Bingung Menghadapi Teman Curhat Soal Kekerasan yang Dialaminya? Simak Tips dari Psikolog dan Konselor Perempuan Berkisah

Published by Redaksi Perempuan Berkisah on

Siapapun kita, tak pernah menginginkan menjadi korban kekerasan, apalagi kekerasan seksual dan kekerasan berbasis gender lainnya. Tapi, bagaimana jika kita dihadapkan dengan teman atau saudara kita sendiri yang menjadi korban kekerasan yang dialaminya? 

Apakah kita harus memiliki keterampilan khusus dalam menghadapi mereka? Atau cukup berbekal kedekatan dan kepercayaan? Sekian pertanyaan ini pun menjadi salah satu kegelisahan tersendiri bagi sobat Perempuan Berkisah, saat diskusi “Merawat Kesehatan Mental” dan “Melawan Stigma” yang diselenggarakan oleh Komunitas Perempuan Berkisah pada Minggu (29/09/2019), di Scientia Square Park. 

Diskusi yang diselenggarakan Komunitas Perempuan Berkisah, ini menghadirkan seorang Psikolog Klinis Dewasa, Mario Carl Joseph, M.Psi dan dr. Sandra Suryadana, yang juga merupakan salah satu Tim Konselor Perempuan Berkisah, yang juga merupakan Founder @doktertanpastigma, serta Triya Amalia, Tim Redaksi Perempuan Berkisah yang merupakan Founder @jarofmiracle

Lalu, bagaimana sikap yang tepat dalam menghadapi teman yang curhat tentang kekerasan yang pernah dialaminya? Sementara, kita hanya orang awam, bukan konselor, psikolog maupun psikiater. Berikut adalah saran dan masukan dari Psikolog dan Konselor Perempuan Berkisah

  • Kita harus menyadari bahwa kasus kekerasan pada perempuan sangatlah banyak. Ketika korban kesulitan untuk bercerita, karena mereka biasanya takut dihakimi, takut membuka aib, takut menjadi bahan olok-olok dan candaan seksis di sekelilingnya. 
  • Proaktif menjaring korban. Karena begitu banyaknya korban kekerasan seksual yang masih bungkam, oleh karenanya kitalah yang harus mulai proaktif menjaring korban. 
  • Mulailah menunjukkan kepedulian (concern) kita akan isu-isu kekerasan seksual, terutama melalui media sosial (Medsos) agar orang-orang  tahu bahwa kita peduli.
  • Teruslah konsisten menjadi pribadi yang peduli pada sesama perempuan, terutama kepada yang mengalami kekerasan seksual. Maka bila ada korban yang hendak bercerita tetapi tidak tahu mau bercerita ke mana, mereka bisa teringat pada kita dan akhirnya mau membuka diri bercerita pada kita. 
  • Kita harus mampu mendengarkan secara aktif. Mendengarkan secara aktif artinya tidak menghakimi, memberikan solusi, dan memberikan dukungan dan tunjukkan empatimu. Jadi, ingat ya? hindarilah untuk menghakimi, hindari untuk bertanya terlalu dalam (interogasi) dan hindari untuk memberikan saran atau menasehati yang bersifat opini pribadi.
  • Hal penting lain yang perlu diperhatikan dalam mendengar aktif adalah sebagai berikut: Hindari memotong atau menyela pembicaraan; Hindari berbicara terlalu banyak kepada orang yang memerlukan dukungan, kadang hal ini kita lakukan bila gugup atau tidak tahu apa yang mesti dilakukan; Hindari kata-kata atau bahasa tubuh yang mengancam, dan menyalahkan; Berikan respon terhadap kemarahan orang yang memerlukan dukungan dengan tenang, tidak dengan membela diri, marah atau sakit hati.
  • Sangat dibutuhkan pelatihan dasar mengenai ketrampilan dalam memberikan pertolongan pertama psikologis (psychological first aid), sehingga dapat lebih optimal dalam memberikan pendampingan. Apa saja yang harus kita katakan dan kita lakukan untuk memberikan pertolongan pertama psikologis bagi orang yang baru saja trauma atau terluka batin. 
  • Kita juga harus mulai membangun networking agar mengenal banyak komunitas-komunitas yang bisa membantu. Contohnya seperti LBH Apik untuk bantuan hukum, lembaga-lembaga psikologi untuk psikoterapi, komunitas-komunitas untuk support group, dan sekian komunitas peduli perempuan lainnya. Sehingga, ketika ada teman-teman yang bercerita pada kita bisa mendapat follow up.

So, kira-kira demikian bagaimana seharusnya kita bersikap saat ada teman yang curhat sola kekerasan seksual yang pernah dialaminya. Bagi sobat Perempuan Berkisah yang punya pengalaman tentang ini, silakan berbagi pengalaman kallna di kolom komentar ya? Terimakasih sudah belajar bersama kami.

About the author

Media Pemberdayaan | Katalisator Perubahan | Ruang Aman Berbasis Etika Feminis


Redaksi Perempuan Berkisah

Media Pemberdayaan | Katalisator Perubahan | Ruang Aman Berbasis Etika Feminis

1 Comment

Menjadi Pendengar Aktif-Empatik Ketika Teman Ingin Bunuh Diri - Perempuan Berkisah · August 25, 2021 at 6:12 am

[…] Bingung Menghadapi Teman Curhat Soal Kekerasan yang Dialaminya? Simak Tips dari Psikolog dan Konselo… BACA JUGA ARTIKEL INI […]

Leave a Reply

Avatar placeholder

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Contact Us