Kegigihan dan Mimpi Jadi Rahasia Melanie Perkins dan Kesuksesan Canva

Published by Erlin Fadhylah on

Penyebab rendah diri terbesar adalah ketika kita membandingkan perjuangan kita dengan keberhasilan orang lain. (Melanie Perkins, 2020)

Pengalaman pertama mengikuti lomba menulis cerpen di platform baca tulis digital menghadapkan saya pada situasi yang begitu pelik. Bukan soal tema atau kesulitan untuk menulis cerita, tetapi platform tersebut meminta saya untuk mengunggah gambar sampul untuk cerita saya. 

Saya memang cukup akrab dengan gawai dan saya tahu ada satu aplikasi bawaan di laptop untuk mengedit gambar atau foto. Namun, selama hampir sepuluh tahun menjadi guru, pengalaman saya menggunakan aplikasi tersebut bisa dihitung jari dan dalam situasi sangat terpaksa. Hal tersebut betul-betul membuat saya rendah diri, apalagi saat saya melihat gambar sampul dari peserta lainnya–yang bagi saya, betul-betul seperti sampul buku cetak dari penerbit besar. 

Akhirnya, dengan segenap usaha dan bantuan gambar dari hasil pencarian Google, saya berhasil membuat sebuah gambar sampul yang … ah, sudahlah! Sejak saat itu, keyakinan bahwa saya adalah orang yang tidak kreatif, tidak pandai di bidang desain dan visual semakin kuat hingga satu hal berhasil mengubah saya, Canva.

Melalui berbagai wawancara, Melanie Perkins, Co-Founder dan CEO Canva, mengatakan bahwa saat Canva pertama dirilis dan melakukan uji coba produk, mereka banyak mendapatkan umpan balik persis seperti yang saya katakan–saya tidak kreatif, saya tidak bisa desain, desain itu sulit, dan kalimat skeptis lainnya. Namun, hal tersebut yang justru ingin Melanie ubah lewat produknya. Canva hadir sebagai sebuah platform desain instan yang dapat digunakan dengan mudah oleh siapa saja. Ia berkata bahwa salah satu impiannya adalah membuat semua orang merasa mereka memiliki kreativitas dan kemampuan desain dalam dirinya. Hal inilah yang kita saksikan sekarang melalui Canva.

Melihat Masalah sebagai Peluang

Di usia 19 tahun, Melanie mengajar desain sebagai bagian dari studinya di universitas. Saat itulah ia menyadari betapa panjang proses desain yang mesti menggunakan berbagai alat dan aplikasi. Sejak itulah ia memiliki visi untuk membuat seluruh proses tersebut terintegrasi ke dalam satu platform. 

Saat itu, ia hanya mahasiswa biasa. Tanpa pengalaman bisnis, pemahaman mengenai pemasaran, atau pengalaman di bidang perangkat lunak, Melanie tidak menganggapnya sebagai hambatan. Ia mulai dengan membuat satu langkah kecil dengan mendirikan Fusion Book sebelum mengambil alih dunia desain lewat Canva. 

Fusion Book merupakan website dan bisnis percetakan buku tahunan yang sangat populer di Australia. Bisnis ini dimulai Melanie bersama sang kekasih yang kini telah menjadi suaminya. Mereka mengembangkan bisnis ini di ruang tamu rumah orang tua Perkins hingga akhirnya mereka mengambil alih seluruh rumah untuk pengerjaan buku tahunan ini.

“Alih-alih mencoba untuk mengambil alih seluruh dunia desain pada saat itu, (kami) mencoba untuk mengembangkan bisnis desain buku tahunan di Australia.” (Melanie Perkins, 2020)

Ratusan Penolakan yang Menjadi Pembelajaran

Saat Melanie mulai membangun Canva di tahun 2013, ia menghadapi berbagai penolakan. Banyak yang ragu untuk berinvestasi pada bisnis teknologi di Australia. Belum lagi anggapan bahwa bisnis teknologi hanya dikuasai oleh laki-laki. Melanie menghadapi jatuh bangun selama berada di San Fransisco, Amerika, saat bertemu lebih dari  100 calon investor yang menolak idenya.

“Setiap penolakan memang menyakitkan. Namun, menghadapi penolakan dengan kegigihan (untuk bangkit) adalah resep terbaik untuk sukses dan berhasil mencapai tujuan.” (Melanie Perkins, 2020)

Meski menghadapi penolakan, Perkins punya kunci untuk bertahan yakni kegigihan  untuk tetap berpegang pada mimpinya. Dua hal tersebut menjadi hal yang selalu ia tekankan dalam setiap wawancaranya tentang Canva. 

Menurut Melanie, mimpi dibutuhkan agar kita bisa bergerak lebih cepat dan mengatur strategi terbaik dalam setiap langkah yang kita ambil. Agar kita tidak merasa kewalahan dengan mimpi besar kita, jadikan hal tersebut sebagai target jangka panjang. Namun, pastikan kita memiliki tujuan-tujuan kecil yang akan dicapai dalam jangka pendek untuk membantu kita lebih dekat dengan impian tersebut. 

“If you can’t dream that far, you can’t really get that far.” (Melanie Perkins, 2020)

Setiap kali Melanie gagal mendapatkan investor, ia akan meminta saran dan memperbaiki segala sesuatu yang diperlukan. Ratusan kali gagal tidak membuat Melanie mengubah visi misinya terhadap Canva. Hal yang ia lakukan adalah mengubah cara penyampaiannya agar orang lain bisa percaya terhadap visi misi tersebut. Bagi Melanie, penolakan adalah sesuatu yang dapat dikontrolnya. Menurutnya, kita selalu punya ruang untuk belajar dan memperbaiki diri alih-alih menerima begitu saja setiap penolakan yang datang.

Tips terakhir dari Melanie untuk menjaga kegigihannya menggapai mimpi adalah dengan selalu merayakan keberhasilan kecil. Dalam proses mencapai impian, kita akan menghadapi banyak rintangan. Namun, setiap kali kita bangkit dari kegagalan, kita pasti belajar hal baru yang mempersiapkan kita untuk tantangan berikutnya. Setiap kali kita berhasil melewati tantangan baru atau berhasil mencapai tujuan-tujuan kecil, rayakanlah! Buat setiap momen keberhasilan kecil menjadi spesial agar kita selalu mengingat momen membahagiakan dari seluruh proses 

Canva dan Prosesnya Mengubah Dunia

Kini, Canva menjadi raksasa teknologi yang membawa Melanie sebagai salah satu milyuner perempuan termuda. Hanya dalam satu tahun setelah diluncurkan, ada 1.3 juta desain yang tercipta lewat platform tersebut per bulannya. Setelah dua tahun, angka tersebut melejit ke 5.8 juta desain per bulan. Sekarang, setelah lima tahun Canva diluncurkan, Melanie telah memiliki 700 orang yang bekerja dalam timnya dari seluruh dunia dan 110 juta desain yang dihasilkan platformnya per tahun. Bahkan di tahun 2021, dalam sehari ada 5 juta desain tercipta dari seluruh dunia dengan total 1.8 miliar desain di Canva hasil dari 20 juta pengguna setiap bulan.

Canva juga memberikan akses premium gratis kepada 30.000 organisasi non profit termasuk Perempuan Berkisah. Lebih dari itu, sesuai dengan visi misinya untuk menyediakan platform desain yang mudah dan terintegrasi bagi semua orang, Canva menyediakan lebih dari 100 pilihan bahasa. Angka ini akan terus dikembangkan dan menjadi bukti Canva sebagai sebuah bisnis yang mendukung inklusivitas. Melanie bercerita bahwa ia ingin para penutur bahasa yang jarang digunakan di internet tidak tertinggal dalam perkembangan teknologi yang umumnya hanya menyediakan dua puluh bahasa terbanyak digunakan.

Tidak berhenti di sana, Melanie memutuskan untuk bergabung dalam gerakan 1% Pledge sejak akhir 2019. 1% Pledge merupakan sebuah gerakan filantropi korporat global yang melibatkan para pemimpin bisnis dan karyawan mereka untuk berkontribusi pada tujuan sosial lokal dan nasional melalui komitmen berkelanjutan berupa waktu, produk, dan/atau uang tunai yang diperoleh dari keuntungan atau ekuitas perusahaan.  

Alih-alih Sibuk Membandingkan Diri, Tekunilah Hal yang Kamu Sukai

Setelah mencapai kesuksesan, Melanie merasa masih banyak pekerjaan rumah yang harus ia lakukan bersama Canva. Sekalipun 20 juta pengguna setiap bulan adalah angka yang fantastis, hal tersebut bahkan belum mencapai separuh dari pengguna internet di seluruh dunia. Melanie masih terus menapaki mimpinya dengan mengatur target kecil yang akan dilakukan bersama Canva.

Bagi Melanie, kita selalu punya dua pilihan dalam melakukan apa pun. Pertama, kita melakukan sesuatu karena semua orang melakukan hal serupa atau kita melakukan sesuatu karena merasa hal tersebut benar dan sesuai dengan diri kita. Kita mungkin merasa normal saat berbaur dengan banyak orang jika memilih opsi pertama. Namun, sesungguhnya penting untuk melakukan sesuatu yang membuat kita merasa menjadi diri kita seutuhnya dan terasa tepat untuk kita.

“Penyebab rendah diri terbesar adalah saat kita membandingkan perjuangan kita dengan keberhasilan orang lain.” (Melanie Perkins, 2020)

Berhenti membandingkan diri kita dengan orang lain karena hal tersebut tidak akan membawa kita ke mana pun. Pahami bahwa setiap orang sedang menjalani perjuangannya masing-masing. Fokuslah pada mimpimu dan jaga kegigihanmu dalam menggapainya. Kita semua bisa menjadi seperti Melanie dengan cara kita sendiri dan jalan yang kita pilih. 

Sumber:

Design From Down Under: 1-on-1 with the CEO of Canva | Fortt Knox. (2019, November 7). CNBC. https://www.cnbc.com/video/2019/11/07/design-from-down-under-1-on-1-with-the-ceo-of-canva-fortt-knox.html 

Kisah Sukses Melanie Perkins, CEO Canva yang Jadi Miliarder Termuda di Australia. (n.d.). Kumparan. Retrieved October 19, 2021, from https://kumparan.com/karjaid/kisah-sukses-melanie-perkins-ceo-canva-yang-jadi-miliarder-termuda-di-australia-1tsv8oMrY0A/full 

Melanie Perkins (Canva) Interview, Sunrise North Island. (n.d.). Www.youtube.com. Retrieved October 19, 2021, from https://www.youtube.com/watch?v=QIPKxcV5C-w 

Melanie Perkins Keynote (Canva), Sunrise North Island. (n.d.). Www.youtube.com. Retrieved October 19, 2021, from https://www.youtube.com/watch?v=Yn0LNYt25PMPledge 1%. (n.d.). Tides. https://www.tides.org/story/pledge-1/

About the author

Erlin Fadhylah atau biasa disapa Erfa adalah lulusan Sastra Indonesia dari Universitas Negeri Jakarta. Setelah sepuluh tahun berprofesi sebagai pengajar di beberapa sekolah internasional, Erfa kini berdaya di rumah saja dengan aktif menulis artikel yang diterbitkan di berbagai media cetak dan daring. Hobinya membaca buku membawa Erfa berkenalan pada dunia menulis fiksi dan mengantarkannya pada profesi pekerja lepas sebagai pengulas novel serta penyelaras aksara. Beberapa tulisannya dapat dibaca melalui tautan linktr.ee/erfa22. Ia juga dapat disapa melalui akun instagramnya @erfa22.


Erlin Fadhylah

Erlin Fadhylah atau biasa disapa Erfa adalah lulusan Sastra Indonesia dari Universitas Negeri Jakarta. Setelah sepuluh tahun berprofesi sebagai pengajar di beberapa sekolah internasional, Erfa kini berdaya di rumah saja dengan aktif menulis artikel yang diterbitkan di berbagai media cetak dan daring. Hobinya membaca buku membawa Erfa berkenalan pada dunia menulis fiksi dan mengantarkannya pada profesi pekerja lepas sebagai pengulas novel serta penyelaras aksara. Beberapa tulisannya dapat dibaca melalui tautan linktr.ee/erfa22. Ia juga dapat disapa melalui akun instagramnya @erfa22.

0 Comments

Leave a Reply

Avatar placeholder

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Contact Us