayur baru di piringnya. 

Saya berdamai dengan penolakan yang ia berikan dan memberinya ruang untuk menjelaskan. Hasilnya? Dia mau mencoba dan saya bahagia. Meski hanya satu suapan saya percaya bahwa proses mencoba akan membentuk kebiasaan makan sehat yang lebih baik.

Strategi semacam ini akan saya terapkan dalam situasi lain. Tentu tidak mudah, tetapi bukan tidak mungkin. Mari berdamai dengan penolakan anak sambil terus membangun komunikasi. Tanamkan moral baik pada anak tanpa intimidasi hingga membuatnya merasa harus terus menerima tanpa memiliki batasan diri. Pastikan anak tahu risiko baik maupun buruk dari penolakannya tersebut lewat dialog terbuka bersama orang tua.

Pentingnya Orang Tua Mengajari dan Menjadi Teladan Sikap Asertif 

Selain berdamai dengan penolakan anak, tentu ada banyak hal lain yang harus dipersiapkan agar anak terhindar dari risiko pelecehan seksual ataupun perundungan. Mencegah anak menjadi people pleaser hanya salah satu cara dan tidak akan efektif tanpa didukung oleh lingkungan tumbuh kembang yang menyediakan anak rasa aman, kasih sayang, dan kepercayaan. 

Kita tidak ingin membesarkan pribadi yang egois, tetapi kita tentu tidak mau anak kita selalu menyenangkan orang lain tanpa alasan logis. Mungkin kata yang tepat untuk menggambarkan perilaku tersebut adalah asertif. Dilansir dari aparent.today, perilaku asertif adalah keterampilan mengekspresikan pikiran dan perasaan dalam bentuk yang dapat diterima dengan baik oleh orang lain. 

Sejalan dengan pemaparan sebelumnya, perilaku asertif pada anak bisa diajari dengan memberi anak ruang untuk memberi penolakan tanpa mengurangi rasa hormatnya pada lawan bicara. Ajari anak teknik bernegosiasi dan berani mengungkapkan perasaannya, terutama kepada orang tua. Jika bukan orang tua atau keluarga yang menjadi ruang aman pertama anak, siapa lagi? 

Saya pribadi bukan siapa-siapa, hanya seorang ibu dan juga guru yang peduli dan pilu melihat berita pelecehan seksual pada anak yang tidak ada habisnya. Saya masih terus belajar, memperbaiki kesalahan, dan menjaga kesejahteraan mental sebagai orang tua agar bisa mempersiapkan anak-anak saya menjadi pribadi yang siap menghadapi dunia. Semoga sekelumit refleksi sederhana ini bisa menjadi pengingat diri bagi saya pribadi dan orang tua lainnya untuk memberikan hak anak atas ruang aman untuk pertumbuhannya.

Erlin Fadhylah atau biasa disapa Erfa adalah lulusan Sastra Indonesia dari Universitas Negeri Jakarta. Setelah sepuluh tahun berprofesi sebagai pengajar di beberapa sekolah internasional, Erfa kini berdaya di rumah saja dengan aktif menulis artikel yang diterbitkan di berbagai media cetak dan daring. Hobinya membaca buku membawa Erfa berkenalan pada dunia menulis fiksi dan mengantarkannya pada profesi pekerja lepas sebagai pengulas novel serta penyelaras aksara. Beberapa tulisannya dapat dibaca melalui tautan linktr.ee/erfa22. Ia juga dapat disapa melalui akun instagramnya @erfa22.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Contact Us