Mencintai Diri Sendiri Bukanlah Mementingkan Diri Sendiri

Published by Fitria on

About the author

Fitria adalah seorang Sarjana Psikologi yang lulus pada tahun 2018 lalu. Kesibukannya saat ini adalah bekerja, membangun komunitas anak, dan aktif dalam kegiatan sosial di beberapa komunitas yang concern terhadap isu kesehatan mental. Beberapa kegiatan yang ditekuninya ini adalah hasil dari perjalanan panjang dalam menemukan kebahagiaan dirinya. Dua hobinya saat ini adalah menulis mengenai self love dan membaca buku pengetahuan yang pembahasannya berfokus pada kesehatan mental pada anak. Ia dengan senang hati berbagi mengenai pengalaman dan perasaannya dalam sebuah tulisan yang bisa diakses pada situs blog aksara-fitria.blogspot.com. Teman-teman bisa mengenalnya lebih jauh, silahkan mengunjunginya di akun Instagram @fitriyooo

Penulis: Fitria | Editor: Erlin Fadhylah

Mencintai diri sendiri bukanlah hal yang instan. Bahkan, beberapa dari kita mungkin berada pada tahap itu setelah bertahun-tahun lamanya melalui perjalanan yang cukup panjang. Melalui berbagai jalan yang terjal hingga mengantarkan pada perasaan lebam dan ruam.

Fitria

‘’How can we love the next person effectively before we have learned to love ourselves unconditionally? When you love yourself conditionally, you cannot love another unconditionally, because why give someone else something you do not have?…”

Demikian salah satu pernyataan dari Sarah-Len Multiwasekwa, seorang Mental Health Advocate, yang tertulis di dalam salah satu artikel Psychology Today.

Kalimat “Sebelum kita mencintai orang lain, maka cintailah diri kita terlebih dahulu,” nampaknya adalah hal yang benar adanya. Sarah, dengan sederhana menjelaskan bahwa kita perlu mencintai diri sendiri terlebih dahulu, sebelum memberikan juga cinta itu kepada orang lain.

Mencintai diri sendiri adalah proses menikmati kebersamaan dengan diri sendiri.

Ketika kita mencintai diri sendiri dengan syarat, maka kita pun akan melakukan hal yang sama dalam mencintai orang lain. Sebab, apa-apa yang kita letakkan pada diri orang lain memang dimulai dari diri sendiri. Hal yang perlu menjadi catatan juga adalah bahwa cinta yang dimaksud adalah cinta tanpa syarat, yakni, cinta yang tidak bergantung pada hal apa pun dan cinta yang ditunjukkan bukan karena sesuatu yang telah kita lakukan. 

Hal yang diungkapkan oleh Sarah mengingatkan saya pada salah satu teori hierarki kebutuhan manusia yang dikemukakan oleh Abraham Maslow, seorang Psikolog asal Amerika. Maslow menempatkan love and belonging (cinta dan kasih sayang) pada posisi ketiga dalam segitiga hierarki kebutuhan yang digambarkannya. Meskipun cinta yang dimaksud dalam teori ini adalah memperoleh cinta dari orang lain, tetapi bukankah Maslow secara tidak langsung menjelaskan betapa pentingnya memiliki perasaan dicintai?

Mencintai diri sendiri bukanlah tindakan mementingkan diri sendiri, bukan sebuah tindakan di mana kita menutup diri hingga tak ada seorang pun yang bisa masuk ke dunia kita. Mencintai diri sendiri adalah proses menikmati kebersamaan dengan diri sendiri. Prosesnya lahir dari perjalanan mengenali siapa sesungguhnya diri kita dan pengalaman kita tentang cinta itu sendiri. Setiap orang tentu bertumbuh dengan pengalaman cinta yang berbeda dan hal itulah yang membentuk sikap kita dalam mencintai diri sendiri.

Proses mencintai diri sendiri itu seperti berjalan beriringan dengan proses pencarian identitas diri.

Apa yang kita suka, apa yang kita tidak suka, apa yang membuat kita bahagia, hingga hal apa yang mengganggu perasaan kita adalah sebagian kecil pertanyaan yang kerap kali muncul ketika kita berjalan mencari jawaban dari pertanyaan singkat “Aku ini siapa?” Munculnya beragam pertanyaan itu adalah hal yang sangat wajar. Sebab, ketika kita sudah menemukan jawabannya, perasaan menghargai dan mencintai diri sendiri itu akan perlahan tumbuh dalam diri kita.

Dalam sebuah artikel di Psychology Today, Beverly D. Flaxington, pengajar di Suffolk University menyebutkan bahwa terdapat lima langkah untuk mulai mencintai diri sendiri.

Lima Langkah untuk Mulai Mencintai Diri Sendiri

Pertama, kita harus mengetahui dan menanamkan keyakinan bahwa tidak ada orang yang persis sama. Setiap orang unik dan memiliki karakternya masing-masing, sehingga membandingkan diri sendiri dengan orang lain bukanlah suatu tindakan yang tepat.

Kedua, perlu kita sadari bahwa setiap orang melakukan segala kemampuan mereka melalui perjalanan yang mereka tempuh sendiri. Jadi, apa yang kita lakukan pun memiliki cerita dan perjalanannya sendiri.

Ketiga, menghargai bahwa setiap momen adalah hadiah dan berharga.

Keempat, yakinkan diri bahwa tidak ada satu pun manusia yang sempurna di dunia ini. Jika kita tidak dapat melakukan sesuatu dengan maksimal, tidak apa-apa. Jadikan hal itu sebagai pembelajaran. 

Kelima, cobalah untuk berbicara kepada diri sendiri dengan penuh kasih (self talk). Self talk adalah cara yang cukup ampuh untuk mendorong diri kita agar tetap menerima diri apa adanya.

Mencintai diri sendiri bukanlah hal yang instan. Bahkan, beberapa dari kita mungkin berada pada tahap itu setelah bertahun-tahun lamanya melalui perjalanan yang cukup panjang. Melalui berbagai jalan yang terjal hingga mengantarkan pada perasaan lebam dan ruam.

Tidak perlu risau, kita selalu memiliki cerita masing-masing dan tak perlu disamakan. Mencintai diri sendiri bukanlah hal serupa kompetisi, bukan pula untuk menunjukkan seberapa hebat kita untuk orang lain. Lebih dari itu, mencintai diri sendiri adalah memberikan penghargaan atas diri dengan segala kelebihan juga kekurangan yang dimiliki. 

Maka, mulailah untuk belajar mencintai dirimu sendiri. Berikan maaf untuk siapa pun yang pernah singgah dan menyakitimu di masa lalu. Berdamailah dan biarkan masa lalu itu pergi berlalu. Kita, perlu sesekali mengatakan cinta pada diri kita sendiri supaya kita merasa bangga sebab telah menjadi diri sendiri, supaya kita selalu merasa berharga dalam berbagai kondisi. Jadi, sudahkah kita mencintai diri sendiri hari ini?

Referensi:

Feist, Jess & Feist, Gregory J. (2008). Theories of Personality 7th ed. New York: Mc-Graw Hill

Flaxington, Beverly D. (2019, January 17). The Importance of Self-Love: Five ways to start cultivating self-love. Retrieved from Psychology Today: https://www.psychologytoday.com/intl/blog/understand-other-people/201901/the-importance-self-love

Multiwasekwa, Sarah-Len. (2019, November 12). Self-Love: You cannot love someone else until you learn to love yourself. Retrieved from Psychology Today: https://www.psychologytoday.com/us/blog/the-upside-things/201911/self-love


Fitria

Fitria adalah seorang Sarjana Psikologi yang lulus pada tahun 2018 lalu. Kesibukannya saat ini adalah bekerja, membangun komunitas anak, dan aktif dalam kegiatan sosial di beberapa komunitas yang concern terhadap isu kesehatan mental. Beberapa kegiatan yang ditekuninya ini adalah hasil dari perjalanan panjang dalam menemukan kebahagiaan dirinya. Dua hobinya saat ini adalah menulis mengenai self love dan membaca buku pengetahuan yang pembahasannya berfokus pada kesehatan mental pada anak. Ia dengan senang hati berbagi mengenai pengalaman dan perasaannya dalam sebuah tulisan yang bisa diakses pada situs blog aksara-fitria.blogspot.com. Teman-teman bisa mengenalnya lebih jauh, silahkan mengunjunginya di akun Instagram @fitriyooo

0 Comments

Leave a Reply

Avatar placeholder

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Contact Us